
Masih ada dua orang yang terdiam membisu lepas kepergian Laura dan Lolita. Tak satupun dari keduanya berniat untuk membuka suara. Hanya tatapan yang sesekali saling bertemu. Baik Andra maupun Rania sama-sama canggung semenjak kejadian hari itu. Terkadang Rania menyesali kejujuran perasaanya, tapi ia juga tak bisa terus memendam rasa dalam luka. Begitupun dengan Andra, ia juga ingin hubungannya dan Rania membaik seperti dulu. Tapi semua telah terjadi biarlah waktu yang menjawab kisah mereka.
Tak lama Lolita dan Laura telah kembali, sepertinya tak terjadi apapun pada kedua orang itu lepas kepergian mereka. Bahkan keduanya hanya terdiam seperti patung. Suasana nampak sepi seperti kuburan.
" cabut yuk, !" ajak laura memecah keheningan.
" loh ra, emang g jadi nonton?" tanya Lolita.
" males gue antri, mending loe anterin gue ke toko perlengkapan bayi !" jawab laura .
" emang loe udah hamil ra ?" Rania ikut membuka suara.
" he,...belum...!" jawab laura cengengesan.
" ngapain ke toko bayi kalo loe belum hamil, kata orang pamali !" celetuk Lolita.
"idich, sok tau loe, gue mau belanja buat anaknya si fitri, bentar lagi kan dia mau lahiran !" sahut laura.
" ngobrol donk dari tadi, !" decak Lolita
Sedangkan Andra yang merasa terabaikan oleh ketiga orang itu memilih pamit undur diri. Sepertinya memang sudah tak ada harapan untuknya masuk kedalam hidup salah satu dari mereka.
Rania masih saja jadi pendiam lepas kepergian Andra. Sedangkan Laura dan Lolita sudah berhambur saat memasuki toko perlengkapan bayi. Mata laura benar-benar berbinar melihat aneka barang lucu dan mungil yang ada disana. Bahkan Lolita juga Antusias menyahuti barang-barang yang ada disana.
" loe berdua ngambil segitu banyak barang buat apa ?" tanya Rania melihat tangan kedua sahabatnya itu penuh dengan barang-barang bayi.
" kan gue udah bilang buat fitri !" jawab laura.
" kalo loe lol ?" Rania kembali bertanya pada Lolita yang mulai bingung dengan barang-barang yang ada di tangannya.
" punya laki aja belom loe,Udah belanja perlengkapan bayi aja!" cibir laura.
" kumat dech jiwa sombongnya !"dengus Lolita malas.
"Udah sana balikin lol, cepet gue udah disuruh pulang sama nyokap !" titah Rania.
"Ta..tapi ran,
"Udah ga pake tapi tapian, sana balikin !"
Laura terkekeh dengan kekesalan sahabatnya itu. sementara Lolita mengembalikan barang yang di bawa, laura juga segera membayar barang ia bawa ke kasir mengingat dari tadi sang suami juga sudah menanyakan kapan ia akan pulang.
Setelah sekian lama tak ada waktu untuk hanya sekedar berkumpul, hari ini ketiga Sahabat itu akhirnya bisa menghabiskan waktu seharian. sebelum akhirnya akan kembali ada yang berjauhan. sebelumnya laura,dan sekarang Rania yang akan jauh dari mereka.
" gue pulang ke rumah loe ya ran !" ujar Lolita saat ketiganya telah berada di dalam mobil
" tumben ga kerumah gue ? " sahut laura bertanya.
" ya kali gue tidur di rumah loe, emang loe mau berbagi laki sama gue ?" Lolita balik bertanya.
brug,......spontan laura melayangkan tas belanjaannya ke kepala sahabatnya itu.
" sembarangan loe emang kalo ngomong, lagian mana mau laki gue sama dedemit pecicilan kaya loe ?" delik laura tak terima.
" Hello, rumah gue gede kali, lebih-lebih kalau cuma buat loe berdua!"
" loe berdua berisik banget sih, sampe gue ga konsen nyetir !" gerutu Rania yang sedari tadi memang hanya diam mendengar percekcokan kedua sahabatnya itu.
Laura dan Lolita saling menatap sebelum akhirnya sama-sama terkekeh.
" loe mah ga konsen bukan karena kita Ran, tapi karena hati loe yang masih nyangkut di mall tadi !"celetuk Lolita mencibir.
"betul !" imbuh laura mengacungkan dua jempol tangannya.
Rania hanya mendengus mendengar cibiran dari kedua sahabatnya itu. Karena memang begitulah kenyataan yang ada dalam dirinya sekarang.
Tak lama mobil yang membawa mereka telah sampai di pekarangan rumah besar laura. Setelah berpamitan dengan kedua sahabatnya laura segera masuk kedalam rumah.
Berkali-kali berucap salam tapi tak ada sahutan. Terus berjalan menyusuri setiap lorong rumahnya. Sampai di dalam kamar pun masih sepi. Tak terlihat suaminya berada disana.
" pada kemana sih ni orang ? sepi banget, huby juga katanya udah pulang, tapi di kamar sepi !" gerutu laura membuang semua barang belanjaannya ke lantai dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Setelah beberapa saat terdengar gemericik air dari kamar mandi yang di yakini laura bahwa itu pasti sang suami. Laura berniat memejamkan mata sejenak sembari menunggu sang suami keluar dari dalam kamar mandi.
" Astaghfirullah hal 'adziim, apa-apaan ini !" ustadz A'ab yang baru saja keluar dari kamar mandi shok melihat kamarnya yang sudah berantakan dengan barang belanjaan sang istri.
" bukannya di beresin orang nya malah tidur, !" ujar Ustadz A'ab lagi menggeleng melihat tingkah sang istri.
Ustadz A'ab yang yakin pasti bahwa wanitanya itu belum sholat ashar, akhirnya mengeluarkan jurus terjitu untuk membangunkannya.
" Ra, bangun ayo sholat !" ujar Ustadz A'ab lembut membelai kepala sang istri yang masih berbalut jilbab.
" aku ngantuk hub, sebentar lagi ya !" jawab laura malas dan menggeliatkan tubuh membenarkan posisinya.
" mau aku mandiin ?" bisik ustadz A'ab nakal di telinga sang istri.
seketika itu juga mata laura yang tadinya tertutup rapat langsung terbuka lebar. Dengan tanpa sadar laura mendorong tubuh sang suami hingga terpental dan berlari ke kamar mandi.
"Dasar ustadz mesuum !" teriak laura dalam pelariannya.
"istri KDRT !" balas ustadz A'ab terkekeh.
Dan Masih tetap sama, detak jantung laura tak dapat terkontrol setiap kali perlakuan yang di berikan oleh sang suami. Padahal untuk mengenal sudah lama, menikah juga sudah berjalan hampir satu bulan.
Sementara laura tengah bebersih diri, ustadz A'ab merapikan barang belanjaan laura yang tercecer di lantai. Begitu gemasnya punya istri seperti laura. ia tak habis pikir sebegitu tak sabarnya laura ingin mempunyai anak sampai telah membeli perlengkapan bayi sebanyak itu pikirnya.
" kenapa hub?" tanya laura begitu keluar kamar mandi melihat sang suami senyam senyum sendiri melihat barang belanjaannya.
" kamu sudah ndak sabar banget pengen punya dedek ? sampai udah belanja sebanyak ini ?" tanya ustadz A'ab mendekat kearah sang istri.
" niatnya tadi beli kado buat anaknya fitri, dan ternyata barangnya disana lucu-lucu jadi ya ke beli semua dech !" jawab laura cengengesan.
" semoga saja segera menyusul fitri !" Harap ustadz A'ab mengelus perut datar sang istri memeluknya dari belakang.
Perasaan laura menghangat iapun juga punya harapan yang sama. Mengingat usia sang suami juga sudah matang dan teman-teman seumurannyapun sudah banyak yang punya anak.