Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Pulang



setelah melewati pemulihan beberapa hari ini, akhirnya laura di perbolehkan pulang oleh dokter. Sebenarnya Handika berniat langsung membawanya ke Amerika namun Laura menginginkan untuk pulang ke jakarta terlebih dahulu untuk menemui ke dua sahabatnya yang ada disana.


" kamu mau kepesantren dulu ?" tanya Handika pada sang putri namun laura menggeleng.


Entahlah rasanya masih sakit jika harus kembali ke pesantren dulu dan bertemu aisyah atau ustadz A'ab disana. Pasti hatinya akan kembali sakit pikirnya.


"Baiklah, ayo papa bantuin turun !" ujar Handika dengan kursi roda yang telah siap di samping ranjang laura.


" aku bisa kog pa, !" jawab laura dengan seulas senyuman.


Hati Ratih sudah berdebar, takut melihat kenyataan yang ada bagaimana ekspresi sang putri saat tahu dirinya tak bisa jalan nanti. Selama laura sadar memang Ratih dan Handika sengaja tidak memberitahukan bagaimana kondisinya. Saat laura merasa kesakitan di bagian kaki ratih dan handika selalu mengatakan bahwa itu baik-baik saja efek dari tidurnya yang terlalu lama.


" awww,...pa,ma, kenapa kaki laura ga bisa di gerakkan !" ringis laura saat mencoba turun dari ranjang tempatnya berbaring namun di rasa kakinya begitu berat dan sakit.


" biar papa bantu ya, !" Handika segera membopong tubuh mungil sang putri ke atas kursi roda.


" pa, sebenarnya apa yang terjadi pada laura ? semua tubuh laura sudah berfungsi normal sejak terbangun beberapa hari lalu, tapi kaki laura ?" Laura menatap orang tua laki-lakinya dengan lekang.


Handika menghembuskan nafas panjang, tak tega menceritakan bagaimana kondisi sang putri sesungguhnya.


" Laura dengar ya, laura pasti baik-baik saja, papa janji papa akan mengupayakan yang terbaik !" ucap Handika menatap balik sang putri.


Ratih sudah tak mampu membendung air matanya lagi. Tak kuasa melihat wajah sedih sang putri.


" pasti baik-baik saja? itu artinya sekarang laura tidak baik-baik saja pa ?" Laura mulai curiga ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.


" maafkan mama sama papa nak, bukan maksud kami membohongi kamu, kami hanya tak ingin menambah beban pikiran kamu !" Ratih berhambur memeluk anak gadis yang duduk di atas kursi roda itu.


" ma, apa laura tidak bisa jalan lagi ?" Tebak laura dengan air mata yang sudah berderai.


" Kamu pasti bisa jalan lagi sayang, pasti !" sahut Handika segera.


Astagfirullah hal adziiim, begitu besarnya dosa hambamu ini ya Allah,...rintih hati laura dalam isak tangisnya.


" Jadi laura ke amerika bukan untuk kuliah ? tapi untuk ini pa ?" tanya laura lagi setelah merasa lebih tenang.


" papa sudah minta kak kevan mencari dokter ortopedi terbaik nak, jadi kamu pasti bisa jalan lagi, dan kalau kamu sudah sembuh nanti kamu bisa kuliah disana !" terang handika mengelus kepala sang putri.


Meski belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan ini, meski hatinya masih terasa sakit, tapi laura berusaha untuk ikhlas dengan apa yang terjadi. Mungkin ini bagian dari ujian untuk mengangkat derajatnya di mata Allah SWT.


Setelah selesai berkemas Handika dan Ratih segera membawa putri kesayangannya lepas landas ke Jakarta. Tak lupa handika juga sudah mengabari ustadz A'ab yang berniat melamar laura sebelum laura di bawa ke Amerika minggu depan. kebetulan sampai hari ini ia belum juga kembali dari touring dakwahnya.


Di Jakarta kehadiran laura telah di sambut oleh kedua sahabat kecilnya yang begitu khawatir saat mendengar laura kecelakaan namun karena tugas akhir mereka yang sudah kelas XII kedua gadis itu tak dapat ikut menemani laura dalam masa sulitnya. Meskipun begitu keduanya terus meminta kabar perkembangan laura dari orang tua laura.


" Laura.....!" pekik Lolita dan Rania begitu Laura sampai di pelataran rumah besarnya dengan di dorong oleh sang papa.


" Kangen banget gue sama loe ra, !" lolita memeluk sang sahabat yang lama dirindukan itu.


" gue juga,..!" jawab laura dengan lembut.


Sangat berbeda dengan sebelumnya yang selalu ceria dan cengengesan, setelah kejadian yang menimpanya laura lebih memilih jadi pendiam dan tak banyak bicara.


" Masuk dulu yuk, kasian lauranya baru sampai belum istirahat !" ujar ratih yang langsung di turuti tanpa bantahan.


" ma,..!"


" iya sayang,...


" Bisakah foto-foto itu di ganti foto yang lain ? laura malu dalam foto itu tak berjilbab, kalau banyak yang datang kesini dan melihatnya laura akan berdosa !" ujar laura pada sang mama.


Lagi-lagi hati ratih dan handika tersentuh dengan kata-kata anak gadis yang tiga tahun ini menempuh pendidikan pesantren itu. Padahal di dalam foto itu ratih juga tak mengenakan jilbab, meskipun sekarang sudah mulai berlatih memakainya.


" iya, biar nanti di ganti ya sayang !" jawab ratih dengan seulas senyuman.


" Sekarang mama anter ke kamar dulu, untuk sementara mama pindah kamar kamu di bawah dulu gpp kan ?" tanya ratih takut sang anak tersinggung.


" iya ma, !" jawab laura singkat.


Ratih dan Handika menarik nafas panjang, laura sekarang sudah bukan lagi laura yang dulu. Untuk berkatapun Handika dan ratih harus mengolah kata agar tak menyinggung sang anak.


" Tante tinggal dulu ya ran, lol, nitip laura !" ujar ratih pada kedua sahabat yang sedari tadi mengekor di belakang kursi roda laura.


" siap tante,...!" jawab keduanya bersamaan.


Suasana mendadak hening. Rania dan lolita juga jadi canggung melihat laura yang hanya diam saja. laura menggiring kursi rodanya hingga sampai di sebuah meja kecil samping ranjang king size yang sudah di desain serba pink sesuai dengan kamar aslinya. Dia meraih ponselnya yang memang sengaja di minta ratih kepada bi noni ARTnya untuk di siapkan disana.


📩 Assalamualaikum bidadari surgaku....


Alhamdulillah sudah kembali ke istana,


📩semangat....


Pesan teratas saat laura menyalakan ponsel pinky nya. Pikiran laura melayang mengingat saat pertama ia membuka mata. Kata-kata dalam pesan itu sama persis seperti yang di dengar kala itu. menggeser pesan keatas. Ternyata itu bukan pesan pertama yang dikirim oleh nomor tanpa identitas itu. Bahkan ada pesan yang tertanggal sudah 2,5 tahun lalu. itu berarti awal laura masuk pesantren.


Mungkinkah dia orangnya ??? tapi yang kemarin itu kan hanya mimpi ? tunggu,...mama papa...pasti mereka tahu apakah itu mimpi atau bukan !"


Laura kembali menggiring kursi Rodanya keluar kamar tanpa memperdulikan kedua orang yang dari tadi mengekorinya dari belakang.


"pa, ma, !" sapa laura pada Handika dan Ratih yang tengah merebahkan tubuh di shofa ruang keluarga.


" kenapa sayang, ada perlu apa ?" tanya ratih heran.


" selain mama sama papa, siapa yang ada di rumah sakit saat laura bangun ?" tanya laura membuat Ratih dan Handika saling menatap tak mengerti.


" memangnya kamu ga lihat orang yang pertama kali melihat kamu waktu membuka mata ?" Handika balik bertanya.


" maksud papa ?"


" iya, pria idaman kamu !" jawab Handika.


" pria idaman ??? siapa sih pa ???


" udah kumat kayaknya nggemesinya, siapa lagi kalau bukan ustadz ganteng itu !" Gemas Ratih pada sang putri yang seolah tak mengerti.


apa ??? jadi beneran dia ada disana ??? bukan mimpi ??? Dan panggilan itu ??? Achhh,...apa-apaan ini, sadar laura sadar dia akan menjadi milik orang lain, sahabatmu sendiri yang lebih pantas untuknya dari pada kamu yang cacat ini....