Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
kembali menyebalkan



Sabtu pagi bagi seluruh warga pesantren adalah hari senin bagi sekolah umum. Para santri yang baru saja kembali dari kampung halaman masing-masing memulai aktivitasnya menjadi santri di sabtu pagi ini. Santri putra yang mulai sekolah formal dan santri putri mulai mengawali hari di Madrasah Diniyah.


"ayo fit, keburu telat !" teriak laura yang dari tadi telah menunggu fitri di depan pintu kamar.


"iyo ra, kitab ku ilang !" jawab fitri sama teriaknya.


"cepet fit, waktunya ust izzah, bisa kena semprot kita !" teriak laura lagi.


" iyo iyo, ayo brangkat !"


Fitri yang sudah menemukan kitab yang di cari segera menarik tangan laura dan berlari sekencang mungkin agar tak tertinggal pelajaran.


Brukkk...


kedua orang yang berlari tanpa melihat depan itu bukanya cepat sampai malah membuat masalah baru.


" Astagfirullah hal adziiim, kenapa kalo jalan g pernah lihat-lihat !" gerutu orang yang di tabrak kedua orang itu karena bukan pertama kalinya.


"Ngapunten ustadz, kita buru-buru takut telat makane lari !" sesal fitri merapikan kembali kitab dan buku-buku yang berhamburan di lantai.


Ya Allah lagi-lagi sial di saat yang tidak tepat! batin laura.


"Bantuin ra, !" ujar fitri melihat sahabatnya itu hanya melongo tak membantunya merapikan buku dari orang yang sudah di tabrak.


Laura hanya mengambil kitab miliknya dan milik fitri yang juga terjatuh di lantai tanpa menyentuh barang milik ustadz A'ab yang baru saja di tabrak.


"berdiri fit, biar laura yang beresin !" ujar ustadz A'ab kemudian membuat wajah laura memerah kesal.


sedangkan fitri segera menurut perintah si ustadz killer itu dan berdiri.


"ck, nich pegangin fit !" laura berdecak memberikan kitab yang ada di tangannya kepada fitri sebelum akhirnya menuruti perintah sang ustadz.


Dengan terus menggerutu laura merapikan satu demi satu buku yang tergeletak di lantai dan mengembalikan pada sang pemilik.


"nich ustadz, sudah kan ? atau mungkin ada yang lain ? mumpung telat sekalian telat !" kesal laura menyodorkan buku pada sang pemilik dengan kasar.


" ok baiklah, fitri boleh brangkat diniah biar anak ini aku yang urus !" ujar ustadz A'ab kemudian membuat laura menaikkan alisnya tak percaya kalau perkataan ngawurnya justru membuat petaka.


"nggih ustadz, Assalamualaikum! " pamit fitri kemudian meninggalkan laura bersama ustadz A'ab.


Beberapa detik keduanya terdiam. Ustadz A'ab masih merapikan buku-buku dari laura. sedangkan laura terus mengumpat dalam hatinya menyumpahi orang yang saat ini dihadapannya.


"jalan !" ujar ustadz A'ab menlanjutkan langkahnya diikuti laura dari belakang.


Kedua orang yang berjalan beriringan itu berhenti di sebuah ruangan yang sepertinya lama tak digunakan. Banyak buku dan kitab penuh debu disana. perasaan laura mulai tak enak, pasti si ustadz akan memintanya merapikan ruangan itu seperti sebelumnya.


"Ustadz mau aku merapikanya ?" tanya laura menebak.


" ambil sapu,!" pinta ustadz A'ab tanpa menjawab pertanyaan laura dan segera di turuti sebelum menambah masalah lebih besar.


sementara laura mencari sapu, ustadz tampan itu berjalan menuju kedalam ruangan dan meletakkan buku yang dia bawa di atas meja penuh debu dalam ruangan itu.


Disingsingnya lengan baju koko warna biru muda yang di kenakan, dan mulai menata satu persatu barang yang berantakan di dalam sana. laura yang sebenarnya telah kembali lumayan lama memilih bersembunyi di balik pintu dan memperhatikan gerak gerik pria tampan yang masih di kagumi meskipun menyebalkan itu.


"selesai, giliran kamu ga usah sembunyi !" ujar ustadz A'ab yang memang tahu dari tadi laura memperhatikannya dari balik pintu.


" ruangan ini buat apa ustadz ?" tanya laura di sela-selanya menyapu.


" Perpustakaan, disini kan belum ada, papa kamu bilang kemarin juga akan dikirim beberapa buku kesini !" jawab ustadz A'ab.


"Papa ???" tanya laura heran mendengar orang tuanya di sebut.


" iya, !"


satu jawaban yang sebenarnya membuat laura jengkel, karena yang di butuhkan adalah penjelasan bukan hanya jawaban iya dan dia harus meminta penjelasan kembali.


"Bisa ga ustadz di jelaskan, kenapa kalo ngomong sama ustadz g pernah jelas sih !" gerutu laura kembali melaksanakan tugas yang di berikan sang ustadz menyapu lantai ruangan itu.


Sang ustadz hanya menggeleng dan kembali membuka salah satu buku yang tadi bawanya sambil menunggu laura selesai menyapu.


"sampun ustadz !"ujar laura setelah mengembalikan sapu yang telah digunakan pada tempatnya.


"Boleh kembali, !" ujar ustadz A'ab datar tanpa melihat lawan bicara.


"percuma ustadz, ini sudah jam 10 ustadzah izza juga sebentar lagi keluar !" dengus laura kesal.


" terus mau kamu apa ?" tanya ustadz A'ab tak juga menoleh kepada lawan bicaranya membuat laura semakin gemas dan ingin rasanya mencubit pipi orang di depanya itu dengan sekeras-kerasnya.


Astagfirullah hal adziiim, apa dosa hamba selalu di hadapan kan pada orang seperti ini ya Allah ? pengen aku makan rasanya ya Allah


" Tau ach, Assalamualaikum! "


Laura yang sudah kesal tak juga mendapat jawaban dari pertanyaannya segera berlalu dari hadapan ustadz yang masih sibuk dengan buku tebal di tangannya itu.


Mau kembali ke kelas diniah nanggung, karena jam pelajaran juga sudah berakhir. Laura memilih menunggu fitri di bangku panjang dekat kelas mereka. Dan benar tak lama fitripun keluar dari kelas di susul Aisyah yang ternyata hari ini sengaja ikut diniah di kelas fitri untuk bertemu laura.


"laura, aku kangen !" pekik aisyah memeluk sahabat yang lama tak jumpa itu.


"di hukum apa lagi kamu ra ?" tanya fitri setelahnya.


" di hukum ??? kamu habis di hukum ra ? sama siapa ?" Aisyah melepaskan pelukanya dari laura dan berubah menjadi khawatir menatap sahabatnya itu.


" kembali ke kamar aja yuk, gue capek nanti ceritanya di kamar aja !" pinta laura dan kedua orang itupun mengangguk.


Sesampainya di kamar aisyah dan fitri segera mengintrogasi laura seperti apa yang di katakan bahwa dia akan menceritakan itu pada sahabatnya ketika sampai di kamar. Laura menceritakan apa yang di alaminya pagi ini pada aisyah dan fitri. bukan mendapat dukungan tapi malah tawa yang pecah dari kedua orang itu membuat laura semakin kesal dan menyesali apa yang telah di ceritakan.


"nyesel aku cerita sama kalian berdua!" kesal laura merebahkan tubuhnya di atas tikar yang lebih dulu disiapkan.


" hahaha, makane ra kalo ngomong sama ustadz A'ab itu di piker dulu, udah tau orangnya menyeramkan tambah di lawan !" Tawa fitri semakin meledak.


"husss, kang A'ab itu baik kog sebenarnya ga seperti yang kalian pikir !" ujar aisyah meluruskan pemikiran kedua sahabatnya itu.


" baik sama kamu syah, kalo sama aku mah udah kaya kucing ketemu tikus !" sahut laura yang membuat fitri semakin tak bisa mengontrol tawanya.


"sehari aja g ngehukum aku, paling udah gatel tu mulutnya !" imbuh laura.


Aisyah hanya menggeleng melihat kekesalan sahabatnya itu. Mungkin laura masih belum bisa mengerti maksud hukuman yang di berikan kepadanya adalah untuk kebaikanya. dan di mata aisyah ustadz A'ab tetap menjadi orang yang baik luar biasa. karena selama bersama sejak kecil tak pernah sedikitpun ada perkataan atau perbuatan yang menurut aisyah menyakitkan orang lain.