Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
calon mantu



Seperti rencana awal Laura, aisyah dan fitri siap menjalankan misi. Aisyah akan mengambil surat yang mengatas namakan laura dari pengurus keamanan. sedangkan ustadz A'ab akan memberikan tugas yang nantinya akan di kumpulkan berharap disitu mereka akan menemukan tulisan yang cocok. karena kalau langsung meminjam tulisan aryun sudah pasti dia akan curiga.


" Serahin sama aku ra, !" kata aisyah meyakinkan.


" sebernya aku lebih seneng kalau ga usah di perpanjang lagi syah, toh masalahnya juga udah kelewat !" lagi-lagi laura berharap kalau masalahnya tidak di perpanjang oleh kedua sahabatnya.


" ora usah di urusi neng, lanjut rencana awal !" sahut fitri menimpali duduk di antara kedua orang sahabatnya.


Laura hanya mendengus pasrah dengan keputusan kedua orang itu. Bukan tanpa alasan fitri dan aisyah melakukan hal itu, karena rasa sayang mereka terhadap laura tak ingin jika sahabatnya itu akan terus di dzolimi oleh orang lain karena kebaikan hatinya yang selalu tak ingin mempermasalahkan setiap orang yang sudah berlaku tak adil padanya.


Aisyah yang sudah berhasil mendapatkan surat dari tangan pengurus keamanan segera menemui ustadz A'ab untuk mencocokan tulisan dalam surat dengan tulisan para santri terlebih yang menjadi incaran adalah arum dan sari.


sore itu ustadz A'ab sengaja mengundang Aisyah,fitri dan laura ke rumahnya untuk mencocokan tulisan yang ada di dalam surat dengan tulisan para santri yang sudah di bawa kerumah. kenapa kerumah ? sudah pasti disana tidak akan ada yang tahu kalau mereka berempat sedang bertemu.


" Assalamualaikum! " salam ketiga gadis yang menuju dewasa itu sebelum memasuki gubuk kecil bersih nan rapi yang tak jauh dari pesantren.


"wa'alaikumussalam! " jawab penghuni rumah yang memang telah menunggu kehadiran mereka.


" bu khomsah, ais kangen !" aisyah bergelayut manja pada orang yang memang sudah sangat di kenalnya itu.


" ibu juga kangen sama neng ais, maaf ibu belum bisa masakin neng ais lagi, Insya Allah besok kalau sudah mendingan ibu kesana !" ujar bu khomsah dengan lembut pada putra kyai yang telah merawat anaknya itu.


Khomsah adalah nama ibu dari ustadz A'ab. beberapa hari belakangan ini memang kondisinya kurang sehat sehingga tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai juru masak keluarga ndalem seperti biasa. tak heran jika aisyah sangat merindukan masakan wanita paruh baya yang sangat lezat menurutnya itu.


" ini siapa ?" tanya ibu pada fitri dan laura yang dari tadi tak hentinya meneliti setiap sudut dari gubuk kecil yang baru pertama kali di kunjunginya itu.


" oh, ini temannya ais bu, laura dan fitri !" ujar ais memperkenalkan.


" kalau yang fitri ibuk sudah sering lihat kayaknya, yang cantik ini baru pertama kali ibu lihat !" ujar bu khomsah takjub dengan kecantikan laura.


" itu yang kemarin bawain ibuk makanan !" sahut ustadz A'ab yang dari tadi sibuk memilah buku-buku yang ada di hadapanya.


Hah..apa-apaan ni orang ? ngapain gitu aja pake di bilangin, kan malu jadinya, kemarin kan asal ngomong aja akunya buat ibunya, ga tau kalau di kasih beneran, aduch ra....kamu **** banget sih....


Laura menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah karena malu.


" calon mantu bu', !" celetuk fitri menggoda membuat wajah merah laura semakin merah seperti tomat.


"sembarangan emang si fitri, maaf nggih bu' !" laura menginjak kaki yang tepat di sebelah kaki kanannya membuat sang empu meringis kesakitan.


" awww,...meskipun ganas begini tapi baik kog bu' !" meski dalam keadaan kesakitan fitri masih tak menghentikan ejekannya membuat wajah laura semakin menegang karena malu.


Aisyah yang sudah terbiasa melihat pemandangan itu hanya menggeleng. sedangkan bu khomsah terkekeh melihat guyonan kedua sahabat itu. setidaknya sedikit mengurangi rasa sakit yang beberapa hari ini menahannya untuk beraktivitas.


Sementara satu-satunya pria dalam rumah itu hanya senyam senyum sendiri di kursinya melihat kekonyolan kedua orang itu.


" Pripun bu, di restui kah ?" fitri tak berhenti disitu malah semakin menjadi membuat laura semakin gemas.


awas loe fit,...gue pites pites dech loe entar keluar dari sini, loe masih selamet kalo disini, gue harus bersikap anggun lah di hadapan calon mertua, ups kenapa jadi kemakan omongannya fitri? aduh pasti gue udah semakin gila ini...celoteh hati laura.


Fitri merasa menjadi pemenang dalam drama kali ini. kapan lagi membuat orang yang tak bisa di kalahkan seperti laura tak berkutik seperti saat ini.


" ibu' yo pasti seneng banget punya mantu cantik dan baik seperti ini, tinggal tu orangnya mau nyariin ibuk mantu yang seperti apa !" ujar bu khomsah menanggapi guyonan fitri kemudian berlalu berniat untuk menyiapkan suguhan untuk para tamunya sore itu.


" kalo yang ini mah gak usah di tanya buk, anak ibu' sudah sekonyong konyong koder !" Teriak fitri yang masih betah membuat sahabatnya semakin tak berkutik.


Dan pernyataan terakhir itu membuat sebuah bolpoin melayang dari arah kursi ruang tamu tepat di kening lebar fitri. dan lagi-lagi membuatnya meringis untuk kedua kalinya dalam waktu yang baru saja 30 menit berlalu .


" Makanya, jangan sembarangan kalau ngomong !" kali ini laura berani tertawa lepas melihat penderitaan fitri di dukung dengan tawa aisyah yang juga pecah bersamanya.


" sudah duduklah, kita mulai penyelidikan !" ujar ustadz A'ab datar tak peduli jika sudah membuat fitri tak berkutik dengan satu lemparan bolpoin.


" Sama-sama kejam emang 2 orang ini, kayaknya memang jodoh !" gerutu fitri yang saat ini telah memposisikan duduk di kursi bersama aisyah dan laura.


"fitri...!" Ustadz A'ab dan laura bersamaan.


" sudah fit, keburu sore kalian nanti bisa di curigai pengurus kalau lagi kesini !" Aisyah menengahi karena memang ada hal yang lebih penting yang harus mereka bicarakan.


Fitri hanya mendengus pasrah, padahal dia masih belum puas melihat sahabatnya itu seperti kepiting rebus.


" Sekarang coba di samakan dulu dengan tulisan laura !" ujar ustadz A'ab setelah aisyah membeber kertas yang ada di saku bajunya.


" kan aku udah bilang kalau bukan aku yang nulis ustadz yo pasti beda lah !" laura yang dari tadi di permalukan fitri jadi ngegas tanpa rem.


" aku ga nanya, cepet lakukan !" ujar ustadz A'ab lagi-lagi dengan nada datar.


apaan ini ? kemarin manis banget, ini berubah jadi es lagi , ....gerutu hati laura.


setelah kedua tulisan yang berbeda itu di sejajarkan ustadz A'ab mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja dan segera mengambil gambar kedua tulisan itu.


"sekarang coba punya sari !" perintah ustadz A'ab lagi setelah berhasil mengambil gambar.


tanpa membantah ke tiga orang itu langsung mencari buku yang bertuliskan nama sari. dan setelah di cocokkan ternyata juga masih berbeda. meskipun begitu ustadz A'ab tetap mengambil gambar kedua tulisan itu.


"sekarang punya aryun !" perintahnya lagi.


Dan dugaan laura sangat tepat tulisan yang ada di surat sama persis dengan tulisan yang ada di buku aryun.


" ga nyangka aku, aryun yang sepinter iku bisa sejahat ini !" ujar fitri tak percaya.


" ndak semua orang seperti kelihatannya fit !" sahut ustadz A'ab yang di angguki aisyah.


sedangkan laura yang memang sejak awal sudah terbiasa mendapat perlakuan tidak mengenakan dari aryun lebih memilih bungkam dan tidak kaget dengan hal itu. lagi pula dia sudah menduga sejak awal.


" kita adakan sidang ulang, aku akan memberitahu fauzy dan izza !"ujar ustadz A'ab mantap.


" sudahlah ustadz, semua sudah berlalu dan aku baik-baik saja, jadi tidak ada yang perlu di permasalahkan lagi !" laura masih kekeh dengan pendiriannya.


" ini bukan hanya menyangkut diri kamu, tapi keadilan yang semestinya harus di tegakkan !" tegas ustadz A'ab.


" tapi...


"ra, sudahlah dia berhak menerima balasan dari perbuatanya! " sahut aisyah sebelum sempat laura melanjutkan perkataannya.


" betul..!" imbuh fitri mengacungkan dua jempolnya.


" ach...terserah lah...!" pasrah laura.


di tengah-tengah perdebatan itu ibu khomsah datang dengan membawa minuman dan beberapa cemilan. Dan mungkin juga telah mendengar sebagian dari pembicaraan anaknya dengan ke tiga tamu itu.


" ibu' kan lagi sakit, ngapain repot-repot nyiapin ini untuk kita !" ujar laura khawatir dengan wanita paruh baya yang masih nampak sedikit memucat itu.


segera laura beranjak dan membantu mengambil nampan yang ada di tangan bu khomsah. dan itu tak luput dari perhatian sang putra dan fitri yang sejak tadi paling semangat menggoda laura. mengingat bagaimana sikap ustadz A'ab pada laura kemarin waktu laura pingsan.


"tuch bu', calon mantu idaman banget kan !" ledek fitri lagi dengan tawa membahana.


"fitri...!" delikan tajam laura langsung mengarah ke pada fitri yang tengah tertawa puas.


" ibu' juga maulah menantu yang seperti ini ab, cantik atine koyo widodari !" ujar bu khomsah membuat jantung laura seakan berhenti berdetak di buatnya.


kayaknya aku mau pingsan lagi dech, ga kuat denger kata-kata ibu....bisik hati laura


Lagi-lagi fitri yang merasa paling menang disini bisa tertawa puas. sedangkan sang anak yang mendapat perkataan itu dari ibunya hanya senyam senyum tak dapat di artikan.


Lalu bagaimana dengan aisyah ? aisyah memilih menjadi penonton aksi drama sore itu. karena bagi aisyah sudah terbiasa melihat kedua sahabatnya itu memang selalu seperti itu dimanapun dan kapanpun. untuk kata-kata bu khomsah ? iya aisyah juga tahu bu khomsah sama seperti anaknya yang juga mempunyai selera humor tinggi.


itu menurut aisyah lo ya...eits...menurut author dech dari pandangan aisyah, begitu ya ? hehe...


( Happy reading😊)