
Postingan laura beberapa hari lalu memikat hati beberapa folowersnya. Beberapa orang menawar lukisan laura dengan harga yang sangat mahal. Tapi laura masih enggan untuk melepaskannya. Mengingat itu adalah karya pertamanya di tanah air. Namun setelah di pertimbangkan akhirnya laura memutuskan untuk melepaskan lukisan itu dengan izin sang suami tentunya. Lagi pula uangnya bisa menambah tabungan mereka untuk keperluan sehari-hari dan yang pasti bisa untuk membeli alat lukis lagi. Karena semenjak karya pertamanya laura juga belum melukis lagi mengingat belum ada yang di gunakan untuk membeli perlengkapan dan bahan lukis.
Laura terus berkarya dan berkarya lagi. Karya laura semakin di kenal oleh orang dan memiliki banyak peminat. Hari-harinya tak lagi sepi saat di tinggal sang suami bekerja. Dan tentu karyanya bisa membantu ekonomi pasangan ini menjadi lebih baik. Beberapa kali laura mendapat tawaran untuk kontrak kerja melaksanakan proyek lukis, Tapi laura menolak dengan alasan hanya ingin menjadi ibu rumah tangga mengurus suami dan anaknya kelak. Menjaga harga diri dan harta suaminya di rumah. Tak sedikitpun niat untuk menitih karir lebih. lagi pula niat awal melukis hanya untuk menghibur diri. kalau memang banyak peminatnya itu hanya sebuah bonus dari Allah SWT. Jalan dari Allah untuk menambah penghasilan mereka lewat karya-karyanya.
Tak terasa hampir setahun sudah pernikahan ustadz A'ab dan laura. Namun sampai detik ini keduanya masih belum juga di beri amanah seorang anak dari Allah. Ustadz A'ab tak pernah mempermasalahkan hal itu dan masih menikmati masa pacaran halal mereka. Namun yang namanya wanita sudah menikah pastilah ada keinginan untuk memberikan keturunan pada suaminya. Apalagi usia sang suami sudah sangat matang. Meski di depan suami ia terus menampakkan senyum manis dan ketegarannya, tapi di saat sang suami tidur laura selalu menangis memandangi wajah letih itu. Ia merasa jadi wanita yang tak sempurna karena belum bisa memberikan keturunan pada sang suami.
Ingin laura menyentuh wajah letih sang suami dalam isak tangisnya malam itu. Tapi ia takut jika sang suami akan terbangun dan mengetahui tangis yang setiap malam tercurah dari matanya. Entahlah malam itu laura tak bisa mengontrol tangisnya hingga tubuhnya bergetar dan mengusik tidur sang suami yang telah lelap.
" kenapa ?" tanya ustadz A'ab masih mengumpulkan separuh dari nyawanya.
Melihat sang suami terusik, laura segera menyeka air matanya. Menenangkan dirinya agar tak terlihat buruk di hadapan sang suami.
" aku ga papa ko huby, maaf sudah menganggu tidurnya !" ujar laura mencoba tegar tak ingin membuat sang suami khawatir.
" matamu bengkak, mana mungkin ndak papa ? apa aku menyakitimu? katakanlah, sudah lama sekali aku tak melihat wajah cantik ini meneteskan air mata, apa aku melakukan kesalahan sampai bidadariku ini menangis lagi !" ujar Ustadz A'ab dengan selembut mungkin menyeka sisa air yang masih tersisa di ujung mata sang istri dan merapikan rambut sang istri yang berantakan.
Tak ingin menjawab sepatah katapun laura membenamkan wajahnya di pelukan sang suami. tubuhnya semakin bergetar hebat dan tentu kesedihan itu dapat di rasakan oleh sang suami yang berusaha menenangkannya.
" Istighfar ya, semua masalah pasti ada jalan keluarnya !" ujar Ustadz A'ab membelai lembut rambut sang istri yang masih terisak dalam pelukannya.
Laura terus terisak sampai tanpa berkata apapun hingga akhirnya terlelap karena saking lelahnya. Dan sampai laura terlelap ustadz A'ab tak menemukan jawaban dari pertanyaannya. Namun setidaknya ia membiarkan sang istri untuk beristirahat dan lebih tenang. Besok setelah laura merasa lebih baik baru ia bertanya lagi.
Sabtu pagi ustadz A'ab ada kajian ke luar kota. seperti biasa ia selalu menitipkan sang istri di rumah sang mertua setiap kali harus keluar kota meski hanya sehari. kebetulan juga ia hanya menerima tawaran tausiah di hari sabtu dan minggu saja mengingat jam nagajarnya di Bhakti Negara juga sangat padat.
" Nitip laura ya ma, aku ada kajian di luar kota Insya Allah besok pagi sudah nyampe rumah lagi !" ujar Ustadz A'ab menitipkan laura pada ibu mertuanya.
" tenang aja, ini anak mama pasti mama jaga dengan baik !" jawab ratih.
" Makasih ma, aku pamit dulu, Assalamualaikum!" ujar Ustadz A'ab mencium tangan ibu mertuanya tak lupa mencium kening sang istri sebelum berlalu meninggalkan halaman rumah besar itu.
Setelah punggung sang suami tak terlihat laura segera masuk kedalam rumah besarnya tanpa menghiraukan pertanyaan sang mama yang menanyakan tentang bagaimana kondisinya.
Di depan gerbang rumah besar milik sang mertua ustadz A'ab berpapasan dengan kevan sang kakak ipar yang entah dari mana. Hendak memasuki pekarangan rumah besar itu.
" Assalamualaikum kak !" sapa ustadz A'ab ramah meski usia kevan 5 tahun lebih muda darinya.
" wa'alaikumussalam adik ipar, mau kemana ?" tanya kevan.
" biasa kak nitip laura, ada jadwal di luar kota !" jawab ustadz A'ab dan kevan mengangguk.
" Emang selalu keras kepala tu bocah, ya udah dech loe serahin aja sama gue, !" jawab kevin menepuk pundak adik iparnya.
" Terima kasih kak, saya permisi dulu, Assalamualaikum!"
" wa'alaikumussalam!"
Sementara itu begitu masuk kedalam rumah tujuan utama laura adalah ruang keluarga yang ternyata sudah ada kevin sedang menonton TV disana. Kalau tidak mencari ribut dengan kakak yang satu ini pasti tidak afdol bagi seorang laura. Laura menyahut remot yang ada di tangan sang kakak dan merebahkan tubuhnya di sofa yang sama berbantalkan paha kakak keduanya itu.
" Dateng-dateng main rebut aja ni bocah, !" decak kevin menjitak kepala sang adik yang sudah berada di pangkuannya itu.
" gue ga pernah nonton tv kali kak, loe kan udah biasa jadi ngalah aja !" ujar laura santai tak ingin beranjak dari posisinya.
" kasian banget hidup loe, suami loe mana dek ?" tanya kevin.
" biasa, !" Jawab singkat laura yang tentu sangat mudah di mengerti oleh kevin.
Kevan yang baru saja kembali dari mini market membeli beberapa cemilan berjalan menghampiri kedua saudaranya yang tak pernah bisa diam saat si satukan itu.
" ikut gue dek !" ujar kevan begitu saja mengalihkan perhatian kevin dan laura yang tengah asik menikmati drama.
" Ngapain?" tanya kevin mewakili laura.
" Loe bawa dia kekamarnya vin, gue siapin alat gue dulu !" ujar kevan berjalan meninggalkan kedua saudaranya yang masih tak paham dengan apa yang di maksud.
" Emang si laura sakit van, loe sakit dek ?" tanya kevin yang masih kebingungan.
sedangkan kevan tak membutuhkan waktu lama untuk segera kembali menghampiri kedua saudaranya mengingat kamarnya tak jauh dari ruangan itu.
" Loe kaya g hafal adek loe aja vin, kalau belum benar-benar ga sadar mana mau dia di bawa kerumah sakit, tadi suaminya ketemu gue di depan cerita ni bocah sakit tapi ga mau di bawa ke rumah sakit !" Terang kevan dan kini kevin sudah mulai mengerti.
" sotoy lu pada, gue ga papa kenapa harus pake di periksa segala sih, sombong banget mentang-mentang dokter amerika !" laura berdecak tak terima.
" Loe mau gue periksa baik-baik apa gue paksa dek ?" tanya kevan memberi ancaman.
Laura yang tahu betul bahwa meskipun pendiam tapi kakaknya yang satu itu tidak pernah main-main dengan semua omonganya membuat laura hanya bisa menurut meski dalam hati terus mengumpat.