
Dengan cepat Sayuri menutup mulutnya dengan tangan. "apa yang kalian bicarakan?"tanya Aria.
"ah...itu...."panik Sayuri.
"bukan apa-apa, ayo."kata Raga menarik tangan Aria.
"Raga, tunggu. bagaimana dengan Sayuri?"kata Aria.
"biarkan saja, ayo."kata Raga.
Sayuri terkekeh geli melihat pasangan tersebut. beberapa saat kemudian wajahnya berubah menjadi jengah saat seseorang merangkul bahunya. "apa?"Tanya Sayuri menoleh kesamping.
tampak sang pelaku hanya cengengesan, Yap. siapa lagi kalo bukan Devan. "kita juga pulang bareng?"tanya Devan membuat Sayuri memutar bola matanya jengah.
"tidak."jawab Sayuri sambil menjauhkan tangan Devan dari bahunya.
"kenapa? kenapa?"Tanya Devan sambil memutari tubuh Sayuri seperti anak anjing.
"bisakah kau tidak bersifat seperti ini? kau tahu itu rasanya sedikit menjijikan."kata Sayuri meninggalkan Devan.
"Sayuri!! tunggu aku!!"teriak Devan mengejar Sayuri.
sementara itu Aria dan Raga berjalan pulang dalam keadaan canggung, tidak ada satupun dari Mareka berdua yang memulai percakapan. "bagaimana?"tanya Raga memulai percakapan.
Aria menatap lelaki itu heran. "apanya?"tanya Aria.
"sekolah, bagaimana?"ulang Raga.
Aria berjalan kehadapan Raga sambil tersenyum manis. "tentu saja, menyenangkan."kata Aria.
melihat wajah tersenyum Aria membuat Raga tersenyum tipis. Ralat sangat-sangat tipis. Aria diam menatap Raga. "hm? wah! kau tersenyum."kata Aria.
Dengan cepat Raga menolehkan wajahnya kesamping untuk menutupi rona merah tipis diwajahnya. "wajahmu terlalu dekat."kata Raga.
"hahahaha mirip sekali dengannya."batin Aria.
"memangnya kenapa? wajahmu menjadi merah tuh."kata Aria terkekeh.
Raga menundukkan wajahnya mendekat kepada Aria membuat gadis itu mematung. bahkan semburat merah menghiasi wajah Aria. "wajahmu.....juga merah."kata Raga.
Whusss.
Angin berhembus membuat rambut Aria berterbangan menutupi sebahagian wajahnya yang cantik. "kejadian ini mengingatkan ku pada waktu itu dan .... Arga."batin Aria.
"A-Apa ini? kenapa aku berdebar-debar?"batin Raga.
Aria menatap Kearah Raga yang menatapnya terpesona. tampak tangannya terangkat membuat Aria merasa gugup. Raga menyelipkan rambut Aria ketelinganya. membuatnya teringat kepada seseorang.
"cantik.... cantik sekali."kata Arga.
Aria menundukkan kepalanya membuat Raga menatapnya heran. "ada apa?"tanya Raga khawatir.
"ah...tidak ada."kata Aria tersenyum paksa.
Aria tertegun saat Raga. lelaki itu mendongakkan kepalanya untuk menatap matanya. "apa kau .... teringat sesuatu?"Tanya Raga.
Aria menggeleng pelan. "tidak, tidak penting kok."kata Aria tersenyum.
Raga terdiam melihat perubahan sikap Aria yang secara mendadak. "kau... yakin?kau baik-baik saja?"tanya Raga.
"tentu saja, aku baik-baik saja."kata Aria tersenyum.
"sudahlah, selama dia baik-baik saja."batin Raga.
"oh, ya. apakah kau pakai parfum?"tanya Raga.
"ya? tentu saja, tidak."kata Aria menggeleng.
"benarkah? jadi itu bau Sampomu ya?"Tanya Raga.
"apa maksudnya?"Tanya Aria heran.
"tidak, aku rasa aku menyukai harum Sampomu."kata Raga.
"a-ap-apa?!"kaget Aria.
...----------------...
6 bulan berlalu sejak Aria masuk ke sekolah. sejak itu juga dirinya sering bersama dengan Raga, ketua OSIS di sekolah tersebut.
mareka sering berangkat dan pulang pulang bersama.
Tok.
Tok.
Tok.
"ayo, bangun! tuan putri, jangan malas!!"teriak Raga dikamar Aria.
sementara Aria, gadis itu menggeliat saat Raga membuka jendela. "Hng.... Raga? Kenapa?"Tanya Aria.
"cepat mandi, kita harus kesekolah."kata Raga.
"sekarang? apakah tidak bisa nanti?"Tanya Aria.
"sekarang!"kata Raga.
"tidak...."kata Aria manja dan membaringkan tubuhnya kembali.
melihat tingkah Aria yang menurut menggemaskan tersebut membuat Raga tidak tahan untuk menjahili gadis ini.
Raga pun langsung membungkus tubuh Aria menggunakan selimut dan mengangkatnya membuat Aria memberontak. "RAGA!! TURUNKAN AKU!! TURUNKAN!!!"teriak Aria.
"tidak."jawab Raga dengan santainya membawa tubuh Aria kekamar mandi.
sesampainya dikamar mandi, Raga menurunkan tubuh Aria kelantai bersamaan dengan selimut terjatuh dari tubuhnya. membuat Raga tertegun melihat penampilan Aria.
celana pendek yang memperlihatkan pahanya yang mulus dan kaos putih yang sedikit menerawang. membuat wajah Raga memerah. "apa yang kau lihat?!"tanya Aria kesal.
"tidak, i-itu...."jawab Raga gugup.