Argaria

Argaria
Chapter 27



Aria melepaskan pelukannya sambil menghapus air matanya yang mengalir di kedua pipinya. "sudah tenang?"tanya Arga


Aria mengangguk. Arga pun mengambil mangkuk diatas nampan. "ayo makan"


Aria menatap Arga. "kamu bisa masak?" Tanya Aria heran


"em....gak, ini aku pesan dari luar."ujar Arga cengengesan


saat Aria ingin mengambil mangkuk tersebut, dengan cepat Arga pun menjauhkan mangkuk tersebut dari Aria. "apa sih?" tanya Aria kesal


"aku suapin."ujar Arga


"hah? aku bukan anak-anak lagi."


"siapa bilang kalo disuapin itu anak-anak?"


Aria menghela nafas panjang. "terserah deh."pasrah Aria


dengan semangat Arga pun menyuapi Aria. setelah itu dirinya pun membawa nampan tersebut keluar lalu kembali menemani Aria didalam kamar. "Arga."


"hm?"


"apa aku baik-baik saja?"


Arga menatap Aria heran. "maksudnya?"


"aku...... takut. bagaimana kalo aku-"ujar Aria sambil memegang perutnya


Arga pun memegang tangan Aria yang berada diperutnya sambil tersenyum. "kau tenang saja. itu tidak akan terjadi."


"... mungkin."sambung Arga pelan


"tapi-" ujar Aria menunduk dengan wajah gelisah


"sudahlah, jangan terlalu memikirkannya."


"lebih baik sekarang kamu mandi, soalnya kamu bau."ejek Arga


Aria pun mendelik. "sialan Lo."maki Aria


Aria pun bangkit sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. "ngapain nutupin gitu? udah liat juga kali."ujar Arga


"Lo?!"


Arga mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Aria. "Arga!!!"teriak Aria


"gak, gue enggak liat kok."panik Arga sambil menutup telinganya


Aria masuk kedalam kamar mandi sambil menghentakkan kakinya kesal. "padahal gue udah liat beneran, yah..... walaupun mulai dari kepala sampai perut sih."gumam Arga


Bruk


Arga terkejut saat Aria yang berada didalam kamar mandi melemparkan selimut kearahnya dan tepat mengenai kepalanya. pendengarannya tajam juga. batin Arga


Tak lama kemudian Aria keluar dengan memakai baju milik Arga yang sedikit kebesaran ditubuh mungilnya. "kalian sudah menemukannya?"


hm? sepertinya dia sedang telponan. batin Aria


Aria Duduk disofa menunggu Arga selesai menelpon. "sial, bagaimana mana bisa tidak dia tidak ada lagi di kota ini."gumam Arga sambil duduk dihadapan Aria


"kenapa?"


"hm?bukan apa-apa."


"Arga, ada liat ponsel aku?"


"hm? dalam tas lo gak ada?"


Aria menggeleng. apa jangan-jangan ada di Dhika. batin Arga


"Aria, tadi malam kamu pegang ponselnya?"


"iya. tapi pas aku bangun diruangan itu....."ujar Aria


"gak ada."Tebak Arga


"padahal itu pemberian kak Elina." ujar Aria sedih


Arga pun melepaskan kartu diponselnya lalu menyodorkan ponselnya kepada Aria. "apa?"tanya Aria


"buat Lo."


Aria terdiam melihat ponsel Arga. inikan ponsel mahal. batin Aria terkejut


"t-tidak usah."ujar Aria


"ambil aja, lagian ponsel kamu hilang gara-gara aku gak teliti."ujar Arga


Aria menatap Arga ragu. "ambil."ujar Arga


"gak mau."ujar Aria


Arga menghela nafasnya lalu mengambil tangan Aria dan meletakkan ponselnya ditangan Aria. "kalo Lo balikin ke gue, gue pastikan Lo bakal gue apa-apain."ancam Arga


"tapi ini ponsel kamu Arga."ujar Aria


"gak terima penolakan."ujar Arga


Aria pun mengamati ponsel Arga tersebut. kalo dijual pasti mahal, apa gue jual aja. pikir Aria


"kalo Lo berpikir buat jual ponsel itu, gue bakal balikin lagi ke Lo."ujar Arga


Aria mengerucutkan bibirnya kesal. "nyebelin."ujar Aria


"buat sementara kamu pake ponsel aku entar kamu balikin ke aku kalo kamu udah punya ponsel baru."ujar Arga


"lah? katanya buat aku?"Tanya Aria


"kan kamu gak mau."ujar Arga


"Arga."


"apa?"


"boleh gak aku tinggal disini?"


"Kenapa emang?"


"aku..... takut pulang ke rumah, lagian....aku udah kecewain ibu aku."


"tempat ini selalu nerima kamu. tapi kalo kamu mau ngehindar dari ibu kamu tempat ini akan tertutup buat kamu."


"tapi-"


"jangan lari dari masalah ri, kamu harus bisa menghadapinya. karena, itu akan membuatmu semakin dewasa."


"tapi.... kalo kamu mau menenangkan diri buat sementara waktu mungkin gak apa-apa"


"beneran?"


"iya."


Aria memeluk Arga erat. "makasih ga, kamu emang terbaik."


kuharap yang ku lakukan ini benar. batin Arga


"Arga, aku mau pergi ke supermarket, mau beli bahan makanan. temenin ya?"


"iya."




kini Aria dan Arga berada di supermarket. "Arga, kamu mau makan apa?" tanya Aria



Arga yang pun menatap Aria."terserah kamu aja."ujar Arga sambil memainkan ponselnya



"kamu suka ikan?"




"alergi?"



"gak suka aja."



"yaudah." ujar Aria sambil membuat beberapa daging segar kedalam troli



"kalo mau beli ikan, beli aja."ujar Arga



"gak,aku juga gak terlalu suka sama ikan."



"iyalah...orang kamu aja suka sama aku, masa sama ikan."



"serah kamu aja."



tak lama kemudian mereka berdua pun membayar barang belanjaan mareka kekasir. "totalnya 325 ribu mbak."ujar penjaga kasir



baru saja Aria ingin mengambil uang dari dompetnya Arga langsung memberikan uang berwarna merah sebanyak 4 lembar kepada mbak penjaga kasir tersebut. "ambil aja kembaliannya."ujar Arga



"terimakasih mas,mbak."ujar penjaga kasir ramah



Arga pun mengangkat 2 kantong plastik dengan cepat dirinya keluar dari supermarket tersebut diiringi oleh Aria yang berada dibelakangnya. "Arga, pelan-pelan dong."



Arga berbalik menatap Aria. "Kamu kenapa sih."Tanya Aria



"pengunjung disana menyebalkan."ujar Arga



"apa sih?" tanya Aria heran



**Tin tin**



Aria menoleh kebelakang tampak 3 orang gadis keluar dari mobil tersebut. "Aria!"ujar Maria menghampiri Aria diikuti oleh Shopia dan Sindy



"kalian? mau kemana?" tanya Aria



"biasa, ngumpul. Lo sendiri ikut gak?"tanya Shopia



Aria pun menatap Arga yang berada disampingnya lalu menatap teman-temannya."kayaknya enggak."



"hohoho..ada apa nih?"goda Shopia



sementara itu Arga hanya terdiam melihat Sindy yang menurutnya sangat mirip dengan seseorang. *dia kan orang di pesta tadi malam*. batin Arga



"Aria, siapa dia?"tanya Sindy menunjuk Arga



"em...dia Arga, teman gue"ujar Aria



"teman apa Temen?"goda Maria



"sama aja."ujar Aria



"hai Arga, gue Sindy."ujar Sindy mengulurkan tangannya



Arga menatap Sindy datar. Karena Arga tidak menjabat tangannya Sindy pun menurunkan tangannya dengan perasaan malu. "em...baik kita langsung pergi ke cafe, byee Aria."ujar Sindy pergi



"iya, kita pergi dulu. byeee."ujar Shopia dan Maria



Aria menatap Arga. "kenapa gak jabat tangannya?"



"aku kenal?"



"gak, mungkin."



"dia mirip sekali dengan seseorang."



"siapa?"



"hm? bukan apa-apa, lupakan."ujar Arga



Arga pun kembali berjalan kearah mobilnya meninggalkan Aria yang terdiam menatapnya. "tungguin."ujar Aria



Aria masuk kedalam mobil Arga dengan nafas yang tersengal-sengal. "jauhin dia."



"maksud kamu?"



"jauhin dia, turuti saja."