Loco

Loco
Chapter 21



Donghae menatap Taeyeon dengan kesal. Dia yakin telah terjadi sesuatu sehingga Yoona setakut itu. Dugaannya pelakunya adalah Taeyeon, yang kini juga bertambah Sooyoung dan Yuri.


“sebenarnya apa yang sudah kalian lakukan?”, tanya Donghae tetap waspada jika saja ketiga penyihir itu berniat jahat padanya. Sesekali Donghae juga melirik pada sekitarnya yang sepi. Tidak ada seorang pun disana. Donghae yakin hal itu juga pasti karena pengaruh ketiga witch didepannya.


“dia sudah mengetahui siapa kami”, jawab Taeyeon dengan lesu. Dia sadar itu kesalahannya. Seandainya tadi dia bisa mengontrol diri dan masuk ke dalam toilet itu dengan cara wajar, semuanya pasti tidak akan sekacau sekarang ini.


“kau sudah memberitahukannya?”


“tidak. Lebih tepatnya dia melihatnya tidak sengaja. Awalnya aku dan Yuri sedang tertawa-tawa karena Yoona percaya dengan kobohongan Yuri selama ini. Tidak disangka jika Yoona juga berada disana. Kami tidak menyadarinya”, jelas Sooyoung.


“dia pun sangat marah dan mendorong ku hingga terjatuh. Lalu Taeyeon tiba-tiba muncul ditoilet membuat Yoona begitu kaget. Taeyeon yang marah dengan perbuatan Yoona pun tidak bisa mengendalikan emosinya sehingga Taeyeon memperlihatkan kekuatannya”, kali ini Yuri yang menjelaskan. Sesekali dia menatap kearah perginya Yoona. Dia khawatir pada Yoona. Lebih tepatnya mental gadis itu.


Donghae memijat keningnya, pusing. Dia sangat khawatir dengan Yoona sekarang. Yoona itu gadis yang lemah, tidak seperti yang terlihat diluarnya. Pasti gadis itu sangat terguncang karena selama ini dia dikelilingi makhluk asing.


“lalu kenapa kalian tidak menghentikannya? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?”


“sudah ku katakan tidak akan terjadi apapun padanya. Dia akan baik-baik saja. Biarkan saja dia sendiri dulu. Lagi pula dengan sendirinya dia akan melupakan semuanya”


“melupakan? Maksud mu Yoona seperti amnesia”, kaget Donghae.


“ya. Tapi dia hanya akan kehilangan bagian kecil dari ingatannya”, jawab Yuri dengan nada sedih.


“dan bagian kecil itu adalah kalian?”, tanya Donghae lagi, dia menduga setelah melihat ekspresi Yuri.


“mmm”, jawab Sooyoung.


Donghae pun terdiam. Walaupun bukan manusia, ketiga gadis didepannya itu terlihat sangat menyayangi Yoona, begitupun sebaliknya. Tentu saja itu karena sudah bersama bertahun-tahun.


Donghae tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Yoona saat ini. Dirinya saja sangat kaget, ketakutan ketika melihat untuk pertama kalinya Taeyeon menunjukkan wujud aslinya ketika kejadian pencurian bulan lalu itu. Yoona pasti berkali-kali lipat merasakan apa yang dirasakannya waktu itu.


“tapi setidaknya cobalah bicara dengannya?”, usul Donghae, sedikit tidak yakin sebenarnya.


“dia tidak akan mendengar. Gadis keras kepala dan egois sepertinya tidak akan mau mendengar alasan kami”, balas Taeyeon cepat. Tentu Donghae harus membenarkan kata-kata Taeyeon itu. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.


“tidak ada gunanya mencoba. Dia akan tetap keras kepala”, balas Taeyeon lagi, membaca jalan pikiran Donghae.


“sepertinya hanya kau yang berpikir untuk tidak mencoba”, ucap Donghae ketika dia menatap wajah Sooyoung dan Yuri sedikit lebih bersemangat karena idenya.


“kalian…”, kesal Taeyeon.


“benar apa kata Donghae. Tidak ada salahnya kita mencobanya Taeng”, bujuk Yuri.


“kalian sudah tahu dia seperti apa. Yang ada dia akan menyakiti kalian lagi seperti itu. Dasar tidak tahu diri”, tolak Taeyeon dengan kesal.


“Ayolah Taeng. Jika dia berbuat seperti itu lagi, kita bisa dengan mudah menghentikannya. Dia sudah tahu kekuatan kita, kita tidak perlu menutupinya lagi”, Sooyoung pun mencoba membujuk sahabatnya itu. Taeyeon pun mengerutkan kening, sedang berpikir.


“terserah kalian saja. Aku tidak akan ikut. Aku sudah lelah mengurusnya”, balas Taeyeon dan langsung pergi meninggalkan mereka.


Sepeninggalnya Taeyeon, Donghae bisa merasakan perubahan tekanan udara disekitarnya kembali seperti semula. Dia bahkan sudah melihat beberapa murid berlalu lalang di lorong kelas-kelas.


“Donghae”, panggil Sooyoung. Donghae pun kembali menatap kedua gadis didepannya.


“kenapa kau bereaksi biasa saja ketika tahu siapa kami yang sebenarnya? Sedangkan Yoona begitu ketakutan melihat kami. Padahal wajah kami tidak berubah menjadi buruk rupa”, ucap Sooyoung. Donghae bisa mendengar nada kesedihan dan kekecewaan dari suara Sooyoung. Gadis itu sedih karena Yoona sangat ketakutan melihat mereka.


“sejujurnya aku takut. Bahkan sangat takut ketika Taeyeon memperlihatkan kekuatannya. Tapi saat itu aku melihatnya menghampiri nenek dan Yoona seperti melakukan sesuatu, mungkin mengobati. Aku melihat Taeyeon yang menangis sedih menatap nenek dan Yoona. Karena itulah aku berpikir mungkin dia tidak ingin berbuat jahat. Dan kalian juga”, jawab Donghae. Sooyoung dan Yuri menatap Donghae dengan senyum tipis.


“gomawo Donghae-ya”, ujar Sooyoung sudah berniat untuk menepuk-nepuk pundak Donghae. Tapi respon cepat Donghae yang menghindar langsung membuat Sooyoung berhenti. Dia tersenyum kecut.


“tetap saja dia masih ketakutan”, cibir Sooyoung pelan. Yuri yang mendengar cibiran sahabatnya itu tersenyum saja.


“gomawo… karena sudah bisa mengerti posisi kami. Sejujurnya kami memiliki alasan berada didunia manusia, terkhususnya pada Yoona. Tapi maaf, kami tidak bisa memberitahu mu karena kau bukanlah bagian dari tugas kami”, jawab Yuri, mencoba meminta pengertian dari Donghae.


“tapi kenapa Taeyeon selalu mengikuti ku?”


“dia hanya penasaran pada mu. Kau memiliki ikatan dengan Yoona. Karena itu Taeyeon ingin memastikan jika kau memang orang yang tepat”


“orang yang tepat? Aku tidak mengerti. Taeyeon juga pernah mengatakan itu pada ku”, bingung Donghae. Sooyoung dan Yuri hanya tersenyum melihat Donghae yang kebingungan.


“suatu saat nanti kau akan mengerti”, balas Sooyoung dengan senyum jahilnya.


“percayalah pada kami”, pinta Yuri.


Donghae menatap keduanya beberapa saat hingga akhirnya dia mengangguk. Dia harus bisa percaya ketiga penyihir itu akan menjaga Yoona.


“jadi kalian akan menemui Yoona?”


“entahlah. Kami harus membujuk si keras kepala itu terlebih dahulu”, ujar Sooyoung sambil menunjuk dengan dagunya ke arah perginya Taeyeon tadi. Donghae pun mengerti dan mengangguk.


Donghae tidak tahu tugas seperti apa yang sedang ketiga penyihir lakukan. Tapi dia harus percaya kepada mereka karena Donghae bisa merasakan ketiga penyihir itu tulus pada Yoona, tanpa ada niat jahat.


)))))(((((


Sudah 2 hari berlalu sejak kejadian itu, dan Yoona tidak masuk sekolah. Tentu saja Yoona masih belum bisa menerima sepenuhnya fakta jika selama ini orang-orang yang sudah dianggapnya sebagai sahabatnya, orang yang sangat dia percaya selama ini dibandingkan keluarganya sendiri, ternyata bukanlah manusia.


Rasa takutnya juga belum hilang walaupun tidak separah dua hari yang lalu. Namun bayang-bayang Taeyeon yang menghampirinya dengan berlahan, dengan mata memerah seperti mengeluarkan api, masih terus menghantui Yoona.


Dua hari ini juga Yoona tidak bisa tidur dengan tenang karena gelisah jika-jika ketiganya tiba-tiba ada dirumahnya dan menyakitinya. Namun hati kecilnya selalu berkata tidak mungkin mereka menyakitinya, tapi Yoona tetap menyangkalnya.


Yoona selalu melafalkan jika mereka bukan manusia. Mereka tidak akan berbelas kasihan jika ingin membunuhnya. Tapi lagi-lagi Yoona berpikir, jikalah memang ketiganya benar berniat untuk membunuhnya, tapi mengapa mereka tidak melakukannya sejak dulu. Mereka pasti memiliki banyak peluang untuk melakukannya karena Yoona memang lebih banyak waktunya bersama mereka. Yoona pun terus bertanya-tanya.


Tiba-tiba terdengar suara mobil di depan rumahnya. Yoona pun menatap jam di nakas samping tempat tidurnya. Sudah pukul 7 malam. Siapa yang bertamu di malam hari?


Ketika Yoona keluar dari kamarnya, dia terlonjak kaget ketika pelayan rumahnya sedang membantu ibunya berjalan. Yoona khawatir, tapi dia berusaha untuk menyembunyikannya.


“ada apa ini? Kenapa omma pulang?”, tanya Yoona dengan nada tidak menyenangkan.


Nyonya Im pun menatap putri semata wayangnya itu dengan senyum tipis. Yoona mengerutkan keningnya melihat ibunya tersenyum setelah dia mengucapkan kata-kata tidak sopan tadi. Biasanya ibunya itu akan langsung memarahinya.


Yoona mendelik ketika dilihatnya wajah pucat ibunya.


“omma sakit? Apa robot juga bisa sakit?”, tanya Yoona lagi menyindir dengan nada tidak sopannya. Sedangkan pelayan yang membantu Nyonya Im berjalan, hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perkataan kasar dan tidak sopan Yoona.


“omma tidak apa-apa. Hanya sedikit tidak enak badan. Kembalilah ke kamar mu. Lanjutkan belajar mu”, ucap Nyonya Im.


Yoona menatap ibunya itu sesaat, lalu kemudian berbalik, kembali ke kamar. Sebenarnya dia khawatir, tapi dia gengsi. Hubungannya tidak sedang baik dengan ibunya.


Yoona menutup pintu kamarnya dengan pelan, kemudian kembali ke meja belajarnya. Walaupun dia tidak masuk sekolah selama 2 hari, Yoona tetap belajar. Dia tidak masuk sekolah hanya tidak ingin bertemu dengan mereka.


Yoona meraih pensilnya dan kembali mengerjakan soal-soalnya. Namun hanya beberapa menit Yoona sudah mengerang kesal, menyerah. Dia tidak bisa konsentrasi karena memikirkan ibunya.


“aish”, gerutu Yoona sambil menjambak-jambak rambutnya. Karena tidak ada cara lain lagi, Yoona pun bangkit, keluar dari kamarnya. Dia menatap sekitarnya, lampu masih menyala. Bisa dipastikan pelayan dirumahnya belum pulang.


Yoona pun menuju kamar ibunya. Dia sudah berniat mengetuk tapi lagi-lagi rasa gengsinya muncul. Dia tidak ingin ibunya beranggapan jika dirinya akan luluh jika ibunya memperlihatkan wajah pucat seperti itu. Dia masih tetap pada pendiriannya.


Yoona pun memutuskan untuk tidak mengetuk pintu itu. Dia memutuskan untuk membukanya dan mengintip sedikit. Siapa tahu ibunya sudah tidur. Setelah memastikan itu dia akan melanjutkan belajarnya.


Namun ketika pintu dibuka, yang dilihatnya justru pelayan yang sedang meletakkan makanan diatas nakas, dekat tempat tidur ibunya. Sedangkan ibunya tidak ada disana.


 “agassi?”, ujar pelayan itu. Yoona pun langsung salah tingkah karena ketahuan masuk ke dalam kamar orangtuanya itu.


“ekhm… dimana omma?”, ucap Yoona dengan nada canggung.


  “Nyonya sedang-”


“ada apa Yoona?”, ujar Nyonya Im dari arah kamar mandi. Yoona pun langsung menoleh. Dilihatnya ibunya itu mengusapkan handuk ke wajahnya. Yoona masih melihat wajah pucat itu.


 “tidak ada. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu pada imo. Benarkan imo?”, ujar Yoona berpura-pura. Dia


bahkan sudah mengedip-ngedipkan matanya pada pelayan itu. Pelayan itu pun mengangguk, tapi senyumnya tidak bisa ditahannya.


Nyonya Im tersenyum karena tingkah Yoona itu. Dia tahu putrinya itu sedang berbohong karena gengsi mengatakan dirinya khawatir. Tentu saja. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Nyonya Im sangat tahu sifat putrinya itu.


Nyonya Im pun duduk ditepi tempat tidurnya. Pelayan itu pun langsung undur diri.


Merasa dirinya akan tinggal berdua saja dengan ibunya, membuat Yoona langsung ikut pergi dari kamar itu.


“kau sudah makan?”


Yoona langsung menghentikan langkahnya ketika Nyonya Im tiba-tiba bertanya.


“sudah”, balas Yoona acuh tanpa berniat untuk berbalik, menatap ibunya.


“baguslah”


Setelah itu hening. Yoona bisa merasakan kecanggungan diantara mereka. Karena itu Yoona pun berniat untuk segera keluar dari kamar itu. Tapi lagi-lagi ibunya menahannya.


“mau menemani omma makan?”, tanya Nyonya Im. Dia masih menatap punggung putrinya itu – berharap.


Yoona kaget ibunya berkata seperti itu. Tidak biasanya. Lagi pulang memang Yoona bahkan bisa hitung jari, jika ibunya makan dirumah. Biasanya ibunya itu berada diluar sana atau dikantor.


Yoona berbalik, menatap Nyonya Im. Dia tidak bisa menyembunyikan wajah kaget dan tidak percaya. Ada apa dengan ibunya hari ini?


“duduklah”, ajak Nyonya Im, menarikan satu kursi ke dekat tempat tidurnya. Dengan canggung pun Yoona duduk disana. Dia diam saja.


Nyonya Im mulai makannya dengan pelan. Wanita itu terlihat sangat lemas. Yoona sesekali melirik. Dia kasihan. Sepertinya ibunya benar-benar sakit.


“biar aku saja”, ujar Yoona sudah tidak tahan lagi. Dia langsung merebut sendok ditangan Nyonya Im, kemudian menyuapi ibunya.


Nyonya Im masih terdiam, tidak membuka mulutnya. Dia masih menatap putrinya itu, hingga kemudian berlahan senyumnya terbit. Dia pun membuka mulutnya, menerima suapan Yoona.


Tanpa bicara keduanya berada di kamar itu. Hingga akhirnya suara dentingan piring dan sendok terdengar. Nyonya Im sudah selesai makan.


Yoona merapikan peralatan makan itu dan siap untuk membawanya ke dapur.


“Yoona, tolong ambilkan ponsel omma di tas”, ujar Nyonya Im yang sudah berbaring setelah meminum obat penurun demamnya. Yoona yang sudah berjalan menuju pintu pun berbelok ke meja rias ibunya, tempat ibunya meletakkan tasnya.


Yoona yakin ibunya itu ingin melanjutkan pekerjaannya lagi. Yoona tidak habis pikir dengan kedua orangtuanya. Apa yang mereka cari lagi sekarang dengan bekerja mati-matian seperti sekarang. Uang, Yoona yakin mereka sudah punya hingga tiga generasi. Kemewahan, tentu mereka punya. Yoona hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kelakuan orangtuanya itu.


  Yoona meletakkan nampan berisi peralatan makan ibunya itu diatas meja. Lalu gadis itu membuka tas Nyonya Im, mencari-cari benda persegi panjang itu. Setelah menemukannya, Yoona langsung mengeluarkan benda itu dari tas, tapi tidak sengaja Yoona melihat botol kecil didalam tas itu.


Yoona mencoba sedikit melirik ke belakang, memastikan jika ibunya itu tidak sedang memperhatikannya. Ketika dilihatnya ibunya sudah berbaring dan sedang memejamkan mata, Yoona pun merasa aman.


Yoona mengeluarkan botol kecil itu, memeriksa isinya yang ternyata berisi table obat.


‘mungkin vitamin’, batin Yoona. Tapi matanya langsung menemukan kata-kata ‘obat penenang’ di botol itu. Yoona tidak tahu jika ibunya mengkonsumsi obat-obatan seperti itu. Dia pikir ibunya baik-baik saja dan tidak memerlukan obat-obatan seperti itu.


Dengan kesal Yoona menghampiri Nyonya Im. Dengan tidak sopannya Yoona langsung melempar botol plastik itu pada kasur sambil bertanya dengan nada tinggi.


“untuk apa omma mengkonsumsi obat-obatan seperti itu?”


 Mendengar teriakan Yoona, Nyonya Im pun bangkit duduk. Kepalanya masih sangat sakit. Demamnya pun belum juga turun. Wanita itu pun melihat apa yang Yoona lempar tadi.


Nyonya Im menghela napas ketika dia ceroboh membiarkan Yoona melihat botol itu. Dia lupa memindahkannya tadi. Karena tidak bisa mengelak lagi, Nyonya Im mengambil botol itu lalu menatap Yoona.


“kemarilah”, ucap Nyonya Im lemah. Dia menepuk-nepuk tepi tempat tidurnya, agar Yoona duduk disana. Yoona langsung menolak.


“cukup jelaskan kenapa omma harus mengkonsumsi obat penenang”, marah Yoona.


“omma akan jelaskan. Tapi kau duduk dulu. Omma janji akan mengatakan semuanya”


Mendengar janji ibunya itu, akhirnya Yoona mau duduk ditepi tempat tidur itu. Raut wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat. Tapi walaupun begitu Nyonya Im tetap memberanikan dirinya untuk mengelus rambut putrinya itu.


“kau masih marah pada omma?”


“tidak perlu membahas itu. Cukup jelaskan apa maksud obat penenang itu”


“dulu, ketika omma seusia mu, omma ingat ingin menjadi seorang jaksa. Tapi seluruh keluarga omma menentangnya ditambah biaya kuliah jurusan hukum sangat mahal. Tapi omma tidak ingin menyerah dan mengejar universitas yang bisa memberikan omma beasiswa. Tentunya usaha keras omma tidak sia-sia”


“mmm… tentu saja, omma sudah mendapatkan segalanya sekarang”


“kau benar. Bahkan omma mendapatkan bonus atas kerja keras omma itu, yaitu appa mu”


Yoona diam saja, dia sudah tahu cerita tentang ibu dan ayahnya berpacaran sejak masa-masa kuliah.


“dengarkan omma dulu”, pinta Nyonya Im.


“semua berjalan lancar ditambah lagi appa mu mendukung omma dan kami memiliki keinginan yang sama menjadi seorang jaksa. Tapi memang takdir mengatakan jika omma hanya cukup berada diposisi sekarang saja, menjadi seorang pengacara dan appa mu berhasil menjadi jaksa”


“tidak ada rasa iri atau merasa menang diantara kami. Kami menikmati semua pencapaian kami. Hingga akhirnya omma dan appa menikah. Kebahagiaan kami bertambah ketika kau ada bersama kami”


‘lalu kenapa kalian sekarang mengabaikanku?’, batin Yoona kesal.


“omma tahu kau tidak percaya dengan penjelasan omma. Tapi satu yang harus kau ketahui Yoona, omma dan appa sangat menyayangimu”


“lalu obat itu untuk apa?”


“kau ini benar-benar tidak sabaran”


“kalau omma sudah tahu, kenapa sedari tadi bertele-tele. Katakan saja langsung”


“seperti yang omma katakan semuanya baik-baik saja hingga, kau beranjak dewasa dan pekerjaan kami semakin banyak. Disela-sela kesibukan kami, kami masih tetap untuk saling berunding bagaimana masa depan mu kelak. Dan kami sangat tidak berharap kau memiliki keinginan seperti kami”


“wae? Kenapa aku tidak boleh menjadi jaksa atau pengacara atau sesuatu yang berhubungan dengan hukum?”


“karena kami takut kau mengalami apa yang kami alami selama ini Yoona”


“memangnya ada apa?”


“pekerjaan baik omma atau appa sangat berbahaya”


“berbahaya?”


“omma harus menangani masalah berat hingga pembunuhan sadis sekalipun. Jika kau ingin menjadi pengacara, kau akan sibuk dengan klienmu dan tidak bisa membagi waktu dengan orang lain bahkan waktu untuk dirimu sendiri”


“bahkan risiko dari pekerjaan kami adalah taruhannya nyawa”


“apa?”


“kau tidak tahukan mengapa appa tidak pernah pulang ke rumah? Itu semua appa lakukan untuk melindungimu”


“aku tidak mengerti”


“politik dalam pemerintahan kita sedang panas-panasnya. Appa mu yang dipilih sebagai jaksa untuk beberapa kasus para pejabat yang salah menggunakan kewenangannya tentu memiliki tanggung jawab yang besar. Bahkan appa mu sering mendapat terror”


“te-terror?”


“ya. Karena itulah appa selalu tidak bisa pulang. Kami takut orang-orang jahat itu mengenalimu dan berbuat jahat padamu. Kami tidak bisa membayangkanmu dalam bahaya”


“tapi seberapa keras pun kalian menjaga ku dari jauh, hal berbahaya akan selalu datang. Kalian bahkan tidak peduli jika kemarin aku menjadi salah satu korban pencurian”


“omma tahu Yoona”


“omma tahu? Lalu ke-kenapa-”


“ada pekerjaan yang sangat mendesak. Ketika omma ada sedikit waktu luang, omma ingin sekali menghubungi mu. Tapi setelah omma pikir lagi ada hal yang lebih berguna yang bisa omma lakukan. Omma mendatangi kantor


polisi untuk melaporkan tuntutan hukum yang berat sebagai orangtua dari korban”


Yoona menganga tidak percaya ternyata ibunya melakukan hal itu. Dia pikir ibunya memang tidak tahu atau tidak ingin tahu selama ini. Tapi ternyata diam-diam ibunya sudah bertindak.


“tapi lebih dari pada itu Yoona, kau akan kehilangan banyak hal jika memilih seperti kami. Kau akan kehilangan waktu untuk diri sendiri, komunikasi dengan keluarga dan yang terburuk, kau kehilangan kepercayaan”


“omma baru menyadarinya akhir-akhir ini. Memiliki profesi yang sama dengan pasangan sangatlah tidak menyenangkan. Omma dan appa beberapa kali harus berhadapan seperti musuh untuk memenangkan kasus. Tapi setelah itu kami akan berdamai. Tapi setelah kejadian pencurian itu omma dan appa bertengkar hebat. Kami saling menyalahkan karena tidak bisa menjagamu. Hingga kemarin omma melakukan kesalahan besar”


“apa maksud omma?”


“karena begitu marah omma mengajukan perceraian”, ucap Nyonya Im ragu, dia langsung menatap Yoona yang terlihat kaget.


Yoona masih terdiam. Akhir-akhir ini dia selalu dikejutkan dengan pernyataan orang-orang disekitarnya yang tidak disangka-sangka. Kini orangtuanya pun ikut-ikutan memberikan kejutan padanya.


“ka-kalian sangat jahat”, ucap Yoona terbata. Dadanya begitu sesak sekarang hingga matanya mulai berkaca-kaca. Dia sangat kecewa dengan orang-orang disekitarnya.


“maafkan omma sayang. Saat itu omma sangat emosi sekaligus merasa bersalah padamu”, ujar Nyonya Im sambil menggenggam tangan Yoona. Tapi Yoona langsung melepasnya paksa. Dia sudah terlanjur kecewa.


“Yoona dengarkan omma dulu. Omma belum selesai menceritakan semua”


“APA LAGI. BAGIKU SEMUA INI SUDAH CUKUP”, teriak Yoona. Dia meluapkan semua kemarahannya. Bahkan Nyonya Im sampai terdiam, karena baru kali ini Yoona begitu sangat marah bahkan berteriak sangat keras.


“kalian… kalian memang tidak pernah peduli dengan perasaanku. Bagaimana omma bisa berpikir untuk bercerai disaat aku masih membutuhkan kalian?”, kali ini Yoona sudah menangis. Dia menangisi nasibnya yang selalu ditinggalkan orang-orang sekitarnya.


“omma tahu, omma salah. Omma merasa sangat tertekan dengan masalah di kantor dan juga kegagalan omma menjadi seorang ibu untukmu”, Nyonya Im pun ikut menangis.


“omma sangat bersalah pada mu. Tapi kau tenang saja. Omma dan appa tidak akan bercerai. Appa menolak perceraian itu dan memarahi omma habis-habisan”


“benarkah? Kalian tidak akan bercerai?”


“mmm”


“sampai kapan pun?”


“iya sayang”


Yoona pun langsung menangis keras. Dia merasa sangat lega karena ibunya hanya khilaf karena terbawa emosi dan tekanan pekerjaan.


Nyonya Im langsung menarik Yoona dalam pelukannya. Melihat Yoona menangis keras membuatnya juga ikut menangis.


Nyonya Im barus sadar Yoona tetaplah putri kecilnya yang masih begitu manja dan sangat membutuhkan dirinya dan juga suaminya. Selama ini dia terlalu berpikir Yoona sudah mengerti dengan situasi yang dialami oleh orangtuanya. Tapi pada kenyataannya, Yoona tidak mengetahui apapun.


“sesekali pulanglah, appa juga. Aku janji akan menjaga diri dengan baik jika kalian sedang bekerja. Jika memang tidak bisa… 5 menit saja omma dan appa meluangkan waktu untuk menghubungiku. Setidaknya tanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Setiap hari aku merindukan kalian tapi kalian tidak pernah pulang. Aku kesepian dirumah seorang diri saja”, keluh Yoona masih dengan tangisnya.


Mendengar keluhan Yoona, Nyonya Im bisa merasakan tubuhnya seperti ditimpa batu besar. Dia tidak memikirkan jika selama ini putrinya itu merindukannya begitu dalam. Ternyata dirinya memang sangat gagal menjadi orangtua bagi Yoona.


“maafkan omma. Omma janji akan lebih sering pulang dan menghubungimu”, ucap Nyonya Im. Pelukannya pada Yoona semakin erat. Isak tangis Yoona pun semakin menjadi.


“omma harus berjanji”


“iya sayang. Omma janji”


“satu hal lagi. Berjanjilah untuk tidak mengkonsumsi obat penenang lagi. Walaupun aku tidak bisa membantu banyak, setidaknya omma bisa menceritakan kegelisahan atau masalah omma. Aku akan siap mendengarkannya”


Nyonya Im tersenyum lembut. Dia merasa sangat terharu dengan perkataan putrinya itu. Yoona yang dipikirannya selama ini masih seperti bayi kecilnya, ternyata sudah semakin dewasa. Nyonya Im bahkan malu pada putrinya itu karena tidak bisa bertindak dewasa layaknya orangtua  yang baik.


“omma janji”


Setelah mendengar janji ibunya itu, Yoona kembali memeluk wanita yang sangat disayanginya itu. Walaupun orangtuanya terlalu mengaturnya selama ini, Yoona harus tetap mengakui jika dirinya tidak benar-benar membenci orangtuanya. Dia hanya merasa tidak diberi kebebasan untuk memilih selama ini. Karena itu selama ini dia selalu membangkang.


Tapi setelah mendengar langsung dari ibunya, Yoona pun sadar dirinya salah selama ini. Seandainya saja sejak dulu dia langsung menanyakan alasan langsung mengapa orangtuanya tidak mengizinkannya belajar ilmu hukum, pasti mereka tidak akan bertengkar selama bertahun-tahun.


Yoona sangat menyesal sekarang.


)))))(((((


Yoona terbangun dari tidurnya ketika dia mendengar dering ponsel. Dia tahu itu bukan ponselnya tapi karena terus berbunyi membuat Yoona terpaksa bangun. Dia mencari benda itu dan segera melihat siapa yang meneleponnya. Dilayar itu bertuliskan Sekretaris Jang – sekretaris ibunya dikantor.


“omma, ada telepon untukmu”, ujar Yoona membangunkan wanita disampingnya. Semalam mereka menangis tiada henti karena saling membuka diri selama ini. Yoona berharap setelah ini, akan ada perubahan dalam keluarganya.


“siapa?”, tanya Nyonya Im dengan suara serak.


“sekretaris Jang”


Nyonya Im pun bangkit dan menerima ponsel itu. Ketika Nyonya Im sibuk menjawab telepon itu, Yoona justru sibuk merapikan rambut ibunya itu karena berantakan. Dia pun sudah mencek kening ibunya itu, memastikan jika demannya sudah turun.


“ah satu lagi. Hari ini aku tidak masuk kantor. Tolong alihkan semua ke hari lain”


Mendengar perkataan Nyonya Im, Yoona langsung kaget sambil menatap ibunya,. Sedangkan wanita itu tersenyum melihat ekspresi lucu Yoona.


“hari ini aku ingin bersama putriku”


“ne… kamsahamnida”


Setelah itu Nyonya Im meletakkan ponselnya diatas nakas.


“jadi… kemana kita hari ini?”, tanya Nyonya Im. Yoona masih tidak percaya ibunya mengatakan tidak masuk kantor hari ini. Dan juga akan bersama dirinya seharian. Yoona benar-benar sangat bahagia.


Karena terlalu bahagia Yoona langsung memeluk ibunya itu dan berseru senang. Biarlah hari ini dia tidak masuk sekolah lagi. Besok dia akan menggantinya dengan belajar ekstra.


Akhirnya Yoona dan Nyonya Im seharian ini berkeliling di salah satu pusat perbelanjaan. Tangan mereka bahkan sudah penuh dengan belanjaan mereka.


Mereka pun tadi pergi ke salon, melakukan perawatan dan juga treatment untuk kulit. Terkhusus Yoona menganjurkannya untuk ibunya. Karena pastilah ibunya itu tidak pernah merawat diri karena sibuk bekerja. Karena itu Yoona menyarankan perawatan kulit agar kulit ibunya tetap sehat.


Tidak terasa mereka sudah seharian berada diluar rumah. Mereka pun memutuskan untuk pulang. Dengan menggunakan mobil Nyonya Im, mereka melalui jalanan yang untungnya tidak begitu ramai. Jadi mereka bisa menempuh perjalanan lebih cepat untuk tiba dirumah.


Setibanya dirumah, Yoona membantu Nyonya Im untuk mengeluarkan belanjaan mereka. Pelayan pun ikut keluar dari rumah ketika tahu majikannya sudah pulang. Yoona langsung membawa belanjaan mereka menuju kamar orangtuanya.


Sedangkan Nyonya Im sedang menerima telepon dari seorang kliennya yang marah karena mengundur jadwal bertemu hari ini. Namun dengan sabat Nyonya Im memberikan penjelasan. Untungnya kliennya itu bisa mengerti. Dan menerima jika besok mereka akan bertemu.


Ketika Nyonya Im menekan tombol kunci pada mobilnya, dia melihat siluet orang sedang berdiri didepan gerbang rumahnya. Cahaya dari lampu digerbang, memantul sehingga memperlihatkan bayangan seseorang di depan gerbang.


Nyonya Im pun mendekati gerbang itu dan membuka sedikit. Kali saja memang sedang ada tamu. Nyonya Im mengerutkan keningnya ketika yang dilihatnya adalah seorang murid SMA dengan seragam sekolah yang sama dengan sekolah Yoona.


“ada yang bisa dibantu?”, ujar Nyonya Im mengagetkan pemuda yang sedang membelakangi gerbang itu.


“a-annyeonghaseo”, ujar pemuda itu gugup.


“nugu?[40]”


“saya… saya Lee Donghae. Teman sekelas Yoona. A-Apa Im Yoonanya ada?”, ujar pemuda itu membungkuk sambil memperkenalkan diri.


Nyonya Im menatap pemuda itu cukup lama, hingga dia mulai mengingat siapa pemuda itu. Nyonya Im pun membukakan gerbang lebih lebar.


“Yoona ada didalam. Silahkan masuk”, ujar Nyonya Im mempersilahkan.


“ne. Kamsahamnida”


Sambil berjalan, pemuda itu menatap halaman rumah Yoona yang luas, juga rumah bertingkat yang begitu besar itu. Pemuda itu bisa bayangkan bagaimana menyedihkannya Yoona selama ini dirumah sebesar itu. Pasti menakutkan.


“duduklah. Aku memanggil Yoona dulu”


Pemuda itu pun duduk disofa embuk itu. Dia masih terkesima dengan isi rumah itu yang sangat mewah. Sangat jauh berbeda dengan rumahnya.


Sedangkan Nyonya Im baru tiba di kamarnya. Dia mencari Yoona ke kamar putrinya itu namun tidak ada. Dia pun mencari ke kamarnya. Dan benar saja Yoona berada disana sedang membongkar-bongkar hasil belanjaan mereka.


“warna itu sangat cocok untukmu”, ujar Nyonya Im mengomentari gaun satin yang baru saja Yoona lihat.


“oh… omma mengagetkanku”


“oh ya… ada tamu untukmu. Dia sedang menunggu mu didepan”


“siapa?”


“mmm kalau omma tidak salah tadi dia menyebut namanya Lee Donghae”


“L-Lee Donghae?”, Yoona kaget.


“mmm… katanya dia teman sekelas mu”


Yoona pun langsung berlari ke depan kaca dan merapikan penampilannya. Melihat tingkah putrinya itu Nyonya Im hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ternyata putrinya sedang kasmaran.


)))))(((((


[40] Siapa?


bersambung...