Argaria

Argaria
Chapter 71



"uhuk...uhuk..."


"dingin... siapapun tolong aku....ayah...ibu...kak les.... Arga."batin Aria.


Aria pun berdiri. dengan sempoyongan dirinya melangkah menuju pintu yang tertutup rapat.


Brak.


Brak.


Brak.


"siapapun tolong aku!!!! kumohon keluarkan aku!!!"teriak Aria sambil menggedor-gedor pintu dengan sekuat tenaga.


"to.... long....aku."


Bruk.


Aria terjatuh dengan nafas yang terengah-engah. "tolong aku.... hiks...hiks....aku mau pulang...."tangis Aria.


Arga bangun dari tidurnya tampak air matanya menetes dari ke-dua matanya. " apa yang terjadi? kenapa aku merasa gelisah?"batin Arga.


Click.


pintu terbuka menampakkan keluarga Arga yang masuk keruangan tempat Arga dirawat tersebut. "Arga, bagaimana kabarmu?"tanya Gina kakak perempuan Arga.


hening, tidak ada jawaban dari Arga.


"ga? Arga?"panggil Gina.


Gina pun memalingkan wajah adiknya tersebut untuk menatapnya. "ya ampun,Arga! baru tinggal beberapa hari di rumah sakit udah kaya gini. Lo kenapa nangis?!"histeris Gina saat menatap Arga.


"....hm? gue gak nangis bodoh!!"kata Arga sambil menghapus air matanya sambil menepis tangan Gina.


"ye....gak ngaku."kata Gina.


"kurang ajar Lo ya."kata Arga.


"udah... udah jangan berantem."kata Nerissa.


Gina dan Arga diam saat ditegur oleh Nerissa. Nerissa pun duduk di tepi bankar sambari mengelus rambut Arga dengan penuh kasih sayang. ditambah dengan ayahnya yang memeluknya erat.


Gina pun cemberut melihat kasih sayang orang tua kepada adiknya. "aku kok gak di ajak sih?!"kesal Gina.


"mas...lihat deh."adu Gina kepada suaminya Ilham.


"dasar ngambekkan."ejek Arga.


"mas!!"adu Gina kepada suaminya karena ejekan Arga.


"udah dong,dek. sini....sini....mas aja yang peluk."kata Ilham sambil membawa tubuh Gina kedalam pelukannya.


"jijik gue."sinis Arga.


"maafin mama sama ayah ya Arga karena tidak bisa menjaga Arga."ucap Marcell ayah Arga yang dijawab anggukkan kepala oleh Arga.


"...oh,ya, ayah dekat gak dengan keluarga Vandoria?"tanya Arga.


"Vandoria? keluarga Kendra?"Tanya Marcell.


"kenapa memangnya Arga?"tanya Nerissa.


"Gak ada. cuma Arga mau kirimin sesuatu buat mareka."kata Arga tersenyum.


"omong-omong bukannya pernikahan keluarga Vandoria dibatalkan ya? benarkan ma?"kata Gina.


"iya. tapi tidak ada yang tahu kenapa."jawab Nerissa.


sementara itu Kendra sedang fokus dengan laptopnya. "aku masuk."ucap Dian masuk kedalam ruangan kerja suaminya itu.


Kendra mendongak menatap istrinya lalu kembali fokus kepada laptopnya. "ada apa? jika ingin berbelanja ajak saja Elina atau Felisha. aku sibuk."kata Kendra.


Dian melangkah menuju meja kerjanya lalu duduk diatasnya sambil meletakkan sebelah kakinya ke kaki satunya dan mencondongkan tubuhnya mendekat kepada Kendra. "apa? lagi menggodaku?"tanya Kendra sambil menatap Dian.


"CK, siapa juga yang mau menggodamu."kata Dian memalingkan wajahnya.


"lalu apa?"tanya Kendra menutup laptopnya.


"ini."kata Dian memberikan surat kepada Kendra yang menatapnya datar.


"kita sudah menikah dan memiliki 4 orang anak. kau tidak perlu malu-malu mengatakan sesuatu kepadaku."kata Kendra.


"ha?! ini bukan dariku!"kata Dian kesal.


"hm? lalu?"tanya Kendra.


"mana ku tahu! lagian malu-malu bukan sikapku."kata Dian.


"kau benar. malu-malu bukan sikapmu lebih tepatnya sikapmu tidak tahu malu."kata Kendra tersenyum mengejek.


"bukan urusanmu dasar suami kurang ajar!!"teriak Dian sambil menampar wajah Kendra.


Kendra pun mengusap-usap wajahnya yang memerah akibat tamparan istrinya tersebut. "Dian...sakit tahu."kata Kendra.


"sudahlah, aku sibuk."kata Dian turun dari meja dan pergi keluar.


"ah... tunggu!"cegat Kendra.


"apa?!"garang Dian.


"aku..... minta maaf tentang beberapa tahun lalu dan aku....masih menyukaimu."kata Kendra.


seketika Kendra terkejut karena Dian melemparinya dengan jarum. jika saja dirinya tidak menghindar mungkin sudah mengenai wajahnya. "hahahaha masih sama seperti dulu."kata Kendra tersenyum.


"berisik!"kata Dian kesal