Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Berkunjung kerumah fitri



Pagi yang sejuk di pelosok desa di kota surabaya. pagi ini laura dan ustadz A'ab akan pergi kerumah fitri. Mengingat tak banyak waktu yang mereka miliki di sini. sore nanti tentu saja harus langsung kembali ke jakarta karena besok pagi harus sudah mengajar lagi. keduanya berangkat dengan jalan kaki mengingat rumah fitri yang tak begitu jauh juga dari rumah mereka.


" aku ga sabar pengen lihat mukanya anak fitri, play boy kaya reza apa konyol kaya fitri !" ujar laura di sertai kekehan membayangkan bagaimana wajah bayi satu minggu itu.


" hus, ngomongnya di jaga sayang !" tegur ustadz A'ab mengingatkan.


Laura hanya menanggapinya dengan cengengesan. Entahlah mulutnya memang sering kebablasan seperti itu.


Tak lama keduanya telah sampai di kediaman fitri. Terlihat reza sedang menggendong sang buah hati di teras rumah. Laura tidak menyangka cowo seperti reza juga akan berperilaku semanis itu ketika punya anak. seketika ia membayangkan bagaimana polah tingkah sang suami saat mereka sudah punya anak nanti.


" Assalamualaikum!" salam laura dengan hebohnya di susul salam sang suami dengan kalem sari belakang.


Suara melengking laura membangunkan bayi laki-laki yang ada di gendongan Reza. Tak terkecuali bapak nya juga ikut jantungan mendengar suara menggelegar itu.


" Astaghfirullah hal 'adziim, anakku sampek kaget, namu ndak kira-kira bocah iki !" gerutu reza kesal namun justru membuat laura terkekeh.


" Assalamualaikum!" Laura mengulangi salam dengan sok manis.


" wa'alaikumussalam, ndak usah di imut imutin wajahnya aku udah ndak tertarik !" jawab reza sinis.


" idich, gue juga ogah kali za sama loe , laki gue lebih ganteng kemana-mana !" sahut laura sama sinisnya.


" Astaghfirullah hal 'adziim, bocah ini sama gemblungnya !" Istighfar ustadz A'ab tak habis pikir dengan istri dan murid yang sempat menyukai istrinya itu.


semenjak Reza menikah dengan fitri seperti tak pernah ada akurnya kedua orang itu. terus saja seperti tom and jerry setiap kali bertemu. Entah itu reza ataupun laura yang lebih dulu memulai.


" la istrinya ustadz tu, suarane koyo petir sampe anak gantengku bangun !" sahut Reza tak terima.


" suara gue merdu kali, loe ga inget waktu gue musabaqoh qiro'atul kutub loe pernah muji suara gue ?" ujar laura dengan pedenya membuat sang suami dan juga reza mendengus mendengar kepedean itu.


Reza selalu tak berkutik saat laura menyebutkan dirinya di masalalu. sudah pasti dia kalah, jika laura sudah mengungkit-ungkit masa itu.


" opo toh yo ko rame banget, namu itu mbok yo masuk dulu, bukan bikin onar di depan rumah kaya gini, malu di dengar tetangga !" omel fitri yang baru saja keluar dari dalam rumah.


" gimana mau masuk, dari tadi ga di suruh masuk sama suamimu !" celetuk laura melirik kearah bapak baru itu.


" wes mbuh lah ra karepmu, ayo ustadz masuk !" ajak reza pada ustadz A'ab mengabaikan laura yang sudah siap mengumpatnya habis-habisan itu.


Memang selalu rame kalau yang berkumpul adalah laura, fitri dan reza. Sementara ustadz A'ab lebih memilih diam dan menikmati tontonan yang berisikan murid-muridnya itu.


" siniin za anakmu, nanti ndak sadar mbuk pake timpuk timpukan bertiga !" pinta ustadz A'ab dengan nada datar membuat suasana yang tadinya rame karena saling membuly seketika hening dan ketiganya menoleh ke sumber suara tanpa berkedip.


" emang ustadz bisa ?" tanya laura meragukan.


" la neng ais bayinya kan yo aku yang gendong tiap hari !" jawab ustadz A'ab mengambil alih bayi laki-laki yang ada di tangan reza dan kembali ketiga orang yang ada disana melongo melihat betapa luwesnya ustadz A'ab ketika menggendong bayi.


" lanjutin sana percekcokannya biar aku nonton sama cah bagus ini, takute nanti nek mbok bawa malah lupa mbuk pake timpuk-timpukan za !" ujar Ustadz A'ab lagi yang sudah mulai bermain dengan bayi laki-laki itu.


" dikira anakku guling di pake timpuk-timpukan !" dengus reza.


Sementara itu kembali tumbuh dalam hati laura rasa ingin segera memiliki momongan. melihat bagaimana sang suami memperlakukan anaknya fitri dengan sangat baik. Sepertinya ia juga sudah sangat mengharapkan itu meski sering kali mengatakan kepada laura untuk bersabar dan menjalani apa yang ada sekarang.


" Loe nikah berapa lama fit baru hamil ?" tanya laura yang mulai serius.


" lama aku ra, setahun lebih !" jawab fitri dan laura mengangguk.


Alhamdulillah berarti aku masih ada kesempatan, batin laura.


Ustadz A'ab tahu betul apa yang pasti sedang di pikirkan sang istri mengapa sampai bertanya demikian kepada fitri. segera ia menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya bersama bayi mungil yang ada di gendongannya.


" kamu ndak mau coba nggendong ra ?" tanya ustadz A'ab berniat mengalihkan pikiran yang ada dalam hati sang istri.


Laura melirik bayi mungil yang ada di gendongan sang suami. memperhatikan setiap inci dari wajah mungil itu.


" tunggu,,tunggu..wajahnya kaya reza, gue inget banget dulu abah pernah bilang kalo anak lebih mirip siapa berarti itu yang pas buatnya paling semangat !" teriak laura dengan hebohnya memperhatikan pria kecil di gendongan sang suami adalah poto kopi reza.


" biasa aja donk ra, wajarlah aku bapaknya !" sahut Reza datar


" wah parah, loe ga kualahan fit sama reza ?" tanya laura bersemangat menginterogasi sahabat sekamarnya saat nyantri itu.


wajah fitri sudah memerah karena pertanyaan sahabatnya itu. kalaupun iya masak iya dia harus jujur didepan sahabatnya itu. Apalagi disana ada ustadnya.


Sementara ustadz A'ab yang tadi niatnya ingin menghibur sang istri agar tidak terlalu memikirkan untuk segera memiliki anak malah dibuat tak habis pikir dengan tingkah sang istri yang pecicilan itu.


" wes, tak tebak besok kalau kamu punya anak pasti semua anaknya mirip awakmu ra, ustadz A'ab kan kalem !" ujar reza yang langsung mendapat tanggapan delikan oleh laura.


"sotoy lu za, justru yang kalem gini jurusnya jitu !" jawab laura sekenanya namun sukses membuat wajah sang suami merah bak kepiting rebus.


" podo ngomong opo toh, katane mau jenguk anaknya fitri ko jadi ngomong kemana-mana!" ujar ustadz A'ab menutupi rasa malunya karena perkataan sang istri.


" istrinya ustadz emang bikin gaduh !" cibir reza.


" gini-gini dulu loe juga cinta mati sama gue za !" sahut laura skak mat membuat reza hanya mendengus karena memang tak dapat mengelak dari perkataan itu.


Fitri juga tahu kalau suaminya itu pernah cinta mati pada sahabatnya. Tapi baginya itu hanya masalalu dan tak mungkin jika reza akan kembali menyukai laura. Begitupun dengan laura yang memang sejak awal tak pernah ada rasa sedikitpun pada Reza.