
" Loe pusing dek ?" Tanya kevan setelah selesai memeriksa sang adik dan laura menggeleng.
"mual ?" tanya kevan lagi dan kembali di jawab dengan gelengan oleh laura.
" Loe telat udah berapa lama dek ?" tanya kevan semakin menginterogasi.
" lupa !" jawab laura enteng.
" ga loe tespect ?"
" males gue, berkali-kali telat juga hasilnya tetep negatif, gue ga mau patah hati untuk kesekian kali !" jawab laura mulai mendung.
pletak...satu jitakan di daratkan kevin pada adek kesayangan yang suka berbicara sembarangan itu.
" cetek banget pikiran loe dek, !" cibir kevin.
" biar nanti waktu yang menjawab, kalau gue hamil juga pasti perut gue ngglembung kan!" jawab laura lagi-lagi dengan tanpa beban.
" udah vin, gue gemes sama adek perempuan kita ini, kita bawa ke rumah sakit aja dech !" ujar kevan merapikan alat medis yang telah di gunakan untuk memeriksa laura.
" gue ga mau, gue ga sakit !" tegas laura menolak bangkit dari tempatnya berbaring.
" siapa juga yang bilang loe sakit dek, gue cuma pengen cek kandungan loe !" jawab kevan.
" maksud loe si laura hamil van ?" tanya kevin menanggapi perkataan saudara kembarnya barusan yang di jawab dengan anggukan.
Meskipun begitu Laura masih enggan percaya. Lagi pula kakaknya dokter umum, bukan dokter kandungan pikirnya. Laura memang sudah seperti frustasi karena beberapa kali sempat mengetes dan hasilnya masih negatif.
Menunggu persetujuan laura takkan menjadi jaminan. Kevin dan kevan memilih cara paksa untuk membawa sang adik periksa kerumah sakit. Kevin membopong tubuh mungil sang adek yang terus saja meronta dalam gendongannya dan kevan yang mengemudi mobil yang mereka tumpangi.
sesampainya dirumah sakit kevin masih tak menurunkan sang adik dari gendongannya. Karena takut laura akan melarikan diri. Tak peduli berapa pasang mata yang melihat kearah ketiga saudara itu. ketiganya terus menerobos masuk hingga sampai di depan ruang KIA itupun laura tak sedikitpun di lepaskan.
" gue bilangin laki gue loe berdua, loe pikir gue anak kucing apa di jagain kaya gini, lepasin nggak !" ancam laura mencoba melepaskan diri dari penjagaan kedua Algojo nya.
" Loe pikir gue takut ? orang yang nyuruh laki loe !" jawab kevin sedangkan kevan enggan menanggapi omongan sang adik yang menurutnya konyol itu.
Laura memang sudah lama tidak menstruasi. Tapi ia enggan untuk menggunakan alat tes kehamilan. Ia seperti sudah frustasi karena tak kunjung hamil. pernah beberapa kali telat dan beberapa kali juga di tespect namun hasilnya negatif. Jadi untuk yang terakhir ini ia tak ingin terlalu berharap. dia juga merasa tak ada banyak perubahan pada tubuhnya. Tak ada tanda-tanda kehamilan seperti mual dan sebagainya seperti di televisi-televisi. Bahkan saat sang kakak bilang kalau dirinya hamil ia juga tak mau sepenuhnya untuk percaya.
Beberapa saat kemudian laura telah di panggil untuk masuk kedalam ruangan. Dokter kebingungan karena laura di antar kedua pria kembar.
" yang suami bu laura ?" tanya dokter wanita bernama Widya yang sulit membedakan di antara keduanya.
" apa aku setua itu harus di panggil bu, !" gerutu laura yang sudah berbaring di ranjang siap untuk di periksa.
" diem loe dek, kita kakaknya dokter suaminya lagi keluar kota !" jawab kevan.
" oh, saya kira suaminya, duduk dulu pak !" ujar dokter mempersilahkan dengan ramah.
Sementara laura sudah deg-degan saat dokter mulai memeriksanya takut kalau harapanya akan kembali pupus. Dalam hati terus memanjatkan do'a agar semua ini benar adanya.
" sejauh ini perkembangan janinnya bagus, dan sudah mulai terbentuk beberapa organnya!" jawab dokter widya yang membuat laura melongo tak percaya.
" sudah berapa usia kandungan adik saya dok ?" tanya kevan lagi.
" sekitar 3 bulan lebih lah, beberapa organ sudah mulai terbentuk!" jawab dokter widya.
" gila adek gue emang, masa hamil sampai 3 bulan lebih ga merasa !" celetuk kevin sementara laura masih saja melongo tak percaya mengelus perut datarnya yang ternyata sudah berisi malaikat kecil yang selama ini dirindukan.
" dokter ga bohong kan ?" tanya laura memastikan sekali lagi.
" ini hasil USGnya !" dokter widya menyodorkan hasil USGnya pada laura dan tanpa terasa air mata laura langsung mengalir melihat potret malaikat kecil yang tengah tumbuh dalam rahimnya itu.
" selamat ya dek, akhirnya ponakan gue jadi juga !" kevan merangkul sang adek yang tengah menangis haru itu.
Bersyukur, hanya itu yang menggambarkan bagaimana perasaan laura saat ini. Setelah sekian lama menunggu, dan ternyata Allah menjawab doanya hari ini. Sungguh nikmat yang luar biasa, hadiah aniversary yang istimewa.
2 hari lagi genap satu tahun sudah pernikahan laura dan suami. Dengan adanya kabar ini laura ingin kedua kakaknya menjaga rahasia kehamilannya sampai di tanggal pernikahannya. Laura ingin memberitahukan ini sebagai hadiah pernikahannya yang pertama kepada sang suami.
" kalian dari mana ?" tanya Ratih melihat ketiga anaknya yang dari tadi berada di ruang keluarga tiba-tiba menghilang dan kembali muncul bersamaan.
" kita habis...
" Mama kepo dech, urusan anak muda !" sahut laura segera memotong perkataan kevin.
" ck, mama cuma nanya, udah sana makan siang dulu udah mama siapin kalian malah ilang !" decak Ratih kembali berlalu dari hadapan ketiga anaknya itu.
" Loe harus makan banyak dek, biar ponakan gue sehat !" ujar kevin menepuk pundak sang adik yang ternyata terdengar oleh Ratih yang belum jauh berlalu dari ketiga anaknya.
Ratih memutar kembali langkah dan menghampiri ketiga anak yang masih belum beranjak dari tempatnya. Kehadiran ratih di hadapan ketiga anak itu membuat laura segera melayangkan tatapan tajam kepada kevin yang mulutnya seperti ember bocor itu.
" Laura Hamil vin ?" tanya Ratih memastikan apa yang tadi di dengar.
" Mama salah denger kali, !" elak laura.
" ga mungkin lah mama salah denger, tadi kevin bilang kamu harus makan banyak biar ponakanya sehat, kamu beneran hamil ra ?" Ratih kembali ingin memastikan.
" Dasar mulut rombeng loe vin!" delik laura membuat kevin bergidik.
Padahal niatnya ia ingin memberi kejutan sang suami dulu sebelum menyebar berita kehamilannya kepada orang lain. Tapi gara-gara kevin keceplosan jadi ia juga harus mengatakannya pada sang mama.
" Alhamdulillah, akhirnya mama mau punya cucu!" ujar ratih membawa putri kesayangannya itu kedalam pelukannya.
" Mama ga usah bilang-bilang dulu, aku mau kasih kejutan ustadz sebelum bilang sama semua orang, si kevin sih mulutnya receh" pinta laura pada sang mama di akhiri dengan delikan pada sang kakak.
Ratih terkekeh mendengar kekesalan anak perempuannya itu. Akhirnya setelah hampir setahun menunggu anak perempuan kesayangannya itu bisa hamil juga. Ia selalu merasa iba setiap kali mendengar curhatan laura tentang keinginannya untuk mendapatkan amanah seorang anak. Mengingat usia sang suami yang sudah matang.