Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
wedding twins senior 1



Lahir dan menikah di hari yang sama begitulah yang di alami kevan dan kevin. Pagi ini semua orang semakin kalang kabut karena harus menyiapkan dua pernikahan sekaligus. pernikahan yang awalnya akan di laksanakan di kediaman orang tua zahra berpindah ke hotel karena tak mungkin jika kevin harus numpang disana. dan tak mungkin juga kalau pernikahan di lakukan di tempat terpisah. mau tidak mau jalan tengahnya adalah memindah acara pernikahan dan resepsi di satu tempat yang sama.


Laura yang merasa kondisinya sudah membaik turut hadir menemani kedua kakak kembarnya itu melepas masa lajang. Begitu pula dengan twins junior yang tak mau ketinggalan menyaksikan kebahagiaan dua om yang begitu menyayangi mereka itu.


Semua telah siap, Handika sudah menyiapkan dua mobil pengantin khusus yang sudah dihias sedemikian rupa. Tapi kevan dan kevin memilih untuk berangkat menggunakan satu mobil karena keduanya bersikukuh ingin satu mobil dengan sang adik dan kedua keponakan mereka. Menggemaskan memang tingkah anak-anaknya itu walaupun sudah dewasa dan mau menikah masih saja seperti anak kecil yang rebutan mainan. Dan selalu yang menjadi rebutan adalah adik perempuannya.


" pokoknya nanti loe harus nemenin kita saat ijab qobul dek !" ucap kevin tegas.


" setuju!" imbuh kevan.


Laura memutar malas kedua bola matanya. Nyatanya kedua kakaknya itu masih saja belum berubah meski sudah akan menjadi seorang suami.


" mana ada kak, aku punya si kembar yang harus aku jaga, abinya anak-anak kan jadi saksi nikah kalian, siapa coba yang jagain mereka kalau aku juga ikut nimbrung, ?" protes laura.


" titipin aja ke mama !" jawab kevin enteng.


thoeng...laura menoyor kepala kakaknya yang asal bicara itu.


" mama itu orang tua elo kak, harusnya mama yang dampingi loe berdua, kenapa jadi malah gue ? pake suruh nitipin anak ke mama lagi !" Gerutu laura tak mengerti jalan pikiran kedua kakak kembarnya itu.


" loe tahu lah dek, kalau ada loe semua pasti beres, gue grogi tahu !" ucap kevan memohon membuat laura menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


Sementara ustadz A'ab yang sedari tadi hanya menjadi penonton hanya menggeleng melihat tingkah kedua iparnya yang tak lebih dewasa dari anak TK yang merengek minta dibelikan ice cream.


" pusing gue, ayo dah berangkat keburu telat !" putus laura kemudian mengangkat Ali dari box bayinya sementara fatimah di gendong suaminya.


Laura terus berjalan keluar diikuti ketiga laki-laki kesayangannya. Dalam hati terus menggerutu dengan sikap kedua kakak kembarnya. Sementara keduanya masih saja merengek meminta belas kasihan sang adik. Membuat laura hanya bisa pasrah. semoga saja nanti di lokasi ada yang bisa ia titipi kedua anaknya sehingga kedua bayi besar itu tak lagi mengaung seperti kucing kelaparan.


" yang sabar ab, semoga kedua kakakmu setelah menikah nanti sembuh dari penyakit gilanya !" ujar Handika menepuk bahu menantu kesayangannya tak habis pikir dengan tingkah kedua anak laki-lakinya.


Ustadz A'ab hanya menjawab dengan kekehan kemudian berjalan mengikuti ayah mertuanya dari belakang. Sementara sang istri dan kedua anaknya lebih dulu di bawa kabur oleh kedua kakak iparnya. fatimah yang tadi berada di gendongannya pun sudah di culik begitu saja oleh kedua orang itu.


Kevan membawa fatimah di pangkuannya sementara kevin membawa ali. Kedua calon pengantin itu mengapit adik kesayangannya di tengah mereka dan membiarkan adik iparnya menjadi sopir pribadi mereka pagi ini. Membuat laura semakin kesal. Tapi apalah daya ini hari bahagia mereka, andai saja tidak pastilah laura sudah memberi perhitungan terhadap kedua kakak menyebalkannya itu.


Tak lama mobil yang di tumpangi kedua calon pengantin pria itu telah tiba di halaman hotel tempat dilaksanakannya acara. Sementara calon pengantin wanita keduanya sudah dari semalam menginap di hotel karena langsung dirias disana.


Para tamu undangan juga sudah banyak yang hadir disana menantikan acara besar itu. Laura meletakkan kedua bayinya di atas stroler yang telah disiapkan dari rumah untuk membawa kedua bocah mungil itu dan berjalan beriringan dengan sang suami. Namun masih saja kedua kakak kembarnya tak membiarkan laura jalan bebas bergandengan dengan sang suami. Justru menariknya berjalan di tengah mereka dengan posisi mendorong stroler berisi dua bocah kecil. Pengen teriak rasanya, tapi semua mata tengah memperhatikan mereka. betapa malunya laura mempunyai kakak yang tingkahnya seperti bocah itu.


Laura celingukan sana sini mencari orang yang bisa dititipi si kembar sebelum acara ijab qobul di mulai. Kalau tidak kedua bayi besarnya itu pasti akan kembali merengek dan membuat telinganya pengar. Mau ngajak si kembar takut juga kalau tiba-tiba rewel dan mengganggu jalannya acara sakral itu.


kebetulan Laura melihat seseorang tersenyum dan melambaikan tangan kearahnya. membuatnya sedikit lega dan bisa menitipkan si kembar sebentar kepada reno dan wina yang ternyata sudah hadir disana.


" ada tante wina sama om reno, gue titipin si kembar ke mereka dulu !" ucap laura pada kedua kakaknya yang akhirnya bisa tersenyum senang karena laura menuruti permintaan mereka.


" gue gugup banget dek !" bisik kevan di telinga sang adik.


" ternyata gue juga adem panas dek lihat pak penghulunya kaya pak raden !" bisik kevin yang membuat mata laura segera melotot. bisa-bisanya disaat seperti ini dia masih bisa berkata konyol.


Handika, Ratih, ustadz A'ab, juga keluarga yang lain menggeleng dengan tingkah kedua calon pengantin laki-laki itu.


" loh, ini pengantin perempuannya satu di bagi berdua ?" tanya penghulu heran karena kevan dan kevin menarik sang adik untuk duduk bersama mereka di depan penghulu.


" Bapak sembarangan aja kalau ngomong, bapak ga lihat muka kita bertiga sama !" ucap kevin reflek melepas peci yang ada di kepalanya dan membantingnya di atas meja.


Membuat suasana yang tadinya tegang karena menunggu proses sakral itu berubah menjadi gelak tawa karena tingkah konyol pengantin laki-laki. Sementara laura rasanya sudah tak punya muka melihat tingkah kedua kakak laki-lakinya.


" udah ach kak, gue duduk sama mama, malu tahu gue dikira pengantin wanita loe berdua !" decak laura melepaskan genggaman kedua kakaknya beranjak membelah para tamu dan duduk di samping sang mama.


" Tapi dek,


" dek,...


Tak peduli dengan rengekan itu lagi, laura sudah tak punya muka untuk menatap para tamu undangan yang ada disana karena tingkah kedua kakaknya. Apalagi terhadap keluarga kedua mempelai wanita.


" jadi dimulai ga ini acaranya?" tanya penghulu melihat kedua calon pengantin itu masih saja merengek menatap sang adik.


" jadi donk pak, gimana ceritanya udah di bayar mahal ga jadi, tekor donk saya pak !" jawab kevin seenaknya yang lagi-lagi mengundang tawa. Sementara kevan lebih sibuk mengatur kegugupannya agar proses ijab qobulnya nanti berjalan dengan lancar.


Setelah semua kembali tenang dari tawa akibat omongan ngelantur kevin. penghulu segera menjabat tangan kevan yang sudah sangat dingin dan gemetar.


" Bapak jangan salah nyebut nama loch, namanya kevan, sedangkan saya yang lebih ganteng ini kevin, ketuker istri kita bisa berabe jadinya !" celetuk kevin lagi yang akhirnya membangunkan laura dari duduknya dan segera membungkam mulut kakaknya itu dengan kedua telapak tangannya.


" udah pak mulai, ngurusi anak satu ini bapak ga jadi bertugas nanti !" gemas laura berucap kepada penghulu masih dengan posisi membungkam mulut sang kakak dengan kedua tangannya.


Semua orang menahan tawanya melihat tingkah ketiga bersaudara itu. Meski terus meronta mencoba melepaskan kedua tangan sang adik yang berada di mulutnya laura tak peduli. Dan penghulu juga melaksanakan tugasnya sesuai yang di katakan laura. Sampai sebuah kata " SAH" untuk ijab qobul kevan dan zahra laura baru melepaskan bungkamannya.


" kira-kira donk loe dek, bisa mati gue loe bungkam kaya gitu ga jadi kawin donk gue !" protes kevin begitu tangan sang adik terbuka.


" bodo, loe mau kawin kagak ? noh kak kevan udah sah sama mbak zahra, kalau loe nyerocos aja gue suruh pulang ni pak penghulu !" ancam laura dengan tegas menjadi hiburan tersendiri untuk para undangan yang hadir dalam acara itu melihat kekonyolan aksi kakak beradik itu.


" saya siap pak !" ucap kevin dengan sigap menjabat tangan penghulu tanpa aba-aba.


Hanya dengusan kecil yang di berikan laura kemudian kembali duduk bersama kedua orang tuanya di belakang sang kakak.


Mengurus twins senior lebih lelah dari pada begadang mengurus twins junior semalaman. Menguras tenaga dan emosi.