
kini Shopia dan Maria sedang duduk berhadapan dengan keluarga Vandoria yang menatapnya dengan tatapan dingin. tampak suasananya yang begitu mencekam membuat mareka berdua semakin ketakutan. "bagaimana bisa dia melarikan diri?"tanya Kendra dingin.
"i-itu ... "kata Maria gemetaran.
Brak.
Achilles menggebrak meja hingga membuat semua yang ada disana terkejut. "jawab!"bentak Achilles.
"a-anu ... i-itu....Aria yang ingin."kata Shopia terbata-bata.
"Aria yang ingin? kenapa?"tanya Elina.
"k-katanya d-dia.... tidak mau d-dengan Arvin."jawab Maria.
"kalian Bercanda?! Aria sendiri yang menyetujui pernikahan ini!" kata Kendra.
"tapi dia bilang masih mencintai ar-..argh!"
belum sempat Shopia menyelesaikan perkataannya Achilles Langsung mencekik lehernya dan mengangkatnya kakinya tidak menyentuh lantai. Maria yang melihat adegan tersebut semakin ketakutan. "siapa yang menyuruhmu untuk mengatakan nama itu?!"kata Achilles dengan wajah penuh amarah.
"m-ma-maaf...ugh."kata Shopia kesakitan.
"aku tidak perlu maaf dari orang seperti mu."kata Achilles.
"Achilles... lepaskan."perintah Dian.
Achilles menghela nafas untuk meredakan sedikit emosinya dan kembali duduk disamping Kendra. Shopia yang terjatuh kelantai pun Dengan rakus menghirup udara. "hah.... kontrol emosimu."bisik Kendra.
Arga membuka matanya tampak dirinya berada di sebuah ruangan yang berwarna putih bersih. "dimana?"tanya Arga.
"...rumah sakit."jawab Bara yang baru saja masuk kedalam ruangan inap Arga.
Bara berjalan mendekati Arga dan duduk disampingnya. "berapa lam-"
"sekitar 1 Minggu Lo gak sadarkan diri."jawab Bara memotong perkataan Arga.
Arga terdiam menatap ke sekelilingnya. "...Lo yang antar gue?"tanya Arga.
"kalo bukan gue siapa lagi?"tanya Bara.
"... lagian Lo tuh kurang sehat juga malah kabur dari rumah sakit."kata Bara.
"antar gue pulang."kata Arga.
"eh?! gila Lo?! baru aja sadar mau pulang setidaknya sembuh dulu Napa?!"omel Bara.
"sehat apaan? 1 Minggu baru sadar terus kena pneumonia lagi."kata Bara.
"ngaco Lo! gue sehat."kata Arga bersikeras.
"gak usah Lo sembunyikan dari gue ga! gue udah tahu semuanya."kata Bara membuat Arga terdiam. "... sekarang Lo mau kata apa?"tanya Bara.
"...gue sehat Bar."kata Arga.
"gak terkena pneumonia atau apapun itu, gue sehat."kekeuh Arga.
"lo-"
"lagian kenapa kalo gue kena pneumonia? gak bakal ada yang tahu."kata Arga.
"gara-gara seorang wanita Lo sampai kena penyakit ini,ga. pneumonia juga bahaya! bisa menyebabkan kematian."Kata Bara.
"ini bukan gara-gara Aria Bar! ini pilihan gue."kata Arga tersenyum.
sementara itu seorang gadis dengan wajah yang kusut, rambutnya yang acak-acakan dan mata yang kosong menampakkan keputusasaannya, bahkan gaun putihnya yang semula bersih kini penuh dengan noda darah yang berasal dari tubuhnya.
**tap.
tap.
tap**.
suara langkah kaki menggema di ruangan tersebut dan menampakkan seorang gadis yang tersenyum meremehkannya. "heh! bangun! dasar sampah!"kata Grisella sambil menendang perut Aria.
"ugh..."
"bukankah ini yang kau mau?"tanya Grisella.
"...kamu yang menginginkan penyiksaan ini benarkah nona Ariana Vandoria?"kata Grisella tersenyum manis.
**Tak**.
Grisella pun menginjak perut Aria dengan tatapan penuh kebencian. "ugh...h-hentikan."kata Aria kesakitan.
"heh? kau bilang apa? lagi? kau mau lagi?"tanya Grisella.
Grisella berjongkok dihadapan Aria yang tampak sedang merasa kesakitan lalu menarik rambut Aria hingga membuat wajah gadis itu mendongak ke atas. "apa kau pikir aku akan menghentikannya? heh! jangan harap."kata Grisella.
"...k-kenapa....k-kau....me...melaku...kan...ini?"tanya Aria terbata-bata.