Argaria

Argaria
Chapter 82



mareka pun sampai disebuah gedung yang sangat besar. "kau mau membawaku kemana?"tanya Aria.


"kemana? tentu saja asrama." tunjuk Raga kearah bangunan yang ada didepannya.



"besar banget!!" batin Aria.


"ayo."ajak Raga.


mareka berjalan kedalam bangunan tersebut. "kamar disini perorangan jadi kau bisa melakukan apapun yang kau mau."


"tapi dilarang membawa orang yang tidak dikenal dan selalu bersihkan kamarmu."kata Raga.


"aku bukan gadis pemalas."kata Aria.


"aku tidak bilang kau pemalas."kata Raga.


Raga memasuki lift diikuti oleh Aria yang berada dibelakang. tampak Raga menekan tombol lantai 3. "apa kamarku dilantai tiga?"tanya Aria.


"aku yakin kau tidak buta."kata Raga membuat Aria mendengus kesal.


"aku hanya bertanya."kesal Aria.


"apa segala hal perlu ditanyakan?"tanya Raga membuat Aria semakin kesal.


"dasar lelaki robot pemarah!"ejek Aria dalam hati.


tak lama kemudian mareka pun sampai didepan pintu yang bernomor 437. "ini ruanganmu dan ini kuncinya."kata Raga menyerahkan kunci ketangan Aria.


"jangan hilangkan kuncinya. karena jika hilang itu bukan tanggung jawabku."lanjut Raga.


"baik, aku mengerti."jawab Aria


"aku pergi."kata Raga meninggalkan Aria sendirian.


dengan cepat dirinya membuka pintu ruangan itu.


Ceklek.


pintu terbuka menampakkan semua benda yang ada didalam ruangan.



pemandangan yang ada dihadapannya membuatnya terdiam seribu bahasa. "A-Apa ini?! yang benar saja?!"kaget Aria.


"padahal setelah aku berkeliling aku ingin sekali tidur."kata Aria kecewa.


"memang seharusnya aku tidak boleh berharap dengan sesuatu yang tidak pasti."batin Aria.


dengan kecewa dirinya mendudukkan tubuhnya kesofa. "benar-benar orang kaya...bahkan belajar saja tidak perlu tidur."kata Aria kesal.


Pagi hari.


Tok.


Tok.


Tok.


Aria terbangun karena pintu yang digedor-gedor oleh seseorang dengan malas dirinya bangkit dan membuka pintu. "Apa?"tanya Aria.


"apa yang kau lakukan?! ini sudah jam berapa? kenapa masih belum siap-siap?!"omel Raga.


"hm? CK, kau sendiri malah menyuruhku tidur diruang baca!"kesal Aria.


Raga menatap Aria Takjub. "hebat, saking semangatnya dia ingin belajar sampai tidur diruang baca.... sepertinya aku harus mengubah sikapku padanya."batin Raga kagum.


"kenapa kau menatapku seperti itu?"kesal Aria.


"ekhem...bukan apa-apa. cepat bersiap-siaplah."kata Raga membuat Aria menatapnya datar.


"kau ingin aku bersiap?"tanya Aria yang dibalas anggukan oleh Raga.


"aku saja tidak tahu dimana kamar mandinya atau bahkan lemari pakaian!"jelas Aria.


Raga masuk kedalam ruangan Aria. tampak dirinya berjalan ke sudut ruangan lalu membukanya.



"silahkan."kata Raga.


Aria membelalakkan matanya melihat Raga membuka pintu tersebut. "kau?! kenapa kau tidak mengatakannya kemarin kalo kamar ada di sudut kiri!"heboh Aria.


"apa kau tidak tahu?"tanya Raga mengernyitkan dahi.


"kau tidak memberitahuku bagaimana aku bisa mengetahuinya!"kata Aria.


"jika aku mengetahuinya aku tidak tidur diruangan baca!"kesal Aria membuat Raga terdiam.


"sepertinya aku yang salah paham, padahal sejak awal aku tahu tidak ada seorangpun yang sangat bersemangat pergi ke sekolah."batin Raga.


"sudahlah, cepet bersiap siap."kata Raga.


dengan cepat Aria masuk kedalam kamar tersebut.


"sebenarnya ini salahnya yang tidak mengeceknya atau salahku yang tidak memberitahu?"pikir Raga.


15 menit berlalu.


Raga menghela nafas dan meletakkannya buku kembali ke tempatnya. "perempuan memang lambat."kata Raga.