
Aria duduk disofa dihadapannya ada Achilles yang menyeruput secangkir teh hangat. "sudah ku duga, seharusnya aku lebih hati-hati saat masuk kekamar orang." batin Aria sambil tersenyum canggung.
sejam berlalu saat Aria masuk kedalam kamar Achilles. sekarang dirinya sedang menikmati jamuan dari Achilles yang menahannya dan tidak boleh pergi kecuali sampai menghabiskan semua makanan yang ada didepannya. "em..kak boleh aku pergi sekarang? a-aku sudah kenyang."kata Aria
"hm? kau belum menghabiskannya loh."kata Achilles tersenyum manis
"ugh...t-terlalu manis..." teriak Aria dalam hati
Aria menatap makanan yang ada dihadapan yang hampir penuh di atas meja. "apa dia mau menyiksaku?" batin Aria
Aria menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya. "kemana saja kau dengan si Arvin itu?"tanya Achilles
"hm?kerumah Tante Nerissa."jawab Aria
"Nerissa? siapa itu Tante Nerissa?"tanya Achilles menatap Aria tajam
"itu Tantenya Arvin, dia baiiiik banget kak."kata Aria memuji Nerissa
mendengar Aria yang terus-menerus memuji Nerissa. entah kenapa itu membuat dirinya sangat-sangat kesal. "cukup, berhenti memuji-mujinya."kata Achilles
"kak, aku sudah menghabiskan makanannya."kata Aria sambil mengusap perutnya yang membesar akibat kekenyangan.
"apa aku boleh pergi?"tanya Aria
"tidak."jawab Achilles
"Kenapa? aku merasa sangat ngantuk sekarang."kata Aria beralasan agar diizinkan pergi.
"kau ngantuk?"tanya Achilles yang dibalas anggukan oleh Aria.
"...kau bisa tidur disini ."kata Achilles sambil menunjuk ranjang dibelakangnya.
"apa?! t-tidak, aku tidak ingin mengganggu Kaka berkerja."kata Aria
"hm? kata siapa aku sedang berkerja?"tanya Achilles membuat Aria bungkam
"t-tapi aku-"
"... sudahlah, ayo."ajak Achilles menggendong Aria ala bridal style
"aku tahu...tapi bukankah rasanya agak aneh jika kita seperti ini."kata Aria
"entahlah."jawab Achilles sambil mengusap rambut Aria lembut
"kak?"tanya Aria
"tidurlah."kata Achilles lembut
mata Aria mulai terpejam menikmati belaian kasih sayang dari kakaknya tersebut hingga membuatnya tertidur lelap. Achilles tersenyum menatap adik kesayangannya yang tertidur itu.
Achilles mencium kening Aria lama lalu. "kau adalah adik tersayangku. dan akan selamanya begitu." batin Achilles
dirinya pun beranjak pergi dari kamarnya. dengan perlahan Achilles menutup pintu dan berbalik.
saat dirinya berbalik dirinya terkejut melihat Kendra, Dian, dan kedua adiknya menatapnya tajam. "k-kenapa?"tanya Achilles
"kau kurang ajar!!"kata Kendra kesal
Achilles menatap Kendra dengan tatapan tajam hingga membuat Kendra bungkam. " hah.... ada pada ini?"tanya Achilles
"tidak apa-apa, tapi sepertinya kita harus mengadakan rapat keluarga."kata Elina tersenyum
Achilles berpikir. "sekarang?"tanyanya yang dijawab anggukkan oleh Dian.
disinilah sekarang Mareka semua berkumpul. ruang bawah tanah mansion Achilles. dengan hawa yang mencengangkan Mareka saling tatap dengan wajah serius. "sepertinya kita harus memajukan pernikahannya."kata Dian
"benar, menurut penelitian anak buahku mareka sedang merencanakan sesuatu."kata Elina
"tapi, kita tidak bisa gegabah. terlebih lagi terhadap gadis itu."kata Felisha
"ibu, bagaimana menurutmu?"tanya Achilles kepada Dian yang duduk diseberang nya
"jangan gegabah, kita tidak tahu siapa dalangnya kan? lagipula jika kita menyerang mareka tanpa sebab, bukankah itu sedikit aneh."kata Dian
"dalang ya? kalo tidak salah Fania, adalah anak angkat dari Lea dan Edgar." kata Kendra
"jadi maksudnya Meraka dalangnya?"tanya Achilles