Argaria

Argaria
Chapter 63



"aku tidak bilang begitu loh."kata Kendra


"lalu siapa?"Kata Felisha


"kita urus masalah itu nanti. yang penting sekarang, masalah dipercepatnya pernikahan Aria, ku pikir mareka akan beraksi saat itu."kata Achilles


"bisa saja."kata Dian


"ah, tadi saat aku sedang melihat keluar jendela bertepatan dengan Aria tiba, aku melihat seseorang."kata Elina


mareka menatap Elina penuh tanda tanya. "iya, hanya aku tidak tahu siapa dia."kata Elina


"kenapa kita harus melindungi kak Aria seperti ini?"Tanya Felisha


Mareka semua terdiam. "...kau masih tidak menyadarinya?"tanya Achilles menatap Felisha dengan tatapan datar hingga membuatnya menunduk


"m-maaf."


"bagaimana lagi, sepertinya harus dijelaskan. Felisha, sebutkan apa yang orang takutkan darimu?"kata Elina


"...kebrutalanku."jawab Felisha


" kau benar, keluarga kita dikenal dengan kebrutalan kita semua. lihatlah dirimu, di umurmu yang masih muda ini, kau memimpin salah satu geng yang terkenal bukan?" kata Elina


"walaupun orang lain tidak mengetahuinya tetap saja kau adalah pemimpin mareka." sambung Elina


"benar. sedangkan Kendra adalah pemimpin sebuah perusahaan Vandoria's yang paling terkenal bahkan memiliki kekayaan yang tidak sebanding dengan orang lain."kata Dian


"...lalu Achilles, Kaka tertua kalian adalah penerus utama perusahaan Vandoria's. bahkan dikenal sebagai tuan muda yang paling misterius karena tidak banyak orang yang tahu wajahnya dan juga, sebagai mafia yang terkenal paling hebat."lanjut Dian


"lalu bagaimana dengan ibu dan kak Elina?"tanya Felisha


"ibu... adalah pembunuh bayaran yang paling handal."jawab Achilles


"sedangkan Elina adalah penerusnya."sambung Kendra


Felisha terdiam mendengar penjelasan tersebut. " ternyata keluargaku semuanya sudah gila." batin Felisha


"ah... bagaimana dengan kak Aria?"tanya Felisha


"Aria, hanya dia yang berbeda. dia... berbeda dari kita yang sudah mengotori tangan kita dengan darah."kata Kendra


Felisha pun mengerti kenapa keluarganya begitu melindungi Aria. karena dibandingkan mareka Aria seperti bunga yang tumbuh ditengah-tengah gurun pasir. "aku mengerti."kata Felisha tersenyum


Aria menoleh kesekeliling. "sepertinya kaka les sedang pergi, aku bisa kembali kekamar."kata Aria gembira


Dengan cepat Aria keluar dari kamar tersebut. sesampainya dikamar dirinya pun langsung berbaring di ranjangnya. "aku tidak mengerti Kenapa mareka terlalu overprotektif kepadaku, padahal aku sudah bukan anak kecil lagi."gumam Aria


tok


tok


tok.


"masuk."jawab Aria


tampak Elina masuk sambil tersenyum manis kepada Aria. "kak Elina? ada apa?"tanya Aria


"hm? tidak apa-apa."kata Elina


"kaka pergi kemana aja, sampai pertunangan ku tidak ada?"tanya Aria


"hm?ah....i-itu....aku pergi...kampus. iya, ada acara di kampus."kata Elina gugup


"kakak kenapa begitu tegang?"tanya Aria


"t-tidak."jawab Elina


" aku tidak bisa bilang kalau aku sedang ada misi untuk membunuh seseorang di kota sebelah." batin Elina


"... oh ya, Kaka hanya ingin menyampaikan sesuatu."kata Elina


"apa?"tanya Aria penasaran


"ayah dan ibu sepakat untuk memajukan tanggal pernikahanmu."kata Elina


"Apa?!"


sementara itu diruang kerja Kendra. "kami sudah membuat kesepakatan tentang hubunganmu dan Aria."kata Kendra


Arvin hanya diam mendengarkan dengan wajah serius. "pernikahan mu akan dimajukan lusa."kata Kendra membuat Arvin tertegun


"tuan, apa ada masalah serius?"tanya Arvin


"tidak, hanya saja kita harus berjaga-jaga."kata Kendra