Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Fitnah



pagi hari lepas sholat shubuh dan mendengarkan tausiyah dari abah kegiatan para santri adalah bebersih diri dan memepersiapkan diri untuk berangkat diniyah bagi santri putri dan sekolah formal untuk santri putra.


Laura telah rapi dengan kitab sesuai jadwal diniah pagi ini begitupun dengan fitri yang sudah siap menuju kelas diniah mereka. Kedua gadis itu berjalan beriringan menuju ke ruang kelas mereka dengan penuh cengkrama dan gurauan yang memang tak pernah lepas dari kedua orang itu.


"Laura, !" panggil salah seorang santri menghentikan langkah kedua orang itu.


"iya, ada apa mbak ?" tanya laura.


" di panggil keamanan !" ujar santri itu yang seketika membuat wajah fitri yang dari tadi asik bergurau dengan laura mendadak panik.


"kamu ngelakuin apa ra ? sampe di panggil keamanan?" tanya fitri panik.


Laura hanya mengangkat bahu menandakan ketidak tahuannya. Mencoba mengingat-ingat apa yang di lakukan tapi sepertinya dirasa dia tak melakukan apapun yang menyimpang sejak kembali ke pesantren ini. dan jika iya dia melakukan bukankan dia selalu bersama fitri kecuali ketika di dalam kelas saat sekolah. Tapi ya sudahlah pikirnya, dia akan menurut orang yang memanggilnya itu.


" aku ikut mbak ini dulu fit, kamu duluan aja !" ujar laura kemudian membuat fitri semakin panik gakaruan.


" tapi ra ?"


"semua akan baik-baik saja !" laura meyakinkan fitri.


Meski berat fitri akhirnya menurut perkataan laura dan membiarkan laura berlalu bersama santri yang memanggilnya memenuhi panggilan pengurus keamanan. Fitri tahu betul laura tidak pernah melakukan apapun saat bersamanya, tapi dia juga tidak tahu kalau itu di lakukan laura di dalam kelas yang berbeda dengannya. Tapi tidak mungkin laura melakukan hal-hal yang melanggar aturan pesantren. Dan begitu terus mengganggu pikiran fitri.


Tak lama laura telah sampai kedalam ruangan sidang dimana disana semua pengurus keamanan telah standby menyambutnya. Dan bukan hanya pengurus keamanan ternyata disana sudah ada ustadzah izza selaku penasehat kepengurusan pesantren putri. Laura berjalan santai menemui orang-orang berwajah tegang di dalam sana. Mengingat dia merasa tak melakukan kesalahan yang membuatnya harus khawatir tentang apapun.


" Assalamualaikum ustadzah, mbak-mbak semua !" sapa laura ramah menyalami semua orang di dalam ruangan itu.


"wa'alaikumussalam! "


Laura menatap satu persatu wajah tegang yang sudah siap menerkamnya itu. Tapi itu tak membuat seorang laura akan menciut.


"jadi apa kamu sudah tau kenapa kamu di panggil kesini !" tanya ustadzah izza to the poin.


" ga tau ust !" jawab laura santai.


" kamu tahu kalau kamu di panggil kesini berarti kamu melakukan kesalahan ?" ujar salah satu di antara pengurus.


" terus ?" laura masih dengan wajah santai.


" tidak usah berbasa-basi, langsung saja apa kamu tahu bahwa disini tidak di perbolehkan surat menyurat antar santri putra dan putri ?" ustadzah izzah mulai gemas dengan wajah datar laura yang memang tidak tahu apa-apa itu.


"ndak usah sok polos kamu ra, mentang-mentang kamu deket dengan keluarga ndalem kamu bisa seenaknya disini !" salah seorang pengurus semakin emosi.


Sedang laura hanya mengrenyitkan kening mas tak juga mengerti apa yang di katakan orang-orang di hadapannya.


"ini !" seorang pengurus yang lain menyodorkan beberapa lembar kertas bekas lipatan pada laura.


Laura membelalakan mata begitu membuka lembar per lembar dari kertas itu. Hampir tak percaya dengan apa yang di lihat. Bisa-bisanya ada orang yang memfitnah dirinya seperti ini. iya lembaran-lembaran itu berisi surat yang mengatas namakan dirinya dan dikirimkan kepada Reza. Memang selama ini reza selalu mengirimkan surat padanya lewat laci bangku sekolah, tapi tak satupun yang di baca apalagi membalas dengan kata-kata tak bermutu seperti ini ? Bahkan setiap ada surat dari reza selalu sari teman sebangkunya yang membaca dan dia hanya acuh dengan surat-surat itu. Bagaimana mungkin dia membalas surat itu.


"sekarang kamu masih mau bilang ndak tau ?" tanya ust izzah memojokkan laura.


"ini fitnah ustadzah, saya tidak pernah membalas surat dari Reza !" ujar laura tegas.


" apanya yang fitnah, jelas-jelas itu surat dari kamu !" sahut salah seorang pengurus.


" Tapi itu bukan tulisan saya mbak, saya bisa buktikan ! " ujar laura tak terima.


"Reza memang sering meletakkan surat di laci bangku saya, tapi saya tidak pernah membaca apalagi membalas sekalipun !" terang laura mencoba bersikap sesopan mungkin meskipun rasanya sudah ingin segera mencabik-cabik orang di hadapanya yang seenaknya menuduh.


"Assalamualaikum! "


Disaat sedang panas-panasnya orang yang saat itu tengah menjadi topik pembicaraan di hadirkan di sana. Iya Reza langsung di hadirkan di temani dengan ustadz fauzi yang sebenarnya juga masih tak percaya dengan apa yang terjadi pada gadis yang di kaguminya itu. Kecewa iya dia rasakan saat ust izzah berkata bahwa laura dan reza melakukan hal itu. Tapi saat ini yang lebih di inginkan adalah bersikap profesional dalam pekerjaannya.


"za, aku tahu ya kamu selalu naruh surat di laci bangkuku, tapi aku ga pernah balas satupun surat itu, lalu dari mana kamu dapat semua surat itu ?" laura langsung berdiri dan menyergah reza yang saat itu sudah berada di dalam ruangan yang sama dengan dirinya.


" setiap hari surat yang aku kirim dapat balasan ra, dan aku bahagia !" jawab reza jujur.


Astagfirullah hal adziiim, siapa yang sengaja memfitnah ku seperti ini ya Allah, aku benar-benar tidak pernah melakukan apa yang mereka tuduhkan.


"semua ada prosedurnya ra, silahkan duduk dulu, monggo ustadz !" ust izzah mempersilahkan ustadz fauzi dan reza yang baru saja tiba untuk duduk.


setelah kedua pihak di hadirkan penyelidikan kembali berlangsung. Reza yang merasa mendapatkan surat dari laura setiap hari menjelaskan semua dengan jujur. Sedangkan laura yang merasa tidak pernah menjadi penulis surat itupun juga membela diri dan bersikukuh mempertahankan pendiriannya. Bahkan laura meminta penyelidik untuk menyamakan tulisan yang ada di bukunya dengan tulisan yang ada di surat itu.


Tapi sepertinya entah sudah terlalu benci atau bagaimana laura juga tak mengerti. meskipun jelas-jelas tulisannya sangat berbeda pengurus dan ustadzah izzah tetap menjatuhkan sanksi padanya dan reza. Reza menerima dengan lapang dada karena menyadari apa yang telah di lakukan memang salah. Sedangkan laura dengan terpaksa dia juga harus melaksanakan sanksi itu meskipun dia tak pernah melakukan sesuai yang di tuduhkan padanya.


Fauzi yang melihat keseriusan dalam setiap perkataan laura. namun dia juga tak mampu berkata apapun jika sudah ustadzah izzah yang memutuskan. Untuk membela laura dia juga kurang yakin karena perasaanya. Jangan sampai dia memutuskan sesuatu hanya berdasarkan hati dan perasaanya saja.