
setelah mendapat jaminan dari sang suami akan menceritakan apa yang menjadi rasa penasarannya Laura akhirnya menuruti sang suami untuk pulang kerumah sang ibu dan berpamitan dengan teman-teman yang lain.
"Assalamualaikum! " salam sepasang pengantin baru itu begitu memasuki pekarangan rumah.
"wa'alaikumussalam, lo anak ibu pulang, ko g bilang-bilang kalau mau pulang !" bu Khomsah kaget melihat kedatangan anak dan menantunya yang memang sengaja merahasiakan kedatangannya itu.
" iya bu, sengaja !" jawab laura cengengesan kemudian mencium tangan sang ibu mertua yang diikuti suami.
" tau gitu kan ibu masak yang enak tadi !" ujar bu khomsah mengikuti anak dan menantunya berjalan kedalam rumah.
" masakan ibu apapun itu pasti enak kog, !" ujar laura tahu betul bagaimana masakan ibu mertuanya yang tak perlu di ragukan itu.
" A'ab masuk dulu ya bu, cape !" pamit ustadz A'ab berlalu meninggalkan sang istri bersama ibunya.
" suamimu kenapa ?" tanya bu khomsah pada laura mengingat tak biasanya anak semata wayangnya itu hanya diam ketika bertemu dengannya.
" tadi baik-baik saja kog bu, kita tadi ketemu teman-teman di pesantren juga, ga tau kenapa nyampe rumah tiba-tiba gitu! " jawab laura yang juga sama tak mengertinya.
" ya sudah, kamu temui suamimu tanya baik-baik! " saran bu khomsah pada menantunya yang segera di turuti laura.
Laura segera menyusul sang suami masuk kedalam kamar yang ternyata telah membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Tak sebesar ranjang di rumah laura memang, tapi nyaman untuk merebahkan tubuh yang lelah.
Laura duduk disisi ranjang di mana suaminya terbaring membelakanginya. membelai lembut rambut tebal sang suami dari belakang.
"huby...!" panggilan lembut laura pada sang suami namun tak ada sahutan.
" apa aku melakukan salah ?" tanya laura selembut mungkin tak ingin menyakiti hati sang suami.
" aku lelah, !" jawab ustadz A'ab singkat tanpa memalingkan wajahnya.
Laura yang tak mengerti apa yang terjadi pada sang suami hanya menghela nafas panjang.
" baiklah, aku mandi dulu mumpung masih ada waktu sholat !" pasrah laura beranjak meninggalkan sang suami yang tak juga mau memberi penjelasan padanya.
ustadz A'ab memalingkan wajahnya melihat punggung sang istri yang berlalu keluar dari kamar. Sebenarnya memang ia sedang berpura-pura supaya sang istri tak lagi menanyakan tentang masalalunya dengan ustadz fauzi yang sempat sama-sama mencintainya. tapi mendengar sang istri mengatakan akan sholat membuat matanya terbelalak itu artinya masa datang bulannya sudah berakhir.
Laura kembali dengan rambut basah dan terurai indah. Meletakkan handuk bekas mengeringkan tubuh dan rambutnya lalu mengambil mukena dari dalam koper yang tadi di bawanya.
" aku juga belum sholat, kita sholat jama'ah! " ujar ustadz A'ab datar beranjak dari tempatnya berbaring tanpa menatap wajah sang istri.
Laura yang merasa aneh dengan tingkah sang suami hanya nenuruti apa yang di perintahkan tanpa ada bantahan. Menyiapkan perlengkapan sholat untuk dirinya dan suami.
" ayo, !" ajak ustadz A'ab yang sudah siap berdiri di posisi sebagai imam dan laura sebagai makmum.
pertama kalinya setelah satu minggu menikah melaksanakan sholat berjamaah sebagai sepasang suami istri. seperti layaknya pasangan suami istri yang lain laura mencium tangan sang suami begitupun dengan ustadz A'ab yang juga membalas dengan mengecup kening sang istri selepas solat.
" kalau aku ada salah, aku minta maaf !" ujar laura dengan tulus.
" aku yang harusnya minta maaf, aku yang membuatmu bingung dengan sikap kekanak-kanakan ku !" jawab ustadz A'ab membelai puncak kepala sang istri.
" maksudnya? "
" aku hanya tak ingin kamu terus menanyakan masalaluku dengan fauzy, tapi dengan cara tidak jelas seperti tadi !" terang ustadz A'ab.
" aku tidak akan kepo kalau itu tidak ada hubungannya denganku, tapi sepertinya yang kalian sembunyikan itu berhubungan denganku !"
" Fauzy pernah suka sama kamu ! bukan hanya suka, setiap detik menit saat kita bertemu pasti hanya kamu yang di bicarakannya, dan saat kamu kecelakaan waktu itu dia tahu kalau aku juga mencintaimu dan dia memukuliku habis-habisan, tapi saat kamu pergi ke amerika kita sudah mulai baikan !" Terang ustadz A'ab tak ingin membuat sang istri semakin penasaran. Lagi pula itu hanya masalalu di antara mereka.
" emang resiko orang cantik !" ujar laura dengan percaya dirinya.
" Astagfirullah hal adziiim, tahu gitu ga jadi cerita !" ustadz A'ab menepuk kening mendengar kepedean sang istri yang mulai kambuh.
tok..tok..tok...
" Ab, laura, ayo makan dulu !" ujar bu khomsah dari luar pintu kamar pengantin itu.
" nggih bu, !" jawab keduanya bersamaan.
Ada rasa kecewa dalam hati ustadz A'ab, padahal ia ingin sekali segera menyalurkan hasratnya pada sang istri saat itu juga namun harus terganggu dengan panggilan sang ibu. Tapi ya sudahlah, lagi pula waktu masih sore. mungkin waktunya belum tepat pikirnya menghibur hati.
Hari mulai gelap, setelah menemani sang ibu bercengkerama dan bercerita kesana kemari sepasang pengantin baru itu pamit kepada sang ibu untuk beristirahat mengingat besok pagi ustadz A'ab juga harus pergi ke Bandung jadi memilih untuk Istirahat lebih awal.
" ra,...
" nggih huby ?" laura menatap hangat sang suami.
" kamu sudah suci kan ?" tanya ustadz A'ab pada sang istri yang hanya di tanggapi dengan tatapan menyeringai mengisyaratkan pertanyaan balik.
"kita lakukan malam ini ya ?"tanya ustadz ustadz A'ab berharap pada sang istri.
Deg,..hati laura tiba-tiba berdebar kencang. Dia tahu bahwa itu memang sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri. tapi rasanya kesiapan itu masih belum ada dalam dirinya.
" aku masih takut huby !" jawab laura polos menggigit bibir bawahnya seperti anak kecil yang minta di belikan ice cream membuat sang suami gemas di buatnya.
" lalu apa kamu tega membuatku menunggu lebih lama lagi ?"
Ustadz A'ab benar, dia sudah menunggu laura selama bertahun-tahun dan tentu itu membuat laura tak ada pilihan lain meskipun takut akhirnya ia mengangguki permintaan sang suami.
" baiklah, ayo sholat dulu !" ajak ustadz A'ab dengan senyum bahagia terukir di wajahnya.
" kita kan sudah jamaah sama ibu tadi huby !" jawab laura polos.
" tadi kan sholat Isya, sekarang kita sholat hajat minta sama Allah biar apa yang kita lakukan nanti barokah dan menghasilkan kerurunan yang sholih sholihah !" terang ustadz A'ab yang langsung di mengerti oleh sang istri.
setelah menyelesaikan sholat 2 rokaat nya hati laura kembali berdebar tak karuan. Apalagi saat ini sang suami tengah menatapnya dengan tatapan buas seperti singa yang sedang kelaparan dan siap memakannya hidup-hidup.
Ustadz A'ab membelai lembut rambut sang istri yang saat itu telah terurai dengan indah. mengecup kening sang istri cukup lama sembari membisikkan do'a. Membaringkan tubuh mungil sang istri dan mulai mencumbunya dengan mesra.
"Bismillahirrohmaanirrohim....
Laura berusaha untuk pasrah dengan apa yang tengah di lakukan sang suami. Memejamkan matanya rapat-rapat namun jantungnya tak bisa demikian, jantungnya berdebar semakin hebat saat sang suami juga semakin liar menjelajahi tubuhnya.
" huby,
panggilan itu menghentikan aktivitas sang suami yang hampir saja berhasil melakukannya. dengan terpaksa ustadz A'ab mendongak kearah sang istri.
" aku takut jantungku copot,...!" ujar laura dengan polosnya.
"hmh...ga akan, !" ustadz A'ab mendengus dan tambah gemas dengan ucapan sang istri.
ustadz A'ab kembali melakukan aktivitasnya tak perduli jika sang istri terus meronta dan mengatakan hal-hal konyol di telinganya.
" huby, sakit.....
Jeritan laura dari dalam kamar pengantin itu terdengar oleh sang ibu yang memang masih terjaga. Seperti biasa di jam segitu bu khomsah tengah membaca Al Qur'an di dalam bilik kamarnya.
Penasaran dengan apa yang terjadi bu khomsahpun mendekat kearah kamar anak dan menantunya takut terjadi sesuatu. Namun ketika sampai di depan pintu sepertinya ia tahu apa yang tengah di lakukan sepasang pengantin baru itu membuatnya tersenyum geli.
" di apain aja tuh menantuku ? apa iya anakku seganas itu,
Bu khomsah terkekeh geli membayangkan apa yang terjadi di dalam sana. kemudian kembali ke dalam bilik kamarnya tak ingin menjadi pengganggu proses pembuatan cucu itu.