
Arga diam mendengarkan perkataan Achilles. memang jika dibandingkan dengan cinta Arga kepada Aria lebih besar daripada yang lainnya, tetapi. tidak dengan kasih sayang Achilles kepada adiknya itu. Achilles rela berkorban demi adiknya bahkan jika nyawanya adalah taruhannya. "kenapa? apakah kau tidak benar-benar mencintainya?" kata Achilles
Arga diam. bahkan untuk menatap Achilles saja dirinya tidak berani. "saat sedang berbicara, tataplah lawan bicaramu."kata Achilles
Arga pun menatap Achilles yang sedang menatapnya dengan tatapan datar. Achilles menyeringai.
Bugh
Arga tertegun saat Achilles menonjok wajahnya. tak disangka, walaupun Achilles sedang duduk terluka parah seperti itu tetapi kekuatannya masih saja saat kuat. bahkan membuat Arga terhuyung kebelakang. "jangan lesu begitu."kata Achilles sambil tersenyum tipis
"aku tahu apa yang kau rasakan? rasanya menyakitkan dan mengesalkan bukan?"Tanya Achilles
"Kaka benar."kata Arga
"jika kau ingin pergi, pergi saja."kata Achilles sambil berbaring
"aku.....hanya ingin menyelamatkan Aria. jadi, aku tidak memikirkan hal yang seperti pelampiasan."kata Arga menunduk
"Oya? apa yang terjadi? apakah adikku yang menjadikan mu seperti ini?"
Arga menggeleng. "aku hanya tidak ingin melakukannya."
"hidup tidak seperti yang kau bayangkan. Arga, terkadang kau harus berlari demi mengejar kebahagiaanmu sendiri."kata Achilles
"aku tahu, hanya saja jika tidak ada yang menemani rasanya sama saja dengan menghancurkan diri sendiri."kata Arga
Achilles tersenyum. begitu rupanya. lelaki kecil ini sudah semakin besar. batin Achilles
disisi lain Dhika sedang duduk bersama seorang gadis. "kurasa sudah saatnya kita berhenti bekerja sama dengan dia."kata Dhika menatap gadis itu
"apa?! tapi kau-"
"aku melakukan ini semua karena aku pikir kau sudah tiada. jadi, aku ingin balas dendam."
Dhika pun menggenggam tangan gadis itu. "tapi kau masih hidup, Grisella. jadi aku pikir semuanya sudah tidak perlu lagi."kata Dhika kata Dhika Sambil menyelipkan rambut gadis itu ketelinganya
Dhika menghela nafas. "grisel, sekuat apapun kau berjuang jika dia sudah memiliki orang yang tepat, dia tidak akan melirikmu."
"tidak!! dia akan melirikku. karena dia adalah jodohku!!"bentak Grisella
"dan kau! bukankah kau dijodohkan dengan gadis ****** itu?"sinis Grisella
"itu adalah kisah beberapa tahu yang lalu, tidak ada gunanya mengungkitnya Sekarang. lagipula, bukannya dia menolaknya?"kata Dhika
prangg
Dhika tertegun saat Grisella menjatuhkan gelas berisi minumannya kelantai. "apa kau terluka?" Tanya Dhika khawatir
"bukan urusanmu!! aku tidak mengerti jalan pikirmu itu. dan, satu lagi jangan panggil aku Grisella sekarang aku adalah Sindy, bukan Grisella yang lemah itu."
"baiklah Sindy, kemarilah, biar aku periksa tanganmu apakah kau terluka atau tidak."kata Dhika
"cukup!! aku muak dengan sikapmu ini!! aku ingin kau membantuku untuk mendapatkan Argaku kembali!"bentak Grisella
"tapi gris-"
"Sindy!! namaku adalah sindy sekarang!"
"hah..... tapi sindy kau tidak bisa melakukannya."Kata Dhika
Grisella terdiam sebentar lalu menyeringai. "Kenapa? Kenapa tidak bisa?"tanya Grisella
gadis itu maju mendekati Dhika dan mengusap pipi Dhika. "bukankah kau sudah melakukannya dengan Aria?"tanya Grisella tersenyum manis
Dhika tertegun mendengar perkataan adiknya itu. "a-apa maksudmu?"
"kakak ku tersayang aku tahu kau sudah melakukannya dengannya Aria, dan alasan kau pergi keluar kota juga karena alasan yang sama kan?"tanya Grisella menyeringai