Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Rasa cinta



Ustadz A'ab sengaja menghubungi pelayan untuk tidak datang ke villa. Sesuai rencana awal, hari ini ia akan mengajari sang istri yang tak pernah berkunjung ke dapur untuk memasak. Tapi sebelumnya mereka harus berbelanja dahulu karena villa yang tak pernah di huni itu tak sedikitpun menyimpan bahan makanan.


Baik ustadz A'ab maupun laura telah siap berangkat untuk berbelanja keperluan memasak mereka pagi ini. Namun saat keluar vila keduanya sama-sama terdiam teringat akan suatu hal.


" terus kita mau berangkat pake apa huby ? kita kan kesini di anter om reno, ga bawa mobil ?" gerutu laura mengrenyitkan kening.


Ustadz A'ab masih berfikir bagaimana cara mereka agar bisa sampai ke pasar. Celingukan kesana kemari mencari sesuatu yang bisa mereka tumpangi. Dan ternyata memang seperti telah di rencanakan oleh reno, mata ustadz A'ab terhenti pada sebuah sepeda ontel tua yang bersandar pada tembok samping vila. segera ia mengambil sepeda itu dan membawanya kepada sang istri.


" kayaknya kita di kerjain dech sama om reno !" Dengus laura begitu sang suami siap mengojeknya dengan ontel tua yang ia ambil dari samping vila.


" biar tambah romantis, ayo cepet naik tuan putri keburu laper !" ujar ustadz A'ab yang sudah bersemangat mengemudi untuk istri tercinta.


muka laura memerah saat sang suami menyebutnya sebagai tuan putri. tak ingin tambah malu laura segera duduk di belakang sang suami.


" Bismillahirrohmaanirrohim, pegangan! "


Pertama kali dalam hidup laura naik sepeda ontel. Sepanjang perjalanan laura tak hentinya tersenyum karena kekonyolan yang di lontarkan sang suami. menikmati indahnya pedesaan yang begitu masih alami dan sejuk. Tak jarang mata yang memandang kearah pasangan pengantin baru itu dengan kagum.


" seruu.....!" teriak laura begitu keduanya melewati jalan menurun.


" pegangan....!" ustadz A'ab semakin kencang mengayun sepeda yang mereka tumpangi.


" Aaaaa......


keseruan pertama kali karena sejak kecil laura tak pernah berani naik sepeda ontel. Pernah di awal belajar sepeda ontel bersama kedua kakaknya, namun akhirnya dia sering lelah dan masuk RS membuat kedua orang tuanya akhirnya melarangnya untuk sekedar belajar naik sepeda.


" kamu ndak pernah naik sepeda? " tanya ustadz A'ab begitu keduanya kembali dari pasar dengan menuntun sepeda yang mereka tumpangi di jalanan menanjak dekat dengan vila.


" pernah punya, belajar sekali udah KO masuk RS, jadi udah ga di bolehin lagi sama mama papa !" jawab laura tersenyum miris.


" segitunya ?" tanya ustadz A'ab dan laura mengangguk.


Laura yang tadi begitu ceria mendadak kusut jika mengingat akan kondisinya. sebisa mungkin ia terus berlaku kuat. Meski kadang tak bisa di sembunyikan dan harus benar-benar di istirahatkan.


" Ndak usah di tekuk gitu mukanya, tidaklah cobaan itu menimpa seseorang melampaui batas kemampuannya, lagian kamu kuat kog, buktinya semalam kuat berkali-kali....!" ujar ustadz A'ab melayangkan tatapan genit menggoda sang istri tak ingin membuat sang istri larut dalam pikiranya yang justru akan berpengaruh pada kesehatannya.


" Mulai mesum dech pak ustadz, !" gerutu laura menutup muka sang suami menggunakan barang belanjaan kemudian berlari meninggalkannya dan segera masuk kedalam vila.


Setelah mengembalikan sepeda pada tempatnya ustadz A'ab segera menyusul sang istri yang ternyata sudah menjajar bahan masakan yang tadi mereka beli dari pasar. Laura hanya membolak balik semua sayuran itu tanpa tahu harus di apakan.


" Assalamualaikum bidadari surgaku! " salam ustadz A'ab memeluk sang istri yang asik membolak balik sayuran dari belakang.


" Inna lillahi wa inna ilaihi roji'uun, ustadz hoby banget bikin aku jantungan! " Gerutu laura.


Ustadz A'ab terkekeh mendengar celetukkan dari wanitanya itu.


" aku salam loch, belum di jawab !"


" wa'alaikumussalam, !" jawab laura ketus dan kembali membuat sang suami terkekeh geli.


" Aaa...Huby !" teriak laura bersembunyi di belakang punggung sang suami begitu satu letusan keluar dari penggorengan.


Gemas dengan tingkah sang istri, ustadz A'ab yang sedari tadi memotong bawang untuk di jadikan bumbu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah orang yang bersembunyi di balik punggungnya itu.


" coba lihat mana mukanya ?" ujar ustadz A'ab mendongakkan wajah sang istri dan membuka dua tangan yang menutupinya.


" makin cantik ternyata kalau ketakutan !" ujar ustadz A'ab kemudian menyeka keringat yang membasahi kening sang istri.


Meski bukan yang pertama tapi detak jantung laura tak pernah bisa tenang setiap kali perlakuan manis yang di lakukan suami padanya. Hatinya menghangat, pipinya memerah. Tatapan penuh cinta keduanya saling bertemu sebelum sebuah letusan dari penggorengan kembali membuat laura meloncat dalam pelukan sang suami.


" kalau mau main peluk-pelukan nanti ya di kamar, kita masak dulu udah laper aku !" ujar ustadz A'ab mengecup puncak kepala sang istri.


Dan lagi membuat wajah laura bak kepiting rebus karena malu.


" yaudah, kamu yang terusin motong bawangnya biar aku yang goreng ikan !"


Laura menurut tanpa bantahan daripada harus berurusan dengan penggorengan yang seperti main petasan. lebih baik laura segera menurut, memotong bawang bukan hal yang susah. Tapi nyatanya mata laura tak hentinya berair saat memotongnya membuat sang suami merasa khawatir takut ada yang salah dengan omongannya dan melukai sang istri.


" kenapa ra ? apa tadi aku salah ngomong ?" tanya ustadz A'ab menghampiri sang istri.


" perih....!" rintih laura dengan air mata yang tak henti mengalir dari matanya.


Rasa khawatir itu seketika berubah menjadi gelak tawa begitu mengetahui kalau sang istri bukanlah menangis melainkan keperihan karena memotong bawang.


" jahat banget sih, orang perih bukannya di apain kek malah di ketawain !" Gerutu laura.


Dan kembali tawa itu pecah mendengar ocehan sang istri yang menurutnya begitu lucu itu.


" sudah sana cuci muka, siapin nasi biar aku terusin masaknya! " pinta ustadz A'ab pada sang istri.


Laura berjalan meraba menuju wastafel untuk mencuci mukanya yang sudah sangat perih. Dalam hati terus mengumpat karena tak juga di tuntun oleh sang suami justru di tertawakan dengan kencang.


Sementara Laura mencuci muka dan menyiapkan nasi untuk sarapannya dan suami, Ustadz A'ab meneruskan proses memasaknya yang tinggal sedikit lagi selesai.


" Taraaa....tumis kangkung sepesial rasa cinta ala Abdurrahman al aufa, jeng...jeng...jeng....!" ujar ustadz A'ab membawa tumis kangkung yang selesai di masak kepada sang istri yang sudah menunggu dengan sepiring nasi.


" wich,...lezaaat....


" kog piringnya cuma satu ra ?" tanya ustadz A'ab heran.


" Biar romantis makan sepiring berdua !" jawab laura terkekeh.


" ehem, ya udah aku cuci tangan dulu tolong kamu ambil ikan gorengnya ya !" titah ustadz A'ab pada sang istri.


" siap laksanakan pak chef !"


Meski dengan menu sederhana, namun sarapan pagi itu begitu istimewa. Makan sepiring berdua dengan penuh cinta.