
"bagaimana? apakah Aria mau pergi?"Tanya Achilles
"iya, dia setuju."jawab Handry
"bagus... dengan begitu pertemuan malam ini tidak jadi."kata Achilles sambil menyenderkan tubuhnya kekursi. "semoga saja Arga tidak mengacaukannya."katanya sambil menutup matanya
Handry yang melihat Achilles menunduk."saya permisi tuan."kata Handry sopan lalu pergi keluar ruangan.
disisi lain tampak Dhika yang membuka pintu Tampak dari dalam ruangan itu seorang gadis yang berbaring sambil memainkan ponselnya."Grisell."panggil Dhika
gadis itu mendongak menatap kakanya. "ya?" sahutnya
"malam ini, bagaimana kalau kita kepasar malam? sudah lama kita tidak kesana."tanya Dhika lembut
"terserah Kaka."katanya sambil bangun dari rebahannya.
Dhika pun menahan tangannya saat gadis itu berlalu dihadapannya. "kau...masih marah?"tanya Dhika
"menurutmu?"Tanyanya kepada lelaki itu
"aku tidak tahu."
gadis itu menatap wajah Dhika datar lalu menghela nafas."aku akan melupakan kejadian itu."kata gadis lalu melanjutkan langkahnya.
saat beberapa langkah gadis itu berhenti dan menatap Dhika sambil tersenyum. "aku akan segera bersiap-siap."katanya lalu pergi
malam hari.
Aria dan Arga sedang berjalan jalan ditengah keramaian pasar malam itu sambil bergandengan tangan dan sambil bercanda. seketika langkah Aria terhenti kala melihat bianglala raksasa yang berada ditengah-tengah pasar malam itu. "kenapa ri?"tanya Arga menatap Aria heran
"Arga, aku mau naik itu."kata Aria sambil menunjuk bianglala tersebut dengan wajah berbinar-binar
Arga pun menatap kearah yang ditunjuk oleh Aria. "itu?"tanya Arga sambil menunjuk bianglala
dengan cepat Aria menjawab dengan anggukan kepalanya. "yakin? itu tinggi banget loh."kata Arga
"yakin."kata Aria
"bener?"goda Arga
"yakin... ish, nyebelin deh."kata Aria kesal
"Arga?"panggil seorang gadis
Deg
langkah Arga pun terhenti saat mendengar suara lembut dari seorang gadis yang ia kenal. Arga berbalik tampak seorang gadis cantik dengan rambut terurai dan permen kapas ditangannya.
tubuh Arga gemetaran saat melihat gadis itu ditambah dengan wajah yang mulai pucat. "Arga, dia siapa?"tanya Aria heran
"beneran Arga..."kata gadis itu lalu memeluk tubuh Arga dengan erat.
"Arga dia-"
"Grisel, ayo pulang."kata seorang lelaki
lelaki itu terdiam melihat adiknya memeluk Arga erat. "Dhika?!"kejut Aria
lelaki itu menoleh menatap kearah Aria yang berada disamping Arga. "loh, ria? Lo ngapain disini?"tanya Dhika mengernyitkan dahinya
dengan cepat Arga menjauhkan tubuh Grisella hingga terhuyung kebelakang dan menyembunyikan tubuh Aria kebelakang tubuhnya. "Arga,ini aku Grisella, masa kamu lupa sama aku?"tanya gadis itu
Grisella? sepertinya aku pernah mendengar namanya tapi dimana? batin Aria
Aria mendongakkan kepalanya menatap wajah Arga yang tampak dingin dan sedikit terkejut. sepertinya Arga mengenalnya. tapi kenapa dia terlihat sangat cantik dan.....mirip dengan Cindy!! batin Aria terkejut
Arga menoleh kebelakang saat Aria menyentuh lengannya. "Aria?"
"Cindy?"panggil Aria
gadis yang dipanggil pun menatap Aria dengan tatapan datar. "jangan sembarang menyebut nama orang. aku adalah Grisell bukan Cindy."jawab Grisella
"bukan, kau Cindy." jawab Aria bersikeras
"atas dasar apa kau memanggilku Cindy? apa kau memiliki bukti? tidakkan?"kata Grisella tidak suka
"kau adalah Cindy, aku tahu itu karena kalung yang kau pakai adalah.... pemberianku saat kita mencari gaun untuk pesta."kata Aria yakin
dengan kasar Cindy melepaskan kalung yang melingkar di lehernya dan melemparnya hingga mengenai tubuh Aria. "bagus kalau kau masih ingat."kata Grisella dengan tatapan merendahkan