
Sepanjang usianya, Yoona tidak pernah begitu menginginkan seseorang selalu berada disisinya karena dia sudah terbiasa sendirian sejak orangtuanya sibuk bekerja. Dia juga tidak pernah berpikir dirinya akan merendahkan diri untuk mencapai tujuannya. Tidak pernah.
Namun yang terjadi saat ini adalah dia yang menjatuhkan harga dirinya dengan mencium pria lebih dahulu. Bahkan itu adalah ciuman kedua yang Yoona lakukan pada satu-satunya pria yang membuatnya selalu pusing dan panik disaat yang bersamaan dalam menghadapi perasaannya yang tidak bisa dikendalikan kepada pria itu.
Yoona tidak pernah berpikir bahwa dia akan merendahkan dirinya pada pria seperti Lee Donghae. Pria yang merebut peringkat pertama darinya ketika kenaikan kelas. Pria yang dia anggap menjadi musuhnya karena sudah mengalahkannya dalam banyak hal.
Setelah merasa dirinya lebih membaik, Yoona berlahan melepas ciumannya. Kemudian dia menatap wajah Donghae yang terlihat kaku. Melihat itu Yoona pun langsung tersadar dengan apa yang baru saja dilakukannya.
Yoona langsung mundur – mengambil jarak. Dia membekap mulutnya dengan telapak tangannya dan bisa dipastikannya wajahnya sangat merah. Yoona bisa melihat Donghae yang masih kaget dengan apa yang sudah dirinya lakukan.
“mianhae… mianhae”
Yoona berulangkali mengatakan maaf sambil membungkuk pada Donghae. Dia merasa sangat bersalah. Ciuman ketika diperpustakaan saja dia belum meminta maaf. Kini dia sudah mencium pria itu lagi. Dia sudah pasrah jika Donghae menganggapnya gadis yang tidak punya sopan santun.
“Yoona… tenangkan dirimu. Sudah tidak perlu minta maaf lagi. Aku sudah memaafkanmu”, ucap Donghae. Dia kasihan pada Yoona yang terus membungkukkan badannya dan mengucapkan kata maaf.
“tidak bisa. Aku sangat merasa bersalah. Ini sudah yang kedua kalinya. Donghae maaf”
“iya… sudahlah”
Yoona pun menegakkan tubuhnya. Namun ketika tatapannya bertemu dengan mata teduh Donghae, dia kembali merasa bersalah dan juga malu yang sangat besar. Dia langsung menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
“duduklah”, ucap Donghae sambil menyodorkan kursinya pada Yoona. Gadis itu pun duduk. Tapi kemudian langsung melipat tangannya diatas meja dan menyembunyikan wajahnya. Kemudian terdengarlah tangis gadis itu.
Donghae meringis mendengar tangis Yoona. Dibandingkan rasa kagetnya, Yoona pasti orang yang lebih kaget dari padanya. Yoona bahkan sampai meminta maaf berulang kali. Donghae juga melihat bagaimana paniknya gadis itu setelah akhirnya menyadari apa yang gadis itu telah lakukan. Karena itu Donghae tidak bisa menghakimi gadis itu karena sudah dua kali menciumnya.
Donghae pun menarik kursi di depan mejanya kemudian duduk berhadapan dengan Yoona yang masih menangis.
Donghae menghela napas. Dia kasihan pada Yoona tapi bingung bagaimana menghibur atau setidaknya menghentikan tangis gadis itu.
Dengan ragu-ragu Donghae ingin meletakkan tangannya di atas kepala Yoona. Tapi berulang kali juga dia menariknya kembali. Dia takut perbuatannya akan membuat Yoona semakin tidak nyaman.
Namun Donghae berpikir kembali. Jika dia tidak memberi respon, Yoona akan merasa sangat bersalah. Akhirnya Donghae pun memberanikan diri.
Dengan hati-hati diletakkannya tangannya diatas kepala Yoona. Donghae bisa merasakan Yoona yang langsung terlonjak kaget dari gerakan tubuh gadis itu.
Dengan lembut Donghae mengusap-usap kepala Yoona walaupun kini gadis itu sudah tidak menangis lagi. Tapi gadis itu tetap menyembunyikan wajahnya. Donghae dapat merasakan rambut Yoona yang begitu lembut dan Donghae dapat mencium wangi shampoo yang Yoona gunakan.
Ketika Donghae melihat Yoona mulai menegakkan kepalanya, dia pun menarik tangannya dari kepala Yoona. Gadis itu terlihat berantakan.
“jangan melihatku seperti itu. Aku pasti sangat jelek sekarang”, ucap Yoona sambil mengusap wajahnya sambil menunduk. Melihat itu Donghae tersenyum lebar. Yoona sangat menggemaskan.
“kau tetap terlihat cantik”
Yoona yang mendengar perkataan Donghae itu langsung menatap pria itu sambil menganga. Dia tidak percaya Donghae baru saja mengatakannya cantik.
Donghae pun yang baru saja menyadari apa yang telah dikatakannya tadi, langsung memukul-mukul bibirnya karena sudah begitu lancang.
“kenapa kau seperti itu? Kau menyesal sudah mengatakan aku tetap cantik walau menangis?”, ucap Yoona dengan nada sedih. Donghae pun langsung panik.
“ti-tidak. Bukan begitu. Aku hanya… takut kau tidak menyukainya”
‘bodoh. Andai dia bisa mendengar bagaimana jantung ku berdebar sekarang’, batin Yoona, menatap Donghae dengan senyum yang ditahannya.
Setelah memastikannya wajahnya sudah lebih membaik, Yoona pun berseru sambil meregangkan lengannya.
“kurasa aku terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini”, ujar Yoona.
“tapi benar kau belum pulang karena mengkhawatirkan ku?”, tanya Yoona penuh harap. Dengan perasaan malu, Donghae mengangguk.
“aku melihatmu keluar kelas terburu-buru, tapi kau tidak membawa tas mu. Seorang diri didalam kelas pasti tidak nyaman”, jelas Donghae. Yoona pun tersenyum-senyum tanpa bisa di sembunyikannya lagi. Dia menunduk malu. Mengetahui Donghae sangat mengkhawatirkannya membuatnya berbunga-bunga.
“sangat cantik”, ujar Donghae. Yoona pun bisa merasakan merona lagi. Tapi tidak mau terlalu hanyut dengan rayuan Donghae, Yoona kembali menegakkan kepalanya, ingin pura-pura memaki pria itu agar berhenti menggodanya. Tapi seketika itu wajah Yoona langsung datar.
Ternyata yang Donghae katakan sangat cantik adalah penampakan sunset yang terlihat dari jendela.
“sangat cantik kan”, ucap Donghae lagi menoleh menatap Yoona. Gadis itu pun memperlihatkan senyum. Senyum yang dipaksakan, namun sayangnya penyakit Donghae yang tidak peka sedang kumat.
Donghae kembali menatap keluar jendela. Sedangkan Yoona hanya menatap pria itu dengan cemberut. Tapi semakin lama dia menatap wajah pria itu dari samping, membuatnya berlahan tersenyum. Ketampanan pria itu terlalu kuat untuk mengalahkan rasa kesalnya pada pria itu.
Yoona pun menopang dagunya, mencari posisi nyaman untuk memandangi wajah tampan yang tersaji di depannya.
Namun baru beberapa menit, Donghae sudah menegakkan kepalanya, menatap heran pada Yoona yang memandanginya. Donghae pun menjadi salah tingkah.
“ke-kenapa kau menatapku seperti itu?”, tanya Donghae terbata.
“memangnya kenapa? Sudah, kau melihat ke luar jendela saja”, ujar Yoona.
“tapi aku tidak nyaman”
“ck… sudahlah. Lakukan saja. Jangan hiraukan aku”, ujar Yoona kali ini dengan nada memerintah. Dengan terpaksa Donghae pun menurutinya.
‘dia sebenarnya kenapa?’
‘apa benar dia sangat menyukaiku?', Donghae sibuk memikirkan arti dari sikap Yoona sedari tadi.
“tidak. Jangan salah paham seperti itu”
Tiba-tiba suara Yoona yang menjawab pikirannya, membuat Donghae kaget. Dia lupa jika Yoona bisa mendengar kata hatinya.
Donghae pun mulai merasakan jika kemampuan Yoona itu sangat merugikannya. Bagaimanapun apa yang dipikirkannya adalah hak privasinya, tidak sepantasnya orang lain untuk mengetahui sesuka hatinya dengan begitu mudahnya.
“Yoona”
“mmm”
“sejak kapan kau bisa mendengar suara hati orang lain?”
Yoona pun menegakkan duduknya. Mulai mengingat-ingat.
“aku tidak ingat. Semuanya terjadi begitu saja”
“sebelum kau memiliki kemampuan itu, kau tidak ingat melakukan apa?”
“mmm… itu… oh. Kau ingat ketika kau menolong ku yang hampir terjatuh dari tangga?”
“ya”
“tidak jauh dari situ, aku langsung bisa mendengar suara mu dalam jarak jauh”
“aneh. Tanpa sebab? Atau orang lain?”
“mmm”
Donghae pun terdiam, keningnya mengerut. Yoona pun hampir tertawa melihat Donghae seperti orang yang tidak percaya.
Donghae benar-benar sangat polos. Pantas saja sangat mudah diperintah. Entah mengapa Yoona bisa bertahan berlama-lama dengan Donghae. Padahal dia sangat tidak menyukai tipe pria seperti Donghae. Bahkan awalnya Yoona ingin merestui jika Donghae benar menyukai Yuri.
Mengingat tentang Yuri, membuat Yoona menjadi memikirkan sahabatnya itu lagi.
“Donghae… apa akhir-akhir ini kau melihat tingkah Yuri yang aneh?”, tanya Yoona. Siapa tahu saja Donghae pernah melihat Yuri melakukan hal yang aneh-aneh.
“Yuri? Tidak”
Yoona pun langsung mendesah lesu. Ternyata Donghae pun tidak bisa membantunya.
“ada apa?”
“mmm… sebenarnya aku tidak begitu yakin tentang ini. Tapi akhir-akhir ini aku sering melihat Yuri masuk ke ruang kepala sekolah dengan cara mengendap-endap”
“siapa tahu kepala sekolah sedang membicarakan beasiswa Yuri. Ku dengar dia juga mendapat beasiswa dari sekolah karena prestasi seni tarinya”
“mungkin saja. Tapi coba pikirkan lagi, jika ingin membicarakan tentang beasiswa, untuk apa Yuri hampir setiap hari ke ruangan kepala sekolah. Dan mengapa dia harus mengendap-endap?”
“kau benar juga. Itu aneh”
“aku sempat memikirkan alasan-alasannya. Tapi hanya ada satu alasan yang cukup masuk akal”
“apa?”
“kau tahukan kepala sekolah kita cukup genit dengan murid yeoja-”
“solma[38]. Yuri tidak mungkin… Ah tidak mungkin”, Donghae tidak bisa mengatakannya. Dia tidak percaya jika Yuri berhubungan khusus dengan kepala sekolah mereka.
“aku juga tidak ingin mempercayainya. Tapi tidak ada alasan yang lebih masuk akal lagi. Pikirkan saja dengan wajah dan tubuh yang dimiliki Yuri, tidak mungkin kepala sekolah tidak tergoda”
“tapi tidak sebaiknya kita bertanya langsung saja dari pada salah paham nantinya?”
“awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi aku takut itu akan melukai harga diri Yuri”
Donghae pun mengangguk. Membenarkan perkataan Yoona. Hal seperti itu sangat sensitive jika ditanyakan.
“bagaimana jika kau gunakan saja kemampuanmu. Kau bisa mendengar apa kira-kira yang sedang Yuri pikirkan”, saran Donghae. Yoona pun langsung tersenyum kikuk. Dia belum memberitahu semua tentang kemampuannya itu pada Donghae.
“Donghae sebenarnya… aku hanya bisa mendengar suara hati mu saja”, ujar Yoona. Setelah itu Yoona bisa melihat wajah kaget Donghae.
Donghae menghela napas. Benar apa yang dikatakannya, jika kemampuan Yoona itu sangat merugikannya. Tidak adil rasanya jika hanya dirinya saja korban dari kemampuan gadis itu.
)))))(((((
Karena paksaan dari Yoona, akhirnya Donghae ikut-ikutan mengawasi gerak-gerik Yuri. Bagi Donghae tidak ada yang aneh dengan tingkah laku Yuri selama beberapa hari ini. Semua masih dalam tahap wajar. Hingga akhirnya hari ini Donghae mengerti apa yang Yoona katakan jika Yuri mencurigakan.
Awalnya Donghae sedang ke kantin bersama Eunhyuk. Bertepatan saat itu dia berpapasan dengan Yuri yang keluar dari kantin. Sedangkan sepengetahuan Donghae, tadi Yuri yang mengajak Sooyoung dan Taeyeon. Namun sekarang Yuri justru meninggalkan Sooyoung dan Taeyeon di kantin. Mengingat perkataan Yoona kemarin, Donghae langsung menasaran.
“Hyuk… aku ke toilet dulu. Kau duluan saja. Biar aku yang traktir”, ujar Donghae sambil memberikan uang pada Eunhyuk, agar sahabatnya itu tidak banyak tanya lagi.
“OK”, seru Eunhyuk dengan semangat tanpa curiga sedikitpun pada Donghae.
Donghae pun langsung berlari mengejar Yuri. Namun dia sudah kehilangan Yuri. Gadis itu cepat sekali perginya.
Namun kening Donghae mengerut ketika dari jauh dia melihat Yoona yang mengendap-endap. Donghae pun mengikuti Yoona. Setelah jaraknya lebih dekat, dia baru mengerti Yoona ternyata sedang membuntuti Yuri juga.
Yuri saat ini sedang berada diruang guru, tidak tahu untuk apa.
“pstt… Yoona”, ujar Donghae dengan nada pelan. Yoona terlonjak kaget ketika dia berbalik sudah ada Donghae dibelakangnya.
“apa yang kau lakukan disini?”, tanya Yoona.
“aku mengikuti Yuri dari kantin tadi”
“ah… aku juga. Tapi sepertinya dia kali ini sedang ada urusan diruang guru”
“kita tunggu saja sampai dia keluar”
Yoona mengangguk dengan usul Donghae. Mereka pun bersembunyi di balik tiang tembok tidak jauh dari ruang guru.
Sesekali kepala Yoona dan Donghae muncul dari balik tembok itu untuk mengintip. Karena posisi mereka yang sangat dekat, Yoona bisa mencium wangi tubuh Donghae seperti biasanya. Menenangkan dan Yoona sangat menyukainya.
Yoona memejamkan matanya menikmati aroma itu. Hingga beberapa menit kemudian kesenangannya itu dirusak oleh suara Donghae.
“Yuri sudah keluar”, seru Donghae. Yoona pun langsung tersadar. Dia sedang menjalankan misi untuk membuntuti Yuri, tapi yang terjadi dia terlalu terlena dengan wangi tubuh Donghae.
‘michyeosseo… Im Yoona’, batin Yoona sambil memukul kepalanya agar segera tersadar. Untung saja perbuatannya itu tidak Donghae ketahui karena pria itu sedang berada didepannya.
‘fokus Im Yoona. Fokus’, batin Yoona.
“oh”, seru Donghae karena Yuri tiba-tiba menghentikan langkahnya. Yoona yang sedang melamun pun tidak memperhatikan apa yang terjadi, jadilah dia menambrak punggung Donghae.
Yoona mengaduh kecil karena hidungnya terasa sakit.
“kau tidak apa-apa?”
“kenapa kau berhenti tiba-tiba”
Yoona masih mengusap-usap hidungnya. Setelah merasa sudah lebih baik, kini Yoonalah yang memimpin misi itu. Dia tidak bisa fokus jika Donghae didepannya. Sudah dikatakannya berulang kali jika Donghae terlalu membawa pengaruh buruk untuknya.
“sial. Sepertinya dia mengetahui sedang diikuti sekarang”, kesal Yoona karena melihat Yuri begitu waspada berjalan. Ditambah gadis itu berulang kali menoleh ke belakang.
Ketika Yuri mempercepat langkahnya, Yoona dan Donghae pun bergerak pindah dari satu tempat ke tempat lain agar tidak ketinggalan jejak. Namun karena ruang gerak mereka terbatas, mereka pun cukup jauh jaraknya sekarang. Itu pun membuat Yoona kesal. Dia pun langsung keluar dari persembunyiannya dan langsung mengejar
Yuri. Ketika dia melihat Yuri sudah berbelok menuju ruang kepala sekolah.
Kali ini Yoona ingin memergoki langsung Yuri. Agar sahabatnya itu tidak bisa mengelak atau beralasan lain. Namun naasnya Yoona terlalu fokus mengejar sehingga dia tidak memperhatikan dari arah berlawanan seorang office boy sekolah mereka datang sedang mengangkat tong sampah besar.
Brak
Yoona langsung terjatuh menabrak tong sampah itu yang juga ikut terjatuh dan sampah di tong itu langsung berhamburan.
Yoona meringis kesakitan ketika dilihatnya lengan berdarah. Sepertinya terkena sisi tajam dari tong sampah itu.
“agassi… anda tidak apa-apa?”, ujar office boy itu. Dia langsung menghampiri Yoona yang terjatuh dilantai.
“tidak. Saya tidak apa-apa”, balas Yoona. Dia ingin marah sebenarnya. Tapi menyadari office boy itu adalah pria tua, dia jadi tidak tega untuk marah.
“maafkan saya tidak melihat jalan tadi”
“tidak apa-apa ahjussi”
“Yoona kau tidak apa-apa?”, ujar Donghae yang tiba-tiba datang. Entah mengapa Yoona justru memperlihatkan kesakitannya pada Donghae, namun tidak pada office boy itu.
Donghae pun melihat lengan Yoona yang tergores dan mengeluarkan darah. Pria itu meringis kasian. Donghae pun beralih pada pria tua disamping Yoona.
“Ayo”, ajak Donghae membawa Yoona duduk di kursi taman.
“tunggu sebentar”, ucap Donghae lagi, lalu pria itu pergi. Yoona bisa melihat kini Donghae sedang membantu office boy itu memasukkan kembali sampah yang bertebaran ke dalam tong sampah.
“biar saya saja. Tolong sampaikan permintaan maaf saya pada agassi itu”, ucap pria tua itu cepat ketika Donghae berniat untuk mengangkat tong sampah itu.
“baiklah. Hati-hati ahjussi”, balas Donghae.
Setelah office boy itu pergi, Donghae langsung berlari cepat menuju UKS. Dia tidak peduli jika sewaktu-waktu seorang guru melihatnya dan memarahinya karena berlari-lari di koridor. Dia hanya ingin segera membersihkan tangannya dan mengambil kotak P3K.
Yoona yang sedari tadi duduk memperhatikan Donghae yang berlari sangat cepat. Yoona pun mengerti mengapa Donghae jago bermain football. Selain memang trampil, cara Donghae berlari juga sangat cepat.
Yoona kembali melihat Donghae berlari menujunya.
“obati luka di lengan mu dulu”, ujar Donghae ketika Yoona beranjak dari duduknya.
“di atap saja”, ujar Yoona. Donghae pun mengangguk. Mungkin Yoona ingin suasana yang tenang sekarang.
Sesampainya di atap Yoona langsung mengambil kotak P3K itu dari Donghae. Dengan santainya dia langsung duduk dilantai itu, tidak peduli roknya akan kotor. Setelah itu, Yoona langsung mengeluarkan kapas dan botol alkohol untuk membersihkan lukanya dari kuman.
Tapi karena tangan kanannya yang terluka, Yoona harus melakukannya dengan tangan kiri. Tentu hal itu sangat sulit karena dia bukan pengguna tangan kiri.
“biar ku bantu”, ucap Donghae langsung mengambil kapas dan botol ditangan Yoona.
“tidak usah. Aku bisa sendi-”
Yoona tidak bisa melanjutkan perkataannya karena wajah Donghae sangat dekat dengannya. Pria itu sudah fokus pada luka dilengan kanannya. Lagi-lagi wangi dari tubuh Donghae seolah menghipnotisnya.
Baiklah. Karena Yoona diberi rejeki wajah tampan Donghae berada didekatnya sekarang, jadi Yoona nikmati saja.
“sudah”, ucap Donghae.
“sudah? Cepat sekali”, balas Yoona tidak suka. Tapi karena Donghae menatapnya heran, Yoona pun langsung berdehem canggung. Tidak mungkin dia mengatakan masih ingin Donghae mengelus-elus lengannya yang terluka. Bunuh saja dia jika sampai mengatakan itu.
“ck… kenapa aku selalu terluka akhir-akhir ini”, ucap Yoona menggerutu, berpura-pura untuk mengalihkan perhatian Donghae.
“kau sering terluka?”, tanya Donghae kaget.
“ah… bukan. Itu hanya dalam mimpi saja”, ucap Yoona, segera meralat ucapannya.
“mimpi?”
“ya mimpi. Beberapa kali aku mengalami sindrom Kleine-Levine[39]”
“apa? Klenevine?”
“Kleine-Levine. Sindrom Sleeping Beauty”
Mendengar Sindrom Sleeping Beauty, Donghae pun langsung mengangguk mengerti. Dia tahu tentang sindrom itu. Pria itu pun menatap Yoona. Dia tidak menyangka Yoona mengalami sindrom seperti itu. Donghae pun mulai mengerti mengapa Yoona bisa tidak masuk sekolah dalam jangka waktu berhari-hari.
“sebenarnya sindrom ku belum masuk tahap parah. Paling lama hanya 3 hari”
“tapi kenapa kau pernah tidak masuk sekolah selama seminggu?”
“ketika terbangun aku seperti orang yang tidak tahu apa-apa dan aku merasa seperti tidak memiliki tenaga. Karena itu dokter menganjurkan agar aku istirahat dirumah dulu dan memberi obat untuk mengurangi rasa ngatuk yang berlebih”
Donghae kembali mengangguk. Dia mengerti mengapa waktu itu Yoona masuk sekolah seperti orang yang kebingungan.
“kadang aku tidak bisa membedakan apakah yang ku lakukan itu mimpi atau nyata. Seperti sekarang. Aku tidak tahu apakah ini mimpi atau nyata”
Donghae pun langsung menggenggam tangan Yoona. Meremasnya cukup keras agar menyadarkan Yoona jika saat ini yang dilakukannya adalah nyata.
“kau bisa merasakan tanganku kan?”
“mmm”
“baguslah. Ini nyata Yoona”
Yoona hanya mengangguk. Dia sedang mengontrol detak jantung sekarang. Perlakuan Donghae itu sangat tiba-tiba tanpa memberinya waktu untuk mempersiapkan jantungnya agar tidak berdebar sangat gila seperti sekarang ini.
“ah… maaf”, ucap Donghae ketika sadar tangannya masih menggenggam tangan Yoona. Yoona pun langsung merasa kecewa. Padahal dia masih ingin Donghae menggenggam tangannya.
Terjadi keheningan diantara mereka. Yang terdengar hanya suara hembusan angin disekitar mereka. Kaduanya sedang menikmati suasana itu. Mereka merasakan ketenangan disana. Terlihat sekali jika keduanya membutuhkan banyak istirahat setelah berminggu-minggu berkutat dengan buku-buku tebal.
“jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Kau akan tetap membuntuti Yuri?”
“entahlah. Tapi aku tidak bisa membiarkan jika memang benar Yuri dalam masalah”, ucap Yoona. Dia pun menoleh ketika dia mendengar Donghae tertawa.
“kenapa kau tertawa?”, tanya Yoona bingung.
“tidak. Hanya saja aku tidak menyangka orang seperti mu bisa merasakan mengkhawatirkan seseorang. Aku tidak menyangka kau bisa begitu dekat dengan mereka”
“aish… kau pikir aku bukan manusia? Tentu saja aku masih memiliki perasaan terhadap orang-orang disekitar ku”, ujar Yoona dengan kesal. Sekalian dia ingin mengindir pria itu. Namun sayangnya Donghae tidak peka dengan sindirannya.
“berhenti tertawa”, kesal Yoona karena Donghae masih mentertawakannya. Ingin rasanya Yoona memukul kepala pria itu agar sekali saja bisa peka dengan dirinya. Tidak mungkin Yoona terus yang mendekati pria itu. Bisa-bisa orang-orang menganggap dirinya gadis yang agresif. Menyedihkan bukan.
“baiklah. baiklah. Maafkan aku”, ujar Donghae ketika dilihatnya Yoona sudah berniat melayangkan tangannya, siap memukul.
Setelah itu mereka kembali dalam suasana hening. Hingga akhirnya Donghae yang mulai berbicara kembali.
“saran ku lebih baik kau menanyakan langsung pada Yuri. Dari pada menebak-nebak seperti ini terus. Walaupun seperti yang kau katakan takut penyinggung perasaan Yuri. Tapi aku yakin Yuri akan mengerti”, saran Donghae. Yoona pun menoleh menatap Donghae yang duduk disampingnya.
“kenapa kau begitu yakin?”
“entahlah. Mungkin karena Yuri orang yang baik”
Yoona pun terdiam. Entah mengapa dia kembali merasa tidak suka jika Donghae terlalu banyak memuji atau menyebut nama Yuri. Tubuhnya seperti terasa dibakar.
“kau… benar-benar menyukai Yuri ya?”
Yoona bisa merasakan dirinya menahan napas ketika mengatakan kalimat tanya itu. Dadanya pun terasa sesak ketika Donghae tersenyum malu.
‘jadi sebenarnya aku bukanlah pemeran utama?’, batin Yoona. Dia merasa sangat sedih sekarang. Bahkan dia bisa merasakan matanya berkaca-kaca.
Takut Donghae melihat raut wajahnya yang menyedihkan, Yoona pun langsung menoleh kearah lain. Dia harus berusaha mengontrol air matanya. Jangan sampai jatuh.
“semua orang pasti menyukai Yuri karena Yuri dewasa dan baik hati”
Perkataan Donghae itu langsung membuat air mata Yoona kening dengan sendirinya. Dia penasaran apa arti perkataan Donghae itu.
“jadi maksud mu kau menyukai Yuri karena dia dewasa dan baik saja?”, tanya Yoona. Dia masih harap-harap cemas.
“ya”
“tidak karena alasan lain?”
“alasan lain? Aku tidak mengerti”
Yoona pun langsung menggeser duduknya menghadap Donghae. Dia seperti mendapat sedikit harapan sekarang
‘harapan? Aish apa sih yang sedang ku pikirkan’, cibir Yoona pada dirinya sendiri. Tapi dia sudah terlanjur penasaran.
“bagaimana perasaanmu setiap melihat Yuri?”
“biasa saja. Biasanya aku hanya tersenyum”
“jangan tersenyum”
“hah?”
“ahh, lupakan. Kau tidak merasakan berdebar jika bersama Yuri?”
“berdebar? Ku rasa tidak”
“ck… apa kau pria normal? Bagaimana bisa kau tidak berdebar berdekatan dengan gadis secantik Yuri?”, ujar Yoona terpancing emosi. Dia geram karena Donghae tidak memberinya tanggapan yang membuatnya lega.
“yak… tentu saja aku pria normal. Aku juga pernah berdebar”, protes Donghae, tidak terima dengan perkataan Yoona.
“APA? KU PERNAH BERDEBAR? SIAPA? KATAKAAN PADAKU SIAPA ORANG YANG MEMBUAT MU BERDEBAR”, sesuatu seperti membara dalam tubuh Yoona. Dia tidak menyangka orang yang perlu disingkirkannya ternyata bukan Yuri. Ada orang lain yang membuat Donghae berdebar dan itu membuat Yoona marah.
“te-tenanglah. Jangan marah-marah seperti itu”, ujar Donghae takut melihat wajah Yoona.
Sadar dirinya terlalu berlebihan, Yoona pun mengembalikan raut wajahnya seperti semula.
“jadi… siapa dia?”, tanya Yoona dengan nada bicara pura-pura santai.
“itu… nenek Yuri”, ucap Donghae.
“NE-NENEK?”, seru Yoona.
“ketika Kim So Dam memukul nenek, aku bisa merasakan berdebar. Jantungku terasa seperti akan keluar”, jelas Donghae dengan polosnya. Seketika itu Yoona seperti disiram minyak. Kemarahannya sudah berada diubun-ubun.
Bisa-bisanya pria itu mengartikan berdebar yang dimaksudnya dengan kejadian penculikan itu. Donghae benar-benar keterlaluan. Niat Yoona ingin mencekik pria itu sangat besar sekarang. Tapi memikirkan Donghae akan mati, dia tidak siap.
“PERGI KAU… PERGI KAU”, teriak Yoona sambil menendang-nendang kaki Donghae. Dia benar-benar sangat-sangat kesal.
“ya-yak… ada apa? Apa salahku?”
“KAU SANGAT SALAH. PERGI KAU SEBELUM TANGAN KU INI BERADA DI LEHER MU. MENCEKIK MU”, ancam Yoona. Membayangkan kuku-kuku panjang Yoona berada di lehernya membuat onghae merinding. Dia pun segera bangkit dan berlari – pergi.
Sedangkan Yoona yang menatap kepergian Donghae, masih terengah-engah karena emosinya.
“ya Tuhan, kenapa aku menyukai orang seperti itu?”, keluh Yoona sambil mendongak menatap langit.
)))))(((((
[38] Masa
[39] Sindrom dengan jangka waktu tidur yang sangat lama, bisa berhari-hari bahkan hitungan bulan. Belum ada pengobatannya. Hal yang dianjurkan adalah pendampingan dan penanganan dirumah.
bersambung...