Loco

Loco
Chapter 16



Donghae masih berusaha mendobrak pintu lemari itu. Dia terengah-engah. Tenaganya mulai menipis. Hal ini diakibatkan karena dia memaksa mengeluarkan tenaganya dengan keadaan emosi, sehingga tenaganya cepat terkuras. Padahal dia sudah belajar cara mengendalikan pikiran dan tenaganya agar seimbang dari pelatih karatenya.


Donghae baru menyadari dalam kondisi terdesak, apa yang di belajari atau diketahuinya sebelumnya tidak semudah itu mempraktekkannya. Kejadian seperti ini baru pertama kali dihadapinya. Dan itu sangat membuatnya ketakutan.


Hal yang terberat adalah ketika menghadapi musibah seperti ini dengan melibatkan banyak yeoja yang tentunya memiliki tenaga tidak seimbang dengan namja.


Brak


Donghae memukul pintu lemari itu dengan kesal. Sambil menyumpat dirinya sendiri dan juga Kim So Dam. Pria brengsek itu sedang mengobrak-abrik lemari nenek. Seperti sedang mencari sesuatu disana. Satu yang bisa Donghae simpulkan. Kim So Dam sudah lama merencanakan semua ini.


Tiba-tiba Donghae mendengar tawa Kim So Dam. Dari cela-cela ukuran pintu lemari itu, Donghae mencoba melihat apa yang Kim So Dam lakukan. Ternyata pria itu mengincar perhiasan dan uang yang nenek simpan di lemarinya.


Donghae menggeram marah melihat pencuri itu. Dia harus segera mencari cara keluar dari lemari itu atau


setidaknya mencari bantuan.


Ketika Donghae mencoba mengintip dari celah-celah ukuran pintu lemari itu. Dia melihat saku celana Sooyoung yang menonjol berbentuk persegi panjang.


‘ponsel’


Merasa benda itu akan sangat membantu, dia pun harus mencari cara agar ponsel itu didapatkannya. Tapi seolah sadar kondisinya, lagi-lagi Donghae menggeram kesal.


Tapi dia teringat masih ada orang lain diluar lemari itu dan dalam keadaan sadar. Ya… hanya Yoona yang bisa melakukannya. Donghae menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dia harus bisa membuat Yoona tenang terlebih dahulu.


Yoona menatap apa yang dilakukan oleh Kim So Dam dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan. Pria brengsek itu sedang mencari-cari lagi apa yang bisa diambilnya didalam kamar itu.


‘Yoona?’


Merasa dirinya dipanggil, Yoona langsung terhenyak. Itu adalah suara Donghae. Pria itu hanya menyebut namanya atau pria itu memanggilnya. Tapi dari nadanya, pria itu sedang memanggilnya.


Yoona pun menatap pintu lemari tempat Donghae disekap. Dari celah itu dia bisa melihat mata Donghae yang memang menatap kepadanya.


‘aku sudah tahu semua’


‘apa? Donghae sudah tahu?’, batin Yoona panik.


‘sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan semua ini. Lebih dari pada itu aku butuh bantuan mu’


‘kita tidak bisa membiarkannya melakukan hal yang lebih buruk lagi. Kita harus mencari bantuan’


“bantuan? Bagaimana caranya?’, batin Yoona.


Yoona hanya bisa menatap Donghae dari celah ukuran pintu itu. Hingga akhirnya Yoona mengangguk. Dia setuju, untuk tidak membiarkan Kim So Dam semakin merajalela.


‘lihat saku Sooyoung. Sepertinya dia masih mengantongi ponselnya. Gunakan ponsel itu untuk memanggil polisi atau bantuan’


Yoona pun menatap saku Sooyoung. Sahabat-sahabatnya itu tidak sadarkan diri karena dibekap dengan kain yang sepertinya mengeluarkan obat bius.


Dengan membulatkan tekatnya, Yoona dengan hati-hati mendekati Sooyoung yang tidak jauh darinya. Setelah melakukan pergerakan dengan menggeser bokongnya, Yoona akhirnya bisa mendekati Sooyoung.


Dengan menggunakan tangan yang diikat didepan memang tidak terlalu mempersulit Yoona untuk merogoh saku Sooyoung. Jantungnya sudah tidak tahu sudah berdenyut secepat apa. Dia hanya ingin segera bisa mencari bantuan.


Dengan hati-hati dia membuka ponsel Sooyoung. Namun sialnya layar ponsel itu diprivasi. Yoona pun harus mencari-cari Sooyoung untuk membuka ponsel itu. Yoona bisa sedikit bernapas karena ponsel itu sudah bisa terbuka.


Yoona pun langsung menekan 112 untuk meminta bantuan polisi. Namun sialnya dia berpikir lagi mulutnya masih dibekap dengan kain. Tidak ada cara lain. Dia harus memancing Kim So Dam bicara agar polisi mendengarnya.


“mmmkkkkk”, pekik Yoona dibalik kain yang menutup mulutnya dan langsung menyembunyikan ponsel itu di belakangnya. Bertepatan dengan itu Kim So Dam langsung menatapnya dengan kesal. Pria itu terganggu dengan jeritan Yoona.


“aish sial. Kau benar-benar ingin merasakan pukulan ku ya. Atau kau ingin merasakan kenikmatan dari tangan ku ini ditubuhmu?”, ucap Kim So Dam yang langsung membuat Yoona ketakutan. Dia tadi melupakan jika dirinya pun bisa dalam bahaya jika membuat pria itu sampai marah.


Yoona berusaha menjauhkan tubuhnya dari pria brengsek itu. Kim So Dam yang melihat Yoona ketakutan pun semakin bersemangat. Pria itu berpikir bersenang-senang sebentar tidak apa-apa.


Yoona yang ketakutan pun tidak bisa menahan tangisnya. Dia menjerit-jerit dalam tangisnya. Sedangkan Donghae terus berteriak, memaki-maki Kim So Dam.


“BRENGSEK. JANGAN SENTUH DIA”, teriak Donghae ketika dilihatnya Kim So Dam sudah menyentuh wajah Yoona. Sedangkan Yoona terus melayangkan tangannya yang terikat untuk menjauhkan tangan Kim So


Dam dari wajahnya.


“ayo kita bersenang-senang”, ucap Kim So Dam dengan wajah yang sudah menunjukkan nafsu birahi yang besar. Yoona pun semakin menjerit dan berusaha menggerakkan kakinya yang juga terikat. Menendang atau melakukan gerakan apapun. Namun sialnya, ponsel yang disembunyikannya dibalik tubuhnya, justru terlempar.


Kim So Dam melihat benda yang lepas dari belakang Yoona itu. Seketika kemarahan langsung melingkupi pria itu. Kim So Dam menatap Yoona dengan sangat menyeramkan - bengis.


Setelah itu yang Yoona rasakan adalah kepalanya yang pusing karena Kim So Dam melayangkan pukulan yang sangat keras dipipinya. Hingga pandangan Yoona menggelap.


‘Donghae… maaf’, batin Yoona sebelum benar-benar tidak sadarkan diri. Sedangkan Donghae hanya bisa melihat Yoona tergeletak dilantai, tubuh Donghae langsung menegang.


“YOONA. IM YOONA”, teriak Donghae panik. Dia pun kembali mendobrak pintu itu. Dia benar-benar marah.


“dasar tidak berguna”, ujar Kim So Dam menatap Yoona yang tergeletak di lantai. Pria itu pun kembali membongkar isi lemari nenek. Dia tidak memperdulikan Donghae yang mendobrak pintu lemari itu.


Tenaga Donghae benar-benar sudah tidak ada lagi. Dia hanya bisa menyandarkan keningnya, menatap pemandangan di kamar itu dari celah ukuran pintu lemari itu. Dia hanya bisa berdoa. Setidaknya orang yang Yoona hubungi tadi bisa segera datang dan memberi bantuan.


Ketika mata Donghae hampir terpejam karena lelah, dia melihat sesuatu yang bergerak. Mata Donghae pun langsung membulat. Witch itu ada disana dan menatap Kim So Dam yang belum menyadari kehadirannya.


Donghae bahkan bisa melihat mata witch itu yang seperti mengeluarkan api karena begitu merah. Jika sebelumnya Donghae selalu melihat gadis misterius itu tersenyum  lebar padanya, kini hal sebaliknya. Witch itu terlihat sangat marah.


Hal yang semakin membuat Donghae tercengang adalah pisau yang sebelumnya Kim So Dom gunakan, dengan sendirinya melayang tepat dibelakang pria itu. Dalam hitungan detik, pisau itu sudah menancap di bahu Kim So Dam.


“AKKK”, teriak Kim So Dam kesakitan. Donghae masih terdiam kaku menatap kejadian itu. Bahkan tubuhnya terasa meremang seketika.


Sambil menahan sakitnya Kim So Dam mencabut pisau itu dari bahu lalu berbalik menatap siapa pelakunya. Dan betapa kagetnya Kim So Dam menatap witch itu yang kini sudah berdiri menatapnya dengan penuh kemarahan.


Seolah belum puas, hanya dengan menggerakkan bola matanya, witch itu mampu merebut pisau itu dari tangan Kim So Dam. Pria itu pun langsung terkaget ketika dihadapannya bukanlah gadis biasa. Dia pun mulai ketakutan.


Kim So Dam sudah berniat untuk bangkit, namun tiba-tiba pisau melayang tepat didepannya. Dan mata pisau itu seolah sedang mengincar matanya. Pria itu pun langsung terdiam. Tapi kemudian dia langsung beringsut, berlari keluar dari kamar itu.


Kim So Dam berteriak ketakutan keluar dari rumah itu. Dia sudah tidak memperdulikan dengan barang curiannya. Dia hanya ingin segera kabur dari hantu berwujud anak gadis itu.


Ketika dia membuka pintu, bertepatan dengan para tetangga rumah nenek bersiap untuk mendobrak pintu rumah nenek. Karena keterkejutannya, Kim So Dam langsung terjatuh.


“ada hantu disana. Tolong”, pintanya. Namun mereka tidak langsung percaya. Mereka lebih fokus pada apa yang Kim So Dam genggam.


“apa yang Anda lakukan disini?”, tanya salah satu pria diantara tetangga nenek itu.


“i-itu aku… aku tidak melakukan apapun”, bohong Kim So Dam.


“lalu kenapa ada pisau di tanganmu dan darah”


Mendengar itu Kim So Dam langsung menatap tangannya dan benar saja pisau yang tadi di gunakan witch itu ada digenggamannya.


“i-ni bukan milikku. Ini pisau yang digunakan hantu itu untuk menusuk bahuku”, jawab pria itu. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia langsung meraba bahunya dan tidak terjadi apapun.


Seketika dia langsung melempar pisau itu menjauh dan meremas rambutnya karena ketakutan. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Sebelumnya dia masih merasakan sakit dibahunya namun tiba-tiba luka itu sudah tidak ada. Bahkan Kim So Dam ingat dia tidak membawa apapun dari dalam rumah itu.


Tiba-tiba terdengar suara sirine polisi. Dengan cepat polisi langsung siaga dan masuk ke dalam rumah nenek. Memeriksa isi rumah itu.


Donghae yang mendengar suara gaduh dan sirine polisi langsung merasa sedikit lega. Dia pun mendobrak pintu lemari itu lagi sebagai pertanda bagi polisi. Dan benar saja, polisi langsung memasuki kamar nenek.


Polisi itu kaget dengan semua korban ada dikamar itu, tergeletak. Salah satu dari mereka berteriak agar segera memanggil ambulance. Pintu lemari tempat Donghae di sekap pun terbuka. Donghae pun langsung merasa lega. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya.


“kau tidak apa-apa?”, tanya polisi itu. Donghae pun mengangguk. Namun pandangannya langsung teralih pada Yoona.


“Yoona”, ujar Donghae dan langsung mendekati gadis itu. Dia membuka semua tali yang mengikat tangan dan kaki gadis itu. Juga kain yang membekap mulutnya.


Donghae bisa melihat pipi gadis itu yang memerah dan sedikit goresan luka di dagu dan sudut bibirnya.


Donghae meringis melihatnya dan berpikir Yoona pasti merasa sangat kesakitan. Ketika Donghae menepuk-nepuk pipi Yoona agar sadar, dan benar saja berlahan mata gadis itu terbuka.


“Dong… hae”, ucap Yoona pelan.


“iya ini aku. Semua sudah berakhir. Semua akan baik-baik saja”, ucap Donghae menenangkan. Yoona hanya mengangguk. Kepalanya masih pusing.


Donghae pun langsung mengangkat Yoona agar berbaring di tempat tidur nenek. Setelah itu dia membantu polisi melepas ikatan pada Sooyung, Yuri dan Taeyeon. Ketiga gadis itu juga mulai tersadar.


Sampai sekarang Donghae belum mengerti bagaimana Kim So Dam melakukan semua itu tanpa Donghae dengar apapun dari kamar. Saooyoung, Yuri dan Taeyeon mengerang karena pusing.


“apa yang terjadi?”, tanya Sooyoung.


“Kim So Dam berniat ingin mencuri harta nenek”, jawab Donghae. Mereka pun menatap polisi yang memapah tubuh nenek keluar dari rumah.


“siapa Kim So Dam?”, tanya Yuri.


“apa dia pria yang tiba-tiba masuk ke kamar kami dan membekap mulut kami dengan kain?”, tanya Taeyeon. Donghae menatap mereka bertiga satu persatu. Kemudian mengangguk.


“dia pria yang nenek minta bantuan mengemudikan mobil untuk mengantar sayuran ke pasar”, tambah Donghae. Dia ingat ketika nenek dan Kim So Dam datang, ketiga gadis itu sudah masuk kamar.


“sebaiknya kalian segera keluar. Kami membutuhkan keterangan dari kalian”, ucap polisi yang sudah kembali ke kamar itu. Mereka pun mengangguk. Donghae langsung membopong Yoona, dan gadis itu tidak protes.


)))))(((((


Donghae, Yuri, Sooyoung dan Taeyeon kini berada dirumah sakit, menunggu nenek dan Yoona yang belum juga siuman. Yoona kembali pingsan ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit. Mereka juga dimintai keterangan oleh polisi.


Setelah ketiga sahabat Yoona itu, kini giliran Donghae yang dimintai keterangan atas kejadian pencurian itu.


“bagaimana kau bisa berada didalam lemari itu?”, tanya polisi itu.


“awalnya aku bangun karena mimpi buruk. Aku pun keluar kamar untuk mengambil minum. Tapi menyadari pintu kamar mereka terbuka, aku berniat untuk menutupnya, tapi yang ku lihat justru kamar mereka berantakan. Aku pun panik kemudian membuka pintu kamar pria itu dan dia juga tidak ada disana. Aku mendengar suara gaduh dari kamar nenek. Aku pun membawa pipa besi dari dapur untuk berjaga-jaga. Ketika aku membuka pintu, pria itu sedang memaksa nenek untuk membongkar isi lemarinya.


“Tapi karena aku kaget, pria itu langsung mengarahkan pisaunya ke leher nenek. Aku pun tidak berani berbuat apa-apa. Pria itu memerintah ku untuk membuka lemari dan mengeluarkan isinya dan mengunci ku didalam”


Donghae menjelaskan semua apa yang dilihatnya pada polisi itu.


“lalu bagaimana bisa nenek itu terluka?”


“nenek mencoba melawannya, tapi nenek langsung dipukul. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi aku bisa mendengar benturan cukup keras dan melihat nenek tergeletak di dekat meja di depan lemari”


“apa yang pria itu cari di lemari itu?”


“aku melihatnya mengeluarkan perhiasan dan juga uang dari lemari nenek. Ku rasa dia ingin mencuri itu”


“baiklah ini pertanyaan terakhir. Apa yang terjadi pada Kim So Dam? Dia terus berteriak jika ada hantu di rumah nenek itu?”


Donghae terdiam mendengar pertanyaan itu. Donghae ingin sekali mengangguk membenarkan perkataan Kim So Dam jika ada hantu di kamar itu, lebih tepatnya penyihir. Tapi menyadari jika hal itu tidak akan masuk akal manusia, Donghae pun memilih untuk tidak menceritakan bagian itu.


“aku tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja pria itu berteriak seperti orang ketakutan. Lalu keluar dari kamar nenek”, ucap Donghae dengan lugas dan tidak terlihat seperti berbohong. Polisi itu mengangguk memaklumi. Karena Donghae disekap didalam lemari.


“baiklah kalau begitu”, ucap polisi itu.


Polisi itu pun kini berbicara dengan temannya, mendiskusikan informasi yang didapatnya. Donghae menatap sekitarnya lalu pada ketiga gadis yang sudah tertidur, saling menyender.


Donghae pun menghela napas. Dia sudah mengabari orangtuanya dan menceritakan semua. Namun Donghae mengatakan mereka tidak perlu menyusul ke rumah sakit. Lalu Donghae bangkit menghampiri seorang


perawat yang berada dekat resepsionis.


“Maaf, bolehkah saya meminjam selimut untuk teman-teman saya?”, tanya Yoona pada perawat itu. Perawat itu pun langsung mengangguk. Dia pergi keruangan bagian belakang meja resepsionis itu. Setelah itu kembali dengan membawa selimut lalu memberikannya pada Donghae.


“terima kasih”


Donghae pun membawa selimut itu mendekati ketiga gadis yang tampak kelelahan itu. Dia membentangkan selimut itu dan menyelimuti ketiganya yang saling berpelukan itu. Setelahnya Donghae masuk ke dalam ruangan di sebelahnya – tempat Yoona dirawat. Yoona sedang tertidur dengan pulasnya. Tadi Yoona sudah sempat sadar. Namun karena pengaruh obat, gadis itu kembali tidur. Tidurnya terlihat sangat nyenyak.


Donghae menarik satu kursi disana, kemudian duduk di samping brangkar Yoona. Beberapa saat dia hanya menatap wajah Yoona. Dimana pipi yang awalnya hanya memerah itu, kini mulai terlihat membengkak. Luka dibibir dan dagunya sudah diobati.


Donghae menghela napas berat. Dia pun meletakkan kepalanya di atas brangkar Yoona. Dia masih ingin siaga, jika sewaktu-waktu Yoona atau nenek sadar. Tapi entah mengapa matanya mulai terasa berat. Hingga dia tidak ingat apa-apa lagi. Di tertidur.


)))))(((((


bersambung...