Argaria

Argaria
Chapter 74



" sial, apa yang kau lakukan?!"


Achilles terbelalak kaget melihat Tangan kanan yang Bara yang berlumuran darah. "kenapa kau disini?!"kaget Achilles.


pasalnya sejak awal dirinya sendirian didalam ruangan itu. tentu saja dirinya heran darimana datangnya Bara. Bara meringis pelan sambil menutup tangan yang terkena peluru. "m-ma-maaf"kata Bara.


"kalau Bara disini apa mungkin dia juga disini?"batin Achilles berpikir.


"... sudahlah. yang penting sekarang menyelamatkan Aria."batin Achilles.


Achilles menatap Bara lalu mengangguk pelan yang dibalas anggukan oleh Bara. "sekarang!"kata Achilles sambil mengeluarkan pistol dari pinggangnya.


Dor.


Dor.


"sialan, kau-"


Bugh.


Grisella pun terhempas kelantai karena Bara yang menendang tubuhnya saat menghindari tembakan peluru.


Achilles berjalan mendekati Grisella sambil menodongkan pistol kearahnya. sedangkan Bara bergegas melepaskan ikatan ditangan Aria. "katakan! siapa yang menyuruhmu?!"tanya Achilles menatap Grisella datar.


"..."


"jawab!"bentak Achilles.


Achilles terkejut saat Grisella mengeluarkan sebuah kotak dari saku bajunya. "gawat."batin Achilles.


Bugh.


Grisella pun menghantam kepala Achilles menggunakan kepalanya. "Shh.... sialan!!"geram Achilles sambil mengusap kepalanya pelan.


Grisella menendang perut Achilles hingga membuatnya terjatuh.


Grisella mengambil pistol yang ada di tanah lalu menodongkannya kearah Aria yang tak jauh darinya. "hm? kira-kira siapa yang harus ku tembak dulu?kau?"


"atau kau?"tanya Grisella Sambil mengarahkannya kepada Achilles.


"lari."ucap Achilles tanpa bersuara.


Bara mengangguk lalu menggendong tubuh Aria ala bridal style dan lari dari tempat itu. "aaah...kenapa kau suruh mareka kabur?"Tanya Grisella mendekati Achilles.


Grisella pun duduk di atas tubuh Achilles. menahannya agar tidak kabur. "terpaksa aku harus bermain denganmu."kata Grisella.


"selamat tinggal."


Tak.


...****************...


saat Bara melewati Kendra, dia melemparnya pistol kepada Kendra. dengan cepat Kendra menangkap pistol tersebut.


Dor.


tak lama kemudian mareka pun sampai diujung jalan. tampak didepan terdapat air terjun yang sangat tinggi. "sial!"


Tap.


Tap.


Tap.


"ada yang datang!"batin Bara sambil menarik Aria kebelakang tubuhnya.


"wah, wah. lama tidak berjumpa, Aldebaran."kata Fania menyeringai.


"kau?! kenapa kau disini?!"kata Bara.


"aku ingin kau memberikan Aria kepadaku."kata Fania.


"kalau gue gak mau?"tanya Bara.


"maka kau akan menghadapi mareka semua."kata Fania.


Ctak.


segerombolan lelaki pun muncul entah darimana. Bara menggeram. "sial, apa yang harus aku lakukan? aku tidak bisa melawan Mareka sambil melindungi Aria, terlebih lagi tanganku..."batin Bara berpikir.


"ayo... serahkan Aria padaku."kata Fania.


Bara menoleh kearah Aria saat tangannya merasakan hangat tangan Aria. tampak Aria tersenyum manis kepada Bara. "maaf Aria."batin Bara.


"tidak! Tidak akan aku serahkan!"kata Bara.


"ap-"


"maaf Aria."gumam Bara pelan.


Bara mendorong tubuh Aria jatuh ke air terjun yang tinggi tersebut. "dasar bodoh."ejek Fania lalu mengisyaratkan agar anak buahnya menyerang Bara.


sementara itu Arga yang duduk diatas batu melihat sesuatu yang jatuh dari atas air terjun. "apa itu?"kata Arga bertanya-tanya.


seketika dirinya teringat dengan gaun yang dipakai Aria. "Aria!"kata Arga.


dengan cepat dirinya bangkit dan berdiri untuk menangkap tubuh Aria.


Byur.


Aria terjatuh tepat diatas tubuh Arga. "Aria? a-apa kau tidak apa-apa?"tanya Arga sambil menyelipkan rambut Aria ditelinga.


"...a-arga?"kata Aria