Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
kedatangan ibu



Bu khomsah sengaja meminta penerbangan dini hari agar bisa segera bertemu sang menantu kesayangan. Mengingat lamanya mereka tak bertemu, bu khomsah ingin segera mengelus perut besar sang menantu. Sekalian ia pamit kepada keluarga ndalem untuk menunggu sampai laura melahirkan karena tinggal beberapa minggu lagi. Ia ingin menemani sang menantu melewati masa kehamilannya yang tinggal beberapa minggu itu. juga ingin berada disisinya saat sang menantu melahirkan cucu pertamanya nanti.


Laura terkejut karena hari masih terlalu pagi tapi suami dan ibu mertuanya telah sampai dirumah orang tuanya. Membayangkan lelah sang suami yang pasti tak sempat istirahat dari kemarin. Laura segera menyambutnya dan mempersilahkan ibu beserta suaminya untuk istirahat terlebih dahulu.


" Gimana keadaan kamu sayang ?" tanya Bu khomsah lembut pada laura.


" Alhamdulillah baik, apalagi ibu disini !" jawab laura sudah bermanja di pelukan ibu mertuanya itu.


Sementara sang suami yang sudah tak bisa menahan kantuknya karena sang ibu memaksa penerbangan dini hari sampai tak memberinya istirahat berpamitan untuk ke kamar dan memejamkan mata terlebih dahulu. Kebetulan juga hari minggu jadi ia bisa istirahat dengan tenang. membiarkan sang ibu melepas rindu dengan istri tercinta sebelum nanti di bawa pulang kerumah kontrakannya.


" cucunya uti gimana kabarnya nak ?" bu khomsah mengelus perut besar menantunya dengan lembut. kemudian berceloteh kesana kemari dengan makhluk kecil yang ada di perut sang menantu yang terkadang mendapat respon tendangan dari makhluk kecil itu yang membuatnya semakin gemas. sedangkan laura hanya tersenyum sesekali meringis ketika tendangan itu berlebihan dan membuatnya kesakitan. Namun elusan dari ibu mertuanya langsung dapat menenangkan makhluk kecil itu.


" laura mau di masakin apa sama ibu nak ?" tanya Bu khomsah setelah puas berceloteh dengan makhluk kecil yang ada di dalam perutnya.


" apapun masakan ibu pasti enak, laura mau !" jawab laura semangat.


" ibu kamu pasti cape sayang, biar istirahat dulu !" ujar ratih yang baru saja keluar membawa minuman dan cemilan untuk besannya.


" ndak papa ko bu Ratih, saya kesini kan memang ingin memenuhi ngidamnya anak wedok ini, biar nanti cucuku ndak ileran!" ucap bu khomsah di akhiri dengan kekehan.


" emang kalau ngidam ga keturutan bikin ileran bu ?" tanya laura penasaran.


" mitosnya sih gitu !" jawab Bu khomsah.


" lah aku ngidam beberapa kali ga pernah keturutan !"


" La kamu ngidam mangga di petik dari halaman sekolahan padahal lagi ndak musim, ya mana ada ? lagi, minta lontong sayur tengah malam, !" sahut ustadz A'ab yang baru saja bangun dari tidurnya bergabung dengan istri dan para ibu yang ada disana.


Ratih dan Bu khomsah terkekeh mendengar perkataan calon ayah baru itu. sementara laura hanya cuek merasa tak berdosa. yah dia sendiri juga tak tahu kenapa menginginkannya kan ? jadi buat apa di pikir batinnya.


" mau pulang sekarang ?" tanya laura pada sang suami yang baru saja bergabung itu.


" aku terserah kamu sama ibu lah, aku tinggal ikut !" jawab ustadz A'ab.


" ya sudahlah, sekarang aja sekalian belanja di pasar biar ibu nanti bisa masak !" ujar laura yang kemudian mendapat anggukan dari sang suami.


Ratih juga tak ingin menahan putri kesayangannya itu terlalu lama. Karena semalam ia sudah puas memeluknya semalaman. Meski telah akan menjadi seorang ibu Ratih dan Handika masih menganggap laura adalah putri kecil mereka. sampai semalam keduanya tidur dengan mengapit sang putri yang tengah berbadan dua itu.


setelah puas menjelajah pasar dan membeli beberapa bahan makanan laura dan mertua segera kembali ke tempat dimana sang suami menunggu di dalam mobil. Meskipun dengan lelah dan mata ngantuk namanya suami siaga ya tetap saja ustadz A'ab seperti telah teralarm kedatangan sang istri. segera bangun dan menyambutnya di luar mobil itulah yang di lakukannya. menyambut kedua wanitanya itu dengan senyum lelah.


" sudah belanjanya tuan putri ?" tanya ustadz A'ab begitu kedua wanita itu sampai di hadapanya.


Laura hanya tersipu malu karena ucapan suaminya itu di depan sang mertua. jika saja itu kedua orang tuanya pastilah sudah di tanggapi oleh laura karena kedua orang tuanya memang sudah hafal bagaimana sifatnya. tapi kalau untuk ibu mertuanya, ia masih sungkan jika harus bermesraan di depannya.


" sudah ayo pulang, kasian istrimu kecapean!" ujar bu khomsah pada anak semata wayangnya itu yang hanya di jawab dengan senyuman kemudian membukakan pintu mobil untuk kedua wanitanya.


Laura mungkin terlalu bersemangat saat tadi berbelanja dipasar sampai tak sadar jika kakinya telah membengkak. Ustadz A'ab yang mengetahui hal itu tentu saja langsung panik. Namun bu khomsah memberi penjelasan kalau kaki bengkak pada ibu hamil tua itu adalah hal yang wajar dan meminta anaknya untuk merebus air mendidih untuk merendam kaki istrinya.


" apa ini sakit ?" tanya ustadz A'ab mengurut-urut kaki sang istri di dalam baskom yang berisi air hangat yang sudah disiapkannya sesuai dengan anjuran sang ibu.


Laura hanya menggeleng dengan seulas senyuman mengembang di bibir indahnya.


" apa hamil sesakit itu ? maafkan aku ya tidak bisa melakukan apapun sebagai suami !" sesal ustadz A'ab benar-benar tak tega jika memperhatikan sang istri yang sepertinya sangat berat sekali membawa anaknya kemana-mana. Belum lagi malamnya susah tidur dengan berbagai posisi. Untuk duduk dan bangunpun susah. Andai bisa ingin sekali ia menggantikan istrinya itu.


" emang kamu mau lakuin apa ? mau aku pindahin ni dedeknya keperut kamu ?" goda laura menaikkan satu alisnya membuat sang suami segera bergidik membayangkannya.


" pokoknya kamu harus jadi bapak yang siaga ab, istrimu cuma butuh itu, jangan mau enaknya aja saat mbuat, !" tutur bu khomsah menyahuti omongan anak dan menantunya. sementara ia sudah sibuk dengan bumbu-bumbu yang ada di dapur.


" inggih bu, Insya Allah !" jawab ustadz A'ab menyahuti dengan taat membuat sang istri terkekeh.


Laura baru teringat kalau kamar di rumah kontrakannya cuma ada satu. itupun dengan ranjang minimalis yang semenjak dirinya hamil besar sang suami lebih sering tidur dibawah. lalu ibu mertuanya akan tidur dimana ?


" ibu biar nanti tidur sama kamu, aku tak tidur di bawah kaya biasa !" ujar Ustadz A'ab lembut.


" ranjangnya sempit aby, aku takut ibu ndak nyaman !" ucap laura.


" beberapa hari saja sampai rumah kita benar-benar siap di huni !"


Laura mengangguk setelah mendapat penjelasan dari sang suami bahwa finishing rumah mereka tinggal beberapa hari lagi.


Pasangan ini memang telah menyiapkan rumah baru untuk menyambut kehadiran buah hati mereka. Tidak terlalu besar namun rumah itu sengaja di desain sendiri oleh laura agar nyaman untuk meraka tempati bersama anak-anak mereka nantinya.