
Raut wajah bahagia karena kehamilannya tentu tak dapat di sembunyikan dari wajah laura. Dan itu tak luput dari pandangan sang suami. Semenjak kepulangannya dari luar kota kemarin seperti ada yang berbeda dengan laura. memang laura selalu menampakan wajah manis di hadapannya, tapi ia rasa tetap saja berbeda dari biasanya.
" kayaknya seneng banget ra ?" tanya ustadz A'ab pada laura dalam sarapan pagi itu.
" Setiap hari aku seneng ko, menjalani hariku sama kamu !" jawab laura dengan senyum manisnya.
" Alhamdulillah, terus malam itu nangis ?" tanya ustadz A'ab.
" aku ga akan nangis lagi, sudah cukup habis di malam itu !" Jawab laura masih dengan senyum manisnya.
" Aamiin, !"
Meski tak tahu sejatinya yang ada di fikiran sang istri, ustadz A'ab sudah cukup bahagia dan bersyukur bisa melihat raut bahagia di wajah Laura. Setelah menyelesaikan sarapannya ustadz A'ab berpamitan dengan istri tercinta, tak lupa dengan kecupan manis yang selalu menjadi pemyemangat harinya.
Sementara sang suami pergi bekerja, laura tengah mempersiapkan surprise Aniversary untuk sang suami. Laura telah mempersiapkan kado spesial untuk sang suami. Dan hari ini juga ia akan mengatakan pada sang suami tentang kehamilannya.
Jarum jam menunjukkan pukul 14.30 itu artinya laura harus segera bersiap untuk menyambut kepulangan sang suami. Laura yang hampir tak pernah menyentuh make up selama menikah hari ini memoles wajahnya dengan sangat cantik. Berharap lelakinya itu akan menyukainya.
Tok..tok...tok...
" Assalamualaikum!" salam ustadz A'ab dari luar rumah.
Entah mengapa dada laura tiba-tiba saja berdebar layaknya remaja yang baru saja jatuh cinta. Ia mendadak gugup saat akan membukakan pintu untuk sang suami. Setelah mengatur nafas yang tak karuan dan menenangkan diri laura baru membukakan pintu.
" wa'alaikumussalam!" Jawab laura mencoba setenang mungkin mengulas senyum do bibirnya.
Ustadz A'ab melongo melihat penampilan sang istri yang tak biasa itu. Memandangnya dari ujung atas hingga ujung bawah. laura terlihat begitu cantik di matanya.
" ga masuk ?" tanya laura membuyarkan lamunan sang suami yang terpesona akan kecantikannya.
" Astaghfirullah hal 'adziim, !" Ustadz A'ab segera menepis lamunanya dan berjalan masuk kedalam rumah.
Laura tersenyum kecil melihat sang suami yang salah tingkah melihat penampilannya. sementara sang suami masuk kedalam kamar laura sengaja berjalan sangat pelan dari belakang. membiarkan sang suami melihat dulu kejutan darinya.
Ustadz A'ab terheran begitu memasuki kamar tidur mereka yang nampaknya hari ini juga tak seperti biasa. Baunya harum, tampak sprei kasurnya juga belum pernah ia lihat. mendekat kearah meja kecil samping tempat tidur dimana laura menyimpan kejutannya. Tampak disana foto pernikahannya setahun lalu yang di lukis ulang dengan indah oleh sang istri di bawahnya tertulis semoga Allah senantiasa menjaga cinta kita. Terdapat sebuah amplop kecil tertempel di pigura lukisan tersebut. Ustadz A'ab meraih dan membukanya dengan hati-hati. Amplop kecil itu berisi hasil USG laura 2 hari lalu bersama kedua kakaknya.
" semoga Allah senantiasa menjaga cinta kita Aby !" Ujar laura memeluk sang suami dari belakang.
Ustadz A'ab tersenyum dengan perlakuan sang istri. mengeratkan pelukan sang istri di perutnya. membelai lembut tangan mungil sang istri sebelum akhirnya membalik tubuhnya menatap wajah cantik yang telah menemaninya dalam kurun waktu genap satu tahun itu.
" Aby ?" ustadz A'ab menangkup wajah cantik sang istri dengan kedua tangan dan menatapnya dengan lekang.
" disini sudah tumbuh malaikat kecil kita !" Laura meletakkan tangan yang semula menangkup wajah nya beralih ke perutnya yang masih datar.
" hmm ???" ustadz A'ab memastikan kembali ucapan sang istri yang dijawab anggukan dan senyum manis oleh laura.
" Alhamdulillah, Terima kasih sayang !" Tanpa terasa ternyata air mata ustadz A'ab terjatuh saat membawa sang istri kedalam pelukannya.
Rasa syukur yang tak mampu diucapkan dengan kata. Mengingat selama ini laura selalu menangisi keadaanya yang belum bisa memberi keturunan pada sang suami. Ustadz A'ab memang tak pernah mempermasalahkan keadaan laura bagaimanapun kondisinya. Tapi melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah laura saat ini membuat ustadz A'ab ikut bahagia sebagi seorang suami. Dan Insya Allah sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
" Allah selalu bersama kita ra, jangan lagi diragukan, dan satu lagi yang harus kamu ingat Aku mencintaimu tanpa syarat, tidak usah berfikiran kalau aku akan meninggalkanmu hanya karena kamu merasa tak sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Allah semata !" ujar Ustadz A'ab yang saat ini telah membawa sang istri duduk di tepi ranjang kecilnya.
Dengan posisi ternyaman bersandar pada bahu sang suami. Tak terbayangkan bagaimana jadinya 6 tahun lalu jika lelaki yang saat ini menjadi suaminya benar-benar menyerah dan melepaskannya.
" sejak kapan kamu tahu kalau hamil ?" tanya ustadz A'ab membelai lembut kepala sang istri.
" sejak kamu minta kak kevan periksa aku, aku di perlakukan kaya anak kucing di jagain sampai ke rumah sakit !" jawab laura dengan wajah kesalnya jika mengingat hari itu dimana kedua kakaknya membawa paksa dirinya kerumah sakit.
Ustadz A'ab terkekeh mendengar cerita sang istri, membayangkan betapa serunya hari itu. yang sudah dapat dipastikan bagaiman ekspresi sang istri saat itu. Bagaimanapun sifat keras kepala laura memang belum juga hilang. Kalau sang suami lebih memilihnya dengan membujuk secara halus, tidak mungkin itu akan di lakukan kedua kakak laura.
" Terus kata dokter bagaimana perkembangan anak kita ? sudah usia berapa ?" tanya ustadz A'ab lagi.
" Tiga, hampir 4 bulan !"
" hemm ? hampir 4 bulan kamu ndak ngerasa ?"
" adiknya terlalu kalem kaya abinya kali, makanya tenang aja di dalem !" jawab laura cengengesan.
" semoga sajalah, kalau kaya uminya bisa gawat !" ujar Ustadz A'ab menggoda sang istri.
" kenapa emang ?" heran laura menaikkan satu alisnya.
" lebih kalem lagi !" jawab ustadz A'ab dengan nyengir menyindir tingkah sang istri.
" aku emang kalem kog !" Jauh dari yang di duga ustadz A'ab kalau sang istri pasti mengeluarkan ekspresi imutnya dengan celotehan yang sudah siap di dengar oleh telinganya justru laura menanggapinya dengan kepedean yang membuatnya harus mendengus heran dengan kepribadian istri cantiknya itu.
" iya, kalem kog kalau lagi tidur !" ujar ustadz A'ab kemudian setelah dengusannya.
Acuh dengan perkataan sang suami, laura lebih memilih bermanja di pelukan lelakinya itu. Posisi ternyaman yang selalu dirindukan laura setiap kali suaminya sedang bekerja.
" rasanya baru kemarin aku masuk pesantren dan ketemu ustadz ganteng itu, sekarang udah setahun aja jadi suamiku !" celoteh laura betah pada posisinya.
" Jodoh itu memang tak ada yang tahu, pertama kali dalam 26 tahun merasakan perasaan indah pada gadis kota yang sangat jauh dari bayanganku !" sama halnya dengan laura ustadz A'ab membayangkan pertama kali berjumpa dengan sang istri.
Laura yang dari tadi betah bersandar pada dada bidang sang suami segera mendongakkan wajah mendengar celotehan suaminya itu.
" jadi kamu nyesel ?" tanya laura dengan tatapan mematikan
" Emang aku ngomong gitu ?" ustadz A'ab balik bertanya dengan nada datar.
" katanya aku jauh dari bayangan kamu, berarti kamu nyesel donk milih aku!" ketus laura yang saat ini sudah memajukan bibir mungilnya menjadi 5 centi.
" kalau nyesel ya sudah tak tinggal dari dulu, ngapain nungguin sampai 4 tahun lebih !" gemas ustadz A'ab memencet hidung sang istri.
" Awww, sakit tahu !" ringis laura melepas tangan sang suami dari hidungnya.
" ndak usah mikir yang macem-macem lagi, serahin semua sama Allah dan fokus sama malaikat kecil yang ada disini!" ujar Ustadz A'ab mendekatkan wajahnya pada perut rata sang istri.
Entah apa yang di bisikan sang suami pada perutnya. Tapi itu membuat laura merasa bahagia. Hatinya menghangat, dan sekali lagi laura begitu bersyukur atas semua nikmat yang sudah diberikan oleh Allah kepadanya.