
Satu minggu yang Indah bagi pasangan pengantin baru menghabiskan waktu hanya berdua tanpa memikirkan beban apapun. kini saatnya keduanya untuk kembali kerumah dan beraktivitas seperti sedia kala. Kali ini yang menjemput pasangan pengantin baru itu adalah handika dan ratih. Tak sabar menanyakan cerita bulan madu anak dan menantunya.
" Assalamualaikum pa, ma !" salam ustadz A'ab pada ayah dan ibu mertuanya yang telah menunggu di halaman vila.
" Wa'alaikumussalam, istrimu mana ?" tanya handika
" ada barang ketinggalan katanya, balik lagi kedalam !" jawab ustadz A'ab dan handika mengangguk.
"gimana bulan madunya ?" tanya ratih menyelidik.
" Alhamdulillah lancar ma, !" jawab ustadz A'ab dengan seulas senyuman.
" semoga cepet jadi dech cucunya mama, mama udah ga sabar !" Harap ratih antusias.
" Aamiiin, semoga saja ma !"
Tak lama orang yang di tunggu-tunggupun telah keluar dari dalam vila.
" apaan mama senyum-senyum sendiri ?" heran laura mendapati sang mama masih tersenyum lepas menyelidiki sang menantu.
" nggak, udah yuk pulang !" ajak Ratih membuat laura berdecak, namun tak ingin mengambil pusing langsung menggandeng tangan sang suami dan masuk kedalam mobil.
Tak lama mobil yang membawa anggota keluarga itu sampai di Halaman rumah besar mereka. Laura terlelap mendengar lantunan ayat suci Al Qur'an yang di lantunkan sang suami sepanjang perjalanan. Melihat wajah lelah sang istri membuat ustadz A'ab tak tega untuk membangunkannya.
" Biar papa yang bawa masuk laura ab, kamu pasti capek !" ujar handika pada sang menantu.
" ga papa, biar aku aja pa !" jawab ustadz A'ab segera mengangkat tubuh mungil sang istri keluar dari mobil.
Ratih dan Handika begitu bersyukur dengan kehadiran sang menantu di kehidupan putrinya. Dia bukan hanya sosok yang perhatian tapi juga suami yang pengertian serta menyayangi anggota keluarga yang lain.
Begitu sampai di dalam rumah ternyata lolita dan Rania sedang berada disana menunggu kepulangan sahabat kecilnya itu. Hanya bisa mendengus kecewa ketika mendapati sahabat yang telah di nantikan itu justru sedang tidur di gendongan sang suami.
" Yach, si laura udah di tungguin juga malah ngorok !" celetuk lolita begitu melihat sahabatnya itu tengah tertidur pulas di gendongan sang suami.
" Assalamualaikum, !" salam ustadz A'ab dengan ramah kepada dua sahabat sang istri.
" wa..wa'alaikumussalam! " jawab lolita dan rania menggaruk tengkuk salah tingkah.
" saya bawa laura kedalam dulu, permisi !" ujar ustadz A'ab kemudian berlalu dari hadapan kedua sahabat sang istri yang mendadak salah tingkah karenanya itu.
Ratih dan Handika yang menyusul dari belakang anak dan menantunya terheran melihat ekspresi melongo kedua sahabat sang anak itu.
" Kenapa kalian bengong kaya gitu ?" Tanya Ratih heran.
" Laura beruntung banget ya tante, punya suami so sweet kaya ustadz itu !" puji Rania membuat Ratih dan Handika tersenyum.
" Dia itu bukan hanya so sweet sama laura, tapi sama tante juga !" jawab ratih ikut memuji sang menantu.
" ada stok lagi ga ya yang kaya gitu, aku juga mau !" sahut lolita.
" Kamu pikir menantu tante itu barang, stok..stok..!" Gerutu Ratih membuat semua orang yang ada disana terkekeh.
Sementara itu di dalam kamar, dengan hati-hati ustadz A'ab membaringkan tubuh sang istri di atas ranjang takut akan mengganggu tidurnya. Setelah dirasa sang istri telah berada pada posisi nyaman, ia beranjak untuk merapikan barang-barang yang mereka bawa dari berbulan madu tak lupa mendaratkan satu kecupan di kening sang istri dengan lembut.
" Huby ! " suara serak laura menghentikan langkah sang suami yang hendak beranjak dari sisinya
" apa aku mengganggu tidurmu ?" tanya ustadz A'ab lembut melihat sang istri membuka mata.
" kenapa tadi g di bangunin aja sih ? aku berat tahu !" ujar laura.
" Apanya yang berat, tubuh sekecil ini !" Gemas ustadz A'ab menoel hidung mungil sang istri.
" Uhibbuka zaujy !" ucap laura tulus.
" Jangan mulai menggodaku, tuch di bawah lagi di tungguin kedua temenmu !" ujar ustadz A'ab kali ini membelai lembut pipi mulus sang istri.
" rania sama satunya siapa lupa aku,
" Tumben tu anak kemari, emang ga kerja? " heran laura.
" udah temui saja, aku mau beresin barang-barang kita dulu !" pinta sang suami.
" oke,..
laura mendaratkan sebuah kecupan dipipi sang suami sebelum akhirnya berlari pergi menemui kedua sahabatnya yang telah menungu di bawah.
" Dih, mulai nakal...!" gumam ustadz A'ab mengelus bekas ciuman sang itri dan tersenyum.
Laura berlari menuju kebawah dengan wajah sumringah dan berseri. tentu itu tak luput dari pandangan kedua sahabat dan orang tuanya yang tengah bercengkerama di ruang keluarga mereka.
" Habis diapain loe ra sama ustadz ? kenapa senyam senyum kaya orang gila gitu ?" celetuk Lolita.
" sirik aja loe jomblo, !" ketus laura kemudian duduk memisah di tengah-tengah kedua sahabatnya.
"dih...sombong, !" cibir rania.
" tumben loe berdua kesini ? loe ga kerja lol ?" tanya laura melirik kesisi kanan dimana orang yang dimaksud berada.
" beh, makanya orang tu lihat tanggal, mentang-mentang pengantin baru lupa kalau hari minggu kantor pada tutup !" jawab lolita menoyor kepala sahabatnya itu.
" maklumlah, kerjaan gue kan ga ada liburnya !"
" emang apa kerjaan loe ra ?" heran Rania disetujui lolita.
" ngelayanin suami gue lah !" jawab laura enteng membuat dua jitakan langsung ia dapatkan dari kedua orang yang mengapitnya.
Kedua orang tua laura hanya terkekeh mendengar guyonan anak beserta kedua sahabatnya itu. Laura tak juga berubah meski telah mengenyang pendidikan di pesantren dan bersuamikan ustadz. Masih saja berucap seenaknya.
" ech ra, gue juga mau donk di cariin calon kaya suami loe !" ucap lolita antusias.
" yang kaya suami gue cuma satu, dan udah di takdirin buat gue tuch !" jawab laura yang lagi-lagi membuat gemas lawan bicara.
" susah emang ngomong sama orang kaya loe ra, !" pasrah lolita tak ingin memperpanjang ucapan.
" oh ya ran, loe jadi berangkat kapan ?" tanya laura pada orang di sisi kirinya yang saat ini lebih pendiam.
" lusa, !" jawab rania singkat
" Whats? ???cepet banget ???" kaget laura.
" biasa aja kagetnya, gue udah berkali-kali kesini loe bulan madu ga slesai-slesai! " Gerutu Rania malas.
Laura terkekeh mendengar kekesalan sahabatnya itu. Pasalnya memang rania telah menelfonya beberapa kali karena ingin curhat. Tapi dengan keberadaan lolita tentu ia tak akan bisa meluapkan apa yang ingin ia sampaikan ke laura saat ini.
" ya abisnya tuh mama, udah ngebet minta buatin cucu selusin ! " ujar laura menunjuk sang mama yang tengah menikmati drama sore bersama sang suami.
" Bilang aja loenya yang ngegas tiap hari, pake nyalahin nyokap loe lagi !" sahut lolita gemas.
" sotoy lu,
" besok jalan yuk ra ? sebagai tanda perpisahan kita sama rania !" ajak lolita.
" emang loe ga kerja ?" tanya laura.
" kerja lah, tapi gue bakal minta izin setengah hari demi persahabatan kita !"
" oke, gue juga bakal izin sama laki gue !"
Rania tersentuh dengan perkataan sahabatnya itu. Sebenarnya masih berat meninggalkan jakarta. Tapi tak ada lagi yang mengikatnya untuk tetap diam disini. Satu-satunya orang yang menjadi harapanya sudah melepasnya pada hari itu. membuat langkahnya semakin mantap untuk meninggalkan penantian yang tak berujung. Berharap akan menemukan kisah yang lebih baik di kehidupan yang selanjutnya.