Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
obrolan malam



Laura selalu menyukai setiap cerita yang di bacakan sang suami sebelum dirinya terlelap. Baginya cerita sang suami adalah yang terbaik membuatnya bisa membayangkan bagaimana keadaan sesungguhnya. Tak heran memang kalau tausiyah sang suami sampai saat ini masih jadi idola banyak orang. Tapi ada satu kisah yang entah mengapa tak membuat laura bosan meski sudah berulang-ulang ia dengar dari sang suami. yaitu kisah tentang putri Rasulullah Fatimah Az zahra. Baginya kisah fatimah selalu menarik untuk disimak meski berulang-ulang.


" By, !"


" hmm?"


" aku pengen kalau anak kita perempuan seperti Fatimah Az Zahra putri Rosulullah, aku berharap dia akan menjadi gadis selembut fatimah yang bahkan surgapun rindu padanya !" ucap laura penuh harap mengelus perut besarnya.


Ustadz A'ab tersenyum mendengar perkataan sang istri. selama ini laura memang antusias setiap kali mendengar cerita tentang fatimah darinya.


" bagaimana kalau laki-laki ?" tanya ustadz A'ab menatap serius sang istri.


" biarlah seperti sayyidina Ali pasangannya fatimah , bukankah cocok Ali yang pemberani dengan fatimah yang lembut ?" jawab laura tersenyum.


" mau cek jenis kelamin ?" tanya ustadz A'ab lagi.


" ga ach, biar jadi kejutan !" jawab laura dengan senyum manisnya kemudian sang suami mengangguk.


Pasangan ini telah pindah rumah dua hari lalu mengingat persalinan yang sudah semakin dekat dan mereka ingin menata kamar buah hati mereka. Rumah sederhana yang mereka beli dengan hasil keringat mereka sendiri menjadi kebanggaan untuk sepasang suami istri itu. Akhirnya bisa melewati masanya meski di awal terlampau susah masalah ekonomi.


" by, !" ujar laura lagi yang entah kenapa malam itu matanya belum mau terpejam juga meski telah mendengar beberapa cerita dari sang suami.


" kenapa sayang ?" tanya ustadz A'ab yang mulai merasa ada yang lain pada sang istri malam itu.


" Aku ingat, dulu waktu masih di pesantren kamu pernah bilang kalau meninggalnya orang yang melahirkan itu tercatat sebagai jihad, benarkah ?" tanya laura menatap lekang mata sang suami.


Memang tidak ada yang salah dengan pertanyaan laura. Tapi entah mengapa bagi ustadz A'ab ada yang berbeda dengan laura malam itu. Ia terlihat begitu lembut dan dewasa tak seperti biasa yang manjanya kebangetan. Apakah itu karena ia akan segera melahirkan ? batin ustadz A'ab.


" aku kan hanya bertanya by, kenapa ekspresinya sekaget itu ?" laura masih dengan santainya berucap dengan terus mengelus perut besarnya.


" wanita hamil, melahirkan, bahkan sampai nifas meninggalnya memang tercatat sebagai mati syahid, mengingat betapa kepayahannya wanita dalam posisi seperti itu, tapi merawat dan membesarkan anak dengan sepenuh hatinya wanita juga mempunyai pahala yang begitu besar, lalu kenapa kamu harus bertanya seperti itu ?" ketakutan mulai merasuki pikiran ustadz A'ab mengenai pertanyaan yang di lontarkan sang istri sampai tak sadar jika air matanya telah menetes saat itu.


Laura heran menatap sang suami yang tiba-tiba saja menangis dihadapanya untuk pertama kali itu. padahal ia tak pernah ada niat apapun menanyakan hal itu. iapun tak sadar mengapa ia justru menanyakan hal itu.


" kenapa kamu nangis? apa ucapanku salah? aku sama sekali tak ada niat untuk membuatmu bersedih seperti ini, dan kalaupun itu benar terjadi tentu aku sudah bahagia karena aku pernah hidup dan mencintaimu, aku bahagia bisa mengandung anakmu, dan tentunya aku pasti lebih bahagia setelah berhasil melahirkan buah cinta kita ke dunia nanti !" ucap laura tulus mengusap air mata yang deras mengalir dipipi sang suami.


" Aku percaya takdir, bahwa jodoh maut dan Rizky itu di tangan Allah, tapi mendengarmu berkata seperti itu hatiku sakit, lebih sakit dari pada saat kau menolak dan meninggalkanku ke Amerika waktu itu !"


Selama menikah dengan laura baru ini air matanya terjatuh di depan istri tercintanya itu. entah mengapa hatinya berkata bahwa laura akan kembali jauh darinya. ditambah lagi dengan pertanyaan laura tentang wanita yang meninggal saat melahirkan membuat hatinya semakin teriris. Meski takdir Allah itu nyata, tetap saja harapan nya Allah akan selalu melindungi istri dan anak yang berada dalam kandungannya. Memberinya waktu untuk bersama membesarkan buah cinta mereka.


" Aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk meninggalkanmu by, tapi jika Allah sudah berkehendak maka kamu juga harus ikhlas, tentu kamu lebih tahu itu, dan apa yang kamu khawatirkan jika itu benar terjadi bukankah jaminannya juga surga ?" ucap laura membawa pria tercintanya itu kedalam pelukannya. membiarkan pria itu menumpahkan seluruh perasaanya di dalam pelukan tubuhnya yang semakin berisi. sementara dada ustadz A'ab justru semakin sesak mendengar laura berkata demikian. Meskipun seorang ustadz dia adalah manusia biasa yang juga mempunyai rasa takut kehilangan orang yang di cintanya.


Laura membiarkan sang suami lebih tenang dalam pelukannya. membelai lembut rambut pendek itu dengan penuh perasaan. Hingga ia mendengar nafas suami yang teratur iapun bisa bernafas lega mengetahui kalau suaminya telah tertidur pulas dalam pelukannya.


Laura kembali berfikir apa ada yang salah dengan pertanyaanya sampai sang suami dengan segitunya merespon sampai menangis sesenggukan seperti itu. Padahal biasanya sang suamilah yang selalu memberinya kekuatan untuk tetap sabar dan husnudzon pada takdir Allah. tapi malam ini ia malah menangis hanya karena pertanyaan yang menurut laura itu masih di batas wajar.


Dia juga tidak berharap akan meninggal saat melahirkan. Ia masih ingin menemani anaknya tumbuh dan berkembang sampai dewasa nanti. Tapi ya entahlah kenapa mulut berkata berbeda seperti itu.