Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Berjalanlah bersamaku



Setelah menyelesaikan tugas dakwahnya beberapa hari ini. Ustadz A'ab berniat untuk segera menemui keluarga laura seperti yang di rencanakan saat di rumah sakit. Sebelum laura di bawa ke Amerika untuk menjalani pengobatan. Bahkan kalau setuju, ia ingin menikahi laura secara agama sebelum hari itu tiba. Agar ia bisa menemani pengobatan laura di negeri Orang sana.


Keluarga laura sengaja merahasiakan kedatangan ustadz A'ab dari laura. Berniat memberikan kejutan untuk sang putri tercinta. Namun mereka sudah menyiapkan semuanya dengan matang.


" tumben mama masak banyak, ?" tanya laura mendekatkan kursi roda yang di tumpanginya ke arah sang mama yang sedang memasak di dapur.


" iya donk, kan mau ada tamu spesial !" jawab Ratih masih fokus pada penggorengan yang ada di hadapannya.


" siapa emang ?" laura mengrenyitkan kening.


"ada dech,...!"


" apaan sih, pake rahasia rahasiaan segala mama ini, ga asyik...!" Gerutu laura memutar kursi rodanya menjauhi sang mama.


Sedangkan Ratih hanya terkekeh melihat ekspresi sang anak yang tengah sebal dengannya itu.


Sepanjang hari laura sengaja di buat penasaran oleh kedua orang tuanya. Sampai malam ini, saat semua telah disiapkan oleh ratih dan handika, Barulah ratih menjemput sang putri yang sudah uring uringan di dalam kamarnya.


" sayang, maafin mama ya, sekarang ganti baju gih, tamunya sudah nunggu tu !" ujar ratih pada sang putri yang masih berbalut mukena lepas sholat Isya'.


" itukan tamunya mama, bukan tamu laura !" jawab laura rada sinis.


" tu kan masih ngambek, tamunya itu nyari laura bukan mama !" Ratih membelai lembut kepala sang putri.


" nyari aku ?" laura mulai menyeringai.


Ratih hanya mengangguk dan tersenyum. Membantu sang putri melepas mukena yang di kenakan dan membantunya untuk bergantj pakaian.


"cantik sekali anak mama !" puji ratih setelah mendandani sang putri dengan make up tipis tapi tetap merona.


" tamunya siapa sih ma? sampai laura harus dandan kaya gini? " tanya laura masih tak mengerti


" kita keluar aja ya, kasian udah jauh-jauh kesini !" Ratih masih ingin membiarkan sang putri mengetahui sendiri kejutan yang sudah disiapkan.


Laura benar-benar terkejut saat tiba di ruang tengah, sejenak hatinya bahagia melihat orang yang dirindukan ada di hadapanya. Namun sadar bagaimana dirinya saat ini laura lebih memilih memutar balik kursi rodanya menjauh dari orang-orang yang ada disana dengan cepat.


" loh sayang, mau kemana ???" Tanya Handika tak percaya justru respon sang anak berbalik dengan ekspetasinya yang mengira kejutan ini akan di sambut gembira oleh sang anak.


" boleh saya yang mengejarnya pak ?" izin ustadz A'ab satu anggukan diberikan Handika sebagai jawaban.


Dengan segera ustadz A'ab mencari keberadaan laura yang menghilang begitu saja. Bukan hal sulit menemukan gadis berkursi roda itu. dengan segera ustadz A'ab menghampiri gadis yang tengah duduk disisi kolam renang itu.


" Assalamualaikum Bidadari surgaku !" salam yang sudah biasa di ucapkan semenjak laura terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit hingga saat ini.


" wa'alaikumussalam! " jawab laura memalingkan wajah dari orang yang ada di sampingnya.


" Maafkan aku yang tidak mengetahuinya dari awal, aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu sedikitpun, dan perlu kamu tahu saat berita perjodohan itu tersebar aku bahkan belum tahu apapun karena posisiku tidak di dalam pesantren, jujur saja saat aku kembali ke pesantren aku heran dengan sikapmu yang tiba-tiba saja berubah, aku tak mengerti yang terjadi waktu itu, makanya aku tanya dan sama sekali kau tak mau memberikan jawaban !" ujar ustadz A'ab tulus memberi penjelasan agar laura tak salah paham dengannya.


Benarkah itu ? atau itu hanya omong kosong ?


" Aku memang belum mengetahuinya, aku baru tahu saat fauzy memukuliku karenamu di hari kecelakaan itu, dan aku bahagia tahu kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku !" jelas ustadz A'ab lagi.


" Perasaan ?" seringai laura.


" Benar, aku bahkan belum pernah merasakan perasaan indah itu selama 26 tahun hidup didunia, dan baru hari itu hatiku berdebar saat mendengar nama wanita yang bahkan tak ku tahu wajahnya !"


Astagfirullah hal adziiim, perasaan apa ini ya Allah, mengapa begitu indah, tapi,....


" Bismillahirrohmaanirrohim, Laura Sabrina binti bapak Handika maukah kau menjadi Istriku ? penyempurna separuh dari agamaku ?" Ujar ustadz A'ab tanpa basa basi membuat hati laura semakin berdebar hebat.


Jujur saja ia sangat bahagia mendengar ungkapan itu. Tapi ada kejanggalan dalam pikiranya. Mengingat kondisinya saat ini. sepertinya tak mungkin ia bisa menjadi istri yang baik bagi pria yang ada di hadapanya. Untuk melakukan apapun bahkan ia masih meminta bantuan orang lain, bagaimana mungkin bisa melayani suaminya nanti pikirnya.


" ra,...!" tegur ustadz A'ab melihat laura yang masih membeku.


" wanita mana yang tak bahagia mendapat ungkapan seperti itu dari orang yang di cintainya ? tapi sepertinya aku bukanlah orang yang tepat untuk ustadz, untuk melaksanakan semua kegiatanku aku bahkan masih bergantung pada orang lain, bagaimana akan melaksanakan kewajibanku melayani suamiku nanti ?" terang laura dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Aku tidak merasa keberatan dengan semua itu ra, bagiku kamu sudah sempurna sebagai seorang wanita! " Nada biacara ustadz A'ab sudah mulai meninggi.


" Berjalan saja aku butuh bantuan kursi roda ini, bagaimana bisa ustadz bilang kalau aku ini sempurna ? ustadz tahu, aku ini cacat aku tidak bisa melayani ustadz sebagai seorang istri dengan keadaan yang seperti ini !" kini air mata laura sudah tumpah ruah.


" Astagfirullah hal adziiim ra, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini dan kamu sudah cukup sempurna bagiku !"


" Aisyah lebih pantas menjadi istri ustadz dari pada gadis cacat sepertiku, dia sempurna cantik, dia anak seorang kyai !"


" kenapa kamu selalu menganggap dirimu cacat ra ? kamu bahkan setelah ini akan berobat dan kamu pasti akan kembali normal lagi !"


" Bagaimana kalau aku tidak pernah bisa jalan lagi ?" seringai laura segera.


Perdebatan itu sudah mulai memanas. keduanya sama mempertahankan argumen masing-masing.


" sekalipun itu terjadi, aku akan membuatmu berjalan bersamaku !" jawab ustadz A'ab mantap.


" Pergilah ustadz, jangan membuatku semakin sulit melupakanmu !" ujar laura yang sudah mulai merendah.


" apa ini ? kamu mengusirku ?"


" ustadz pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku !"


" Astagfirullah hal adziiim, ......


Rasanya ustadz A'ab sudah frustasi bedebat dengan gadis berkursi roda itu. Tak sedikitpun pendirian itu dapat di robohkan. Gadis yang selalu keras kepala dan teguh pada pendiriannya.


" kalau bisa berjalan normal kembali adalah menurutmu sempurna untuk menjadi istriku, maka lakukanlah itu aku akan menunggu sampai saat itu tiba !" ujar ustadz A'ab sebelum akhirnya menyerah meninggalkan laura dalam keteguhannya.


Aku memang sangat menantikan saat seperti ini, tapi bukan dalam kondisi yang seperti saat ini, maaf jika semua kataku melukaimu ustadz, tapi aku memang tak pantas untukmu, aku tak berguna sebagai seorang wanita,...


maafkan aku,....