
Akhirnya setelah melewati cobaan yang tak mudah keluarga laura dan ustadz A'ab bisa berkumpul kembali malam ini lengkap dengan baby twins di tengah-tengah mereka. Memang takdir Allah lebih indah daripada rencana manusia. Laura yang selalu merutuki keadaanya karena belum bisa mengandung sampai usia pernikahannya hampir satu tahun justru di berikan Allah hadiah lebih. Allah memberikan dua bayi menggemaskan sekaligus. Seperti terbayarkan sudah bagaimana penantian dan do'a laura selama ini. Meski semua tak selalu berjalan mulus dan hampir saja meregang nyawa saat melahirkan sang buah hati nyatanya semua itu sepeti terbayarkan sudah malam ini.
" Terima kasih telah bersedia mengandung dan melahirkan anakku ra, mereka begitu lucu !" ujar ustadz A'ab memandangi wajah kedua anaknya yang tengah terlelap dan baru saja di letakkan dalam boxnya.
" sudah seharusnya kan ?" jawab laura dengan seulas senyum manisnya.
setelah memastikan kedua bayinya terlelap dengan nyaman ustadz A'ab berjalan menghampiri sang istri yang lebih dulu ia bantu naik keatas ranjang sebelum meletakkan kedua buah hatinya. Laura menyambut suaminya dengan senyum tulus. mengisyaratkan betapa bersyukurnya laura di berikan suami yang sebaik dan seperhatian itu.
" Uhibbuka zaujy !" ujar laura tulus.
Melihat senyum tulus laura membuat hati ustadz A'ab berdebar seperti saat pertama kali mendengar namanya. Apa karena lama tak melihatnya tersenyum seperti itu atau mungkin ia terlalu rindu dengan kebersamaan seperti ini dengan sang istri.
Perlahan tatapan keduanya mulai bertemu dan wajah keduanya semakin dekat tak ada jarak. Getaran dari tubuh keduanya semakin terasa membuat terbuai suasana dan bertemulah kedua bibir yang saling memberi kenikmatan. Keduanya benar-benar menyalurkan kerinduan yang selama ini terpendam sampai sebuah tangisan menghentikan aksi keduanya yang kemudian di akhiri dengan kekehan.
" aku cek dulu ya !" ujar ustadz A'ab yang di angguki laura.
Laura tersenyum memandangi begitu mahir sang suami mengurus buah hatinya. mulai dari memandikan mengganti popok yang bahkan dirinya masih belum berani.
" coba kamu kasih ASI ra, siapa tahu aja bisa keluar ASInya !" ujar ustadz A'ab mengangkat Ali yang sepertinya kehausan. Setelah lebih dulu mengecek popoknya yang ternyata masih kering.
Laura memang belum mencoba memberikan ASI kepada sang buah hati karena dari sadar kemarin belum ada tanda-tanda kalau ASInya keluar. Namun meski begitu dokter menyarankan untuk mencobanya merangsang dengan memberikan ASI pada sang buah hati dan juga rutin memompanya.
Tak semudah yang dibayangkan, Ali yang terbiasa minum di botol susu sangat kesulitan untuk meraih ****** uminya. Laura hampir putus asa saat bayi yang ada di gendongannya menangis semakin histeris karena tak dapat minum dari ASInya.
" ya udah, besok di coba lagi ya, ndak usah nangis, kalau kamu stress justru ASInya malah ndak keluar !" ucap ustadz A'ab lembut membelai rambut panjang sang istri.
" apa aku bisa ?" tanya laura dalam isak tangisnya.
" kamu pasti bisa, dokter juga udah ngasih vitamin kan, dan inget pesen dokter jangan stress biar ASInya lancar !" jawab ustadz A'ab mengambil alih Ali kecil dari gendongan sang istri dan memberinya susu formula agar kembali tertidur.
Meski ada susu formula setiap wanita yang telah menjadi ibu tentu ingin memberikan ASInya kepada sang buah hati. Dan sebagai suami ustadz A'ab tetap menyamangati sang istri dan berusaha menjaga perasaanya agar tetap baik. Karena bagaimanapun keadaan hatinya juga berpengaruh untuk kesehatannya juga kedua buah hatinya.
Pagi ini ustadz A'ab akan kembali memulai aktivitas mengajar mengingat beberapa hari yang lalu sudah izin untuk menjaga sang istri di rumah sakit. Lagi pula disini tak perlu ada yang di khawatirkan karena banyak orang yang bisa menemani sang menjaga kedua buah hatinya.
" Aku berangkat dulu ya, kamu baik-baik dirumah !" pamit ustadz A'ab setelah menyelesaikan semua tugasnya pagi itu.
" hati-hati aby, !" jawab laura dengan bayi Ali di gendongannya berjalan mengekor di belakang sang suami mengantar sampai di depan pintu besar rumah orang tuanya.
" Assalamualaikum!" salam ustadz A'ab mendaratkan satu kecupan di kening sang istri begitupun dengan laura yang membalas dengan mencium tangan sang suami. Tak lupa juga mendaratkan kecupan di pipi tembam bayi laki-laki yang ada di gendongannya.
" wa'alaikumussalam!" jawab laura melambaikan tangannya pada suami yang telah melenggang menuju kearah mobilnya terparkir.
"Adek ustadz !" teriak kevin menghentikan langkah ustadz A'ab dan menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya.
Kevin segera berlari menghampiri adik iparnya tak ingin membuat adik iparnya itu terlambat setelah beberapa hari libur bekerja. sementara laura yang masih berada di depan pintu bersama bayi Ali menatap kakak laki-lakinya itu dengan heran.
" Kenapa kak ?" tanya ustadz A'ab begitu sang kakak ipar di hadapannya.
" nanti jadi ketemu ceweknya ?" tanya kevin membuat ustadz A'ab terkekeh hanya untuk menanyakan hal itu sampai kakak iparnya itu harus berlari mengejarnya padahal bisa ia tanyakan lewat pesan whats app.
" Jadi donk, aku udah hubungi orang nya nanti malam kita kesana !" jawab ustadz A'ab mengembangkan senyum dihibur kevin.
" Terbaik mah adek ipar gue ini, ya udah dech berangkat sono keburu telat !" ucap kevin memeluk adik iparnya girang.
" Assalamualaikum!" ujar ustadz A'ab masuk kedalam mobil
" wa'alaikumussalam!" jawab kevin.
setelah mobil adik iparnya menghilang dari halaman rumah besarnya kevin kembali kedalam rumah. sementara laura yang merasa penasaran tentang apa yang di omongkan kakak dan suaminya itu masih setia menunggu di depan pintu untuk menginterogasi kakak laki-lakinya itu.
" Alii....!" gemas kevin mencubit pipi keponakan laki-lakinya.
" loe ngomong apa sama laki gue kak ?" tanya laura penasaran.
" Kepo loe dek, udah ach gue mau mandi !" ujar kevin acuh pada pertanyaan sang adik. melenggang begitu saja meninggalkan adik perempuannya mendaratkan satu kecupan di pipi kiri laura yang membuat laura semakin kesal di buatnya.