
Setelah di lakukan pemeriksaan ulang. Dokter menyatakan bahwa kondisi laura stabil dan jika dirasa tenaganya telah pulih laura juga sudah di perbolehkan pulang.
" Terima kasih dokter !" ujar ustadz A'ab setelah penjelasan dari dokter.
" Sama-sama, saya permisi dulu !" pamit sang dokter.
Fitri belum juga kembali dari mushola. Di dalam ruangan itu hanya tinggal laura dan ustadz A'ab yang saling memandang penuh tanda tanya. Keduanya masih saja terdiam terlelap dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya laura yang mengawali membuka suara.
"Ngapain ustadz disini ?" suara laura masih serak seperti layaknya orang bangun tidur.
Pertanyaan macam apa itu ? bukankah harusnya yang dia ucapkan adalah kata terima kasih...batin ustadz A'ab.
" Menurut kamu ?" ya selalu seperti itulah seorang Abdurrahman ketika tak bisa menjawab pertanyaan dari laura. memilih balik bertanya dan membuat lawan berfikir ulang.
"ya menurut aku,...aku kira aku mimpi pingsan di tungguin sama ustadz !" jawab laura polos.
Astagfirullah hal adziiim, selalu saja sepolos itu..ralat selugu itu...ach tidak-tidak, se be.. ach embuhlah selalu membuatku pusing sendiri...
Terdiam sejenak adalah jurus ampuh ustadz A'ab saat pertanyaan atau pernyataan laura yang entah polos, lugu atau apalah itu sudah membuatnya tak berkutik.
" Fitri tadi meminta tolong membawamu kesini !" ujar ustadz A'ab memberi penjelasan.
" dan ustadz mau ?" tanya laura lagi.
" sebenarnya tadi mau tak buang di sungai seberang jalan, tapi melihat wajah melas fitri jadi ndak tega !" jawab ustadz A'ab gemas dengan pertanyaan yang menurutnya konyol itu.
" ketahuan banget boongnya, bilang aja khawatir sama aku , apa jangan-jangan ustadz juga naksir sama aku ?" ujar laura yang niatnya hanya menggoda sang ustadz di hadapannya karena mana mungkin juga sang ustadz menyukai gadis yang suka mbantah dan ga bisa ngaji seperti dia pikirnya.
Pernyataan yang niatnya bercanda itu entah mengapa justru membuat ekspresi wajah yang terbiasa datar itu mendadak merah entah karena kesal atau malu tapi itu lucu menurut laura.
" udah sakit masih saja pengingisan !" ujar ustadz A'ab kemudian mengalihkan pembicaraan laura yang nglantur.
Fitri yang ternyata juga sudah kembali beberapa saat lalu memilih melihat pedebatan kedua orang itu dari luar ruangan. Sebenarnya dia masih penasaran dengan sosok ustadz A'ab yang pagi ini nampak menjadi orang yang berbeda menurutnya. Bahkan dia juga melihat bagaimana ekspresi wajah ustadz itu saat laura menggodanya.
"fitri, ngapain ga masuk ?" ujar laura menyadari kehadiran sahabatnya di luar ruangan.
" he...iyo ki lagi arep masuk ra !" karena sudah ketahuan fitri akhirnya terpaksa masuk kedalam ruangan padahal dia masih ingin melihat keseruan dua orang itu tapi apa boleh buat.
"Alhamdulillah ra, awakmu wes sadar !" ujar fitri bersukur melihat keadaan sahabatnya itu.
" iya fit, aku tu gpp harusnya ga usah di bawa kesini, kamu malah g sekolah gara-gara aku !" sesal laura pada sahabat tercintanya itu.
"gak popo apane ra, jantungku hampir copot waktu kamu pingsan di depan asrama putra tadi, iku kang kang juga ndak ada yang bantuin, cuma liatin tok untung ustadz A'ab mau bantuin aku mbawa kamu kesini !" omel fitri sedikit kesal dengan laura yang selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja meskipun kenyataannya tak begitu.
" aku pingsan itu karena belum makan fit, udah yuk kembali ke pesantren aja, aku ga betah disini !" laura merengek dan menatap sahabat di depannya dan sekali lagi mengisyaratkan bahwa keadaannya baik-baik saja.
" Ach iyo, awakmu poso tapi sama aja wes pingsan wes batal !"
Fitri menoleh kearah orang yang ada di sampingnya. seolah menanyakan bagaimana keadaan laura yang sesungguhnya.
"sepertinya dia memang sudah bisa pulang fit, sudah sebawel itu !" ujar ustadz A'ab seolah tahu maksud dari tatapan fitri.
Penyataan itu membuat laura yang tadinya menatap fitri memohon berubah menjadi delikan tajam yang di layangkan pada sang ustadz namun hanya di tanggapi dengan wajah datar dan cool.
"baiklah, ayo !" pasrah fitri.
senyum bahagia terbit di bibir laura mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Terima kasih fitri sayang, habis ini aku traktir dech !" ujar laura girang.
Memang seperti itulah laura dalam keadaan apapun. Ketika dia berusaha kuat bukankah itu lebih baik baginya tak perlu melihat kecemasan orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Setelah merasa keadaanya lebih baik laura segera pamit pada dokter dan perawat yang ada di klinik di temani dua orang yang sejak tumbangnya tadi masih setia menemani. Masih tersimpan banyak pertanyaan dalam hati fitri dan ustadz A'ab mengenai hukuman yang di terima laura. Tapi mereka rasa ini bukan saat yang tepat untuk membahas hal itu. Membiarkan kondisi laura benar-benar fit itu jauh lebih baik.
Di dalam mobil laura duduk menyandarkan kepalanya yang masih berat di pundak fitri. iya, rasanya memang masih sangat berat, tapi jika dia terus merasa berat maka tubuhnya juga akan tetap selemah itu. begitulah prinsip laura.
Meskipun berusaha kuat, tapi wajah pucat itu tak bisa di tutupi. fitri yang menyadari keadaan itu sebenarnya sangat khawatir tapi meskipun di paksa laura juga tidak akan mau kembali ke klinik. Begitupun dengan orang yang saat ini tengah memposiskan diri sebagai sopir kedua gadis itu yang tak kalah khawatirnya dengan fitri. berkali-kali melirik kaca yang berada di atasnya yang nampak keadaan gadis di belakangnya membuatnya merasa bersalah menyetujui untuk kembali ke pesantren dalam waktu secepat itu.
Apa aku bawa ke rumah sakit aja ? wajahnya pucat sekali...
Entah apa yang menggerakkannya, mobil yang di Kendarai sang ustadz bukan berbelok kearah pesantren justru kearah lain membuat fitri dan laura saling manatap penuh tanda tanya.
" kita mau kemana ustadz, tadi kan pesantren nya ?" tanya laura heran.
" kerumah sakit !" jawabnya datar sambil terus menginjak gas mobilnya.
" ngapain ? aku ga papa, dari pada kerumah sakit mending berhenti di restoran yang enak, udah laper banget nich !" gerutu laura.
Fitri sempat kaget mendengar bahwa sang ustadz akan membawa laura kerumah sakit. Apa segitu khawatirnya dia dengan laura sampai tanpa meminta persetujuan apapun tiba-tiba mengarahkan laju mobilnya kerumah sakit.
"ustadz, berhenti gak ? kalo gak aku lompat ni !" ancam laura pada sang ustadz yang tak juga mendengar perkataanya.
"lompat aja !" jawabnya datar.
"ustadz, aku lompat beneran loch! " ancam laura lagi saat ini tanganya telah meraih pembuka pintu mobil yang ada di sampingnya.
"ustadz stop ustadz, wes turutin aja anak ini bandel !" Fitri yang tahu bagaimana keras kepalanya sahabatnya itupun ikut berbicara jangan sampai orang di sampingnya benar-benar akan lompat kejalanan seperti apa yang di katakan.
Mendengar itu sang ustadz langsung membanting setir mobilnya ke kiri jalan yang kebetulan disana ada sebuah kedai kecil yang menurut orang desa sini sudah lumayan. Dan itu membuat senyum kemenangan terbit di bibir laura.
"Terima kasih ustadz !" ujar laura dengan senyum kemenangannya dan hanya di tanggapi dengusan kecil oleh sang ustadz.
Sementara fitri hanya menggeleng melihat tingkah kedua orang aneh itu.