
"Lo gak seharusnya berlebihan kaya gini, mungkin dia pergi karena gak mau bundanya merasa khawatir dengannya."kata Arvin
Aria menatap Arvin lekat. "benerkah?"tanya Aria
Arvin pun mencium kening Aria lalu tersenyum. "iya."jawab Arvin
Aria terdiam melihat perilaku Arvin kepadanya. "tapi...kalo kamu mau aku bisa membuat baby yang baru untukmu."bisik Arvin tepat ditelinga Aria
Aria pun langsung mendorong tubuh Arvin untuk menjauh darinya. "hahahaha bercanda."kata Arvin tertawa
"gak lucu."kata Aria kesal
"yaudah. kalo gitu gue serius."kata Arvin
Arvin meringis saat Aria memukul kepalanya dengan berkas yang ada ditangannya. "ha-ha-ha bercanda."balas Aria tersenyum
"Lo makin lama makin ngeselin ya."kata Arvin
"masa?"tanya Aria dengan wajah menyebalkan
"oke, gue minta maaf."kata Arvin
"emangnya Lo ada salah apa?"tanya Aria heran
WTF?! lama-lama pengen gue lempar aja nih anak ke samudra Pasifik. batin Arvin
".... bukan apa-apa."kata Arvin
"apa sih? gaje deh."kata Aria
"iya, terserah Lo aja. mau gue gaje kek gejo kek, terserah yang penting gue tampan."kata Arvin sombong
"masa? muka kek aspal gitu Lo kata tampan? ngaco!" ejek Aria
"oh,ya? jadi menurut Lo yang tampan itu kaya gimana?"tanya Arvin penasaran
"muka tampan itu kek Ar.....- eh, maksudnya kak les sama Handry."kata Aria dengan wajah menunduk
"Lo mau bilang kek Arga kan tadi? gak papa bilang aja, gue gak marah. lagian apa hubungannya sama gue."kata Arvin bangkit dari duduknya dan berjalan keluar
Brak
Aria terkejut mendengar suara pintu yang ditutup dengan sangat keras. katanya gak marah tapi malah banting pintu. batin Aria
Aria pun menyalakan ponselnya.
Ting!
Ting!
Ting!
dengan lincah jarinya menjawab pesan dari teman-temannya kecuali pesan dari Arga yang tidak ia jawab.
kreeit
pintu pun terbuka menampakkan seorang wanita paruh baya dengan 2 orang gadis dibelakang. "ibu!"panggil Aria girang
ibu Aria melangkah duduk disamping Aria sedangkan ke-dua saudarinya duduk disofa yang tak jauh dari bankar Aria. "ibu sama siapa kesini?"tanya Aria
"ibu kesini sama Arvin kak Ari."jawab Felisha tersenyum
"loh? terus Arvin nya mana?"tanya Aria
"kita udah datang jauh-jauh kesini malah nanyain Arvin Mulu kamu." kesal Elina Kaka Aria
"udah, jangan berantem dong. ibu kesini mau ketemu dengan anak ibu ini, kalian jangan berisik."tegur ibu Aria
tok
tok
tok
Mareka semua pun melirik kearah pintu tampak Kendra dan Achilles sedang berdiri didepan pintu ruangan. "eh? masuk, masuk, kak."kata Aria
Achilles pun menatap Kendra sinis lalu masuk kedalam. pandangannya seolah-olah mengatakan bahwa dirinya lah yang paling penting bagi Aria. dasar anak kurang ajar. batin Kendra
"masuk dra, gak enak kelihatan sama orang."kata Elina
Kendra pun masuk kedalam dan langsung menjewer telinga Elina putri tertuanya. "enak banget panggil ayah sendiri dengan panggilan namanya ya? gini-gini aku masih ayahmu."kata Kendra kesal
"lagian siapa suruh cerai-in ibu."kata Elina
"udahlah mas, biarin aja."kata ibu Aria
"what?! biarin?! ini gak adil yan. masa kamu kaya gini keaku."kata Kendra manja
"jijik, kali."kata Felisha
"heh! anak kecil gak boleh gitu."tegur Kendra