Argaria

Argaria
Chapter 30



Pistol pun terjatuh dari tangan Arga kala mendengar teriakkan seorang gadis yang tak jauh darinya.apa?! Aria ada disini?! batin Arga terkejut


Arga menoleh Tampak seorang gadis yang sedang menepuk pipi Aria mencoba untuk menyadarkannya. tetapi, tidak berhasil. "sial."gumam Arga


dengan cepat Arga menghampiri Aria dan menggendongnya masuk kedalam mobil Shopia dan mengabaikan Dhika yang menatap tajam. "kuncinya dimana?bangsat!" umpat Arga


Shopia yang duduk dikursi belakang bersama Aria pun memberikan kuncinya dengan gemetaran. Karena khawatir Arga pun membawa Aria kerumah sakit terdekat.


3 jam kemudian


Dokter pun keluar dari ruangan Aria. "bagaimana dok?"


"tidak ada yang perlu dikhawatirkan pasien baik-baik saja, mungkin dia hanya terkejut dan pingsan jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Arga dan Shopia menghela nafas lega. "boleh saya masuk?"


"oh, silahkan,silahkan."ujar dokter itu


Arga dan Shopia masuk kedalam ruangan Aria. tampak Aria yang memejamkan matanya, Arga pun duduk disamping bankar Aria sambil mengangkat tangan Aria dan menciumnya. "ekhem."


Arga menatap Shopia dihadapannya yang menatapnya tajam."apa?"


"kalo niat Lo cuma buat main-main sama Aria, gue saranin Lo buat lepasin Aria."


Arga diam. "selagi gue masih ngomong baik-baik mending Lo lepasin Aria." ujar Shopia dingin


"kenapa Lo mikir gue cuma main-main sama Aria?"


"Karena Lo ketua geng Devil's dan sudah banyak rumor yang beredar kalo Lo banyak mengencani para gadis bahwa meniduri mareka."


"kau percaya dengan rumor itu?"


Shopia terdiam. jujur, dirinya saja tidak terlalu percaya dengan rumor tersebut. "apa lo punya bukti gue tidur sama gadis-gadis itu?"


"gue membentuk geng ini bukan untuk membuat orang-orang menghormati gue dan gue juga tidak pernah semena-mena sama gadis manapun. gue membuat geng ini untuk melindungi orang-orang yang gue sayangi."


"dan seumur hidup, gue gak pernah berpikir mencari gadis lain selama ada Aria didalam kehidupan gue." kata Arga


"semua lelaki sama saja, Mareka membuat para gadis tergoda dan saat Mareka terlena kalian akan menghancurkannya."


"apa Lo pernah ditiduri oleh Bara saat Lo terlena dengan perlakuannya terhadap Lo? tidakkan? Karena Bara mencintai Lo itu tulus, begitu juga gue yang mencintai Aria. gue gak pernah menyentuhnya Karena gue mencintainya tulus dari hati gue."


Shopia bungkam, memang yang dikatakan Arga benar. Bara tidak pernah semena-mena dengannya karena dirinya tahu bahwa Bara sangat mencintai. "hng...aku dimana?"


"kau sudah bangun, apa ada yang sakit?apa kau perlu sesuatu?"tanya Arga


Plak


Arga terdiam saat Aria menampar wajahnya dan wajah Aria yang menatapnya dingin. "dasar bedebah" maki Aria


Arga pun memegang pipinya yang berdenyut akibat tamparan Aria. "Aria apa yang Lo lakukan?!" tegur Shopia


"aku tidak Sudi dekat dengan seorang yang membunuh orang lain tanpa rasa bersalah sedikitpun."


Arga hanya diam sambil menundukkan kepalanya. memang, dirinya akui kalau dirinya adalah pembunuh berdarah dingin yang tidak memiliki rasa kasian kepada orang lain.tapi itu dilakukannya untuk melindungi orang-orang yang dirinya sayangi. "pergi dari sini! gue gak mau lihat wajah Lo lagi!!" bentak Aria


"ri, kamu salah paham. aku-"


"pergi!!"bentak Aria


Arga bangkit dari duduknya ingin berjalan keluar dari ruangan Aria tapi Shopia menahannya. "ri, apa Lo tahu alasan Arga?"


"apapun alasannya gue gak peduli."


"Lo harus tahu, Arga lakuin itu semua untuk orang yang ia cintai -"


"bahkan membunuh orang yang tidak bersalah sedikitpun?" Aria pun menggeleng pelan. "ada cara lain selain membunuh orang."


"tap-"


Arga pun memegang bahu Shopia dan menggeleng pelan mengisyaratkan kepadanya untuk tidak meneruskan perdebatan tersebut. Arga menatap Aria. "aku tahu aku salah, dan aku menerima keinginanmu untuk menjauh."


"tapi, kamu harus tahu kalau aku akan selalu mencintaimu Walaupun kamu menyuruhku untuk menjauh."ujar Arga


ternyata Arga memang menepati janjinya untuk menjauh dari Aria bahkan disekolah pun Aria tidak melihat Arga.


Aria pun bangun dari tidurnya dapat dirinya rasakan perutnya yang terasa sangat mual. Dengan cepat dirinya pergi kekamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya tetapi yang keluar hanya cairan bening. "ugh, apa jangan-jangan aku.....tidak!tidak berpikir positif Aria itu tidak mungkin."gumam Aria


Aria pun keluar dari kamar mandi setelah selesai membasuh mulutnya dengan air. dengan lincah jarinya menyentuh benda pipih yang berada diatas sofa. seketika dirinya terdiam melihat tanggal yang tertera dilayar ponselnya. tanggal 20, seharusnya sekarang udah 'dateng' . batin Aria


Aria pun mengambil jaketnya lalu pergi ke supermarket. tak lama kemudian Aria dengan perasaan gugup dirinya melihat hasil dari testpack yang dirinya beli dari supermarket.


matanya pun melebar saat melihat hasil tersebut. Aria menutup mulutnya sendiri dengan air matanya yang menetes.bahkan, tangannya bergetar hebat sambil memegang benda tersebut. positif. batin Aria


"aku harus gimana?"gumamnya


"Dhika.iya, gue harus kasih tau Dhika."


Aria pun pergi dengan buru-buru ketempat gedung tidak terpakai yang didatangi dirinya dan Shopia.


sesampainya disana Aria pun masuk kedalam gedung tersebut. tampak matanya yang celingukan mencari Dhika. "Dhika!!"panggil Aria


tidak ada jawaban.


Aria pun menyusuri gedung tidak berpenghuni tersebut sendiri hingga akhirnya dirinya melihat lelaki yang dicari sedang duduk sambil bermain kartu dengan beberapa orang temannya. "Dhika."panggil Aria


Lelaki yang dipanggil pun menoleh kearah Aria lalu bangkit menghampiri Aria. "apa?" tanya Dhika dingin


"gue hamil."


"terus? hubungannya sama gue apa?"


"gue mau Lo tanggung jawab sama gue Dhi."


"tanggung jawab?gak."tolak Dhika mentah-mentah


"Dhika ini anak Lo, Lo harus tanggung jawab sama gue."


"gue bilang enggak ya enggak."


"Dhika!!"


"CK. gue bilangin ini keortu gue." ucap dhika sambil meninggalkan Aria


2 bulan kemudian.


tampak Aria yang mondar-mandir didalam kamarnya. dirinya sedang kebingungan sudah 2 bulan berlalu tetapi tidak ada kabar apapun dari Dhika.


Aria pun menghempaskan ponselnya kekasur dengan perasaan kesal.


Drrrt.... Drrrt...


dengan cepat Aria mengambil ponselnya. "halo."


"gue tunggu ditaman."


Tut...Tut....Tut...


Ditaman.


tampak seorang lelaki yang sedang duduk menunggu seseorang.ya, orang itu adalah Dhika. "maaf,lama."ujar Aria


"ayo."ujar Dhika menarik tangan Aria untuk masuk kedalam mobil


"kita mau kemana?"


Dhika tidak menjawab malah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. hingga akhirnya Mareka berdua pun sampai disebuah gedung yang sangat mewah. "ini dimana?"


"ayo, masuk."


Dhika pun menarik lengan Aria masuk kedalam gedung tersebut. dekorasi yang indah membuat Aria terpesona dengan gedung tersebut. "Dhika, ini......"


"ini adalah tempat kita menikah nanti."