Argaria

Argaria
Chapter 51



Kendra menatap Arvin dengan tatapan tajam sedangkan Arvin menundukkan kepalanya tidak mau bertatapan mata dengan tuannya itu. "kenapa kau menunduk? kau sudah membuatku membatalkan rencanaku untuk menikahkan putriku dengan Putra temanku dan kau hanya menunduk?"kata Kendra dingin


"tuan, aku....-"


"jangan menyela pembicaraan! kau tahu aku akan menikahkannya dengan sepupumu kan?! dan sekarang kau mengatakan kalau kau menyukainya?!"bentak Kendra


"aku serius tuan. dibandingkan dengan yang lain hanya aku yang sanggup membuatnya bahagia."kata Arvin dengan keyakinan penuh


"dimana kau mendapatkan keyakinan seperti itu, Arvin Narendra?!"bentak Kendra


"karena saya akan bersumpah untuk membahagiakannya selama-lamanya."kata Arvin sambil mengambil pisau yang terselip di pinggangnya


sraak.


Kendra hanya diam melihat Arvin yang menusuk pisau tersebut ke telapak tangannya. darah segar pun mengalir membasahi lantai marmer ruangan kerja Kendra serta bau anyir yang mulai tercium. "kau pikir aku akan mempercayaimu walaupun kau melukai dirimu sendiri?"kata Kendra datar


"setidaknya....aku bisa membuktikannya tapi jika tuan merasa kurang...."


Arvin menghela nafas dan meletakkan ujung pisau ke dadanya. "...saya bisa melakukan ini."ancam Arvin sambil tersenyum


"jangan gila Arvin!! hanya demi seorang wanita kau bertindak gegabah seperti ini?!"bentak Kendra sambil merebut pisau ditangan Arvin dan melemparnya


"baiklah, aku beri kau 1 bulan untuk membuat Aria menyukaimu."kata Kendra pasrah


"3 bulan."bantah Arvin


"terserah."kata Kendra sambil kembali ketempat duduknya


seminggu kemudian.


Aria terbangun dari pingsan. dirinya menatap sekeliling ruangan. "dimana?"gumam Aria


tok...tok...


Aria menatap pintu ruangan. "Arga?"pikir Aria


pintu terbuka menampakkan seorang lelaki dengan baju kasualnya. "kau baru bangun?"tanya lelaki itu yang ternyata adalah Arvin


wajah Aria berubah menjadi lesu seolah-olah merasa kecewa karena tidak seperti ekspetasinya. "kau....kau tidak berharap untuk Arga menjengukmu kan?"tebak Arvin


Aria menggeleng. "kenapa aku menginginkannya?"kata Aria ketus


Ctak


sontak Aria menggosok keningnya yang disentil oleh Arvin. "sakit tau?"kata Aria dengan bibir yang dimanyunkan


Arvin menghela nafas dan duduk disamping bankar Aria. "bagaimana? masih ada yang sakit?"tanya Arvin


"seseorang membawamu kesini."kata Arvin


"sepertinya aku harus berterimakasih kepadanya."gumam Aria


"sama-sama."jawab Arvin tersenyum


Aria menatap Arvin heran. "kenapa kamu?ah, apa jangan-jangan kamu yang bawa aku kesini?!"kejut Aria


"memangnya kenapa?"tanya Arvin. "gak suka gue yang nyelamatin Lo?"kata Arvin kesal


"lupakan."kata Aria sambil mengalihkan pandangannya


seketika pandangannya kembali kepada Arvin saat Arvin mengambil sebuah berkas didalam laci nakas disampingnya. "ngapain?"tanya Aria


"nih."kata Arvin sambil memberikan berkas tersebut


"ini..."


"berkas kesehatan Lo."kata Arvin


Aria pun membuka berkas tersebut dan membacanya dengan teliti. beberapa menit kemudian air matanya menetes. "kamu..."


"gue udah urus semua saat itu tapi kandungan Lo gak bisa diselamatkan."jawab Arvin


"tapi.... kenapa?"tanya Aria


Arvin berdiri dan memeluk Aria dan mengusap punggung Aria lembut. "sabar, ri."kata Arvin


"kamu gak ngerti Vin...hiks... dulu...aku memang gak mau dia adalah dirahim aku... tapi.. hiks tapi kenapa saat aku terima dia...dia malah pergi."kata Aria terisak didalam dekapan Arvin


"udahlah. lagian Lo masih muda, Lo masih bisa ngandung lagi."hibur Arvin


Aria menggeleng.


"hei, Aria."kata Arvin sambil menangkup kedua pipi Aria


"tatap aku."perintah Arvin


Aria kembali menggeleng.


"tatap mata aku Aria!"bentak Arvin


Aria pun mengangkat wajahnya menatap wajah Arvin yang memandang dengan tatapan khawatir.