
Sepulang sekolah, Yoona dengan cepat keluar dari kelas. Tugasnya sebagai ketua kelas yang harus memastikan kelas dalam keadaan bersih sepulang sekolah, dialihkannya pada Oh Sehun – wakil ketua kelas. Yoona cepat-cepat keluar dari kelas untuk menghindari sahabat-sahabatnya. Yoona tidak ingin digoda terus menerus. Yoona sangat malu.
Karena terlalu cepat keluar dari kelas, jemputannya pun Yoona abaikan begitu saja. Yoona ingin sendiri sekarang. Menikmati jajanan - jajanan pinggir jalan sepertinya menyenangkan untuk mengisi perut kelaparannya. Dia sangat lapar sedari tadi. Mungkin karena dia terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini. Kebiasaan anehnya ketika stres akan makan banyak. Biasanya dia akan pergi bersama Sooyoung, untuk masalah makanan sahabatnya yang satu itu sangat bisa diandalkan. Tapi kali ini dia benar-benar ingin pergi sendiri saja. Akhir-akhir ini Sooyoung terlalu sering menggodanya dengan pernyataan-pernyataan aneh tentang perasaannya pada Donghae. Walaupun sudah dijelaskan berulang kali, sahabatnya itu tidak percaya jika dia - Im Yoona tidak memiliki perasaan apapun pada Donghae. Tidak akan pernah!
Keluar dari lingkungan sekolah, Yoona menuju sebuah kompleks yang biasanya disepanjang jalan akan banyak yang berjualan, dan Yoona sangat menyukai semua makanan itu. Tempat favorit Yoona dan Sooyoung jika ingin mengisi perut sampai kenyang. Walaupun hanya makanan sederhana, tapi rasanya benar-benar sangat lezat. Yoona bahkan tidak segan-segan menghabiskan uang sakunya jika sudah berada dikompleks itu.
Walaupun berasal dari keluarga kaya raya, tapi jika berurusan dengan makanan, Yoona tidak akan pandang buluh. Yoona pemakan segalanya, sama seperti Sooyoung. Sehingga ketika kedua gadis itu bersama, berbagai menu yang terhidang diatas meja besar pun, dapat mereka habiskan. Luar biasa bukan.
Hampir dua jam Yoona menikmati perjalanan kulinernya. Hingga perutnya serasa ingin meledak karena terlalu banyak yang dia makan.
“ahhh, aku sangat kenyang”, seru Yoona sambil sesekali bersenandung senang. Memang menghilangkan stres dengan makan-makan memang sangat cocok untuknya. Dia bahkan sampai lupa tentang semua masalahnya.
Yoona melangkah untuk keluar dari kompleks itu, namun tiba-tiba Yoona berhenti. Yoona mendengar sesuatu. Yoona mendengar suara seseorang yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya. Seorang pria yang membuatnya pusing, marah, dan juga malu secara bersamaan. Sangat menyebalkan memang.
‘Apa yang harus kulakukan. Aku tidak mungkin memberikannya’
Suara itu membuat Yoona mencari si pemilik suara. Pasalnya nada suara itu terdengar sedang kesulitan. Yoona mengedarkan pandangannya kesekitarnya.
“dimana?”, gumam Yoona. Yoona melangkah cepat mencari dimana si pemilik suara itu. Ada perasaan khawatir yang timbul dalam benaknya. Setelah mencari terus menerus, pandangan Yoona jatuh pada sebuah rumah yang tampak sepi, sepertinya tidak berpenghuni. Disisi kiri rumah itu ada sebuah gang kecil yang tampak gelap. Yoona memberanikan diri mendekati gang itu. Dengan berlahan, Yoona melangkah.
Namun tiba-tiba terdengar teriakan seseorang dari arah gang gelap itu, hingga membuat Yoona terlonjak, melangkah mundur. Yoona menghirup oksigen banyak-banyak, mencoba memberanikan diri, lalu melangkah, kembali mendekati gang itu.
“CEPAT BERIKAN…”, teriak seorang namja, yang juga tidak asing ditelinga Yoona.
“ma-maaf. Tapi aku tidak punya uang lagi”, jawab namja lain. Yang sepertinya menjadi korban disana. Dan namja itu Yoona yakini adalah Donghae. Yoona mendekat lagi ke gang itu hingga akhirnya Yoona dapat melihat apa yang terjadi di gang gelap itu.
Disana, terlihat tiga namja yang sedang berdiri memojokkan seorang namja lain. Sesekali ketiga namja itu melayangkan tendangan pada kaki namja yang disudutkan. Donghaelah yang jadi korban disana. Penampilan Donghae sudah berantakan. Seragam sekolahnya kotor.
“apa yang dilakukannya? Kenapa tidak melawan?”, gumam Yoona masih mengamati kejadian itu.
“bukankah itu Kangin, Leeteuk dan juga Kyuhyun? Kenapa mereka mengganggu Donghae?”, gumam Yoona lagi.
“CEPAT BERIKAN. Atau kau akan kami telanjangi dan kami permalukan didepan orang-orang. Cepat”, teriak Leeteuk.
‘apa aku berikan saja? Tapi ini uang untuk membeli kado ulang tahun omma. Tapi jika aku tidak memberikannya, mereka akan melukaiku dan ketika pulang nanti omma akan bertanya-tanya kenapa aku terluka. Omma tidak boleh khawatir’, batin Donghae yang juga dapat Yoona dengar.
Yoona merasa iba dan terharu dengan jiwa berbakti Donghae pada orangtuanya. Ketika Yoona melihat Donghae diantarkan oleh ibunya ke sekolah, sebenarnya Yoona merasa iri. Pasalnya Yoona tidak pernah merasakan hal itu lagi. Ketika orangtuanya mulai sibuk dengan pekerjaannya, orangtuanya seperti hilang ditelan bumi. Yoona tidak pernah bertemu orangtuanya dalam jangka waktu yang lama. Paling pun bertemu dirumah hanya beberapa menit, setelahnya mereka sudah pergi lagi. Yoona bahkan lupa bagaimana rasanya memiliki orangtua.
Yoona kembali fokus memandang keadaan Donghae. Kali ini Donghae mengarahkan tangannya pada Kangin. Memberikan uang yang sudah ditabungnya selama beberapa bulan ini untuk membeli kado ulang tahun pada ibunya minggu depan. Dengan berat hati namja itu memberikannya.
“hahahaha, lihat. Ternyata dia takut juga”, tawa Kangin. Sambil menghitung uang yang Donghae berikan. Donghae menunduk sedih.
‘omma, maafkan aku’, batin Donghae.
“tapi ku rasa jumlah uang ini terlalu sedikit” seru Kangin.
“berikan lagi”, paksa Kyuhyun.
“aku tidak punya lagi”, jawab Donghae sambil menggeleng. Sungguh 1 won pun dia sudah tidak punya. Entah bagaimana dia nanti bisa pulang.
“aish… kau benar-benar lebih suka kekerasan ya”, ucap Kangin dengan suara menggelegar, sangat marah.
“cepat geledah dia”, perintah Kangin. Kyuhyun dan Leeteuk pun menggeledah seluruh saku dan tas Donghae.
“tidak ada hyung”, seru Kyuhyun pada Kangin.
“sialan, kau benar-benar namja miskin. Dan lihat penampilanmu, sungguh pemprihatinkan. Aku yakin tidak akan ada yeoja yang menyukaimu. Ckkk… cepat telanjangi dia”, setelah menghina Donghae, Kangin lalu memerintah Leeteuk dan Kyuhyun untuk membuka pakaian Donghae.
Leeteuk pun langsung membuka paksa kemeja Donghae, lalu dilanjut membuka celana Donghae. Hingga meninggalkan Donghae yang hanya memakai boxer saja. Donghae memberontak ketika Kyuhyun ingin membuka boxer itu juga.
“jangan, ku mohon”, pinta Donghae.
“tidak. Cepat telanjangi dia”, perintah Kangin tidak terbantahkan.
“jangan. Ku mohon, maafkan aku Sunbae-nim[17]”, mohon Donghae. Ketika Kyuhyun sudah dapat meraih lingkaran pinggang boxer Donghae tiba-tiba terdengar teriakan suara seorang yeoja.
“Hentikan. Apa yang sedang kalian lakukan?”, teriak Yoona.
“Yoona”, seru Kangin, Leeteuk dan Kyuhyun. Yoona berjalan mendekati mereka. Yoona menatap tajam Leeteuk dan Kyuhyun yang seketika langsung menunduk. Kedua namja itu akhir-akhir ini sedang mati-matian mendekati sahabatnya Taeyeon dan Sooyoung. Leeteuk menyukai Taeyeon dan Kyuhyun menyukai Sooyoung. Kehadiran Yoona saat ini pasti akan menggagalkan pendekatan mereka pada sahabatnya itu.
“Kangin-ssi. Aku rasa kau sudah sangat keterlaluan”, ucap Yoona.
“apa urusanmu. Pergilah sebelum kau celaka”, balas Kangin dengan wajah marah. Kangin adalah namja yang tinggal satu kompleks dengan Yoona. Namja itu sudah berulang kali pindah sekolah karena kenakalannya. Bahkan ibunya sampai jatuh sakit karena memikirkan Kangin. Tapi sepertinya hal itu tidak membuat Kangin jera.
“memang bukan urusanku. Tapi untuk kedua teman mu ini, aku mempunyai urusan dengan mereka. Nyawa mereka bahkan ada ditanganku. Bukan begitu Leeteuk-ssi, Kyuhyun-ssi”, jawab Yoona dengan santai.
“apa maksudnya?”, tanya Kangin pada Leeteuk dan Kyuhyun. Kedua pria itu langsung menunduk takut. Terdengar jelas dari nada suara Kangin, pria itu marah dan menuntut penjelasan dari kedua sahabatnya itu.
“maaf hyung. Sooyoung dan Taeyeon sahabat Yoona”, Kyuhyun mengaku dengan wajah penyesalan sekaligus meminta pengertian dari Kangin.
“Ne Kangin-ah”, jawab Leeteuk juga.
“aish kalian ini”, Kangin berbalik, menghadap pada Donghae yang memeluk dirinya sendiri, untuk menutupi tubuhnya yang hanya berlapis boxer saja.
“tapi ku rasa bukan hanya karena teman-temanku ini kau datang menolong namja miskin ini”, tuduh Kangin. Yoona terdiam. Berusaha memutar otak untuk mencari perlawanan.
“Jangan asal bicara. Aku tidak menyukainya. Ti-tidak akan pernah”, jawab Yoona tegas, walau diakhir kalimatnya Yoona sedikit ragu. Donghae menatap Yoona serius. Yoona pun sempat melihat raut wajah Donghae yang datar, namun dia berpura-pura tidak pernah melihat wajah datar itu.
“ohh, ku kira kau sudah kehilangan akal sampai-sampai menyukai namja seperti ini”, Kangin lega Yoona tidak menyukai Donghae. Kangin resah jika ada yang menyukai Donghae. Donghae harus berada dibawah levelnya. Tidak boleh lebih sedikitpun.
“tidak. Aku tidak menyukainya. Tapi kau jangan salah sangka, walaupun dia seperti itu, masing ada seorang gadis yang menyukainya”
“hahaha, yang benar saja. Ku rasa gadis itu sudah gila”, pekik Kyuhyun tiba-tiba. Yoona langsung menatap tajam Kyuhyun. Tatapan tajam seolah-olah dapat menyampaikan ‘berani sekali kau bicara’ kepada Kyuhyun. Kyuhyun pun langsung terdiam.
“aku tidak percaya itu”, jawab Kangin.
“suatu hari kau akan melihatnya dengan gadis itu”, ujar Yoona. Sebenarnya Yoona hanya mengarang cerita saja. Yoona sendiri pun tidak mengerti untuk apa harus melakukan kebohongan yang tidak masuk akan hanya untuk membela Donghae.
“aku harus melihatnya nanti”, ucap Kangin penasaran dengan yeoja yang Yoona maksud.
“jadi kita melanjutkan perdebatan ini? ku rasa teman-temanmu ini sudah tidak bisa bertahan lama disini. Jika tidak…”, Yoona mengarahkan jari tangannya menggesek lehernya seolah-olah seperti tersayat pisau. Leeteuk susah payah menelan ludah.
“Kangin-ah”, panggil Leeteuk memelas. Kangin menghembuskan napas keras. Tidak suka dengan keadaan dimana dia harus kalah dari orang lain.
“kalau bukan karena aku menghargai teman-teman ku, kau sudah tamat hari ini”, ucap Kangin ke arah Donghae, kemudian pergi dari tempat itu. Leeteuk dan Kyuhyun pun menghampiri Yoona, memohon pada yeoja itu.
“Yoona, ku mohon jangan ceritakan ini pada Tae”, mohon Leeteuk.
“Ya, jangan juga pada Soo”, Kyuhyun pun memohon. Yoona memandang mereka dengan malas.
“baiklah, pergilah dari hadapan ku”, ucap Yoona, mengusir kedua namja itu.
“ne, gomawo Yoona”, balas mereka lalu pergi.
Setelah ketiga namja itu pergi, terjadi keheningan. Yoona masih berdiri membelakangi Donghae yang masih terduduk dengan tubuh hanya berlapiskan boxer. Sebenarnya Yoona tidak nyaman dengan keadaan hening seperti ini, tapi jika dia berbalik menghadap Donghae, dia juga malu harus melihat tubuh Donghae yang cukup mempesona itu. Memikirkan itu membuat pipi Yoona memerah.
Yoona mendengar suara gemerisik dari belakangnya. Yoona menilik sedikit, terlihat Donghae yang sedang memakai kembali celananya. Namun ketika ingin memakai kemejanya, Donghae menghela napas berat. Kemejanya sudah tidak layak pakai. Selain kotor, terdapat robekan dibeberapa bagian. Melihat itu Yoona merasa iba. Tiba-tiba terlintas sesuatu dikepala Yoona. Gadis itu merogoh tasnya kemudian mengeluarkan jaket hitam milik Yuri yang dia pinjam ketika diruang UKS tadi.
“ini pakailah. Sepertinya ukurannya masih cukup untuk menutupinya”, ucap Yoona menyerahkan jaket itu pada Donghae, tanpa menatap langsung lawan bicaranya. Donghae berpikir sejenak, namun kemudian menerima jaket itu, lalu memakainya.
“masih kekecilan. Tapi tidak apa-apa. Gomawo”, ujar Donghae. Yoona pun berbalik, melihat menampilan Donghae. Sedikit meringis karena jaket itu masih kentara kekecilan ditubuh Donghae. Tapi melihat itu juga membuat Yoona hampir ingin tertawa. Donghae sangat lucu dengan jaket kekecilan itu.
Terjadi keheningan diantara mereka. Hingga Donghae mulai berbicara.
“terima kasih Yoona-ssi”, ucap Donghae lagi.
“ekhm… tidak perlu berterima kasih. Anggap saja balas budi”, jawab Yoona.
“balas budi?”
“kau sudah menyelamatkanku ketika ditangga sekolah waktu itu, ya walaupun sebenarnya aku tidak menginginkannya”
‘karena kau, aku menjadi semenderita ini’, lanjut Yoona dalam hati.
“oh, begitu”, balas Donghae dengan polosnya.
“dan soal yang ku katakan tadi pada Kangin… sepertinya aku harus memberi bukti pada Kangin. Jika tidak, mungkin korban selanjutnya adalah aku”, ujar Yoona ketika teringat dengan kebohongan yang diciptakannya tadi.
“ta-tapi aku memang tidak memiliki kekasih”, jawab Donghae. Dia pikir Yoona hanya ingin menggertak Kangin saja tadi, ternyata gadis itu benar-benar mewujudkan perkataannya.
“benarkah? Malang sekali kau ini”, cibir Yoona. Donghae hanya diam, tidak protes walaupun Yoona sedang mengolok-oloknya. Diamnya Donghae membuat Yoona tidak enak hati.
“tapi kau harus punya”, paksa Yoona cepat untuk mengalihkan rasa bersalahnya.
“tapi”
“tidak ada penolakan. Besok aku akan melakukan training khusus untuk mu agar segera memiliki kekasih”, tegas Yoona, tidak terbantahkan. Donghae kaget dengan perintah Yoona.
‘mungkin dia belum sembuh’
Donghae berpikir jika Yoona mungkin masih belum sehat mengingat kejadian di sekolah tadi.
“aku baik-baik saja”, jawab Yoona tiba-tiba dengan nada kesal, membuat Donghae terkejut.
“a-aku tidak mengatakan apapun”, ujar Donghae dengan kening berkerut. Yoona menegang. Merasa bodoh karena menjawab pikiran-pikiran Donghae yang tidak namja itu sampaikan secara langsung.
“memangnya salah jika aku berkata seperti itu? tidak kan”, ucap Yoona pura-pura kesal.
“sudahlah, pokoknya besok setelah pulang sekolah kita bertemu diatap gedung sekolah”, tambah Yoona kemudian dengan begitu saja pergi meninggalkan Donghae sendiri.
Donghae masih terdiam, mencerna semua yang Yoona ucapkan. Tidak masuk akal, karena dia dan Yoona dapat berbicara banyak hari ini. Biasanya yeoja itu hanya memberikan tatapan tajam setiap harinya. Kali ini berbeda. Yeoja itu banyak bicara dan… cerewet. Tiba-tiba sebuah senyuman tipis tergores diwajah tampan itu.
Donghae berpikir mungkin sikap Yoona tidak seburuk yang dipikirkannya selama ini. Mungkin benar jika Yoona tidak menyukainya karena Yoona marah rangkingnya menurun. Perbuatannya selama ini hanya wujud kekesalannya. Tapi melihat tadi Yoona seperti sudah mulai terbiasa berbicara dengannya, membuat Donghae harus membuang penilaian buruknya selama ini. Yoona sebenarnya gadis yang baik.
)))))(((((
[17]Imbuhan diakhir nama (orang lebih tua usianya/senior)