
Aria terdiam menatap kearah luar jendela. entah kenapa perkataan Arga saat didalam mobil masih berputar diingatkannya. Apa maksud Arga kemarin itu ya? batin Aria
"Aria."panggil Arga
Hening tidak ada jawaban. Arga pun berjalan keruang tengah Tampak Aria yang sedang duduk melamun memikirkan sesuatu. "Aria?"
"hm?"
"apa yang sedang kau pikirkan?"
"tidak ada, aku cuma- huek."
Aria pun menutup mulutnya dengan tangannya dan pergi kekamar mandi dan memuntahkan isi perutnya, namun tidak ada yang keluar kecuali cairan bening. "Aria? kau baik-baik saja?"ujar Arga menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"iya, aku- huek."
Arga membuka pintu kamar mandi dan memijat tengkuk Aria dengan perasaan khawatir. Aria pun membasuh mulutnya dengan air. "udah enakkan?" tanya Arga sambil memijit tengkuk Aria
Aria mengangguk. baru saja beberapa langkah Aria pun terjatuh, untung saja Arga yang berada dibelakangnya dengan sigap menangkap tubuh Aria. "kita kedokter ya?"
Aria menggeleng lemah. "aku baik-baik aja ga."
Arga menghela nafas pasrah lalu menggendong tubuh Aria kekamar untuk istirahat. "Arga-"
"nurut sama aku, kamu dikamar aja hari ini."perintah Arga
"tapi ga-"
"aku gak denger."ujar Arga menutup kedua telinganya
"tapi aku baik-baik aja Arga."lirih Aria
"oh, ya? tadi aja kamu mual terus hampir pingsan, itu yang kamu bilang baik-baik aja?"
"Arga-"
"aku gak mau tahu, kamu harus istirahat. aku pergi dulu byeee."ujar Arga cepat
Aria terdiam melihat Arga yang langsung melengos pergi meninggalkan dirinya yang menatapnya bingung.
Aria pun mengusap perutnya sambil menghela nafas. "kejadian hari ini membuat ku merasa khawatir." gumam Aria
Arga masuk kedalam cafetaria yang berada dipinggir jalan raya yang cukup Ramai. "bagaimana?"tanya Arga sambil mendudukkan dirinya disofa yang sudah disediakan.
"lupakan saja. pelakunya Sudah melarikan diri ke negeri lain dan setelah dicek ada komplotan membantunya untuk pergi."Ujar Bara
"komplotan itu bukan orang biasa."ujar Alva
"tapi Kenapa dia mau membantu orang jahat sepertinya?"tanya Leon
perkataan Leon membuat ke-tiga temannya terdiam. bener juga sih. batin Mareka bertiga
Arga pun terdiam. hingga akhirnya dirinya teringat dengan Sindy yang membuat mareka ada sesuatu yang janggal. "gue mau kalian selidiki gadis yang bernama Sindy."ujar Arga tiba-tiba
"Sindy? siapa?"tanya Alva
"wah..parah nih si bos, udah ada yang baru lagi, kasian buketu."ujar Leon
"Lo mau mati?hah?"tanya Arga dingin dan dijawab cengengesan oleh Leon
"kenapa emang?"tanya Bara
"gue ngerasa ada yang kurang beres aja Ama tuh anak."ujar Arga
Bara pun mengangguk. Aria menoleh kearah jam dinding. "udah jam 4, kok Arga belum pulang?"
"entah kenapa aku pengen makan mie."gumam Aria sambil mengelus perutnya
Aria pun turun dari kasur dan melangkah menuju dapur. baru saja dirinya berada diruang tengah pandangan pun mulai gelap dan pingsan.
sementara itu Arga yang sedang asyik ngobrol dengan teman-teman pun merasakan sesuatu yang mengganjal didalam benaknya. kok perasaan gue gak enak ya. batin Arga
"kenapa bro?"tanya Bara
"gue pulang dulu."ujar Arga buru-buru
motor sport Arga pun membelah kota yang nampak cukup padat. Arga melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
dengan cepat Arga membuka pintu apartemennya. dadanya pun berdegup kencang saat melihat ruangan yang cukup gelap dan sepi. "Aria?"panggil Arga
Arga pun masuk kedalam apartemen.
Arga pun terkejut mendapati Aria yang terbaring lemah tidak berdaya dilantai. "Aria?!"
dengan cepat Arga menggendong tubuh Aria dan membawanya kerumah sakit.
Rumah sakit.
tampak Arga yang duduk dengan perasaan cemas didepan ruangan Aria. dalam hati dirinya berdoa kepada tuhan agar Aria baik-baik saja.
Ceklek
Lelaki paruh baya dengan pakaian putih keluar dari ruangan Aria, Arga pun berdiri. "bagaimana keadaannya dok?"tanya Arga khawatir
dokter pun menatap Arga dari atas sampai bawah. "bisa ikut keruangan saya."ujar dokter tersebut
Arga mengiringi dokter tersebut keruangannya lalu duduk dihadapan dokter. "bagaimana keadaannya dok?"
"syukurlah pasien baik-baik saja."
Arga pun menghela nafas lega. "tapi kalau saya boleh tahu, anda ini siapanya pasien?"
Arga menatap dokter tersebut. sepertinya dokter ini ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting. batinnya "saya suaminya." ujar Arga berbohong
dokter pun mengangguk. "saya cuma ingin mengatakan kalau istri anda saat ini sedang mengandung tapi karena dirinya sangat muda kandungan menjadi sangat rentan, saya sarankan Anda untuk menjaga istri anda dengan ekstra hati-hati."ujar dokter
Arga mengangguk. "saya akan menuliskan obat untuk menguatkan kandungan, anda bisa membelinya di apotek."ujar dokter
Arga pun mengambil kertas yang berisi resep obat Tersebut. "maaf dok, tapi apa istri saya bisa pulang sekarang?"
"oh,tentu saja."
"dan, tolong rahasiakan semua ini darinya dok. saya tidak mau dirinya bertindak berlebihan."
dokter tersebut pun mengangguk. "terimakasih dok."ujar Arga sopan
Arga pun keluar dari ruangan dokter tersebut sambil menghela nafas.
Ceklek
Arga membuka pintu ruangan Aria. Arga tersenyum melihat gadisnya yang sedang duduk, Arga mendekat. "Arga, kenapa aku disini? aku sudah bilang kan tidak perlu kerumah sakit."ujar Aria
Arga pun mengusap rambut Aria pelan."maaf, aku khawatir."ujar Arga
"baiklah, tapi dokter bilang apa?" Tanya Aria penasaran
Arga pun meneguk salivanya. "em....itu.... dokter bilang kalau kamu....em..."ujar Arga gugup
Aria pun menatap Arga heran. "ngomong yang jelas."ujar Aria
"dokter bilang kamu....cuma masuk angin."
Aria mengedipkan matanya beberapa kali. "masuk angin?"
Arga pun mengangguk. Aria menghembuskan nafasnya lega. "ku pikir aku bakal hamil."ujar Aria
Arga diam menatap Aria yang merasa bahagia. "ayo kita pulang."ujar Aria
"eh?iya, ayo."
Arga pun membantu Aria turun dari bankar lalu menyuruh Aria untuk pergi kemobil duluan sedangkan dirinya membelikan obat yang dipesankan dokter kepadanya.
Malam hari.
Arga dan Aria pun berhenti disebuah restoran. "mau pesen apa?"tanya Arga
"em.... nasgor aja minumnya jus strawberry."
"jangan, air putih aja."
"tapi aku mau minum jus."rengek Aria
"Aria, abis ini kamu minum obat."
"gak mau."
Arga pun menghela nafas.mungkin lagi ngidam. pikir Arga "baiklah, terserah anda tuan putri."ujar Arga
tampak wajah Aria yang sangat gembira saat makanan pesanan dan memakannya dengan sangat lahap. dasar bumil. batin Arga