
Arvin, anak buah kepercayaan Kendra sedang berjalan-jalan di trotoar dengan kedua tangannya yang ia masukkan kedalam saku celana. didepan matanya begitu banyak orang-orang yang bergerombol membuat dirinya menjadi penasaran. "apa yang terjadi?"gumam Arvin bertanya-tanya
"ada seorang wanita yang tertabrak truk. kelihatannya dia juga sedang mengandung."jawab seseorang yang berada didekat Arvin
"seorang wanita?"tanya Arvin heran
"iya."kata orang itu
Arvin terkejut melihat gadis yang terbaring tersebut dari celah-celah kerumunan orang. dengan nafas memburu dan detak jantung yang berdetak kencang, dirinya melangkah masuk kedalam kerumunan tersebut.
dengan cepat Arvin menghampiri gadis itu yang tak lain adalah Aria. "Aria, Aria bangun."kata Arvin panik sambil menepuk-nepuk pipi Aria
"sial."gumam Arvin
Arvin pun menggendong tubuh Aria yang berlumuran darah masuk kedalam mobilnya. "kerumah sakit, cepat'!"kata Arvin dengan penuh penekanan
"b-ba-baik tuan muda."kata sopir pribadi Arvin
beberapa saat kemudian. Arvin termenung didepan ruangan UGD dirumah sakit. pikirannya berkecamuk memikirkan perkataan yang dikatakan dokter kepadanya.
beberapa saat lalu
"pendarahan nona sangat parah ditambah dengan kondisinya yang sedang mengandung jika terlambat sedikit saja mungkin tidak bisa diselamatkan lagi. tapi kami tidak bisa melakukan operasi tanpa persetujuan tuan."
"lakukan saja."kata Arvin
"baiklah, silahkan tuan tandatangani disini."kata dokter itu sambil memberikan surat kepada Arvin
"apa ini?"
"ini surat persetujuan tuan untuk bersedia melakukan operasi dan mengeluarkan janin didalam rahim nona."
"apa?!"kejut Arvin
"iya tuan, kami tidak bisa melakukannya tanpa persetujuan tuan."
"apa dengan melakukan operasi itu dia bisa dipastikan selamat?"Tanya Arvin
Arvin mengangguk dan menandatangani surat persetujuan tersebut.
lamunan Arvin buyar ketika melihat dokter keluar dari ruangan UGD. "bagaimana operasinya dok?"tanya Arvin mendekat kepada dokter tersebut
"syukurlah, operasi berjalan lancar dan pasien sudah dipindahkan ke ruangan inap."kata dokter
"apa saya bisa menemuinya?"tanya Arvin
"oh, tentu, tentu saja boleh."kata dokter itu
"makasih dok."kata Arvin
"sudah, saya permisi dulu, masih ada pasien yang harus saya operasi."kata dokter itu sambil meninggalkan Arvin
disebuah ruangan tampak Aria yang terbaring dengan alat-alat kesehatan yang terpasang diseluruh tubuhnya. Arvin duduk disamping bankar Aria sambil menatap wajah pucat gadis itu. "Lo kok bisa sampai kaya gini sih? padahal rencananya hari ini gue mau mengakrabkan diri sama Lo."kata Arvin sambil mengangkat tangan Aria untuk menyentuh pipinya
"apa jangan-jangan Lo kaya gini karena udah lama gak ketemu gue? rindu? kalo emang bener, gue janji gak bakal ninggalin Lo lagi deh."lanjut Arvin
"Lo kok cuma diem sih? jawab dong ri jangan diem aja."lirih Arvin
Arvin menghela nafas panjang dan menoleh kearah jendela. "kelihatannya gue terlalu berharap lebih sama Lo, padahal gue tahu Lo Sangat menyukai dia."gumam Arvin
Tok...tok...
"masuk."jawab Arvin
tak lama kemudian 2 orang berpakaian serba hitam masuk. "katakan."
"tuan, tuan besar menyuruh Anda segera menemuinya."kata salah satu orang itu
"baik."jawab Arvin
Arvin menatap Aria lekat. "sekarang gue harus pergi bentar nanti gue kembali lagi kok."kata Arvin sambil mengelus rambut Aria lembut lalu pergi