Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Bertemu Bu Angel



Terlambat ngidam memang membuat ustadz A'ab lebih pusing. Karena yang diinginkan sang istri bukan lagi hal yang wajar. Laura selalu menginginkan hal-hal yang sulit untuk di dapatkan sang suami. pernah beberapa hari lalu menginginkan mangga muda yang di petik langsung dari halaman sekolah tempat sang suami mengajar padahal bukan musimnya mangga.karena laura terus saja ngotot akhirnya laura di bawa kesekolah pagi itu dan melihat sendiri bagaimana pohon mangga disana. Sesampainya di sekolah laura sudah tak tertarik lagi dengan mangga itu karena berbunga pun belum. Karena ustadz A'ab harus ngajar pagi itu dan belum bisa mengantar laura pulang akhirnya ia meminta laura untuk beristirahat di mejanya. baru jam istirahat nanti ia akan mengantar istri tercintanya itu untuk pulang.


" loh ini bukannya laura anaknya pak Handika ?" sapa guru wanita yang mungkin teman suaminya mengajar pada laura yang saat itu tengah mengotak atik ponselnya di meja sang suami.


" iya !" jawab laura singkat dengan senyum tipis.


" jadi kamu istrinya pak Aufa ?" tanya guru wanita itu penasaran menggeser tempat duduknya mendekat kearah laura.


Laura memperhatikan dengan seksama wajah guru wanita itu. matanya terhenti di nametag yang ada di dada sebelah kanan wanita itu. "Angelina Sasongko" nama yang tertulis di baju guru wanita itu.


oh jadi ini yang namanya bu Angel, cantikkan aku kemana-mana lah, batin laura.


" iya !" lagi-lagi Laura hanya menjawab dengan singkat.


" Kamu bukanya dulu juga sekolah disini ?" tanya Bu Angel lagi.


" iya, tapi ga sampai SMA jadi ya ga ketemu guru jomblo kaya bu Angel !" jawab laura datar membuat mata bu Angel membulat dan wajahnya memerah antara malu dan juga kesal. memang di usianya yang sudah berkepala tiga ini ia belum menemukan pria yang pas menjadi pasangan hidupnya. sekalinya ingin serius ech ternyata ustadz A'ab sudah beristri.


" Assalamualaikum !" salam ustadz A'ab yang baru saja kembali dari mengajar berniat untuk membawa sang istri pulang karena tak mendapat yang diinginkan.


" wa'alaikumussalam aby !" jawab laura manis membuat wanita di sampingnya semakin kesal.


hah ??? Aby ??? dasar bocah, bisa bisanya dia pamer kemesraan di depanku,!" gerutu bu Angel dalam hati.


" aku antar pulang sekarang ya, habis istirahat aku ada jam lagi !" ujar Ustadz A'ab kemudian mendekat kearah sang istri.


Laura mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya menatap bu Angel dengan tatapan kemenangan karena berhasil membuat kesal guru wanita yang sampai saat ini masih suka menggoda suaminya itu. Meski ia yakin kalau suaminya tak mungkin tertarik dengan bu Angel tapi setidaknya ia ingin memberi pelajaran bu Angel agar tak mendekati pria beristri.


" Dia masih suka genit sama kamu ?" tanya laura dalam perjalanannya menuju parkiran.


" hemm??"


" iya bu Angel !"


" kamu ndak percaya sama aku ?" ustadz A'ab balik bertanya.


" yach, siapa tahu aja, secara dia sexi sedangkan aku segendut ini !" jawab laura melenggang jauh di depan sang suami. Membuat ustadz A'ab gemas dengan istri tercintanya itu. kalau bukan di tempat umum pastilah sudah di bungkam mulut yang selalu suka sembarang berbicara itu dengan kecupan manisnya.


Sementara di sekolah bu Angel sudah kebakaran jenggot karena omongan laura yang mengatainya dengan sebutan guru jomblo. Apalagi rasanya semakin jauh untuk mendekati ustadz A'ab mengingat status laura yang anak donatur terbesar di sekolah tempatnya mangajar. sudah pasti tamat riwayatnya jika dia berurusan dengan keluarga itu.


" sekalinya nemu yang cocok kenapa juga mantunya pak Handika coba ?" gunam bu Angel dalam kesendiriannya.


Ustadz A'ab yang sudah kembali dari mengantar laura hanya menggeleng melihat wanita genit yang suka menggodanya itu melamun dan ngomong sendiri.


" permisi bu Angel bisa kursinya di geser sedikit ?" ujar Ustadz A'ab membangunkan lamunan bu Angel tentangnya.


" A..iya, maaf !" jawab Bu Angel gugup menggeser tempat duduknya yang semula sangat dekat dengan ustadz A'ab menjauh.


Acuh dengan wanita disampingnya ustadz A'ab segera mengambil perlengkapan mengajarnya dan melenggang pergi karena sudah sedikit terlambat untuk masuk kelas.


Hari ini ustadz A'ab juga memutuskan untuk izin pulang lebih awal karena akan menjemput sang ibu di surabaya sesuai dengan keinginan sang istri yang selalu menginginkan masakan ibu mertuanya selama beberapa hari ini. sebelumnya tentu ia mengantar sang istri kerumah mertuanya terlebih dahulu karena tak mungkin jika ia meninggalkan sang istri dirumah seorang diri.


" kamu baik-baik dirumah mama ya, dedeknya bilangin kalau minta apa-apa nunggu aby pulang jangan ngerepotin oma sama opa !" ujar Ustadz A'ab lembut sebelum meninggalkan halaman besar rumah mertuanya.


" siap aby !" jawab laura.


" dek, aby berangkat dulu mau jemput uti, jaga umi ya, yang pinter di dalam sana jangan buat umi kesakitan !" kali ini ustadz A'ab beralih bicara pada makhluk kecil di dalam perut sang istri kemudian mendaratkan satu kecupan disana.


" Aby hati-hati ya !" ujar laura membelai lembut kepala sang suami yang masih berada di perut besarnya.


Ratih yang dari tadi berada disamping sang putri tersenyum melihat keromantisan calon orang tua baru itu. Membayangkan saat dirinya masih muda dan mengandung anak-anaknya suaminya juga bersikap demikian.


" aku pamit dulu ya ma, nitip laura !" ujar Ustadz A'ab berpamitan kepada ibu mertuanya.


" siap aby !" jawab ratih menirukan gaya sang putri membuat delikan tak suka segera ia dapatkan dari sang putri. sementara sang menantu hanya terkekeh mendengarnya sebelum akhirnya benar-benar berpamitan mengingat hari sudah semakin sore dan pesawat yang akan di tumpangi juga akan segera berangkat beberapa saat lagi.


Saat punggung sang suami tak terlihat lagi laura segera masuk kedalam rumah besar orang tuanya dan berjalan menuju ruang keluarga. Merebahkan tubuhnya di sofa depan televisi sudah menjadi kebiasaan laura saat memasuki rumah yang menjadi tempat dibesarkannya itu.


" sudah makan sayang ?" tanya Ratih memindah kepala sang putri yang tadi berbantalkan pinggiran shofa kepangkuanya.


" sudah ko ma, !" jawab laura masih fokus pada acara televisi di depannya.


Ratih mengangguk dan membelai lembut kepala putri kesayangannya itu. Tanpa terasa air mata ratih terjatuh mengenang bagaimana perjuangan hidup laura sejak kecil. Bayi yang kata dokter kemungkinan hidupnya begitu kecil itu kini telah tumbuh menjadi wanita cantik dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. syukur tak hentinya ratih ucapkan di dalam hati, meski hidup dengan bantuan obat dan infus akhirnya laura bisa melewati semua masanya. Terlebih setelah menikah kekebalan laura seperti meningkat dan tak pernah lagi masuk rumah sakit seperti dulu. Berharap kebahagiaan akan selalu menyertai putrinya itu selama hidupnya.