
sebulan kemudian.
tampak Arga yang sedang duduk bersandar sambil memejamkan matanya. sekilas wajah Aria muncul dibenaknya. "gimana kabar Lo bro?"tanya Bara yang baru saja datang
Arga menatap Bara. "kek yang Lo aja, bentar lagi sembuh."
"baguslah kalau gitu."
Bara celingukan seolah-olah mencari sesuatu."sendirian aja Lo?"
"emang sama siapa lagi? gadis?"
"maksud gue ortu Lo gak kesini?"
"gak, lagi keluar negeri."
Bara pun ber-oh ria.
"Lo liat Aria?"
"Aria? gak tahu. disekolah aja gak masuk sebulan."
"Lo gak kerumahnya?"
"yakali gue datang kerumahnya, gila Lo. bisa-bisa mati gue ditebas Ama papanya Shopia."
"gak ada info terbaru selain itu."
"gak ada, Lo kapan keluar sih?"
"CK. besok juga gue keluar."
"yakin Lo?"
Arga menggangguk membenarkan. disisi lain tampak Aria yang sedang duduk di balkon kamar. "Sudah sebulan gue disini. kabar Arga gimana ya?"
Ceklek
seorang lelaki pun membuka pintu balkon. Aria menoleh kebelakang lalu kembali menatap kedepan mengabaikan lelaki tersebut. "apa yang kau lakukan disini? udaranya dingin, ayo masuk."
"gak mau."
"hah...kau ini keras kepala sekali."
"kalo sudah tahu kenapa memaksa?"
"apa kau sungguh tidak mengenaliku?"
"mau kenal atau tidak, gue gak peduli. sekarang pergi."
Lelaki itu menatap Aria lekat. bagaimana supaya dia ingat ya? apa aku pukul saja kepalanya dengan panci? atau kamus? batin Lelaki itu
"apa yang kau pikirkan?"
"hm? tidak ada."ujar lelaki itu melangkah pergi
"Lelaki aneh. tapi entah kenapa rasanya Familiar."
Lelaki itu pun masuk kedalam ruang kerjanya. "padahal aku berniat meluangkan waktu dengannya."
**Tok
tok**
"tuan,ada laporan."
"katakan."
"tuan besar menyuruh Anda untuk hadir di rapat sore nanti."
"hm,selain itu."
"dan tuan menyuruh Anda untuk segera menikah."
"apa dia sudah gila?!"
"t-tidak tuan."
"memangnya kenapa kalau aku belum menikah? aku masih muda." "hah.... baiklah, aku mau mendengar tentang luar perkerjaan."
"baik tuan. seperti yang anda duga orang yang ingin membakar nona sudah pergi ke Amerika dan yang menolong nona berada di rumah sakit."
"hanya itu?"
"iya tuan."
"tidak menarik sama sekali, kau boleh pergi."
lelaki itu pun menunduk hormat lalu pergi. "apa ak-"
"aku mau izin!!"teriak Aria
"apa?"
"aku pengen kepantai boleh?"tanya Aria
"ngapain?"
"liburan, bolehkan?"
"oke, tapi cuma sehari."
"hah?seminggu."
"sehari."
"seminggu ya? please."kata Aria dengan mata berkaca-kaca
"terserah deh." kata lelaki itu pasrah "dengan syarat 10 orang ku akan mengikutimu."
"what?!
"Yap."
"tidak perlu,aku bisa jaga diriku sendiri."
"hampir mati akibat kebakaran, apakah itu yang disebut menjaga diri?"
"ugh, orang ini benar-benar..."gumam Aria
"kau bilang sesuatu?"
"tidak."
"bagus."
"aku tidak suka dikawal." ujar Aria Cemberut
Lelaki itu pun terdiam. "oke, lupakan pengawal kau bisa pergi."
"benarkah?"
Aria pun keluar ruangan dengan wajah gembira. "tunggu."
Aria menoleh kebelakang. "selama sebulan ini kau tidak pernah memanggil namaku."
"ya?"
"namaku Achilles, Achilles Vandoria" ujar lelaki itu memperkenalkan diri sambil tersenyum manis kepada Aria. "oke....aku pergi."
Aria pun keluar dari ruangan tersebut menuju kamarnya. "manis sekali." gumam Achilles
"tapi siapa yang perlu pengawal jika aku bisa menyuruh orang lain untuk mengawasimu."gumam Achilles
seorang lelaki remaja pun masuk. "awasi dia."
"baik tuan."
"siapa yang peduli dengan namanya, aku hanya ingin kabur dari tempat ini."gumam Aria
Aria pun mengambil ponselnya yang tergeletak dikasur. "apa aku telpon Arga?" gumam Aria
Aria pun menggeleng pelan."tidak,aku tidak boleh merepotkannya."
Sore hari.
Aria pun mengambil barang-barangnya yang sudah berada didalam koper sedang lalu pergi kedepan mansion. "rumah ini sangat besar tapi penghuninya hanya si les les itu."
"wah,wah jahat sekali menghinaku seperti itu."
"ugh, kenapa orang ini selalu ada di manapun." gumam Aria pelan
Aria pun berbalik sambil tertawa canggung. "ha-ha-ha a-apa yang anda lakukan disini tuan Achilles."
"tuan? apa aku setua itu?"
"tidak, anda tidak tua."panik Aria
"kalau begitu panggil aku kak les."
"hah?"
"iya, panggil aku kak les, jika tidak kau tidak diizinkan pergi."
"o-oke Kaka les"