
Aria pun duduk disamping Arga. nampak Aria sedang celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu. Arga menatap Aria dengan tatapan heran."kenapa?"ujar Arga
"gak, bukan apa-apa."ujar Aria tersenyum "oh,ya ngomong-ngomong Lo biasa kesini?"Tanya Aria
"ya....gitulah, biasa nongkrong bareng."ujar Arga
tak lama kemudian seorang pria paruh baya pun menghampiri mareka berdua. "eh? Arga? mau pesan apa?"ujar pria tersebut
"kaya biasa aja mang Mamat."ujar Arga tersenyum. Arga menoleh kearah Aria. "Lo?"tanya Arga
Pria yang dipanggil mang Mamat itu pun menatap Aria yang berada dibelakang Arga. "eh?siapa nih? cuantik banget"tanya mang mamat
"ah, mang mamat bisa aja, aku Aria mang" Jawab Aria tersenyum
"namanya cantik kaya orang ya...." "yaudah neng Aria mau pesen apa?"tanya mang Mamat
"aku......nasi goreng aja deh satu minumnya es teh manis aja." ujar Aria
"orangnya manis, minumannya teh manis, awas diabetes neng."ujar Mang Mamat
Aria pun tertawa pelan. "yaudah saya buatin dulu ya."ujar Mang Mamat pergi kebelakang.
Arga pun mengambil sebatang rokok dan pemantik dari saku bajunya. Aria menatap Arga dengan tatapan heran saat Arga menghisap rokok tersebut lalu meniup hingga asap rokok menyebar. "Kenapa?"tanya Arga sambil memegang rokok di sela-sela jari telunjuk dan jari tengah.
"gue heran, apa sih enak ngerokok? padahal lebih enak permen juga."tanya Aria
"Lo gak tau?"tanya Arga
"gak, yaudah kasih tau."desak Aria
"gak bisa dijelasin."ujar Arga
"Arga!"rengek Aria
Arga menghela nafas.
set
Arga pun memberikan rokok milik kearah Aria. "apa?"Tanya Aria Bingung
"Lo pengen tahu kan? yaudah isap aja, gak apa-apa kok"ujar Arga tersenyum
saat Aria ingin menggapai rokok tersebut, tiba-tiba Mang Mamat pun muncul. "eh? anak orang jangan dirusak Arga."ujar Mang Mamat terkejut
Aria dan Arga menatap Mang Mamat yang berada didepan Mareka berdua. Arga cengengesan saat melihat Mang Mamat menatapnya tajam. "jangan mau neng disuruh kaya gitu."tegur Mang Mamat
"tuh, dengerin."ujar Arga
"kamu juga Arga."ujar Mang Mamat
"Ampun mang."ujar Arga sambil cengengesan.
"saya dari tadi heran deh, kenapa sih neng Aria mau sama Arga? padahal orangnya suka ngerokok."ujar Mang Mamat
"kita gak pacaran kok Mang."ujar Aria
"oh, kirain, saran Mamang sih jangan Deket-deket sama Arga neng."ujar Mang Mamat
"kenapa mang?"tanya Aria heran
"takut ketular sikap Arga yang kaya tadi neng."ujar Mang Mamat
"oh,gitu ya mang."ujar Aria
"iya neng."jawab Mang Mamat
"iya deh mang, makasih nasehatnya."ujar Aria tersenyum
Mang Mamat pergi meninggalkan Arga dan Aria yang terdiam, atau lebih tepatnya Arga yang diam sambil menatap Aria kesal. "kenapa?"tanya Aria
"jangan percaya sama mang Mamat, gue gak bakal ngehancurin lo kok."ujar Arga
"oh,ya?"tanya Aria
Arga menggangguk. "cepetan makan supaya kita bisa pulang."ujar Arga
diapart milik Arga.
Aria pun duduk diam diatas sofa sambil berbaring. "Arga....gue bosen."rengek Aria
Arga yang sibuk memainkan game diponselnya pun menatap Aria sebentar lalu kembali menatap ponselnya. "main ponsel aja sana."ujar Arga
"Arga!"ujar Aria
Hening tidak ada Jawaban apapun dari Arga. yang Aria dengar hanya umpatan kasar Arga yang tiada habisnya.
Aria bangkit dari duduknya lalu melangkah kekamar Arga.
Arga terkejut saat mendengar suara pintu yang dibanting oleh Aria. Arga menghela nafas panjang. "salah lagi."gumam Arga
Arga masuk kedalam kamar. tampak Aria yang sedang berbaring membelakangi Arga yang menatapnya. "Aria..."panggil Arga
"Aria udah meninggal."Jawab Aria kesal
Arga pun berjalan menuju ranjang lalu mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang. "Aria? Lo marah?"tanya Arga
"menurut Lo? pergi sana brengsek."ujar Aria
"Aria Lo gak boleh gunakan bahasa kasar gitu."ujar Arga sedikit terkejut dengan perkataan Aria
"Lo sendiri gitu."Ujar Aria acuh.
"oke, gue salah, maafin ya?."jawab Arga.
Aria membalikkan badannya hingga menatap wajah Arga.
"oke."Jawab Aria "..... Arga gue boleh ngomong gak?"tanya Aria
"ngomong aja."ujar Arga Sambil mengusap rambut Aria lembut
"bisa gak Lo jangan Deket-deket sama gue."ujar Aria "....kan kata Mang Mamat nanti gue ketular sikap buruk Lo."lanjut Aria tersenyum
"mungkin gue harus bunuh Mang Mamat."gumam Arga kesal.
Aria pun tertawa. "gak kok gue cuman bercanda ga."ujar Aria
Aria bangkit dari tidurnya dan duduk menatap Arga. "Lo gak ngajak gue jalan lagi?"Tanya Aria
"kemana?"ujar Arga
"ya.... terserah, mengenang masa lalu gitu."ujar Aria
"nggak, gue gak mau terikat sama masa lalu."ujar Arga
Aria menatap Arga lekat tampak Arga menerawang lurus ke depan dengan mata kosong. "Arga."panggil Aria
Arga menoleh ke arah Aria. "kenapa?"tanya Arga
Arga menatap Aria heran saat Aria mengeluarkan liontin dari balik bajunya
"Lo tau liontin ini gak?"tanya Aria "....soalnya gue penasaran sama dalamnya, kali aja Lo punya kuncinya."ujar Aria
Arga terdiam sejenak.
".....Lo penasaran?"tanya Arga
Aria mengangguk. Arga pun mengeluarkan kunci yang melingkar di lehernya sebagai kalung. Aria menatap Arga dengan tatapan terkejut. "Lo- Lo punya kuncinya?"kejut Aria
"ya.... begitu lah."ujar Arga
Arga menatap Aria. "boleh?"tanya Arga
Aria mengangguk sambil mendekatkan tubuhnya ke Arga. Arga menggapai Liontin tersebut lalu membukanya.
baru saja terbuka benda hitam kecil pun terjatuh dari dalam liontin tersebut. dengan cepat Aria mengambilnya. "apa ini?memory?"Tanya Aria
Arga pun merebut memory tersebut. "bener, ini memory."ujar Arga
Arga mendongak menatap Aria. "gue aja yang simpen dulu entar gue balikin."ujar Arga
"tapi gue pengen tahu apa didalamnya."ujar Aria
"Aria entar gue balikin."ujar Arga
Aria pun mengangguk lesu. "gue janji."ujar Arga
' kalo gak salah didalam sini ada kejadian beberapa tahun yang lalu. ' batin Arga
"gue anterin Lo pulang." ujar Arga
"tap-"
"ayo." ajak Arga Sambil menarik tangan Aria
Arga pun mengantarkan Aria pulang kerumahnya. disepanjang perjalanan Aria dan Arga hanya terdiam tak bersuara, hingga akhirnya Mareka pun sampai didepan rumah Aria. "makasih."ujar Aria
Arga mengangguk. "iya."Jawab Arga
"Lo....mau mampir dulu gak?"tanya Aria
"hm?gak, gue masih ada urusan byeee."ujar Arga menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.