
Sepertiga malam laura terbangun seperti biasa tubuhnya telah teralarm otomatis untuk bangun dan melaksanakan sunah di sepertiga malam itu. Meski lelah setelah semalaman entah berapa lama sepasang pengantin baru itu memadu kasih tak membuat laura melewatkan sunah sepertiga malam yang sudah menjadi rutinitasnya itu.
Laura yang hendak berdiri untuk bersuci dan membersihkan diri kembali terduduk meringis kesakitan saat dirasa selakanganya terlalu perih. Ringisan itu terdengar oleh sang suami yang juga ikut terbangun bersamanya.
" masih sakit ?" tanya ustadz A'ab khawatir melihat sang istri terdiam di pinggiran ranjang dan hanya di jawab anggukan oleh laura.
Hal itu tentu membuat ustadz A'ab merasa bersalah dengan perbuatannya pada sang istri sampai begitu kesakitan. setelah menutup tubuhnya dengan sarung ustadz A'ab mengangkat tubuh mungil sang istri kedalam gendongannya.
" mau ngapain? " tanya laura kaget dengan perlakuan sang suami.
" mandiin kamu lah, !" jawabnya santai
" aku bisa sendiri, yang ada malah ga jadi mandi kalau kamu yang mandiin !" bantah laura mencoba menurunkan tubuhnya dari gendongan sang suami.
" berdiri aja susah gimana mau mandi ?" tak peduli dengan ocehan sang istri ustadz A'ab terus menggendong sang istri ke luar kamar menuju ke kamar mandi.
" turunin hub, aku bisa sendiri ga enak dilihat ibu !" rengek laura terus mencoba menurunkan tubuhnya dari gendongan sang suami.
" ibu tahu kalau kita sudah nikah, dan hukumnya sunah mandi bersama suami istri !"
Berapa kalipun laura menolak dan mencoba melepaskan diri mandi bersama itupun tetap terjadi. Rasanya memang aneh, tapi ya apalah daya toh memang benar mereka sudah sah menjadi suami istri tidak melanggar aturan dalam beragama.
Selepas melaksanakan ibadah sepertiga malamnya, sepasang pengantin baru itu sekalian menunggu waktu shubuh dengan membaca Al Qur'an. Dan baru setelah adzan berkumandang keduanya berjamaah sholat shubuh.
" Terima kasih !" ucap ustadz A'ab setelah mengecup kening sang istri bakda sholat shubuh.
" Sama-sama! " jawab laura tulus dengan senyum terukir di wajahnya.
Dan saat ini senyum keduanya telah bertemu. Meski dengan ketakutan yang tak beralasan akhirnya laura lega bisa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri melayani suaminya.
" Aku masih ngantuk !" ujar laura dengan wajah kusut yang memang masih ketara.
" ya udah, istirahat lagi yuk !" ajak ustadz A'ab yang di tanggapi anggukan beserta senyuman oleh sang istri.
Ustadz A'ab kembali membopong tubuh mungil sang istri setelah laura selesai merapikan perlengkapan sholatnya. Dan tak lama laura yang memang masih begitu lelah segera tertidur pulas dalam dekapan sang suami.
Bu khomsah telah menyiapkan sarapan sepesial untuk anak dan menantunya yang mungkin lelah setelah membuatkan cucu untuknya semalaman suntuk. Berharap akan mengembalikan energi yang telah terbuang untuk pertarungan semalam.
" Assalamualaikum bu, !" salam ustadz A'ab pada sang ibu yang telah menunggu di meja makan.
" wa'alaikumussalam, istrimu mana ?" tanya bu khomsah.
" masih tidur bu, kecapean !" jawab ustadz A'ab membalikan piring yang ada di hadapanya.
" kamu apain aja mantu ibu semalaman sampai jam segini masih belum bangun ?" tanya bu khomsah yang mengetahui apa yang telah di lakukan anak dan menantunya semalam.
ustadz A'ab terbelalak mendengar ucapan sang ibu. Merasa malu, tapi tetap mencoba menampakkan muka datarnya.
" jangan bilang ibu lupa rasanya jadi pengantin baru !" ujar ustadz A'ab datar menutupi rasa malunya dari sang ibu.
" ibu waktu jadi pengantin baru ndak sekenceng itu kalau teriak, apa jangan-jangan kamu yang terlalu ganas makan anak orang !"
Dan ustadz A'ab kembali terbelalak mendengar ucapan sang ibu. Apa iya sang ibu mendengar jeritan sang istri semalam ?
" emang ibu denger ?" heran ustadz A'ab menghentikan proses mengunyahnya.
Niat bu khomsah yang hanya menggoda anak semata wayangnya itu sukses membuat ustadz A'ab mati gaya dan tak dapat berkutik. Memikirkan perkataan sang ibu membuatnya berfikir apa iya dirinya terlalu menyalurkan nafsunya semalam mengingat pagi tadi istrinya juga merasa sangat kesakitan saat bangun tidur.
" Aku brangkat dulu ya buk, ada kajian di bandung, nitip laura ndak tega mau bangunin !" pamit ustadz A'ab kemudian setelah dibuat mati gaya oleh sang ibu.
" makanya, mbok yo ndak usah ngegas ngegas sampai anak orang lemes gitu !" ujar sang ibu bahkan masih betah menggodanya.
" ach ibu ini, aku sudah di tungguin Fauzy sama Farhan, Assalamualaikum! "
Tak ingin terus meladeni godaan sang ibu ustadz A'ab berlalu tak lupa mencium tangan wanita paruh baya itu dan segera menemui kedua temannya yang sudah menunggu di depan rumah.
beberapa saat setelah kepergian sang suami laura mulai terbangun dari tidurnya. melirik kesamping kanan kiri namun tak menemukan orang yang tadi pagi menemani tidurnya. meraih ponsel yang berada diatas meja kecil samping tempat tidurnya. matanya terbuka lebar begitu melihat jam dalam ponsel telah menunjukan pukul sebelas siang. Teringat sang suami akan berangkat ke bandung hari itu membuat laura bergegas keluar kamar dan mencari keberadaannya. Namun rumah nampak sepi sepertinya sang suami memang sudah berangkat tanpa berpamitan dengannya.
" suamimu sudah brangkat pagi tadi, ndak tega mau bangunin kamu katanya, makanya ndak pamitan !" ujar bu khomsah yang baru saja kembali setelah memasak untuk keluarga ndalem di pesantren mengerti bahwa sang menantu tengah mencari keberadaan sang suami.
" aku kelamaan tidurnya ya bu ?" sesal laura menatap wajah sang mertua.
" anak ibu membuatmu terlalu kelelahan, makanya dia tidak tega mengganggu tidurmu !" ujar bu khomsah membelai lembut rambut sang menantu yang masih belum terbalut hijab itu.
" ibu !" Laura berhambur memeluk wanita yang telah sah menjadi ibu mertuanya itu merasa terharu.
" sudah, kamu belum makan toh ? ayo makan dulu ibu sudah masak enak buat kamu !" ujar bu khomsah dengan senyum manisnya.
Mulai di sahkannya laura sebagai istri dari sang anak, bu khomsah sudah menganggap laura seperti anaknya sendiri itulah mengapa tak membedakan kasih sayang antara anak dan menantunya.
Selesai menghabiskan sarapan sekaligus makan siangnya laura kembali ke kamar mengecek kembali ponselnya berharap menemukan pesan dari sang suami disana.
📩 Assalamualaikum bidadari surgaku,
sudah bangunkah ? maaf kalau aku ga pamitan, g tega mau bangunin ini sudah sampai di bandung 😊
📨wa'alaikumussalam, Alhamdulillah
apa aku tidur terlalu kaya orang mati sampai ga tahu kamu berangkat ?
📩hahaha,...omongan macam apa itu ? maafkan aku yang terlalu bersemangat sampai tak memberimu waktu istirahat 🙏
📨 Baru nyadar😑
📩😂 sudah ya, sebentar lagi acaranya mulai aku mau sholat dulu
📨hati-hati jangan lupa makan, semangat 😙
📩pasti semangat donk kan semalem udah di kasih 😘
📨pak ustadz pikirannya mesum😑
📩emmuach, 😚 Assalamualaikum bidadari surgaku.
📨wa'alaikumussalam imam surgaku😚
Laura kembali terbawa kealam mimpi setelah berbalas pesan dengan sang suami yang tengah berada jauh disana. Dan untuk 3 hari kedepan kedua orang yang tengah di mabuk cinta itu harus kuat menahan rindu selama berjauhan.