
Arga mengepalkan tangannya erat menunjukkan bahwa dirinya sedang sangat marah.
Arga pun masuk kedalam ruangan tersebut.
Bugh
Arga pun menonjok wajah Dhika tepat setelah dirinya membalikkan badan Dhika kehadapan. Dhika terjungkal kebelakang akibat Arga yang menonjok-nya secara tiba-tiba.
"Brengsek."geram Arga sambil menarik kerah baju Dhika
**Bugh
Bugh
Bugh**
"Lo apaain Aria hah?!" bentak Arga
"mau gue apain Aria, gak ada hubungannya sama lo kan?"sinis Dhika sambil mengusap darah yang mengalir disudut bibirnya
Bugh
"DASAR BEDEBAH!!" maki Arga
Bugh
Arga pun memegang perutnya yang ditojok oleh Dhika.
**Bugh
Bugh
Bugh**
Dhika pun membalas pukulan Arga hingga pelipis dan Ujung bibirnya yang mengeluarkan darah.
DOR
dengan cepat Arga menghindar kesamping dan menoleh keluar jendela. sepertinya dia tidak sendirian merencanakan semua ini. pikir Arga
Karena tidak fokus Dhika pun memukuli Arga membabi buta. sial, aku tidak bisa membalasnya. batin Arga
Brak
pintu terbuka menampakkan Bara dan Alva yang masuk dan langsung membantu Arga. "sial."ujar Dhika
Dhika pun berlari kearah jendela lalu melompat. "dia kabur!! jaga dibawah!!"perintah Arga
Bara dan Alva pun mengangguk. baru saja Arga ingin ikut tapi ditahan oleh Bara. "mending lo urus Aria."ujar Bara
"tapi-
Arga mengangguk mengerti.
"wes....mau kemana Lo?gak dingin apa gak pake baju?"tanya Leon
Sring
Dhika pun mengeluarkan pisau yang terselip di pinggangnya. "yaelah... cuma itu doang."ujar Leon
Leon pun cengengesan saat senjata yang dirinya simpan tidak ada. Sementara itu Arga sedang menatap Aria yang terbaring di kasur dengan tatapan sedih bercampur marah.
Dirinya sedih akibat tidak bisa menjaga Aria dengan baik dan marah karena Dhika yang meniduri Aria sedangkan dirinya tidak bisa melakukan apapun. "aku tidak berguna."gumam Arga
Arga mengusap wajah Aria. "maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan benar."
"...semua ini terjadi karena aku. jika aku bersamamu mungkin semua ini tidak akan terjadi dan kau tidak akan hancur seperti ini."
Arga pun menaikkan selimut Aria hingga keleher Aria lalu mengangkatnya dan membawanya pergi.
Diapartemen Argaq.
Arga meletakkan tubuh Aria kekasur dengan perlahan-lahan agar tidak membangun Aria lalu pergi keruang tamu. tampak Bara, Alva dan Leon sedang duduk di sofa. "gue mau kalian dan yang lainnya cari Dhika dan orang yang ada sangkut pautnya dengan semua ini."ujar Arga serius
Mareka bertiga pun mengangguk. "dan Ingat!! kalian harus bawa kehadapan gue!"perintah Arga
"dan satu lagi, gue gak peduli mau dia udah mati atau hidup yang penting bawa dia kehadapan gue."ujar Arga dingin
"bubar!!."ujar Arga
Alva dan Leon dengan cepat pergi kecuali Bara yang menatap Arga. "Lo jangan apa-apain Aria." ujar Bara mengingatkan
"gue tahu."ujar Arga
Bara menepuk pundak Arga lalu pergi.
Pagi hari.
Aria pun terbangun dari tidurnya saat Arga membuka pintu kamar dengan sebuah nampan ditangannya. "maaf... gara-gara aku kamu jadi terbangun."ujar Arga merasa bersalah
Aria diam tidak menjawab. nampak matanya yang kosong menerawang jauh kearah jendela. Arga pun menghela nafasnya dan meletakkan nampan tersebut ke nakas dan duduk disamping Aria. "hei."sapa Arga sambil mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Aria
dengan cepat Aria menyentakkan tangannya. "jangan sentuh gue, Dasar brengsek!!"ujar Aria dingin
"hei, tenanglah. ini aku, Arga."
Aria pun menatap Arga. seketika air matanya pun mengalir bersamaan dengan dirinya yang memeluk Arga erat dirinya pun terisak. "A-hiks...aku takut...hiks...hiks..."isak Aria
Arga mengusap rambut Aria lembut. "tidak apa-apa. sekarang kau aman bersamaku disini."