
"benarkah?"
"ya, kau tahu aku membuat gedung ini hanya untukmu dan tidak ada yang bisa menggantikanmu Aria."
"benarkah?"
"tentu, tentu saja sayangku."
Dhika pun menarik tangan Aria ketengah-tengah gedung tersebut. "Dan dibawah lampu gantung yang indah ini kita akan mengucapkan mengikrarkan janji kita dan menikah dihadapan semua orang."ucap Dhika sambil menangkup kedua pipi Aria
"Aku tidak bisa mempercayainya Dhika. Aku tidak pernah berpikir kalau kau sangat mencintaiku."
"Dan aku minta maaf karena aku tidak percaya padamu."ujar Aria sambil memeluk tubuh Dhika
Dhika pun membalas pelukannya erat. "tidak! aku juga minta maaf padamu karena kau sudah mempercayaiku, Aria."
"jika kau tidak percaya. maka aku tidak bisa menjalankan rencana ini."ujar Dhika
Senyum Aria pun luntur saat mendengar perkataan Dhika. Aria mencoba untuk melepaskan pelukannya tapi tidak bisa karena Dhika yang memeluknya sangat erat.
Dhika melepaskan pelukannya. "rencana ini begitu penting sehingga aku bisa menghancurkan kepercayaaanmu namun aku tidak bisa menghancurkan rencana ini."
"kau menyakitiku Dhika."lirih Aria
"tidak!kau yang menyakitiku!!apa kau pernah memikirkan itu?! jelas tidak!!"bentak Dhika sambil mencoba untuk memukul Aria
tampak Aria yang menahan tangisnya sambil menahan pukulan Dhika dengan lengannya. "tapi sekarang dengarkan aku! aku tidak bisa menikahimu!! dan hanya ada satu jalan keluar!"
Aria pun menahan tubuh agar tidak membentur anak tangga karena Dhika yang mendorongnya. "karena kau, gedung ini akan dimusnahkan"
"aku minta maaf."lirih Aria
"sungguh memalukan. dan aku sudah bersiap untuk membakarnya tapi tempat ini tidak akan terbakar sendiri, alasan atas kehancuran juga akan terbakar bersamanya....."ucap Dhika sambil mengambil mancis dari sakunya.
Aria pun beringsut mundur ketakutan. "...yaitu KAU!"
mata Aria pun terbelalak kaget. "aku minta maaf Aria! tapi aku pikir ini cukup adil!"
Aria menggeleng cepat kala Dhika memperlihatkan mancis yang mengeluarkan api. "Tidak!!Dhika!!" teriak Aria sambil menggeleng
Dhika pun menjatuhkan mancis tersebut. Dengan cepat api menyebar dilantai marmer yang sudah anak buah Dhika siram dengan minyak tanpa sepengetahuan Aria. "tidak!!"
Dhika pergi meninggalkan Aria sendirian tanpa mendengarkan teriakkan Aria yang memanggil namanya. "Tidak!!ku mohon Dhika!!"
Aria tertegun saat Dhika keluar tanpa memedulikan dirinya. "Dhika!!"
Aria pun segera mengejar Dhika yang sudah menguncinya didalam gedung. tampak Dhika berbalik saat melihat Aria yang memukul jendela kecil dipintu. "kumohon buka pintunya!! kumohon buka." lirih Aria menahan tangisnya
Dhika pun mencium jari telunjuk dan tengahnya lalu menempelkannya kekaca dan pergi meninggalkan Aria. "ku mohon jangan, jangan Dhika!!" ujar Aria sambil memukul-mukul kaca
sementara itu Arga yang berada tak jauh dari sana pun tampak sedikit terkejut melihat Aria yang memukul-mukul kaca meminta Dhika untuk mengeluarkannya. tetapi Dhika tidak menghiraukannya dan masuk kedalam mobilnya meninggalkan Aria.
Aria frustasi saat melihat Dhika masuk kedalam mobil meninggalkannya sendirian. tak lama kemudian dari kejauhan dirinya melihat Arga yang berlari kearahnya. "Arga!!" teriaknya sambil memukul kaca.
"Aria!!"teriak Arga sambil menghampiri Aria yang memukul kaca
"komohon keluarkan aku, biarkan aku keluar. please."lirih Aria
samar-samar Aria mendengar suara Arga yang menenangkan dirinya lalu mencoba sekuat tenaga untuk membuka pintu tetapi tidak berhasil.
dengan cepat Arga berlari mengambil batu yang tidak jauh dari gedung.
Aria POV
dengan cepat Arga membawa batu tersebut tetapi salah satu dari mereka menendang punggung Arga sehingga Arga terjatuh.
Dari dalam aku menyemangati Arga dengan memukul kaca Karena aku yakin jika aku berteriak dengan keras pun tidak akan sampai keluar.
dapatku lihat Mareka berdua memukuli Arga dan menyeretnya untuk menjauh. Arga pun memukul Mareka berdua dengan pot tanaman yang dirinya ambil.
Aku terdiam saat melihat Arga yang berdiri dengan mulut yang penuh dengan darah. dan berjalan kearah ku sambil memukulkan pot tersebut untuk memecahkan kaca. tetapi tidak berhasil dirinya pun terdiam sambil menatap wajahku lekat
Bruk
ke-dua orang itu mengangkat tubuh Arga dan menghempas tubuhnya ketanah. lalu menendang dan memukuli Arga dengan membabi buta. sehingga Arga ambruk.
Aria POV end
tak lama kemudian setelah mobil milik ke-dua orang itu pergi Arga pun bangkit lalu melemparkan batu kekaca hingga pecah. Api pun mengepul keluar dari jendela.
dengan tubuh yang terluka Arga pun masuk kedalam gedung yang terbakar tersebut. "Aria!!"
"Arga!!" teriak Aria sambil menghindari puing-puing yang terjadi diatas tangga
Aria pun menuruni anak tangga sambil berteriak memanggil Arga. "Aria!!"
Arga pun menghampiri Aria yang berada ditangga. "kyaa!!"teriak Aria saat sebuah patung jatuh dihadapannya.
"Arga!!"
Aria pun melihat Arga yang berada sedikit jauh darinya sambil mengulurkan tangannya yang berdarah. Aria mengulurkan tangannya dan mendekat kearah Arga begitu juga sebaliknya.
Duarr
api pun kian membesar menghalangi penglihatan Aria. Aria kembali berlari keatas anak tangga meninggalkan Arga yang terlempar keluar jendela akibat kobaran api.
Arga pun jatuh dan terguling-guling ditanah kejalanan dengan tubuh yang terbakar. tampak dirinya melihat gedung yang terbakar tersebut meledak.
**Tin
Tin**
Bruk
dirinya terjatuh saat seseorang menabrak dirinya. samar-samar dirinya melihat lelaki itu sedikit panik.
Arga POV
sakit itu yang kurasakan. samar-samar diriku melihat dokter yang sedang mencoba mengobatiku.
Bzzzt
dokter pun melakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau dikenal juga dengan sebutan RJP (resutisasi jantung paru-paru). aku pun memejamkan mataku seketika kenangan ku bersama Aria pun muncul kembali aku membuka mataku.
dapat ku dengar Suara bising. aku pun kembali memejamkan mataku kenangan tentang Aria kembali berputar didalam ingatanku tetapi aku tetap memaksakan mataku untuk tertutup. Aria maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkanmu. aku berjanji jika aku sudah sembuh aku akan kembali dan membalaskan dendammu Karena itu ku mohon bertahanlah sebentar. batin Arga
Sementara itu
tampak seorang Lelaki yang menatap seorang gadis yang pingsan. "bagaimana keadaannya?" Tanyanya kepada Pria paruh baya yang ada disampingnya
"syukurlah tuan, keadaannya baik-baik saja mungkin sekitar beberapa Minggu dia akan kembali sadar."
"kau boleh pergi."
pria paruh baya itu pun pergi menurut perintah lelaki yang dipanggilnya dengan panggilan tuan. "bodoh, jika aku tidak sampai tepat waktu bisa bisa kau tidak akan selamat."gumam lelaki itu sambil mengusap rambut Aria lembut