
Keesokan harinya, Yoona memasuki kelasnya masih dengan wajah lesu. Matanya terasa bengkak. Tubuhnya pun sedikit kaku. Entah apa yang terjadi semalaman. Dia tidak ingat apa pun. Yang dia ingat hanya dia pulang malam dan langsung tidur.
Ketika baru melangkahkan kaki ke dalam kelas, semua teman-teman sekelasnya menatapnya dengan kaget dan heran. Yoona pun bingung dengan tatapan mereka termasuk pria yang duduk di samping mejanya.
Tiba-tiba Yoona mengingat kejadian ketika dirinya, Donghae dan Kangin perang mulut. Perkataan Donghae yang sangat menyakitkan untuknya. Rasanya dia tidak ingin melihat pria itu saat ini.
“YOONA”, teriak beberapa gadis dan langsung memeluknya. Yoona sampai terhuyung ke belakang karena pelukan ketiga gadis itu.
“Ya ampun. Terima kasih Tuhan, Engkau masih menjaga sahabatku ini”, ujar Sooyoung berlebihan.
“Kau baik-baik saja? Aku sangat khawatir pada mu”
“Kau sudah sembuh?”
Serentetan pertanyaan itu membuat Yoona pusing dan bingung. Dia tidak mengerti dengan perkataan sahabat-sahabatnya itu. Memangnya apa yang terjadi selama ini? Apa yang dilewatkannya sampai-sampai dirinya seperti orang bodoh seperti ini?
“lepas. Aku tidak bisa bernapas”, ujar Yoona karena sesak. Ketiganya pun langsung menjauh.
“oh maaf. Kami terlalu senang Yoong”, ucap Taeyeon.
“aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan?”, ucap Yoona sambil memijat keningnya, dia pusing.
“kepala mu sakit? Ayo kita duduk dulu”, ujar Yuri panik dan menuntun Yoona ke meja depan.
“kenapa aku duduk disini?”, tanya Yoona semakin bingung.
“kau lupa? Kau meminta untuk duduk disini agar tidak dekat dengan Lee Donghae”, bisik Yuri. Yoona mengerutkan keningnya. Tapi kemudian mengangguk. Walaupun dia tidak ingat dia pernah mengatakan itu, tapi dia sangat tahu dirinya tidak suka berdekatan dengan Donghae – si cupu.
Titt
Bunyi bel menghentikan introgasi ketiga sahabat Yoona itu dan bertepatan dengan Nam songsaengnim masuk.
“selamat pagi anak-anak”, seru pria itu dengan semangat seperti biasa.
“pagi saem”, teriak anak-anak sekelas itu, kecuali Yoona yang hanya membalasnya biasa saja.
“ow… ada yang segar disini”, seru Nam songsaengnim sambil menatap Yoona. Gadis itu pun menyadari itu dan berusaha mengabaikannya. Dia sangat tahu jika Nam songsaengnim sedang ingin menggodanya.
“saya senang melihat nona Im kembali duduk didepan saya. Membuat saya semakin bersemangat untuk mengajar”, ucap guru itu dengan senyum menggodanya. Yoona hanya menggeleng dengan santainya dan mengabaikan guru genit itu.
“saem aku tidak terpengaruh dengan godaan saem”, balas Yoona ketus. Seketika suasana kelas menjadi ramai karena gelak tawa murid dikelas itu karena reaksi Nam songsaengnim yang sangat lucu akibat aksi penolakan Yoona.
“baiklah saem akan mencoba cara yang lain nanti. Mari kita mulai pelajaran kita”, Nam songsaengnim kembali serius untuk mengajar.
Yoona mendengar semua yang Nam songsaengnim katakan didepannya. Tapi pikirannya sedang tidak dalam mode untuk menerima pelajaran. Pikirannya sedang berputar-putar dengan keanehan yang dialaminya mulai dari tadi pagi dia bangun. Pelayan yang bekerja dirumahnya sangat kaget dan berseru dengan senang melihatnya. Sedangkan orangtuanya seperti biasa tidak ada dirumah. Lalu ketika dikelas tadi sahabat-sahabatnya pun bereaksi berlebihan atas kedatangannya.
‘sebenarnya apa yang sudah terjadi?’
‘kenapa aku tidak ingat apapun?’
)))))(((((
Donghae berjalan menghampiri Yoona sambil membawa beberapa kertas hasil dari survey-nya. Waktu mereka mengerjakan tugas dari Nam songsaengnim tersisa tinggal 3 hari lagi.
Karena Yoona sakit selama seminggu, membuat Donghae terpaksa memutuskan untuk mengerjakannya seorang diri. Tapi walaupun sudah mengerjakannya, Donghae tetap ingin nama Yoona tercantum di tugas mereka, karena Yoona adalah teman sekelompoknya.
“Yoona”, panggil Donghae.
Yoona yang sedang asyik membaca buku di meja paling depan pun langsung menoleh pada Donghae. Dia menatap pria itu dengan wajah datar. Dia masih kesal dengan pria itu.
“sebelumnya aku ingin minta maaf karena kau sakit selama seminggu lebih, aku terpaksa mengerjakan tugas kelompok seorang diri. Tapi walaupun begitu aku ingin memperlihatkan hasilnya padamu. Jika ada yang kurang, kau bisa menambahinya”
Yoona menerima kertas pemberian Donghae. Dia membuka lembaran kertas itu. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Bukan karena tidak mengerti, tapi lebih dari apa yang Donghae kerjakan di kertas itu.
“kenapa kau mengganti tempatnya?”, tanya Yoona sambil melempar kertas-kertas itu di atas meja. Bagaimanapun sebelumnya mereka sudah sepakat untuk menggunakan kedai keluarga Donghae sebagai objek survey mereka, tapi kenapa Donghae menggantinya dengan rumah makan lain.
“apa?”
“kenapa tidak menggunakan kedai keluarga mu?”
“hah? Kau tahu?”
“tentu saja, aku kan pernah makan jjajangmyeon disana”
Donghae terdiam dengan keterkejutannya. Dia tidak tahu jika Yoona mengetahui kedai keluarganya. Akhirnya Donghae mengambil kesimpulan jika memang Yoona pernah makan di kedai keluarganya dan mungkin bertepatan dengan Donghae yang sedang tidak berada disana.
“jadi kau ingin menggantinya?”, tanya Donghae akhirnya mengalah.
“tentu saja. Rumah makan ini tidak menarik”, ujar Yoona sambil menunjuk-nunjuk gambar rumah makan di kertas pemberian Donghae.
“tapi waktunya tinggal 3 hari lagi?”
“tidak perlu 3 hari. Hari ini pun aku bisa menyelesaikannya”, ujar Yoona penuh dengan kesombongannya. Donghae pun hanya bisa mengangguk saja.
)))))(((((
Disinilah mereka sekarang, kedai keluarga Donghae. Ibu Donghae menyambut mereka berdua dengan senang. Wanita paruh baya itu pun menjawab semua pertanyaan yang Yoona lontarkan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Ayah Donghae juga menyambut Yoona dengan senang bahkan sering bergurau untuk mencairkan suasana. Dari penilaian Yoona, kedua orangtua Donghae sangat ramah dan juga pekerja keras.
Namun yang Yoona bingungkan mengapa mereka memiliki anak seperti Donghae yang menyebalkan dan kaku.
“ini minuman mu”, ujar seorang wanita paruh baya. Yoona yang awalnya sedang memperhatikan Donghae yang sedang membersihkan meja pun teralihkan pada wanita itu. Yoona tersenyum sambil menerima tehnya.
Hari sudah gelap dan kedai pun sudah tutup, sudah tidak ada pengunjung lagi. Donghae sedang membantu ayahnya membersihkan kedai itu sedangkan Yoona ditemani ibu Donghae duduk menikmati teh hangat.
Yoona menatap keluar jendela. Lingkungan kedai itu sangat sepi ketika hari sudah gelap. Hanya satu dua orang saja yang lewat. Letak kedai keluarga Donghae memang tidak strategis. Entah mengapa orangtua Donghae tidak mencari tempat yang lebih bagus.
“Yoona, apa rumah mu jauh dari sini?”, tanya ibu Donghae ketika Yoona sedang menyesap tehnya.
“lumayan jauh ajumma. Rumah ku berada dipusat kota”, jawab Yoona. Ibu Donghae pun langsung mengangguk.
“oh iya… sebaiknya aku segera pulang. Hari sudah semakin gelap”, pamit Yoona tanpa menghabiskan tehnya.
Yoona mengambil ponselnya dan menghubungi supirnya. Tapi sialnya dia tidak menyadari sedari tadi ternyata ponselnya mati.
“ada apa?”, tanya ibu Donghae melihat kegelisahan Yoona.
“ponselku mati. Aku tidak bisa menghubungi supir ku ajumma”
“aku bisa meminjam charger sebentar?”, tanya Yoona. Ibu Donghae menggelengkan kepala.
“tidak, itu akan memakan waktu. Biar Donghae saja yang mengantar mu menggunakan motor ayahnya”, ujar ibu Donghae. Yoona kaget dan langsung merasa tidak enak hati
karena merepotkan.
“ah… tidak perlu ajumma. Aku bisa menggunakan taksi”, tolak Yoona.
“tidak, itu terlalu berbahaya untuk gadis seorang diri dalam taksi. Biar Donghae saja. Donghae…”, ibu Donghae langsung memanggil Donghae sebelum Yoona sempat menolak lagi.
Mendengar namanya dipanggil, Donghae langsung menoleh ke arah ibunya dan melangkah mendekati ibunya itu.
“ada apa omma?”
“antarkan Yoona pulang, terlalu bahaya membiarkannya seorang diri pulang”
“supirmu mana?”, ujar Donghae pada Yoona setelah mendengar penjelasan ibunya.
“ponselku mati, aku tidak bisa menghubunginya”, ujar Yoona.
“aku akan mengambil charger”, ucap Donghae. Tapi sebelum dia sempat melangkah, ibunya sudah menahan lengannya.
“sudah terlalu malam. Lebih baik kau segera mengantarnya Donghae”, ujar ibu Donghae. Pria itu pun menatap keluar jendela. Memang benar, sudah terlalu malam, tidak baik Yoona pulang terlalu malam. Orangtua Yoona pun pasti akan khawatir.
“baiklah. Ayo”, ajak Donghae.
“kau sekalian pulang saja. Appa dan omma menggunakan taksi saja”, tambah ibu Donghae.
“ne”, balas Donghae. Pria itu pun meraih tas ranselnya dan juga kunci motor ayahnya dari laci dekat meja kasir.
Karena tidak enak sudah merepotkan, Yoona hanya bisa berpamitan saja.
“ajumma, ahjussi[23], aku pulang dulu”, pamit Yoona. Kedua paruh baya itu pun mengangguk dengan senyum. Sedangkan Donghae sudah terlebih dahulu keluar.
Ketika Yoona keluar, Donghae sudah menaiki sebuah motor sambil mengenakan helm.
“ini”, ucap Donghae sambil menyerahkan helm lain untuk Yoona. Gadis itu menerimanya dan langsung menggunakannya.
Ketika Yoona ingin menaiki motor itu, dia terlihat kebingungan karena terlalu sedikit tempatnya untuk duduk. Hal itu dikarenakan tas ransel Donghae yang masih pria itu kenakan memakan banyak tempat.
“Donghae aku tidak bisa duduk”, ujar Yoona dengan kesal. Donghae pun menoleh ke belakang dan pria itu langsung tertawa canggung. Dia pun bergeser ke depan namun tidak melepas ranselnya.
“tidak bisakah kau menyingkirkan ranselmu?”
“ah… itu… ku rasa kau tidak akan nyaman jika duduk terlalu dekat dengan pundakku, jadi lebih baik aku tetap mengenakan ranselku”, jelas Donghae. Yoona terdiam sejenak.
‘anak yang sopan’, puji Yoona dalam hati. Tidak mungkin dia mengatakannya langsung. Bisa-bisa Donghae besar kepala.
Yoona pun duduk di belakang. Donghae melirik dari kaca spion untuk memastikan Yoona sudah merasa nyaman dibelakangnya. Setelah itu dia pun melajukan motor itu, membelah kesunyian gang-gang kecil dan sepi.
Donghae lagi-lagi melirik spion untuk melihat Yoona. Dia tersenyum tipis ketika melihat Yoona yang memejamkan matanya dengan kepala sedikit mendongak. Gadis itu seperti menikmati angin malam yang menerpa wajahnya.
Ketika mereka sudah hampir sampai, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya tanpa memberi kesempatan untuk mereka menepi. Tapi Donghae tetap mencari tempat untuk berteduh.
Donghae menepikan motornya di bawah pepohonan rindang. Tapi walaupun begitu, mereka tetap terkena hujan.
“ini, pakailah”, ujar Donghae sambil memberikan mantel hujan pada Yoona. Gadis itu pun langsung mengenakannya.
“kau tidak mengenakan mantel?”, tanya Yoona heran karena Donghae sudah kembali menaiki motor tanpa mengenakan mantel.
“mantelnya hanya ada satu. Lagi pula rumah mu sudah dekatkan. Tidak apa-apa”, ujar pria itu dengan tubuh yang sudah diguyur hujan.
Yoona pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia merasakan wajahnya memanas dan jantungnya berdebar cepat. Karena itulah dia tidak mengatakan apa-apa lagi pada pria itu.
Donghae pun langsung melajukan motor itu lagi ketika Yoona sudah duduk dibelakangnya. Yoona terus menatap wajah Donghae dari kaca spion dimana pria itu dengan serius melajukan motor itu.
Yoona kasian karena Donghae basah kuyup. Tapi dia malu untuk mengatakan sesuatu pada pria itu. Lagi pula mau dimana harga dirinya harus di taruh, jika dia sampai harus mengatakan terima kasih atas kebaikan pria itu. Tidak. Yoona tidak akan mengatakan itu. Tidak akan.
“gerbang kayu itu”, ujar Yoona ketika dia sudah melihat gerbang rumahnya. Donghae pun mengangguk dan mulai memperlambat laju motornya.
Yoona langsung turun dari motor itu dan dengan cepat melepas mantelnya, menyerahkan pada Donghae. Bukannya langsung memakainya, pria itu menatapnya sekilas lalu menatap ke lain arah dengan panik.
“kau kenapa?”, tanya Yoona. Kini mereka berdiri di depan gerbang rumah Yoona yang juga diberi atap sehingga mereka tidak terkena hujan lagi.
“i-itu pa-pakaianmu”, ujar pria itu terbata. Yoona pun menatap pakaiannya dan matanya langsung membulat.
Bagaimana tidak, jika kini warna bra-nya terlihat karena bajunya basah dan menerawang. Dengan panik Yoona langsung memeluk tubuhnya, melindunginya dari Donghae. Gadis itu langsung berbalik, membelakangi Donghae.
Namun yang gadis itu tidak sadari, tidak ada gunanya memunggungi pria itu, karena tali bra-nya bagian belakang tetap terlihat dari punggungnya.
‘sial… sial’, ujar Yoona dalam hati. Dia sangat malu saat ini. Yoona tiba-tiba kaget ketika tiba-tiba sesuatu tersampir
dibahunya. Yoona berbalik, menghadap Donghae. Pria itu kini hanya mengenakan kaus tipis yang menempel pada tubuh pria itu karena basah.
Yoona menatap kemeja yang pria itu sampirkan dibahunya. Dia menarik kemeja itu hingga menutup seluruh dadanya.
“ekhm… mmm… malam ini aku akan mulai merapikan tugas kita. Besok pagi aku akan memperlihatkannya padamu”, ucap Donghae sambil tetap mengalihkan tatapannya kesembarang arah asalkan tidak pada Yoona. Dia masih merasa malu dan canggung. Sehingga dia berusaha mencari topik pembicaraan lain.
“mmm”, hanya itu jawaban Yoona. Gadis itu sedang asyik menatap bentuk dada Donghae yang terlihat karena kaus basah yang digunakan membentuk dada bidang pria itu.
“ka-kalau begitu aku pulang”, ucap Donghae. Dengan cepat dia mengenakan mantel dan menaiki motornya dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, pria itu melajukan motornya.
Yoona masih berdiri didepan gerbang menatap kepergian Donghae. Wajahnya masih terasa panas dan entah mengapa kedua sudut bibirnya ingin tertarik keatas.
“aish… Im Yoona. Apa yang sedang kau pikirkan. Tidak. Tidak. Kau tidak mungkin tertarik pada pria cupu itu”
Yoona segera membuka gerbang dan masuk ke dalam rumah. Sepanjang langkahnya dia berusaha menghilangkan pikiran kotornya tentang dada lebar Donghae. Tapi sialnya dia tidak bisa menahannya lagi.
“HAHAHAHA”, tiba-tiba Yoona tertawa senang ketika menaiki tangga. Bahkan pelayan yang sedang berada didapur sampai kaget.
Ketika Yoona sudah tiba dikamarnya, dia langsung naik ke atas tempat tidurnya, tidak peduli dengan baju basahnya yang akan mengenai sprei.
“YA AMPUN”, seru Yoona sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia gemas, malu dan juga merasa bahagia. Gadis itu berguling-guling ke kanan dan ke kiri berulang kali disertai dengan jeritan, tawanya.
Yoona tidak peduli jika seisi rumah mendengarnya dan menganggapnya gila. Karena Yoona pun mulai merasa dirinya mulai sudah gila. Ya dia gila karena seorang Lee Donghae. Pria yang dianggapnya sebagai musuh dan cupu.
“ya Tuhan… apa yang sedang ku pikirkan. Aku tidak mungkin menyukai pria sepertinya”
Yoona langsung duduk ketika akhirnya dia sadar dari pikiran anehnya. Dia memukul-mukul kepalanya, agar dirinya segera sadar.
“aku pasti hanya terbawa suasana karena pria itu sangat baik hari ini”
“besok pasti dia sudah menyebalkan lagi”
“ya benar. Pria itu tidak pantas untuk ku. Dia terlalu kampungan dan miskin”
Yoona terus melontarkan kata-kata yang bisa membuat pikirannya kembali membenci Donghae. Dia harus segera mengembalikan kewarasannya. Jika tidak semua akan kacau. Bisa-bisa dia akan terlihat lemah didepan Lee Donghae.
)))))(((((
Donghae berlari menaiki tangga menuju atap gedung laboratorium. Lagi-lagi Yoona memeritah sesuka hatinya. Memintanya ke atap gedung laboratorium dengan hanya secarik note di buku tugasnya seperti sebelumnya.
Terkadang Donghae bingung dengan gadis itu. Apa susahnya mengatakan langsung padanya agar bertemu di atap gedung itu. Jika Donghae tidak membuka buku tugasnya tadi, dan menemukan note yang bertuliskan under sky itu, bisa dipastikan dia akan langsung pulang ke rumah hari ini. Membiarkan Yoona menunggunya tanpa gadis itu tahu jika Donghae sudah pulang.
“YOONA”, seru Donghae ketika akhirnya dia sampai diatap gedung. Yoona yang sibuk dengan laptopnya pun langsung menoleh ketika pria itu meneriakkan namanya.
“kenapa kau harus berteriak?”, tanya gadis itu dengan kening mengerut.
“hah… maaf. Ku pikir kau sudah tidak berada disini. Aku baru melihat note dari mu”, ucap Donghae dengan suara masih terengah-engah.
Yoona langsung menopang dagunya dan menatap Donghae dengan jengah. Benar kata pria itu, dia sudah berniat akan segera pulang karena Donghae tidak juga datang ke atap gedung.
“maaf”, ucap Donghae lagi setelah melihat tatapan Yoona padanya. Pria itu pun mendekati Yoona. Dia melirik sedikit ke layar laptop Yoona. Ternyata wanita itu sedang membaca email yang dikirimnya semalam.
Semalam, karena tiba-tiba diserang flu, Donghae jadi tidak bisa tidur dengan tenang. Dia pun memutuskan mengerjakan tugas kelompok hingga larut. Donghae pun langsung mengirim email tugas itu pada Yoona.
“kau ternyata sedang membacanya”, ujar pria itu lagi dengan malu.
“aku sudah selesai memeriksanya. Ku rasa itu sudah cukup bagus”, komentar Yoona sambil duduk kembali.
“aku sudah memilih beberapa foto menu yang bagus. Sekarang kau edit dan tambahkan di beberapa bagian yang sudah ku tandai dengan tulisan merah”, perintah Yoona sambil mengerahkan laptopnya pada Donghae.
Donghae pun dengan patuh melakukan perintah Yoona. Sedangkan gadis itu memilih untuk membaca buku yang tadi juga sempat dibawanya.
“kenapa keluarga mu tidak mencari tempat yang lebih luas?”, komentar Yoona tiba-tiba. Donghae pun menegakkan kepalanya menatap Yoona dengan kening mengerut karena pertanyaan yang begitu tiba-tiba.
“kenapa?”, tanya Yoona lagi.
“aku tidak tahu apa alasan yang sebenarnya. Orangtua ku hanya mengatakan mereka dan juga pelanggan mereka sudah merasa nyaman berada disana”
“tapi alangkah lebih baik jika kedai itu berada di lingkungan yang lebih ramai”
“kau benar. Tapi karena kurangnya pengetahuan mereka tentang bisnis tentu mereka tetap berpegang pada ajaran leluhur kami”
Yoona mengangguk, mengerti. Orangtua dengan pengetahuan zaman dulu.
“tapi suatu saat nanti aku akan mengajari orangtuaku tentang ilmu-ilmu bisnis. Suatu saat nanti”
Ucapan Donghae itu membuat Yoona menatap pria yang sudah kembali menatap layar laptopnya. Yoona tidak menyangka Donghae lebih berminat pada dunia bisnis dibandingkan dunia akademik lainnya. Mengingat lagi ilmu sains Donghae juga sangat bagus.
“aku tidak menyangka kau ingin menjadi pebisnis”, komentar Yoona.
“tidak Aku tidak ingin menjadi pebisnis”
“tapi tadi kau…”
“aku hanya ingin mempelajarinya saja untuk bisnis keluarga. Selebihnya akan menjadi keputusan keluargaku”
“ckckck… itu tetap saja namanya pebisnis karena kau yang ingin mengembangkan usaha keluargamu”, kesal Yoona karena Donghae tidak mengerti arti pebisnis yang sebenarnya. Pria itu pun terkekeh mendengar komentar Yoona.
“sudah selesai? Kau lama sekali hanya mengerjakan seperti itu”, ujar Yoona kembali dalam mood marah-marahnya.
Yoona dengan mulut mengerucut dan mendumel tidak jelas, terus membolak balik halaman bukunya.
Benar apa yang dikatakannya semalam. Pasti pria itu kembali membuatnya kesal. Semalam itu Yoona hanya terlalu terbawa suasana. Nyatanya Donghae tetaplah pria paling menyebalkan baginya.
‘kenapa dia harus marah-marah. Dia tidak takut terlihat tua karena terus marah-marah?’
Yoona langsung melotot menatap Donghae dengan wajah kesal. Dia mendengar semua pikiran pria itu.
‘berani-beraninya dia mengatakan aku tua’, batin Yoona. Dia tidak bisa membalas pria itu karena takut pria itu akan
mengetahui kemampuannya.
Yoona langsung beranjak berdiri. Membawa tas dan juga bukunya. Dengan kasar gadis itu merampas laptop itu, melipat layarnya dan pergi begitu saja.
“Yoona… ada apa?”, tanya Donghae bingung. Tapi Yoona tidak mengatakan apapun, dia pergi.
Donghae menggarut kepalanya, tidak mengerti dengan sifat Yoona yang mudah berubah-ubah. Dia tidak merasa melakukan kesalahan, tapi gadis itu terlihat seperti orang yang marah.
Donghae mencoba mengingat-ingat lagi apa yang dikatakan atau dilakukannya sedari tadi. Tapi dia tetap tidak merasa melakukan kesalahan.
“hah… ya sudahlah”, ujar Donghae akhirnya. Dia pun beranjak dari sana.
Ketika menuruni tangga, Donghae masih bisa melihat Yoona berada di anak tangga paling bawah. Donghae menghentikan langkah kakinya. Dia mengerutkan kening karena Yoona sedang berbicara dengan seseorang dan terlihat akrab.
Witch itu sedang bersama Yoona, dan keduanya terlihat akrab. Tentu saja Donghae tahu itu. Tapi Donghae penasaran, apakah Yoona tahu jika witch itu ingin berniat buruk padanya?
Setidaknya Yoona tidak merasa sesuatu ketika bersama gadis misterius itu? Sebenarnya Donghae tidak ingin ikut campur karena itu bukan urusan Donghae. Lagi pula witch itu tidak melakukan hal-hal yang buruk pada Yoona. Jadi untuk saat ini Donghae biarkan saja witch itu berkeliaran disekitarnya.
)))))(((((
[23] Pria dengan usia jauh lebih tua
bersambung...