
Setelah menjadi putri tidur sepanjang bulan laura akhirnya menunjukkan perkembangannya. Dan itu membuat Handika, Ratih maupun ustadz A'ab semakin semangat untuk menceritakan banyak hal yang sekiranya dapat masuk kedalam alam bawah sadar laura dan bisa memancingnya untuk segera terbangun dari tidur panjangnya.
" Assalamualaikum Bidadari surgaku, belum mau bangun juga pagi ini ?" sapa ustadz A'ab yang sudah tak merasa canggung lagi meskipun ada Handika dan Ratih di dalam sana.
Hari ini ustadz A'ab sengaja datang lebih pagi karena siang nanti akan ada kajian di luar kota yang tak dapat di pastikan kapan ia akan kembali pulang ke surabaya.
Meskipun setiap hari mengunjungi laura namun ustadz A'ab tak pernah berlama-lama memandangi wajah laura. Tak dapat di pungkiri sebagai lelaki normal yang sedang jatuh cinta hasrat ingin memandang itu pasti ada. Namun sebisa mungkin ia tahan dengan mengalihkan pandangannya pada Al Qur'an dan buku-buku yang selalu ia bawa setiap hari sebagai referensi untuk bercerita kepada laura.
" Tumben nak A'ab datang pagi sekali ?" tanya ratih.
" iya bu, saya ada kajian di luar kota hari ini sampai beberapa hari kedepan! " jawab ustadz A'ab lesu.
" yakin ga Rindu sama anak saya nanti kalau lama-lama? " Handika menyahuti dengan nada menggoda.
Ustadz A'ab tersenyum mendengar perkataan pria yang lebih tua darinya itu. Handika memang suka melayangkan guyonan pada ustadz A'ab untuk menghibur hatinya.
" saya kalau Rindu ya tinggal ngangkat tangan aja pak, minta sama yang buat Rindu untuk mengobatinya !"
Ratih terkekeh mendengar jawaban calon mantunya itu. Eits calon mantu, iya anggap saja begitu.
"ck, kalah aku kalau udah jawabanya gitu, tingkatannya beda sih, situ ustadz...!" decak handika kemudian lanjut membaca koran yang ada di atas meja.
Setelah sedikit bercengkrama dengan Ratih dan Handika ustadz A'ab mengeluarkan mushah kecil yang selalu dibawa kemananpun pergi dan melantunkannya di samping laura terbaring. Rutinitas yang memang selalu ia lakukan setiap harinya selama laura tertidur pulas di sana.
Samar samar terdengar suara merdu lantunan ayat suci Al Qur'an di telinga gadis yang telah lama tidur dan terbaring di atas ranjang yang serba putih. suara yang amat sangat di kenalnya. Matanya masih terasa begitu lengket, namun pendengaranya mulai dapat mendengar dengan jelas. mencoba membuka mata itu meski lengket, terlihat hanya berkedip-kedip meski belum terbuka dan itu terlihat oleh orang yang sedang membacakan ayat Al Qur'an di sampingnya.
" Alhamdulillah, ra,...kamu mau bangun ?" tanya ustadz A'ab dengan segera menutup mushah yang di bacanya.
pasti aku hanya mimpi, laura kamu tahu dia akan menjadi milik orang lain, mana mungkin dia ada disini,...batin laura yang masih dengan susah payah berusaha membuka matanya
Ratih dan Handika yang mendengar perkataan itu segera beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke ranjang Laura. Binar mata bahagia tak dapat di sembunyikan dari kedua orang tua itu melihat sang anak sedang berusaha membuka mata yang sudah sekian lama tertutup.
" Biar saya panggil dokter pak, buk !" Ujar ustadz A'ab langsung di tanggapi dengan anggukan dan tepukan bahu oleh Handika.
Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Setelah sekian lama menunggu akhirnya mata lentik itu akan segera terbuka. Ratih dan Handika tak hentinya bersyukur dan memberikan semangat untuk sang putri agar bisa membuka matanya.
"Alhamdulillah anak bapak sudah sadar, mungkin butuh waktu untuk penyesuaian fungsi organ tubuhnya karena tidur selama satu bulan lebih, tapi itu tidak akan berlangsung lama !" terang dokter dan langsung di sambut senyum bahagia oleh handika beserta kedua orang lainnya.
" Terima kasih sayang, terima kasih telah bertahan !" Ratih tak mampu menyembunyikan tangis bahagianya melihat sang putri membuka mata begitupun dengan laura yang mengeluarkan bulir air dari sudut matanya.
Mata laura memang telah terbuka lebar, menatap satu persatu orang yang ada disana. Namun lidahnya masih belum mampu untuk mengucapkan kata. Tatapan matanya terhenti pada pria yang ada di samping sang papa.
Mengapa dia disini ? apa yang dia lakukan ?
Seakan tahu kalau gadis itu tengah menatapnya ustadz A'ab berjalan mendekat.
" Assalamualaikum bidadari surga, akhirnya kamu bangun juga, sayang aku tidak bisa lebih lama lagi disini untuk mengajakmu berdebat, aku harus pergi setelah ini !" ujar ustadz A'ab dengan tulus.
Apa itu ? Bidadari surga ? seperti pernah ada yang memanggilku seperti itu sebelumnya, ach...pasti ini hanya sebuah mimpi, mana mungkin dia mengatakan hal konyol itu padaku, dia bahkan sudah punya calon istri,...
Hanya Batinya yang mampu berbicara, dengan mata yang terus bergerak kesana kemari. melihat sekeliling seolah nyata, tapi mungkin hanya orang yang saat ini di hadapanya yang terasa seperti mimpi baginya.
" Aku pamit dulu, cepatlah menjadi crewet lagi karena saat kamu tidur dunia ini terasa sepi !" lanjutnya lagi karena tahu bahwa gadis yang di hadapanya belum bisa menyahuti omonganya.
Bangunkan aku dari mimpi indah ini ya Allah, aku tidak ingin terlena....
Dan lagi-lagi laura hanya berbisik dalam hatinya. Sementara ustadz A'ab yang memang sudah harus berangkat keluar kota segera pamit dengan orang tua laura. Meskipun sebenarnya masih ingin berlama-lama di dalam sana, tapi ada tanggung jawab dakwah yang tak kalah penting juga baginya.
" Hati-hati di jalan !" pesan Handika pada sang calon mantu.
" siap, Assalamualaikum ! " Ustadz A'ab berlalu setelah mencium tangan handika dan tak lupa mengucapkan salam pada sang bidadari yang masih terlihat bingung di atas ranjang sana.
" Assalamualaikum bidadari surgaku !" salam yang lagi-lagi membuat dada laura bergetar.
Tapi sekali lagi ia tak ingin menganggap itu adalah nyata. Baginya semua itu masih terasa seperti mimpi. Mimpi dari tidur panjangnya.
Kenapa mimpi ini begitu nyata, padahal aku tahu bahwa mungkin sebentar lagi kamu akan ada yang memiliki.....