
Raga diam menatap diam menatap lurus dikamar Aria. matanya tertuju ke sebuah Foto yang ada didekat ranjangnya.
seorang gadis yang Raga yakini kalo itu adalah Aria dengan seorang lelaki yang wajahnya tidak terlihat akibat dibakar, membuat Raga bertanya-tanya dalam hatinya. "Foto siapa ini?kenapa wajahnya dibakar?"batin Raga.
"apa yang kau lakukan?"Tanya Aria keluar dari kamar mandi lengkap dengan seragamnya.
"Aria, siapa difoto ini?"tanya Raga membuat Aria mematung.
"Aria?"
"i-itu....aku."jawab Aria.
"CK, aku tahu, maksudku yang ada di sampingmu?"Tanya Raga.
"....aku sudah siap, ayo kita pergi."kata Aria sambil menggendong Tasnya ke punggungnya dan berjalan keluar.
"Aria, setidaknya jawab dulu."kata Raga sambil menyusul Aria yang meninggalkannya.
Disepanjang perjalanan Aria hanya diam, bergulat dengan pikirannya, enggan berbicara dengan Raga yang menatapnya heran. "Aria, ada apa?"Tanya Raga.
"... tidak ada."jawab Aria tersenyum.
"benarkah?"Tanya Raga.
"iya."jawab Aria mantap.
"benar, tidak ada. semuanya adalah masa lalu yang harus ku lupakan."batin Aria.
...----------------...
Aria duduk di kursi didalam kelas dengan Sayuri yang duduk dihadapannya. tampak Mareka mengobrol banyak hal. "Aria, Aria, sebenernya aku penasaran."kata Sayuri.
"tentang apa?"tanya Aria.
"bagaimana sekolah yang dulu? apakah seperti ini juga?"tanya Sayuri.
"hm?tidak, sekolahku dulu hanya sekolah biasa, tidak mewah seperti ini."jawab Aria.
"lalu apakah kau dulu punya kekasih?"tanya Sayuri membuat Aria terdiam.
sementara itu Raga yang mendengar suara Sayuri yang bertanya seperti itu, diam-diam menguping pembicaraan mareka di luar kelas. "i-itu...."jawab Aria ragu-ragu.
"namanya? siapa?"tanya Sayuri.
"namanya? em.....Ar-"
Devan yang melihat Raga yang sedang bersandar di pintu langsung menghampirinya. "apa yang kau lakukan disitu?"tanya Devan membuat Raga terkejut.
"Diam."pelan Raga.
Brak.
pintu terbuka Membuat Raga yang bersandar disana langsung terhuyung kebelakang. "Apa yang kalian lakukan?"tanya Aria menatap Devan dan Raga.
"apakah jangan-jangan kalian menguping?"selidik Sayuri.
"lalu bagaimana dengan kau?"tanya Sayuri tajam kepada Raga.
"aku tidak tahu apapun."kata Raga mengalihkan pandangannya kesamping.
"lalu apa yang kau lakukan didepan pintu?"Tanya Devan membuat Raga menatapnya tajam.
"Devan sialan!" batin Raga.
"itu... karena aku tidak ingin menguping pembicaraan kalian."kata Raga.
"benarkah?"tanya Sayuri.
"iya."jawab Raga.
Aria hanya terkekeh kecil melihat Mareka. "mungkin Raga disana untuk menguping, tidak ku sangka Raga tidak pandai berbohong."batin Aria.
"eh? Aria, ada apa?"Tanya Sayuri.
"tidak apa-apa."jawab Aria tersenyum.
Devan langsung terpesona melihat senyuman Aria berbeda dengan Raga yang memalingkan wajahnya kesamping. "Nona Aria cantik sekali."kata Devan menghampiri Aria.
"Tidak kusangka nona Aria sangat baik hati."kata Devan.
"hehehehe tidak kok."kata Aria.
tampak Devan langsung menegang dadanya sambil meringis. "a-aduh."
"kenapa?"tanya Aria khawatir.
"rasanya jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya."kata Devan.
"...karena melihat senyuman nona Aria."lanjut Devan membuat Sayuri dan Raga memutar bola matanya jengah.
"oy, Devan."panggil Raga.
Devan menoleh kearah Raga. "ada apa?"Tanya Devan.
"aku ingat, kalo masih ada pekerjaan yang harus dilakukan, ayo,kita pergi."ajak Raga
"pembohong! bukankah sudah selesai semua."kata Devan.
"apa kau lupa?"tanya Raga menatap Devan dengan tatapan mematikan.
Devan meneguk Salivanya susah payah."k-kau benar, aku lupa."kata Devan.
"ayo, pergi."kata Raga.
"i-iya, bye... nona Aria."kata Devan.
"cepat, sana."kata Sayuri.