
Setelah melalui proses yang serba dadakan akhirnya hari itupun tiba. Hari dimana gadis kecil yang mengejar cintanya hingga sampai di pesantren selangkah lagi akan menemui mimpinya. Bersanding dengan orang yang di nantikannya selama bertahun-tahun lamanya.
Pernikahan Akhirnya di langsungkan kediaman Handika. meskipun tadinya Handika bersikukuh akan melaksanakan pernikahan sang putri di Hotel ternama. Namun lagi-lagi laura tidak menginginkannya dan kali ini ia harus menurut pada keinginan sang putri.
Laura sudah nampak cantik dan anggun dengan riasan jawa syar'i di temani Lolita dan rania yang juga sudah menyesuaikan dengan penampilan laura. sementara ijab qobul di laksanakan di ruang utama laura berada di dalam kamar bersama kedua sahabatnya dengan perasaan gugup dan was was.
" loe cantik banget ra,...!" puji rania pada pengantin wanita itu.
" Gue gugup banget ran, lol, loe pegangin dech dada gue !" ujar laura dengan wajah tegang yang tak dapat di sembunyikan.
" laki loe pasti lancar lah ra, secara ustadz gitu loch !" sahut lolita meyakinkan.
" iya ra, gue ga nyangka loe akhirnya beneran jadi bininya ustadz seperti yang loe bilang !" rania terkekeh jika mengingat masa-masa mereka dulu.
Belum Hilang rasa gugup dari dalam hati laura, ratih dan bu khomsah sudah lebih dulu menghampiri pengantin wanita itu.
" Alhamdulillah, menantu ibu cantik sekali !" ujar bu khomsah memeluk sang menantu yang baru beberapa menit lalu di sahkan.
" ijab qobulnya udah slesai bu', mah ?" tanya laura yang masih tegang karena gugup.
" sudah nak, Alhamdulillah sudah sah jadi menantu ibu !" bu khomsah menjawab dengan senyum tulus.
"Alhamdulillah! " tanpa terasa air mata laura menetes bersamaan dengan rasa sukur itu.
Laura tak dapat menahan tangis harunya. Bahagia yang tak dapat di lukiskan dengan kata.
" heh, pengantinnya mama mana boleh nangis, lihat nich make upnya berantakan !" ujar ratih menghapus air mata yang mengalir di pipi sang anak.
" keluar yuk, suamimu pasti sudah penasaran betapa cantiknya pengantin wanitanya ini !" ujar bu khomsah pada sang menantu.
Ratih dan bu khomsah mengapit laura diikuti rania dan lolita di belakang berjalan menuju ruang utama dimana ijab qobul di laksanakan. laura berjalan dengan mata tertunduk karena malu. sedangkan sang pengantin pria telah menyambutnya dengan tatapan tanpa berkedip. terpesona akan kecantikan sang istri yang terbiasa tampil polos tanpa make up. Namun hari ini di sulap menjadi putri jawa yang mempesona.
" mentang-mentang sudah mukhrim ab, mandangnya gitu amat !" celetuk ustadz fauzy yang kebetulan berada disisi Ustadz A'ab sebagai saksi nikah.
" biasa aja ustadz, adek gue emang selalu cantik awas kalau ketagihan !" kevin ikut berbisik di telinga ustadz A'ab.
pletak...kevan mendaratkan satu jitakan pada saudara kembarnya yang selalu sembarangan berbicara itu.
Ratih membantu sang putri untuk duduk di sisi sang suami untuk menandatangani buku nikah dan mengabadikan moment tersebut. Penghulu membimbing laura untuk mencium tangan sang suami dan ustadz A'ab untuk mencium kening sang istri.
Pertama kali dalam hidup ustadz A'ab menyentuh wanita lain selain ibunya dan aisyah semasa kecil ketika laura mencium tangan kanannya. Begitupun ketika ia hendak mengecup kening sang istri yang lebih dulu ia membisikan do'a sebelum mendaratkan kecupan pertamanya.
"Jadilah bidadari surga untukku !" ujar ustadz A'ab setelah beberapa saat mengecup kening sang istri.
"Insya Allah, jadilah imam surga untukku !" balas laura.
Keromantisan sepasang pengantin baru itu tak luput dari perhatian para tamu. membuat iri setiap orang yang melihatnya terkhusus para jomblo. Ratih dan Handikapun tak kalah terharu melihat kebahagiaan sang anak dan menantunya itu.
"cieee, beda emang bahasanya kalau udah ustadz yang jadi adek ipar....!" celetuk kevin yang membuat para undangan terkekeh.
" Bilang aja loe sirik kak karena di duluin adek loe !" sahut lolita mencibir.
" loe bener dek, kebangetan emang laura ! gimana kalau loe aja dek yang gue ajak nikah biar gue barengan sama laura jadi ga di langkahin !" ujar kevin menggoda lolita dengan menaik turunkan alisnya membuat lolita bergidik jijik dan segera menjauh dari sisi kevin.
Acuh dengan perdebatan sang kakak dan saudaranya laura dan ustadz A'ab memilih menyalurkan perasaan masing-masing lewat tatapan dan senyum manis yang tak pernah pudar di antara keduanya.
Setelah prosesi penanda tanganan buku nikah dan pengambilan dokumentasi sepasang pengantin baru itu segera di arahkan kearah pelaminan untuk menyambut para tamu undangan yang hadir.
Senyum manis tak pernah surut dari kedua orang yang sedang di mabuk cinta dan baru di sahkan oleh agama dan negara itu. Satu persatu para tamu memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai yang menjadi raja dan ratu sehari itu.
Hari yang bahagia, tapi tetap saja di hari itu ada yang terluka. Iya Andra dan kedua orang temannya turut hadir dalam acara pernikahan laura dan ustadz A'ab. Jangan tanya masalah perasaan tentu amat sakit. Tapi setidaknya melihat orang yang di cintainya bahagia sudah cukup bagi Andra. mungkin memang ini akhir dari penantiannya.
" Sabar kak, !" ujar rania melihat orang yang berada disisinya meneteskan air mata menatap kearah pelaminan.
" mungkin saatnya aku benar-benar harus melepaskan dia ran,...!" Andra menyeka bulir air mata yang sempat terjatuh di pipinya.
" kak Andra pasti bisa, !" ujar rania memberi semangat.
" ya udah, kesana yuk kita kasih ucapan selamat ke mereka! " ajak andra menggandeng tangan rania dan tentu itu membuat hati rania menghangat.
Rania tersenyum mengekor di belakang Andra. Sedangkan kedua teman Andra, Bagas dan raihan entah sudah kemana semenjak tahu laura mengundang teman pesantrennya kedua orang itu antusias untuk mencari gadis pesantren untuk di jadikan jodoh.
" selamat ya ra, semoga langgeng !" ujar andra dengan senyum yang sudah tentu di paksakan.
" Terima kasih kak Andra, semoga kak Andra juga cepet nyusul, sama yang di gandeng juga boleh tuh !" ujar laura menggoda membuat wajah rania memerah karena malu.
sedangkan Andra hanya menanggapi dengan senyum tipis.
" Apaan sih lo ra, malu-maluin tau !" gerutu rania berbisik di telinga laura.
" Abis loe sih, pake gandengan tangan berduaan lagi !" laura terkekeh melihat sahabatnya yang salah tingkah.
Andra dan rania beralih kepada orang yang ada di samping laura.
" Tolong jangan buat dia nangis ustadz, aku sudah ikhlas melepasnya mulai hari ini, tapi kalau sampai ustadz buat dia nangis atau kecewa aku akan menjadi orang pertama yang membawanya lari !" ujar Andra pada ustadz A'ab dan sudah tentu di dengar oleh laura dan juga rania.
"hemh...Dia istriku bro, Insya Allah aku tidak akan membiarkanya kamu bawa lari !" jawab ustadz A'ab menepuk pundak Andra.
Dan tentu jawaban itu membuat laura merasa semakin kagum dengan orang yang ada di sampingnya. Dalam hatinya juga merasa iba melihat Andra yang seperti tak punya semangat hidup. Tapi setidaknya melihat dirinya sudah menikah dengan orang lain akan membuat Andra bisa membuka hati pula untuk orang lain.