
Malam ini baby twins di bawa pulang kerumah oleh Handika dan Ratih mengingat laura sudah sadar dan tak baik juga untuk kedua bayi itu jika terus tinggal dirumah sakit. Bu khomsah juga ikut pulang bersama mereka untuk membantu Ratih mengurus kedua cucunya dirumah. Tinggal laura dan suami tercinta yang masih tersisa diruang serba putih itu melepas rindu.
Tak ingin sedikitpun beranjak dari sisi sang istri. Ustadz A'ab terus menggenggam tangan laura. Meninggalkannya hanya untuk beribadah sholat dan setelah itu langsung kembali disisi sang istri. Tentu laura sangat bahagia begitu beruntungnya dia mempunyai suami yang begitu mencintainya seperti ustadz A'ab.
" by, !" ucap laura lembut.
" hmmm...
" aby ga cape pegangin tangan aku terus ? aku ga akan kabur ko !" ujar laura.
" aku nyaman seperti ini, !" jawab ustadz A'ab tak hentinya memandang wajah cantik sang istri.
" Naik sini aja by, aku juga kangen di peluk sama aby !" pinta laura dengan manja.
" malu ach, ini kan tempat umum, gimana kalau ada perawat masuk !"
" ini udah malem by, mana ada perawat masuk, udah sini yuk !" pinta laura semakin menggoda dengan mengedip-ngedipkan matanya yang akhirnya meluluhkan sang suami dan menuruti kemauan konyol istrinya itu.
Lebih dulu melirik sekeliling sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di samping tubuh mungil sang istri yang masih sedikit berisi paska melahirkan dua buah hatinya itu. meletakkan tangannya dengan hati-hati memeluk sang istri takut menyentuh bekas jahitan di perutnya.
" ra ?"
" hmm....!" jawab laura dengan mata yang sudah terpejam dengan nyaman berada di pelukan sang suami.
" apa ini sakit ?" tanya ustadz A'ab merenggangkan pelukannya.
" sedikit !" jawab laura mengulas senyum manisnya membuka mata kemudian kembali menutup nya dengan rapat.
" aku jadi ndak tega kalau mau hamilin kamu lagi !" ujar ustadz A'ab membuat laura yang sudah bersiap memejamkan mata dengan nyaman dalam pelukannya kembali membuka lebar matanya dan menatap ustadz tampan yang telah menjadi suaminya itu dengan kening mengerut.
" masa nifas ku aja belum selesai udah mikir mau hamilin lagi !" Gerutu laura.
" apa kita stop aja bikin anaknya ya, lagian kita sudah punya anak lengkap laki perempuan !" imbuhnya lagi.
Laura menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menatap dengan lekang pria tampan di sampingnya. mengabaikan kantuk yang sudah menyerang dan meminta di istirahatkan.
" Hamil, melahirkan, menyusui, bukankah itu semua memang kodratnya seorang wanita ? Dan selama ini aku bahagia menjalaninya, dan sakit ini ? bukankah aby sendiri yang bilang kalau Allah akan memberikan pahala 70 tahun sholat dan puasa bagi wanita yang melahirkan, dan setiap sakit yang aku rasakan Allah akan membalasnya dengan pahala haji, apa abi tidak ingin memberikanku jalan untuk mendapatkan semua itu ?" Dengan tatapan serius laura berucap panjang lebar pada suami tampannya.
Ustadz A'ab mencerna setiap kata yang di ucapkan sang istri. Ternyata kenyataan tak semudah perkataan. Dia memang bisa mengatakan itu berdasarkan dari sumber yang ada, tapi pada kenyataannya melihat laura yang begitu kepayahan saat mengandung dan melahirkan buah hatinya seperti tak sampai hati ia akan mengulanginya.
" Aby juga pernah bilang, kalau di hari kiamat nanti Rasulullah akan membanggakan umatnya yang banyak kepada nabi yang lain, apa abi tidak ingin memperbanyak umat yang menjadi kebanggaan rasulullah?" imbuh laura membuat ustadz A'ab semakin bungkam tak ingin membantah karena memang itu yang telah ia katakan pada sang istri sebelumnya.
" cepat sembuh kalau pengen bikin anak yang banyak !" ujar ustadz A'ab kemudian memejamkan matanya memeluk sang istri yang masih menatapnya dengan heran tentang jalan pikiran sang suami yang tiba-tiba berbanding dari biasanya itu. Apa selama ia pingsan ada hal aneh terjadi pada suaminya ? membuat suaminya jadi se parno ini ? batin laura.
Melihat orang disampingnya telah memejamkan mata laura tak ingin lagi memperpanjang kata. Ia tahu pasti suaminya itu sangat lelah menjaganya beberapa hari ini. Ia memilih ikut memejamkan mata sebelumnya mendaratkan satu kecupan di pipi kirinya.
" Assalamualaikum imam surgaku !" ucap laura sebelum mulai memejamkan matanya.
Sementara itu kevan di Amerika telah menyelesaikan laporannya sesuai deadline. surat pindah tugas ke tanah air pun telah ia dapatkan. Dengan segera ia merapikan semua barangnya dan malam ini juga akan terbang ke jakarta. Rasa rindu dan khawatir pada adik kesayangannya itu melebihi rasa lelah setelah lembur beberapa hari ini. Apalagi mendengar laura telah siuman dan memberikannya dua keponakan baru yang lucu. Rasanya kevan sudah tak sabar ingin menemui mereka semua.
Pukul 3 dini hari kevan sampai di jakarta. melenggang memasuki rumah besarnya sementara barang-barangnya masih di dalam mobil dan malas di keluarkan. kevan menghentikan langkah melihat sebuah kamar yang lampunya masih menyala dengan pintu sedikit terbuka. Mengintip siapa yang masih bangun di jam selarut ini ? Dan matanya terhenti saat melihat dua box bayi yang ada di dalamnya. Ternyata itu kamar kedua keponakannya yang di temani oleh mama dan ibu mertua laura yang memang selalu terbangun jam segitu untuk melaksanakan sunnahnya.
kevan mendekat dengan perlahan tak ingin langkahnya mengganggu ibadah ibu mertua adiknya itu. Di pandangnya dua wajah mungil yang ada di dalam box bayi itu membuat kevan merasa gemas dan ingin segera menikah dan memilikinya sendiri. Meski sedang tidur kedua bayi itu masih saja terlihat menggemaskan.
setelah puas melihat dua keponakannya kevan melenggang ke kamar untuk bebersih diri dan ganti baju. Ia ingin segera kerumah sakit dan melihat bagaimana kondisi sang adik setelah ini. Barulah setelah itu dia bisa beristirahat dengan tenang setelah memastikan bahwa adiknya baik-baik saja.
kevan melongo melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat memasuki kamar rawat sang adik. Tadinya memang sengaja mengendap karena takut mengganggu istirahat adik kesayangannya karena hari masih gelap. sementara ustadz A'ab yang biasanya terbangun jam segitu juga masih anteng memeluk sang istri di ranjangnya mungkin karena terlalu lelah. Membuat kevan merasa terdholimi karena belum bisa melakukannya dengan orang yang di cintanya.
" Astaghfirullah hal 'adziim, sakit aja masih bisa mesum adek gue, tahu gini gue tidur dulu baru kesini, niatnya khawatir malah kejebak pemandangan di atas delapan belas tahun ini gue !" dengus kevan menutup matanya menggunakan kedua telapak tangan namun masih juga terlihat kemesraan sepasang suami istri itu oleh matanya.
Kedua orang itu seperti terlalu lelah atau mungkin karena terlalu nyaman dalam pelukan masing-masing sampai tak juga menyadari kalau ada sepasang mata yang melihat keduanya. Kevan yang merasa terdholimi lebih memilih keluar dan kembali pulang. mungkin nanti setelah mengistirahatkan tubuh dan menghilangkan rasa lelahnya baru ia akan kembali. Tak lupa menutup kembali ruangan itu dengan rapat agar tak ada orang lain lagi yang menjadi korban seperti dirinya.