
Jauh dari yang di bayangkan sebelumnya, suasana di vila milik reno sangatlah asri dan damai. Jauh dari keramaian, dan lebih tenang.meski bukan menjadi malam pertama untuk laura dan ustadz A'ab tapi keduanya begitu menikmati saat ini. Hanya berdua tanpa ada siapapun disana. Karena Reno memang memesan agar pelayan hanya datang saat jam makan dan seterusnya vila itu akan kosong dan hanya terisi dua orang yang tengah di landa asmara itu.
" Ra, udah tidur ?" tanya ustadz A'ab pada sang istri yang dari tadi lepas sholat Isya' bermanja dalam pelukannya.
" belum !" tak ingin bergeming dari tempat ternyamannya di dada bidang suami.
" ada yang kamu pikirkan ?"
Laura hanya menggeleng dan masih betah pada posisinya.
" Bicaralah, aku bukan Allah yang maha tahu apa yang kamu pikirkan, tapi aku tahu saat ini ada yang mengganggu pikiranmu !" ustadz A'ab membelai lembut rambut laura yang terurai indah.
" hub, !" laura mulai menatap wajah sang suami.
" katakanlah !" ujar ustadz A'ab dengan seulas senyuman hangat.
" seandainya aku tidak bisa punya anak bagaimana ?" tanya laura serius.
" Astagfirullah hal adziiim, kamu ini ngomong apa sih ra ? apa kamu meragukan cintaku ?"
" sama sekali tidak, tapi kamu tahu bagaimana kondisiku, untuk menopang diri sendiri saja masih sering masuk Rumah sakit, aku takut kalau....
" ssstttt....!" menutup mulut laura dengan jari telunjuknya.
" tidak usah menghawatirkan apa yang belum terjadi, Allah tahu apa yang terbaik untuk hambanya, jangan terus membebani pikiranmu dengan pikiran yang tidak tidak, jalani saja apa yang saat ini ada, lagian kita menikah baru 3 minggu, kamu sudah berpikiran negatif seperti itu, !" ujar ustadz A'ab.
" Tapi bagaimana jika itu benar ?"
" Kamu punya Allah ra, jangan seperti orang tak bertuhan, Allah sesuai dengan perasangka hambanya, maka husnudzonlah, jikalaupun benar itu urusan Allah, kita manusia hanya bisa berusaha, apapun hasilnya berarti itu yang terbaik untuk kita, dengan kamu seperti sama saja kamu tidak percaya akan ketentuan Allah, bahwa semua itu telah di gariskan oleh Allah kepada kita !" dengan hati-hati ustadz A'ab memberikan pengertian kepada sang istri.
" jika itu benar terjadi, Insya Allah aku ikhlas jika kamu menikah lagi !" entah apa yang membuat laura berani mengucapkan kata itu padahal usia pernikahan mereka belum juga genap satu bulan.
" Astagfirullah hal adziiim, kenapa bicaramu semakin nglantur seperti ini ? kamu sadar apa yang barusan kamu katakan ? segampang itu kamu memintaku untuk menikah dengan orang lain ? kamu tahu berapa lamanya aku menunggumu ? untuk apa ? untuk melihatku menikah lagi ? untuk menyakitimu? Astagfirullah,...kenapa pikiranmu sedangkal itu....
Ustadz A'ab mulai frustasi dengan omongan laura yang tiba-tiba kemana-mana. Ia tak pernah menyangka bahwa laura sampai berfikiran sejauh itu. Apalagi dimalam yang harusnya menjadi malam indah mereka berdua.
" kenapa kamu kembali menjadi orang lima tahun lalu yang meninggalkanku ?" ustadz A'ab menatap dalam wajah sang istri yang sudah terisak di depannya.
" kenapa ? apa kamu ingin meninggalkanku lagi hah ?" imbuhnya lagi yang sudah tak kuasa menahan air matanya.
Laura sudah tak mampu berucap apapun. Entah apa yang membuatnya menjadi sebodoh ini di malam bulan madu yang ia idam-idamkan. Menangis dalam penyesalan, terus merutuki dirinya yang bersikap dalam kebodohan.
" lihat aku ra ! tolong tatap mataku !" pinta ustadz A'ab dengan nada meninggi mengguncang tubuh rapuh dihadapannya yang sedari tadi hanya menunduk dalam tangisnya.
" Kamu lihat, apakah di mata ini terdapat kebohongan ? sampai kapan kamu akan merendahkan diri kamu seperti ini ? berapa kali harus ku katakan bahwa kamu sudah cukup sempurna di mataku , apa itu tidak cukup ?" saat ini mata kedua orang itu benar-benar bertemu dan seoalah saling berbicara. Namun tetap saja lidah laura terasa kelu, bahkan hanya untuk berucap maaf pada suaminya tak bisa.
Dalam tangisnya ustadz A'ab mencium lembut bibir sang istri. Berharap akan membungkam semua pikiran negatif yang membuatnya selalu merasa tidak sempurna itu. Dan larutlah kedua orang itu dalam indahnya malam tanpa bintang. Kenikmatan surga dunia yang Allah berikan kepada makhluknya.
" huby, hampir saja jantungku mau lepas !" kaget laura memukul kecil dada bidang sang suami.
" nanti kalau lepas tak ganti pake jantungku, kalau ndak ya kita tukeran jantung aja biar kamu ndak miker macem-macem terus !" ujar ustadz A'ab mengeratkan pelukannya pada sang istri.
" ternyata ustadz bisa gombal juga, kirain cuma bisa tausiyah !" celetuk laura menoel hidung sang suami
" Berhenti ngomong kaya semalem lagi, aku ndak mau denger !"
" Maaf,
" stop, main lagi yuk habis itu mandi bareng baru sholat, ya...ya...!" rengek ustadz A'ab bermanja seperti bayi tak ingin sang istri kembali membahas apa yang terjadi malam tadi sebelum keduanya terlelap.
Dan terjadilah permainan panas antara sepasang pengantin baru yang masih hangat-hangatnya itu. setelah melakukan olah raga sepertiga malamnya ustadz A'ab segera membawa sang istri kekamar mandi mengingat waktu tahajud tinggal beberapa saat lagi.
Lepas melaksanakan jamaah sholat tahajud adzan subuh telah berkumandang ,dengan segera keduanya kembali bangun dan melaksanakan sholat shubuh baru setelahnya tadarus Al Qur'an dan dzikir pagi.
" kamu bisa masak ?" tanya ustadz A'ab pada sang istri yang hanya di jawab gelengan laura.
Sejak kecil laura memang tak pernah sekalipun ikut andil di dapur meski hanya untuk memasak air. Sudah terbiasa apapun di sediakan dan tinggal minta.
" aku ga bisa masak !" jawab laura malu-malu. membuat ustadz A'ab gemas dan ingin kembali memakannya namun sayang sepertinya tenaganya sudah terkuras habis untuk tadi malam.
" oke, aku akan mengajarimu masak gimana ?" tanya ustadz A'ab lagi.
" emang bisa ?" balas laura meragukan.
"eits, jangan salah, anaknya tukang masak, ya pastilah aku juga pinter masak !" jawab ustadz A'ab percaya diri.
" wich keren, suami serba bisa, bisa ngajar, bisa tausiyah, dan sekarang bisa masak, ich waawww !" gemas laura mencubit pipi tirus sang suami.
" kog yang utama belum di sebut ? "
" apa emang ?" laura mengrenyitkan kening.
" Bisa muasin kamu semalaman....!" jawab ustadz A'ab mengedipkan mata dengan genit.
" Astagfirullah hal adziiim, ustadz mesuuum....
Laura mencubit keras paha suami yang masih stay di atas sajadah lengkap dengan perlengkapan sholat di depannya.
" Awww, kenapa di cubit sih ra? kan emang bener !" protes ustadz A'ab mengusap bekas cubitan laura yang masih terasa panas.
" bodo, ...
Laura melepas perlengkapan sholatnya, berlalu meninggalkan sang suami yang masih menikmati rasa sakit bekas cubitannya.