
5 jam berlalu setelah Aria mencoba semua gaun pilihan dari kedua saudarinya tersebut. "bisakah kalian berhenti?!" bentak Aria membuat Elina dan Felisha menatapnya.
"kalian terus menyuruhku memakai gaun ini dan itu. aku juga punya gaun pilihan ku sendiri."kata Aria kesal.
"benarkah? coba tunjukan."kata Felisha
Aria mengambil gaun yang terletak didekat sofa yang ia duduki beberapa saat lalu dan membawanya kehadapan Elina dan Felisha.
tampak gaun putih dengan Renda diujung gaun dan pita putih melingkar di pinggang, membuat Elina dan Felisha terdiam melihatnya. "kau...yakin?"Tanya Elina ragu.
"tentu saja, ini adalah gaun pilihanku."kata Aria.
Elina dan Felisha berpandangan."Aria, bukankah gaun ini terlalu...klasik?"tanya Elina
"hm? kata siapa terlalu klasik? aku lebih suka gaun seperti ini, sederhana dan tidak ribet."kata Aria.
"sudah kuduga." batin Elina dan Felisha
Felisha mendekat kearah Aria. "kak Ari, besok adalah pernikahanmu, tidak ada salahnya untuk memakai gaun mewah. bukankah pernikahan itu sekali seumur hidup."kata Felisha
"itu benar,Aria. lagipula akan ada banyak sekali orang yang akan hadir, entah itu teman Kantor ayah atau para duta besar, semuanya akan hadir."
"Apa kau mau mempermalukan ayah dan ibu?"tanya Elina.
" tidak ku sangka menikah saja akan serepot ini."batin Aria.
"tentu saja tidak."jawab Aria
"maka dari itu, pilihlah gaun mana yang kau sukai dari gaun yang kupilihkan."kata Elina
"curang!! gaun pilihan Feli saja."kata Felisha
sementara itu tampak Arga yang sedang duduk bersandar di tembok kamarnya sambil memegang botol kaca yang sudah pecah. bahkan, kamarnya tampak sangat sangat berantakan bak kapal pecah.
kenang-kenanganya bersama Aria berputar di pikirannya membuat perasaannya berkecamuk.
Prang
Arga pun melempar botol yang ada ditangannya tersebut.
tok
tok
tok
"siapa?"tanya Arga dingin.
"tuan muda, ada undangan dari keluarga Vandoria untuk anda dan nyonya."kata pelayan dirumah Arga.
dengan cepat pelayan tersebut pergi dari hadapan tuan mudanya tersebut. Arga pun kembali masuk kedalam kamarnya.
Arga membuka undangan tersebut.
kepada Yth bapak/ibu yang terhormat.
...ketika dua hati yang berbeda menyatu, maka Tuhan lah yang menyatukan....
...tatkala janji terucap, maka Tuhan lah yang menjadi saksi diantara keduanya....
...Dihari yang bahagia ini, ijinkan lah kami menikahkan putra-putri kami:...
...Ariana Vandoria dengan Arvin Alexander....
...Minggu, 8 Oktober 20xx...
...tempat: gedung Vandoria's...
Kehadiran dan doa restu bapak/Ibu/Saudara/i kami tunggu dan kami ucapkan terima kasih.
Arga pun mengeluarkan mancis dari saku bajunya.
Tak.
Arga membakar undangan tersebut dengan perasaan yang tercabik-cabik lalu membuang undangan yang terbakar tersebut.
tanpa dirinya sadari undangan tersebut tepat mendarat di atas kasurnya hingga membuatnya terbakar. Arga hanya terdiam melihat kasur nya terbakar dan mulai menyebar ke seluruh ruangan.
Tok
Tok
Tok
"Arga, buka pintunya nak! buka pintunya!"teriak Nerissa menggedor-gedor pintu kamar Arga.
Hening, tidak ada jawaban dari Arga membuat semua orang semakin panik.
"Arga! buka pintunya!!"teriak Gina kakak Arga.
Bruk.
"Arga, kau baik-baik saja kan? buka pintunya! Arga?!"panik Marcell ayah Arga.
karena tidak ada jawaban dari Arga. mareka pun mendobrak pintu kamar Arga.